
Lexi terus memainkan jari-jemarinya untuk memeriksa chip yang ku curi kemarin. Dia begitu serius di depan laptopnya, lebih baik aku ke pantry dulu. Kubuka kulkas dan mengeluarkan bahan makanan yang sudah ku beli, ku olah bahan yang tersedia menjadi sebuah camilan untukku dan Lexi. Akhirnya camilan buatan ku sudah matang dan sudah bisa di santap, kupikir Lexi masih di kamar ternyata aku salah, dia sudah berada di sofa dekat pantry.
"Bagaimana? Sudah menemukan informasi penting?" tanya ku pada Lexi sambil menyodorkan piring berisikan camilan yang baru saja ku buat.
Dia hanya diam, mengambil camilan di atas piring dan memakannya. Setelah itu dia kembali bekerja, menunggunya memeriksa chip itu sangat membosankan. Aku pun memainkan handphone, ternyata banyak pesan yang masuk dari Aiko. Dia meneleponku beberapa kali dan mengirim ku pesan banyak sekali. Ku buka pesan dari Aiko, seketika aku terkejut dengan isi pesan itu.
Sepertinya besok aku harus ke kantor, akan ku selesaikan masalah ini dengan cepat. Aku tidak ingin membuat ayah khawatir dan akhirnya di terbang ke Jepang. Itu sangat berbahaya bagi kami, bisa-bisa ayah mengetahui semua rencana kami ke Jepang.
"Binggo!"
Aku terkejut dan terasadar setelah mendengar Lexa. Langsung saja ku dekati dia, yang sedang tersenyum bangga atas kemenangannya. Rupanya dia berhasil masuk ke dalam chip itu, dia membuka dan membaca semua data yang ada di dalam chip itu. Aku pun melihatnya dari samping dan membacanya juga. Setelah selesai membaca informasi di dalam chip itu, tidak ada informasi mengenai musuh kami. Tapi semua informasi yang ada mengenai kecurangan perusahaan xxx selam bertahun-tahun.
Lexi sedikit kesal dengan hasilnya, tapi aku tidak karena semua informasi yang kita dapat bisa dijadikan sebuah senjata. Aku akan terus mencari informasi mengenai musuh yang telah membuat kami menderita. Aku menyuruh Lexi untuk membuka USB yang baru kita temukan di saat mendaki gunung Fuji. Dia pun mengambil USB itu dan menyambungkannya dengan laptop.
"Hallo Lexa dan Lexi, pasti kalian sudah dewasa sekarang! Sudah saatnya kalian mencari semua pemecahan puzzle yang aku tinggalkan. Maafkan aku yang telah membuat kalian menderita. Aku sudah merencanakan semua ini, setelah aku melihat kepintaran kalian. Kalian pasti bertanya-tanya kenapa aku memecah semua informasi musuh kalian! Musuh kalian sangat hebat dan pintar, aku tidak ingin semua informasi yang ku peroleh selama bertahun-tahun lenyap begitu saja. Aku percaya pada kalian! Carilah pecahan puzzle berikutnya. Dimana pun Alin selalu berkunjung dan merasakan kebahagiaan!"
Jadi itu semua alasan kenapa om Leo menyerahkan USB pada Lexi waktu itu. Begitu percayanya dia pada kami, sehingga sebelum kematiannya dia sudah menyiapkan semua ini. Dia begitu mencintai bunda, sampai-sampai dia rela berkorban demi Bunda. Aku tidak tahu masalah apa yang menyebabkan kalian tidak menjadi pasangan. Yang pasti jika bunda menikah dengan om Leo maka kami tidak ada.
__ADS_1
Lexi terdiam, dia pasti sedang memikirkan semua arti dari perkataan om Leo. Dia menyandarkan badannya ke belakang sofa, agar seluruh tubuh dan otaknya rileks. Aku pun sama, memikirkan semua yang telah dikatakan om Leo. Dia begitu pintar memecah semua informasi menjadi pecahan puzzle, dimana kita harus mencari semuanya pecahan puzzle itu. Bearti selain kami mereka juga mencari pecahan puzzle ini.
Saat aku akan berkata bahwa musuh kita sudah mengetahui tentang pecahan puzzle ini! Ternyata Lexi pun mengatakan hal yang sama dengan yang akan ku katakan. Pemikiran kita sama, kami mulai memikirkan dimana tempat berikutnya om Leo menyimpan pecahan puzzle berikutnya.
"Lebih baik kita istirahat! Bukankah besok kau harus ke kantor? Dengar aku percaya padamu! Urusan kantor kali ini kau pasti bisa mengatasinya! Aku akan mencari tahu pecahan puzzle berikutnya!" Lexi berkata dan pergi meninggalkan ku.
Aku pun berjalan menuju kamar ku, sebelum tidur aku mengobati kemabali luka-luka yang kudapatkan dari perkelahian tadi siang. Selama ini Lexi selalu menahan diri untuk ikut bertarung dan lebih memilih berdiri di belakang layar. Ini demi kerahasiaan dia, agar dia bisa masuk kemanapun dia mau untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan. Tapi dia selalu melindungi dari kejauhan, karena kami memiliki peranan masing-masing yang harus kami jalani.
Keesokan harinya,
Aku tersenyum melihat Lexi berada di pantry, dia menggunakan clemek. Dia terlihat sangat cool, siapapun yang jadi istrinya kelak pasti akan merasakan kebahagiaan yang hakiki. Mudah-mudahan aku mendapatkan pasangan sepeti dirinya. Aku mendekatinya, dia tersenyum lembut padaku aku pun membalas senyumannya. Dia menyodorkan piring yang berisikan omlet, aku memakannya dengan lahap. Setelah selesai sarapan aku pamit pergi ke kantor.
****
Saat aku tiba di kantor aku disambut oleh senyum para karyawan dan sekertaris ku Aiko. Dia mulai memegang sebuah buku agenda dan dia mulai bicara tentang semua kegiatan ku hari ini. Aku beruntung memiliki sekertaris seperti dia. Beberapa bulan yang lalu dia sempat akan berhenti bekerja di perusahaan ini. Tapi dia mengurungkan niatnya itu karena dia ingin membatuku hingga misiku dan Lexi berhasil.
Aiko tahu semua misi yang aku dan Lexi kerjakan, karena dia sering membatu ku atau Lexi dalam menjalankan misi. Orang tuanya sudah merencanakan pernikahan untuknya dan menyuruhnya untuk memegang kendali sebuah perusahaan. Tapi dia menolaknya karena sudah berjanji untuk membantuku menyelesaikan misi ku.
__ADS_1
Aku membaca semua dokumen yang diberikan Aiko, dia juga memberiku sebuah informasi tentang perusahaan xxx. Perusahaan xxx bukankah perusahaan itu yang memiliki kegiatan terlarang dan penggelapan dana. Semua informasi kebusukkan mereka ada di dalam chip yang ku curi, dan sekarang mereka berniat untuk menghancurkan perusahaan ku. 'Jangan harap kalian bisa menggoyahkan perusahaan ku ini!' gumamku. Aiko yang mendengarnya tersenyum tipis, dia tahu betul bagaimana sifatku.
Aiko memberitahukan bahwa hari ini ada rapat pemegang saham, sepertinya mereka mulai merencanakan untuk menghancurkan perusahaan ku. Tidak akan kubiarkan perusahaan ini hancur karena perusahaan ini di bangun oleh keringan ayah dan bunda. Aku melangkah keluar untuk menghadiri rapat para pemegang saham, mereka sudah bersiap untuk menyerangku. Tapi mereka tidak berpikir bahwa aku sudah memegang kartu as mereka.
Aku masuk ke dalam ruangan rapat dan Aiko di belakang ku, dia selalu menjadi pendamping ku. Aku duduk di kursi utama, mereka sudah mau menyerangku dengan semua argumentasi mereka. Aku melihat Aiko tersenyum sinis mendengar perkataan mereka. Karena dia juga sudah tahu kelemahan mereka satu persatu. Aku hanya diam dan memperhatikan mereka semua, siapa saja yang ingin menghancurkan perusahaan ku.
Setelah selesai berargumentasi mereka diam, sekarang giliran ku untuk bicara. Namun Aiko yang mewakili ku berbicara, karena cukup Aiko yang bicara. Mereka mendengarkan semua ucapan Aiko, satu persatu orang yang tadi bersemangat untuk menjatuhkan ku mulai tak tenang. Wajah mereka pucat pasih, mereka banyak mengeluarkan keringat padahal ruangan ini full AC. Mereka mulai ketakutan dan tak banyak bicara lagi, rapat pun selesai dengan baik. Mereka sudah tidak akan bertidak dalam waktu dekat ini, maka akan ku biarkan mereka untuk memilih perusahaan ku atau musuh ku.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab selanjutnya 😉
Jangan lupa kasi author semangat ya biar makin semangat melanjutkan ceritanya 😙
Dan jangan lupa like, komen dan love nya ya 😉
Author sayang kalian 😘😘
__ADS_1