Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 120


__ADS_3

Lexa POV


Setelah kepergian Hinoto ke Korea hari-hariku berjalan seperti biasanya. Ada plus dan minusnya dengan kepergian Hinoto, plusnya ayah menunda kepulangannya ke Indonesia. Kenapa aku merasakan kehilangan, apakah itu minusnya.


'Arrrggh mana mungkin aku merindukannya!' ucapku dalam hati.


"Kenapa kau? Apa kau sedang merindukan suamimu hah?" Aiko berkata dengan nada menggoda.


"Huh ... Datang-datang langsung menggodaku! Ada apa? Jangan bilang kau memberikanku dokumen lagi! Apa kau tidak lihat, dokumen yang kau berikan di mejaku belum selesai semua ku periksa!" Aku berkata pada Aiko dengan sedikit nada kesal.


Aiko terkekeh mendengar perkataanku, aku sungguh dibuat kesal olehnya. Sekarang dia sering menggodaku, lihat saja nanti jika dia sudah menikah aku akan balas dia lebih parah lagi.


"Aku kemari bukan untuk memberikanmu tugas lagi, akan tetapi kita berdua harus segera pergi ke Korea. Ada masalah di kantor cabang di sana, aku menyuruh Lexi dan Aldo tetapi mereka sedang mengawasi sebuah proyek. Jadi kita berdua yang pergi ke Korea, nanti malam penerbangan kita!" Aiko berkata.


"Baiklah, kita selesaikan semua pekerjaan kita! Kau siapkan semua berkas yang dibutuhkan untuk urusan kita di Korea." Aku berkata pada Aiko.


Aiko mengangguk lalu pergi meninggalkan ruanganku, aku harus segera menyelesaikan semua dokumen ini sebelum kepergianku ke Korea. Aku akan membuat kejutan padanya jika sudah sampai di Korea.


Saat aku sedang serius dengan pekerjaanku, Lexi masuk tanpa mengetuk pintu. Dia langsung bertanya padaku tentang keberangkatan ke Korea malam ini.


"Iya, aku akan pergi ke Korea malam ini. Tapi ingat kau jangan mengatakan ini pada Hinoto! Aku ingin memberikannya sebuah kejutan!" Aku berkata pada Lexi dengan sedikit penekanan.


"Iya, aku tidak akan mengatakan apapun padanya," jawab Lexi padaku.


"Bagaimana dengan proyek yang kau tangani?" Aku bertanya padanya mengenai proyek yang sedang dia tangani.


Dia tersenyum lalu memberi tanda ok dengan jarinya lalu dia pergi meninggalkan ruanganku. Aku pun kembali mengerjakan pekerjaanku yang terganggu oleh kehadiran Lexi.


Tidak terasa hari sudah sore, Aiko menyuruhku untuk segera bersiap untuk pergi ke Korea. Sebelum pulang aku menyerahkan semua dokumen yang sudah aku periksa dan ku bubuhi tanda tangan. Setelah itu aku berjalan menuju parkiran mobil, aku bergegas pulang ke rumah untuk bersiap.


Dalam perjalanan pulang ponselku berdering, aku mengambil ponselku lalu melihat siapa yang menghubungiku. Itu adalah nomor Hinoto, ada apa dia menghubungiku jam segini, biasanya dia menghubungiku jika aku sudah berada di rumah. Aku memasang earphone lalu mengangkat teleponnya.


"Hallo!"


"Hallo sayang, apakah kau merindukanku?" Hinoto berkata di seberang telepon.


"Biasa aja, apakah kau yang merindukanku?!" Aku balik bertanya padanya.

__ADS_1


Terdengar suara tawanya yang lembut, dia bertanya padaku aku sedang dimana. Aku mengatakan padanya bahwa aku sedang di mobil menuju rumah. Setelah dia tahu aku sedang menyetir, dia mengakhiri percakapan kami.


"Jika kau sudah tiba di rumah, aku akan menghubungimu lagi!" Hinoto berkata lalu dia menutup sambungan teleponnya.


Tibalah aku di rumah, aku melihat ayah sedang duduk di sofa sembari membaca beberapa berkas yang ada di tangannya. Aku menghampiri ayah, mengucapkan salam lalu mengecup punggung telapak tangan ayah.


"Aku dengar kau akan ke Korea malam ini?" Ayah bertanya padaku dengan lembut.


"Iya, ada masalah di kantor cabang Korea. Tadinya Lexi yang aku suruh kesana, akan tetapi dia sedang mengurus proyek penting di sini. Sehingga aku dan Aiko yang akan pergi ke Korea." Jawabku pada ayah.


"Berhati-hatilah, di Korea ada seorang saingan bisnis Ayah. Dia begitu ingin menghancurkan bisnis Ayah. Namun dia tidak berhasil dalam segala rencananya, yang Ayah takutkan dia akan bertidak kali ini." Ayah berkata dengan nada khawatir.


"Ayah tenang saja, aku bersama Aiko bisa jaga diri! Oia, Yah aku harap jangan memberitahukan kepergianku pada Hinoto. Aku ingin memberikannya sebuah kejutan."


Ayah tersenyum mendengar permintaanku, lalu mengangguk. Itu tandanya ayah setuju dengan apa yang aku minta. Setelah selesai berbincang dengan ayah, aku bergegas ke kamarku. Aku mulai bersiap, memasukan semua keperluanku selama di Korea.


Aiko memberikanku pesan jika dia menungguku di bandara, aku bergegas menyelesaikan semua barang yang akan aku bawa. Setelah selesai aku meminta seorang sopir untuk mengantarku ke bandara.


Aku berpamitan pada ayah dan Lexi, mereka melihatku dari kejauhan. Aku begitu menyayangi mereka, bagaimana jika ayah sudah kembali ke Indonesia. Aku pasti akan sangat merindukannya, ditambah lagi jika Lexi nanti sudah menikah. Aku tidak tahu dia akan tinggal di mana. Namun yang pasti hanya ayah dan Lexi yang aku miliki setelah kepergian bunda.


"Kau sudah siap?" Aiko bertanya padaku dengan senyumnya.


"Ok, kita pergi sekarang!" jawabku pada Aiko.


Terdengar suara pengumuman tentang penerbangan ke Korea, kami pun bergegas agar tidak tertinggal pesawat. Aku duduk di dalam pesawat, aku tidak tahu bagaimana reaksinya jika dia melihatku berada di korea.


Akhirnya aku tiba di Korea, Aiko sudah memesan sebuah hotel di Korea. Aku tidak tahu bahwa hotel tersebut adalah salah satu hotel milik Hinoto. Namun Aiko mengatakannya padaku bahwa hotel ini milik Hinoto.


"Lebih baik kita istirahat dulu, besok kita masih harus mengurus para perusak perusahaan!" ucapku pada Aiko.


Entah mengapa Aiko memesan dua kamar, bukankah lebih enak jika kita berdua satu kamar. Namun aku tidak mau mempermasalahkan semua itu, yang aku inginkan saat ini adalah membersihkan diri lalu tidur untuk beristirahat.


Besok pasti sangat sibuk, ayah mengatakan padaku bahwa banyak pemegang saham yang sudah bekerja sama dengan saingan bisnis ayah. Namun aku tidak akan kalah begitu saja, jangan harap mereka bisa menang dariku.


Aku melepaskan pakaianku satu per satu lalu memasuki kamar mandi guna membersihkan diri. Setelah selesai aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Kulihat ponselku rupanya ada 3 buah panggilan tidak terjawab. Kulihat siapa yang menghubungiku, rupanya itu Hinoto.


Saat aku hendak menghubunginya, dia terlebih dahulu menghubungiku.

__ADS_1


"Hallo."


"Sayang, kau dari mana saja? Aku menghubungimu beberapa kali tidak di jawab?" Hinoto bertanya dengan pertanyaan tanpa ada jeda.


Aku terkekeh mendengarnya seperti itu, lalu aku mengatakan bahwa aku sedang di kamar mandi.


"Mmm, jika aku ada di dekatmu maka aku akan ikut mandi bersamamu." Ucap Hinoto dengan nada mesumnya.


"Hah, kau semakin mesum saja! Hentikan perkataanku seperti itu membuatku geli saja!" Aku berkata padanya.


Dia terkekeh, entah mengapa aku pun merindukan pelukisnya yang begitu hangatnya. Apakah aku sudah benar-benar jatuh hati padanya? Apakah benar aku sudah melupakan Mamoru sepenuhnya? Pertanyaan itu melayang di pikiranku.


Kami pun berbincang-bincang tidak terasa sudah satu jam lebih kami berbincang-bincang. Aku memutuskan untuk mengakhiri percakapan kami, karena aku begitu lelah. Lagipula besok aku harus mulai bekerja.


Setelah sambungan telepon terputus, aku memutuskan untuk segera tidur. Karena besok adalah hari yang sangat berat, harus menghadapi orang-orang yang ingin menghancurkan perusahaan dan bisnis ayah.


Aku terbangun mendengar alarm di ponselku, aku melihat jam lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu aku mengambil air wudu untuk salat.


Aku bersiap untuk ke cabang perusahaan, terdengar suara ketukan pintu kamarku. Aku membuka pintu kamar, aku lihat Aiko sudah siap dengan semuanya. Aku pun sudah siap, lalu kami pergi menuju perusahaan.


"Kita harus siap dengan segala hal yang akan membuat kita terpojok! Aku harap kau sudah siap Aiko!" ucapku pada Aiko.


"Aku sudah menyiapkan semuanya, mereka tidak akan menyangka dengan apa yang bisa kita lakukan!" jawab Aiko dengan penuh keyakinan.


"Bagus! Kita akan bertempur dengan mereka!"


Mereka akan menyesal karena meremehkan kami, meski ayah sudah tidak sepenuhnya memegang kekuasaan di perusahaan karena ayah sudah menyerahkannya padaku dan Lexi. Mereka pikir aku tidak bisa menyerang mereka.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉

__ADS_1


__ADS_2