Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 58


__ADS_3

Lexa POV


Saat aku terbangun kulihat Lexi berada di sofa, kenapa dia bisa tertidur disana? Tidak biasanya dia tidur di kamarku. Aku mengingat-ingat apa yang terjadi semalam, tetap aku tak bisa mengingatnya. Yang terakhir kuingat adalah Lexi pergi untuk keluar, setelah itu aku tertidur.


Ahh sudahlah, lebih baik aku membersihkan diriku ini rasanya seluruh badanku lengket. Aku pun selesai dengan rutinitas membersihkan diri, kupikir Lexi masih tertidur di sofa ternyata dia sudah bangun dan pergi.


Aku keluar dari kamarku, tercium aroma yang sangat khas itu semua mengingatkan ku akan bunda. Aku langsung menuju aroma tersebut berasal, kulihat di pantry sudah ada dua kesatria. Kesatria itu sedang memasak, aku tak menyangka Lexi dan Aldo memasak pagi ini.


Aldo menggeser sebuah kursi dengan arti mempersilahkan ku untuk duduk. Sedangkan Lexi dia masih sibuk dengan wajan dan bahan-bahan masakannya. Aku masih duduk dengan setia menanti hasil karya dari dua kesatria di hadapanku ini.


Aku sudah menganggap Aldo seperti adikku sendiri, baik aku atau Lexi tidak pernah menganggap ya sebagai anak dari bawahan. Sehingga jika kami sedang berkumpul seperti ini, tidak ada istilah menyebut tuan muda atau nona muda. Aku lebih suka Aldo memanggil nama kami.


"Bagaimana keadaan Tuan Putri Alexa pagi ini?"


Aku terkekeh mendengar Lexi berkata seperti itu, sudah lama sekali dia tidak pernah menyebutku tuan putri. Aku sungguh tersanjung dengan semua perkataan Lexi pagi ini, entah mengapa dia memperlakukan ku seperti gadis kecil saja.


Lexi memegang keningku, aku terkejut dengan sikapnya ini. Aku pun bertanya sebenarnya apa yang terjadi. Lexi pun menceritakan semuanya, bahwa semalam aku demam serta mengigau memanggil-manggil bunda. Aku hanya bisa terdiam, mungkin semalam aku sudah membuat Lexi khawatir lagi.


"Sudah tidak usah dipikirkan, habiskan makanan mu!"


Ucap Lexi padaku dengan lembut, Aldo terkekeh melihat aku tersipu karena perlakuan Lexi. Aku menepuk kepalanya agar dia berhentikan menertawakan ku. Bukannya berhenti tawanya semakin menjadi, Lexi pun menjadi terbawa pengaruh Aldo. Sungguh aku kesal dibuatnya, aku diam dan menyantap bubur buatan Lexi. Aroma dan rasa sama persis seperti buatan bunda, namun tetap enak buatan bunda.


Handphone ku berbunyi, ternyata itu adalah Mamoru. Sudah lama dia tidak menghubungiku. Aku pikir dia sudah tidak ingat kepadaku, dia mengirimkan ku pesan. Dia ingin bertemu dengan ku untuk makan siang hari ini.


Aku pun membalas pesannya, bahwa aku menyetujui untuk makan siang bersamanya. Aku mengatakan pada Lexi bahwa aku ada rencana makan siang bersama Mamoru. Lexi bertanya apakah aku sudah benar-benar sehat? Jika sudah sehat maka dia mengijinkan ku untuk pergi menemui Mamoru.


"Aku sudah sehat!"


Mendengar jawabanku Lexi tidak menahan ku untuk pergi, dia mengijinkan ku pergi dengan satu syarat. Jika aku merasa tidak enak badan atau ada masalah, aku harus segera menghubunginya. Aku pun setuju dengan syarat yang dia berikan.


***


Aku bingung dengan Mamoru, terkadang aku berpikir di saat aku tak mengingatnya dia hadir. Sedangkan di saat aku mengingatnya dia menghilang bak ditelan bumi.


Lebih baik aku bersiap saja, sebentar lagi sudah waktunya aku bertemu dengan Mamoru. Saat aku bersiap Lexi datang menghampiri ku, dia bertanya apakah perlu beberapa pengawal. Aku bingung dengan yang dia ucapkan.


"Mengapa aku perlu pengawal?!"


Lexi menjelaskan kenapa dia berkata seperti itu, ada rasa kekhawatiran dalam benak Lexi. Entah apa yang dia khawatirkan, aku bisa melindungi diriku sendiri. Lagipula aku akan pergi bersama Mamoru, aku yakin dia juga akan melindungiku.


Mendengar penjelasanku Lexi pun pergi meninggalkan kamarku. Aku tahu pasti dia masih merasa khawatir dengan luka di tanganku. Begitu kau menyayangiku Lexi, kau memang adikku yang terbaik.


"Lexa ..., Pangeranmu sudah tiba!"

__ADS_1


Aku terkekeh mendengar teriakan Lexi, yang kurasakan ada sedikit nada kesal. Aku pun keluar dari kamarku, kulihat Mamoru sudah berdiri tegap menungguku. Kulihat raut wajah Lexi entah mengapa aku selalu ingin menggodanya.


"Kuharap kau bisa bertemu dengan wanita bercadar itu!"


Wajah Lexi tiba-tiba memerah, dia merasa malu setelah aku berbisik padanya mengenai wanita bercadar. Aku tahu betul wanita itu sudah membuat hati Lexi bergetar.


"Cepat pergi kau!"


Karena kesal dengan candaan ku, dia mengusirku agar cepat pergi bersama Mamoru. Aku terkekeh melihat sikap Lexi seperti itu. Mamoru yang heran melihat aku dan Lexi hanya bisa tersenyum.


Aku sudah puas menggoda Lexi, aku mengajak Mamoru untuk segera pergi. Aku tidak tahu dia akan mengajakku makan siang dimana. Dia membukakan pintu mobil, aku pun masuk sambil memegang tangannya.


Dia begitu memperlakukanku seperti seorang putri, aku sangat menyukai sikapnya seperti ini. Dalam perjalanan, aku bertanya kemana saja setelah acara kita ke pulau Shikoku. Dia hanya diam, apakah dia tidak mau menjawab pertanyaanku.


"Kita sudah tiba!"


Mamoru menghentikan mobilnya, dia keluar terlebih dahulu setelah itu dia membukakan pintu mobil. Aku pun keluar dari dalam mobil dengan sedikit rasa kesal di hatiku. Dia tidak menjawab apa yang ingin ku ketahui.


Sembari menunggu pesanan tiba kami berbincang-bincang, aku pun menayakan kembali apa yang belum terjawab. Mamoru menjawab bahwa sedang banyak pekerjaan yang harus di kerjakan, namun terlihat jelas bahwa dia sedang berbohong.


Lebih baik aku tidak meneruskan pertanyaanku lagi, ku membiarkan Mamoru mau bertidak apa? Lagi pula dia bukan kekasihku. Mamoru berusaha mencairkan suasana, dia mulai bersikap romantis seperti biasanya.


Aku meminta ijin untuk ke toilet, saat berjalan menuju toilet aku melihat Alan sedang berbicara dengan seseorang. Rasa ingin tahuku begitu besar, akhirnya aku mendekatinya secara perlahan. Untung saja aku membawa sebuah alat yang bisa mendengar dari jarak jauh.


"Aku ingin kau bereskan semuanya! Hilangkan semua jejak perbuatan Ayahku!"


Aku terhenyak saat seseorang menepuk pundakku, secara spontan aku berbalik guna melihat siapa yang sudah berani menepuk pundakku. Rupanya dia adalah Aiko, saat dia hendak bicara aku langsung menutup mulutnya.


Aiko memberikan isyarat dengan arti ada apa? Ku berpaling untuk melihat apakah Alan masih ada disana? Ternyata dia sudah tidak ada. Aku pun menceritakan apa yang baru kudengar. Aku menyuruh Aiko untuk segera pergi dari sini, aku ingin dia mengerjakan sesuatu.


Aku menyuruh Aiko untuk mencari informasi mengenai Alan, aku harus tahu semua tentangnya. Karena dia sudah membatu pekerjaan kotor ayahnya Rei Hirasaki. Aiko pun pergi setelah apa yang aku perintahkan.


Aku kembali menuju meja disana sudah menunggu Mamoru, aku tercengang melihat Alan sudah duduk bersamanya. Aku berusaha menenangkan diri, kuhampiri mereka serta aku kembali duduk.


"Bagaimana keadaanmu Nona Lexa?! Kau terlihat cantik hari ini!"


Aku tersenyum dan menjawab pertanyaan Alan padaku, kenapa semenjak aku mengetahui bahwa dia anak dari musuhku. Aku merasa tidak menyukainya jika ada di dekatku. Apalagi tadi aku mendengar dia membantu pekerjaan kotor ayahnya.


Makanan yang kami pesan sudah tiba, ternyata Alan juga akan ikut makan siang bersama kami. Mamoru sudah memesankan makanan untuknya, terpikir olehku apakah Mamoru tahu semua yang dikerjakan oleh Alan?


Aku menyantap makananku, tapi aku masih terus berpikir tentang Mamoru dan Alan. Mereka sudah lama bersahabat, mungkinkah mereka juga saling membantu dalam menutupi kebusukan Rei Hirasaki.


"Lexa! Apa yang sedang kau pikirkan?!"

__ADS_1


Pertanyaan Mamoru membuatku tersadar dari pikiranku, aku hanya menyunggingkan senyum padanya. Lebih baik aku memastikan semuanya jika sudah waktunya.


Lebih baik aku menyantap makanan yang sudah tersedia, aku merasakan ketidaknyamanan. Alan memandangiku terus-menerus, entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Aku berusaha bersikap sewajarnya, agar dia tidak mencurigaiku. Karena insting Alan sangat tajam. Aku tidak ingin dia mengetahui rencanaku dalam waktu dekat ini.


Karena penyerangan kami belum di mulai, jika aku atau Lexi sudah melancarkan serangannya balik. Maka tandanya bahwa kami sudah siap dengan segala resikonya, yaitu kematian.


Mamoru mengajakku ke suatu tempat, sedangkan Alan setelah makan siang dia undur pamit untuk kembali bekerja. Aku mengikuti apa yang dimau oleh Mamoru, entah apa yang akan dia lakukan kali ini.


Dia mengajakku ke sebuah taman hiburan, entah apa yang ada dibenaknya? Mengapa dia mengajakku ke taman hiburan. Dari pada aku sibuk dengan pikiranku, lebih baik aku menikmati semuanya.


Kami hanya berjalan-jalan sedikit bermain beberapa wahana, aku begitu menikmatinya. Tak kusangka aku akan menikmati permainan seperti anak kecil, kulihat Mamoru hanya tersenyum melihat tingkahku.


Matahari sudah terbenam, semua lampu-lampu di taman hiburan ini menyala. Aku begitu menyukai suasana seperti ini. Aku tidak tahu sejak kapan taman hiburan ini menjadi sepi dari pengunjung, yang ada hanya kami berdua.


Mamoru mengajakku ke sebuah tempat, dia menggandeng tanganku. Aku menyukai sikapnya ini, menurutku ini malam yang romantis. Di malam hari, di sebuah taman hiburan yang disorot oleh lampu-lampu nan indah.


Mamoru menghentikan langkahnya, posisi kami tepat di bawah bianglala. Sepertinya ada masalah dengan bianglalanya, karena lampunya tidak menyala sehingga hanya terlihat bayangannya saja di dalam kegelapan.


"Kenapa kita diam disini? Disini gelap! Kita ke tempat lain saja ya!"


Mamoru hanya senyum mendengar perkataanku, lalu dia menjentikkan jarinya seketika semua lampu menyala. Aku begitu takjub melihat betapa indahnya lampu-lampu yang berkelap-kelip di atas bianglala.


Masih belum tuntas rasa kagumku terhadap suasana ini, aku terkejut melihat Mamoru melipat satu kakinya, seperti seorang pria yang akan melamar pujaan hatinya.


"Maukah kau menjadi kekasihku?!"


Sungguh aku sangat terkejut dengan yang dia ucapkan, dia menyatakan cintanya padaku? Dia ingin aku menjadi kekasihnya. Apakah ini nyata? Sebelum aku menjawab pernyataan cintanya. Beberapa orang memainkan musik nan indah.


Aku sungguh tidak menyangka Mamoru bisa melakukan semua ini, menurutku ini sangat romantis. Aku sangat menyukai semua yang dia lakukan malam ini, seketika semua kekesalanku terhadapnya sirna.


"Sampai kapan kau membiarkanku seperti ini? Kakiku sudah kesemutan!"


Aku terkekeh mendengar dia berkata seperti itu, "Jika kau kesemutan berdiri saja! Aku tidak menyuruhmu untuk berpose seperti itu!"


Mamoru menunduk, mungkin dia kecewa dengan apa yang aku katakan. Sepertinya dia ingin mendengar jawabanku, tetapi aku masih ingin menggodanya.


Aku mencondongkan badanku, niatku ingin menggodanya tapi kuhempaskan semua ide gila dalam otakku untuk menggodanya. Akan kubisikan tiga kalimat yang akan membuatnya terkejut.


"Aku menerima cintamu!"


Mamoru langsung memelukku setelah mendengar jawaban yang kuberikan. Dia begitu bahagia aku menerima cintanya, dia memberikan setangkai bunga mawar padaku. Lantunan musik menjadi sangat indah, rasanya aku ingin menari saja.

__ADS_1


Mamoru mengulurkan tangannya seraya mengajakku untuk berdansa, aku menerima uluran tangannya. Kami pun berdansa, mengikuti semua alunan musik yang membuatku terlena.


__ADS_2