Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 62


__ADS_3

Lexi POV


Aku sungguh marah jika melihat Rey Hirasaki, semenjak aku tahu bahwa dialah penyebab kematian bunda. Ingin rasanya aku langsung menghajarnya tanpa ampun, lalu menghabisinya.


"Tenangkan dirimu?! Belum saatnya kau membuat keributan!"


Aku tersadar setelah mendengar perkataan Aiko, sungguh dia tahu apa yang ada dipikiranku. Dia sama seperti Lexa, sehingga aku sudah menganggapnya seperti saudariku sendiri.


Aku pun berusaha untuk menenangkan diri, kuambil segelas minuman. Aku pun mulai bersikap sewajarnya, ada seorang pria yang mendekatiku.


Dia adalah salah satu client perusahaan, dia membicarakan seklisa tentang kerjasama antar perusahaan. Setelah selesai berbincang aku berpamitan untuk menemui Lexa.


Aku bersama Aiko menghampiri Lexa yang sedang duduk sembari mengamati. Entah mengapa aku merasa sedang diawasi, apakah ini hanya perasaanku saja.


"Ada apa denganmu?!"


Tanya Lexa padaku, aku pun mengatakan dengan yang sedang ada dalam pikiranku. Setelah mendengar apa yang kukatakan, Lexa pun mengatakan hal yang sama.


Lexa mengatakan, lebih baik kita memulai misi. Kita harus mencari tahu apapun yang dapat menjadi informasi untuk rencana selanjutnya.


Lexa mulai membagi tugas, kami masing-masing berpencar untuk mencari informasi yang bisa didapat. Jika mendapatkan masalah harus memberi kode, sehingga bisa saling membantu.


Aku pun mulai bergerak, kuberjalan menelusuri rumah ini. Ternyata banyak sekali pengawal yang berjaga, aku harus berhati-hati dalam bertindak.


Aku melihat sebuah ruangan, kucoba untuk masuk ke ruangan tersebut. Ternyata ini adalah sebuah ruang baca, seperti ini adalah tempat Rey Hirasaki bekerja.


Saat aku sedang melihat-lihat apakah ada informasi yang menguntungkanku. Aku melihat seorang gadis masuk kedalam ruang baca.


Sepertinya aku mengenalnya, jika kulihat dengan seksama dia memang matahariku. Tidak akan kulepaskan kau kali ini, aku harus mengetahui siapa kau sebenarnya.


"Kau? Sedang apa kau disini?!"


Tanya matahariku, dia terkejut dengan aku yang berada di dalam ruangan baca ini. Sebelum aku menjawab pertanyaannya, aku mendengar ada seseorang yang menuju ruang baca ini.


Aku pun bergegas menarik tangan matahariku, kami pun bersembunyi di belakang pintu. Seorang pengawal masuk guna mengambil sesuatu, aku mendekapnya. Dia sedikit kesal karena aku mendekapnya, diapun hendak mengeluarkan suaranya.


Aku menutup mulutnya dengan tanganku, karena pengawal itu masuk kembali. "Diam! Jika kau tidak ingin ketahuan!" Aku berkata padanya.


Dia pun diam, sehingga aku bisa melepaskan tanganku dari bibirnya yang terlihat menggoda. Aku terus mendekapnya, rasanya tidak ingin aku melepaskannya.


Dia memintaku untuk melepaskan dekapannya, aku memberikan satu syarat jika ingin dilepaskan. Dia berusaha untuk melepaskan dirinya, namu aku tidak akan melepaskannya sebelum aku tahu siapa namanya.


Dia menginjak kakiku, dekapanku melemah sehingga dia bisa terlepas dari dekapanku. Karena kesal dia menyerangku dengan melayangkan tendangannya, namun aku berhasil menghindar.


Dia masih berusaha menyerangku, sekarang dia melayangkan tinjuannya. Aku menangkap kepalan tangannya, setelah itu aku menariknya sehingga dia terjatuh kedalam pelukanku.


Dia berusaha melepaskan diri, tubuhnya menggeliat guna melepaskan diri dari dekapanku. Entah mengapa aku ingin menjahilinya, aku pun mendekatkan bibirku di telinganya lalu aku berbisik padanya.

__ADS_1


"Akan kulepaskan kau! Dengan syarat kau memberitahukanku siapa namamu yang sesungguhnya?!"


Setelah aku berbisik, entah mengapa dia terdiam. Secara perlahan aku melihat wajahnya. Ternyata wajahnya memerah, sebenarnya apa yang membuatnya malu. Aku makin penasaran dengan wanita ini.


"Lepaskan aku! Nanti aku akan menyebutkan namaku! Dan satu lagi jangan kau berbisik di telingaku! Itu membuatku geli tahu!"


Lexa terkekeh mendengar kejahilan yang dilakukan olehku, karena Lexa bisa mendengar apa yang diucapkan olehku. Aku tidak peduli dengan tawa Lexa, Aiko serta Aldo. Yang aku inginkan saat ini adalah menggoda wanita yang ada di dekapanku.


Aku berbisik padanya lagi, aku katakan jika dia tidak menyebutkan namanya! aku tidak akan melepaskannya lalu akan selalu berbisik padanya. Dia pun akhirnya menyerah dia mengatakan namanya.


"Himawari! Namaku Himawari! Sudah puas kan? Lepaskan aku!"


Aku tersenyum mendengar setiap perkataannya, aku merasa gemas jika mendengar perkataannya dengan nada seperti ini. Karena yang aku tahu dia wanita yang sangat tangguh.


Aku pun melepaskan ya karena aku sudah berjanji padanya untuk melepaskannya. Dia pun tanpa sepatah kata bergegas pergi dari ruangan baca Rey Hirasaki.


Aku penasaran sebenarnya apa yang sedang dia cari disini, apakah dia musuh dari Rey Hirasaki? Sehingga dia pun mencari sesuatu di rumah ini. Aku pun memedarkan mataku, kesekeliling ruangan.


Mataku tertuju pada suabuah pigura diatas meja, tanganku mengarah pada pigura tersebut. Entah mengapa seperti ada yang memaksaku untuk melihat pigura itu.


Akhirnya aku pun melihat foto yang ada di dalam pigura itu, aku sungguh terkejut. Apakah ini sungguh nyata? Ini tidak mungkin! Sebenarnya apa hubungannya dengan Rey Hirasaki!


Semua pertanyaan dalam otakku terus berkeliaran, untuk mencari dari semua hubungan ini. Aku tersadar dari pikiranku, setelah Lexa mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut pula.


Setelah memotret foto yang ada di pigura itu, aku bergegas untuk kembali ke acara pesta. Aku tidak ingin ada yang curiga tentang kami, mudah-mudahan mereka bertiga bisa tepat waktu masuk kembali ke ruang pesta.


Aku mendengar dalam earpiece, Lexa sedang beradu mulut. Entah dia sedang berdebat dengan siapa. Yang pasti terdengar jelas dia sangat kesal dengan orang yang sedang dihadapinya.


Aku yakin bahwa pria bertopeng pun ada disini, tapi mengapa dia ada disini. Sebenarnya apa yang dia cari, lalu Himawari pun ada disini. Sebenarnya apa hubungan mereka berdua. Entah mengapa aku merasa bahwa mereka bekerjasama.


"Sudah hentikan Lexa! Apa kau tidak bisa lepas dari pria mesum?!"


Aku terkekeh mendengar Aiko berkata seperti itu pada Lexa, sehingga membuat Lexa semakin kesal. Akhirnya aku tiba di dalam acara pesta, kulihat Aldo sudah masuk. Aiko sedang berjalan menghampiriku, aku belum melihat Lexa.


Kenapa dia begitu lama sekali, apakah dia mengalami masalah. Aku berusaha bersikap tenang. Sembari memanggil Lexa, Nunun dia tidak menjawab. Akhirnya berharap dia tidak tertangkap.


Akhirnya Lexa masuk ke ruang pesta, kulihat wajahnya begitu kesal. Aku yakin dia kesal dengan sikap pria bertopeng itu, jika Lexa belum bersama Mamoru aku yakin dia cocok dengan pria bertopeng itu.


Akhirnya kamipun berkumpul, kami berbincang layaknya seperti tamu yang lainnya. Beberapa saat kemudian terdengar suara alarm, itu menandakan sudah terjadi sesuatu.


Aku menatap mereka bertiga secara bergantian, dengan maksud bertanya apakah mereka mengambil sesuatu atau tidak. Mereka menggelengkan kepala itu tandanya bukan ulah dari kami.


Semua pintu ditutup, mereka melarang semua tamu undangan untuk pergi sebelum diperiksa. Aku dan yang lainnya mengikuti prosedur yang dilakukan. Meski Alan mengenal Lexa, dia harus memeriksanya juga.


Kami berhasil keluar, dua orang yang mengenakan topeng. Mereka berusaha lari dari kejaran pengawal. Jika kulihat dengan seksama salah seorang yang bertopeng adalah wanita.


Aku mengenali warna pakaian wanita itu, benar itu dia. Dia adalah Himawari. Apakah pria bertopeng yang bersama Himawari adalah pria yang selalu menggoda Lexa.

__ADS_1


Mereka mulai berkelahi untuk melarikan diri namun begitu banyak pengawal yang mengelilingi mereka. Sehingga mereka terpojok, tanpa kusadari aku menginjak gas mobilku.


Aku menuju Himawari, para mengawal yang mengepung Himawari terkejut. Aku hampir saja melukai para pengawal menggunakan mobilku.


Kubuka pintu Aiko membuka pintu mobil, seraya menyuruh Himawari untuk segera masuk. Dia berpikir sejenak, dia melihat wajahku terlebih dahulu. Setelah yakin dia bergegas masuk ke dalam mobil.


Namun dia khawatir dengan temannya, dia memintaku untuk kembali. Aku tidak bisa jika kembali maka kami akan tertangkap. Aku menyuruh Lexa untuk membantunya.


Namun Lexa tidak mau, karena masih kesal dengan sikap pria bertopeng tersebut. Aku pun menjadi kesal dengan sikap Lexa yang kekanak-kanakan, sehingga aku sedikit membentaknya.


Akhirnya Lexa punbatu pria bertopeng tersebut, aku berpikir mereka tidak mengejar kami. Namun aku salah, mereka mengejar kami dari belakang.


Aku menyuruh Aiko untuk berganti pakaian di belakang, sepertinya akan terjadi perkelahian. Aiko pun pindah kebelakang dia mengambil pakaian untuk bertarung. Himawari terkejut melihat begitu cepatnya siku mengganti pakaiannya.


Aiko sudah siap, aku suruh dia untuk menggunakan topeng juga, sehingga wajahnya tidak bisa dikenali oleh orang. Aku melihat Himawari yang membelalakkan matanya.


"Kenapa kau terkejut?!"


Dia tidak mengatakan apa-apa, aku tersenyum melihat ekspresi terkejutnya. Aku menyuruh Himawari Aiko untuk menggantikanku menyetir.


Aiko pun kembali ke kursi disampingku, dia mulai memegang setir mobil. Dengan cepat aku berpindah kebelakang, kaki Aiko sudah menginjak pedal gas.


Akhirnya Aiko bisa mengendalikan mobil, aku pun melepas jas. Kulihat kesamping Himawari masih terpaku melihat aksi kami. Kubjentikan jariku agar dia tersadar.


"Tutup matamu! Apa kau ingin melihat tubuhku yang indah?!"


Dia baru tersadar setelah melihatku sudah membuka kemejaku, dia langsung menutup matanya. Aku pun bergerak cepat untuk menggunakan pakaianku.


Akupun menyuruh Himawari membuka matanya, karena aku sudah selesai. Dia pun membuka matanya, aku sangat gemas melihat ekspresinya yang terkejut.


Akupun segera berpindah kedepan, aku membiarkan Aiko untuk menyetir mobil. Aiko berusaha untuk lepas dari kejaran musuh, aku berusaha membuka Notebook.


Aku mencari rute untuk bisa lepas dari mereka, aku memberikan arahan pada Aiko. Dia pun mengikuti arahan ku dengan baik. Aku menghubungi Lexa aku ingin tahu apa dia bisa terlepas dari mereka.


Ternyata Lexa pun dikejar oleh musuh, dia menyuruhku berhati-hati. Dia juga berkata untuk bertemu di tempat biasa, Lexa pun memutuskan hubungan earpiece.


Ckitttt!


Aiko mengerem mendadak, Notebook-ku hampir terjatuh. Kulihat ternyata mereka berhasil menyalip lalu menghadang kami. Mereka keluar dari dalam mobil.


Terlihat jelas mereka membawa senjata, kulihat jumlah mereka lumayan banyak. Aku memandang Aiko, dengan arti agar Aiko bersiap-siap. Akio mengerti akan maksudku, aku pun menatap Himawari, dia pun mengerti arti tatapan ku.


____________________________________________


Foto siapakah yang dilihat Lexi dan Lexa ?


____________________________________________

__ADS_1


Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉


selamat membaca c u next bab 😘


__ADS_2