
Lexa POV
Setelah kepulangan Mamoru, aku tahu semuanya kecewa namun aku terpaksa melakukan ini. Maafkan aku ayah, Lexi bukan maksudku membuat kalian kecewa. Aku melakukan ini untuk melihat sampai dimana dia akan mempermainkanku. Aku tidak akan membiarkannya berhasil dalam rencananya.
Aku tidak mengira ternyata Mamoru bisa mempermainkanku sedari awal, namun kali ini kau tidak bisa dengan mudah mempermainkanku. Sekarang aku akan memperlihatkan betapa aku mencintainya dan membutuhkannya. Akan tetapi itu semua adalah semu, aku ingin melihat dia merasa menang namun sebenarnya kekalahan baginya.
Handphone-ku berbunyi aku melihat siapa yang menghubungiku, ternyata yang menghubungiku adalah Himawari. Kuangkat teleponnya, lalu bertanya apakah dia sudah mendapatkan informasi baru.
Himawari sudah mendapatkan semua informasi yang aku butuhkan, aku menyuruhnya untuk kembali ke Jepang. Mungkin aku akan membutuhkan dia dan informasi yang dia pegang.
Aku menghubungi Aiko untuk bertemu dengannya, mungkin sudah saatnya aku mengatakan pada Aiko tentang rencanaku. Karena aku pasti membutuhkan bantuannya.
Tok!
Tok!
Aku mendengar suara pintu kamarku diketuk, aku langsung mendekati pintu kamar guna membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk. Kubuka pintu kamar,kulihat Lexi sudah menungguku di balik pintu.
"Cepat ambil wudhu! Ayah menunggu kita untuk salat berjamaah! Mungkin itu bisa membuat otakmu kembali jernih!" Lexi berkata lalu berjalan meninggalkanku.
Sudah lama aku tidak salat berjamaah bersama mereka, biasanya aku melakukannya sendiri semenjak bunda tiada. Sewaktu ayah masih koma, aku, Lexi dan bunda selalu salat berjamaah.
Aku bergegas mengambil air wudhu karena aku tidak ingin mereka menungguku terlalu lama. Setelah mengambil air wudhu aku mengenakan mukena, lalu berjalan menuju mushola kecil yang ada di dalam rumah.
Aku melihat ayah dan Lexi sudah menungguku, mereka sudah duduk menungguku. Setelah melihatku ayah tersenyum, entah apa yang ayah pikirkan terhadapku. Akhirnya kami memulai salat, setelah selesai aku kembangkan do'a untuk bunda yang sudah berada di sisi-Nya.
Tidak terasa air mataku menetes hingga membasahi pipi, aku sungguh teringat akan bunda. Jika saja bunda masih ada mungkin aku tidak akan merasakan pengkhianat seperti ini.
Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan, aku tidak bisa menahan tangisku. Aku merasa ada yang mendekatiku namu aku tidak bisa membuka kedua telapak tangan yang menutupi wajahku.
__ADS_1
"Sudah hentikan tangisanmu ini sayang!" Lirih ayah padaku dengan memelukku dengan erat. Aku merasakan kehangatan dari pelukan ayah, isakan tangisku semakin tidak bisa tertahan.
Akhirnya aku menangis di dalam pelukan ayah, aku sungguh menyesal karena telah mengecewakan ayah. Sungguh aku tidak berniat melakukan semua ini, namun aku harus merahasiakan dari ayah. Agar aku bisa bertindak dengan keinginanku.
Aku berjanji padamu ayah, jika nanti kau menyuruhku untuk menikah dengan pria pilihanmu. Aku akan menyetujuinya dan tidak akan menolaknya itu adalah janjiku, batinku.
"Sudah hentikan itu Lexa, kau mengotori pakaian ayah!" celetuk Lexi guna menghilangkan suasan yang mengharu biru.
Ayah terkekeh mendengar perkataan Lexi, aku yang tadinya menangis ikut tertawa juga. Aku langsung memeluk Lexi dengan erat dalam hatikupun berkata maafkan aku yang tidak menceritakan semuanya padamu.
Setelah selesai dengan suasana sedih setelah selesai salat berjamaah, aku langsung menuju kamarku. Aku bersiap untuk bertemu dengan Aiko. Sebelum pergi aku berpamitan pada ayah bahwa aku akan bertemu dengan Aiko di luar rumah.
Ayah berpesan padaku agar aku pulang tidak terlalu larut malam, karena ayah akan sangat khawatir jika aku berada diluar di jam-jam malam. Aku menuruti apa yang ayah katakan, karena aku tidak ingin membuat ayah khawatir.
Aku meminta Aiko untuk bertemu di sebuah cafe King's, aku pergi menggunakan sepeda motor. Sehingga aku bisa cepat sampai di tempat yang aku tuju. Aku berharap Aiko belum tiba di sana, karena dia tipe wanita yang tidak suka menunggu lama.
Jika aku terlambat maka dia akan mengoceh tidak karuan sehingga membuat telingaku bengkak, mendengarkan apa yang dia ocehkan. Akhirnya aku tiba di cafe King's, kuparkirkan motor lalu aku berjalan menuju kafe.
Seorang pelayan menghampiriku dia menunjukan sebuah tempat duduk yang kosong. Aku melihat lokasi yang dia tunjukkan, pikirku itu pas sekali dengan yang aku inginkan.
Aku duduk di kursi yang sudah kupilih, sembari menunggu Aiko aku memesan minuman untukku dan Aiko. Aku tahu betul minuman kesukaannya, sehingga jika bertemu dengannya di cafe ini aku sudah bisa memesankan minuman untuknya.
Plak!
Aku terhenyak karena ada yang menepuk pundakku, mulutku sudah siap dengan segala cacian dan makian untuk orang yang menepuk pundakku. Namun semua itu aku urungkan ternyata yang menepuk pundakku adalah Aiko.
Dia tersenyum seperti tidak terjadi masalah apapun, Aiko duduk di hadapanku. Tidak begitu lama datanglah seorang pramusaji yang membawa pesananku. Terlihat Aiko tersenyum padaku, aku tahu dihatinya dia pasti senang karena aku ingat dengan minuman kesukaannya.
"Ada apa kau menyuruhku kemari?!" Aiko langsung bertanya padaku tanpa basa-basi.
__ADS_1
Aku pun menceritakan semua yang sedang aku selidiki tentang Mamoru. Aku menyuruh Himawari untuk mengumpulkan semua informasi tentangnya. Dan Himawari sudah mendapatkan semua informasi yang aku butuhkan.
Aiko mendengarkan semua ceritaku dengan seksama, dia tidak ada niat untuk menyela ceritaku. Aku terus melanjutkan semua rencanaku, aku ingin membuat Mamoru menyesal karena sudah membuat sebuah trik yang akan merugikanku.
"Aku kira kau gadis bodoh! Yang bisa dibohongi oleh pria brengsek seperti Mamoru!" sindir Aiko padaku, aku hanya bisa tersenyum saat dia berkata seperti itu.
"Apa kau bisa membantuku untuk memberi pelajaran pada pria berengsek itu!" ucapku pada Aiko.
Terlihat Aiko menyunggingkan bibirnya yang artinya dia setuju akan membantuku. Lalu dia bertanya padaku apakah ayah dan Lexi mengetahui semua hal ini.
Aku menjawabnya mereka tidak mengetahui semua rencanaku, aku tahu jika nantinya rencana ini berjalan sesuai dengan harapanku. Maka itu akan membuat ayah kecewa bahkan bisa membuat yah merasa malu.
Namun aku harus melakukan semua ini, karena Mamoru sudah menganggapku sebagai wanita yang mudah dibodohi. Aiko mengerti apa yang dimaksudkan. Sehingga dia akan mendukung apa pun itu, asalkan Mamoru mendapatkan balasan yang setimpal.
Aku bersyukur memiliki sahabat seperti Aiko, dia bisa menemaniku di saat aku sedang kesulitan. Aku sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri.
"Sudahlah ayo kita nikamti minuman ini! Untuk rencana kita menghancurkan pria berengsek!" Aiko berkata dengan mengangkat gelas minumannya, seraya mengajakku bersulang untuk rencanaku.
"Lexa lihat sebelah kananmu!" Aiko berkata dengan lirih.
Aku pun memalingkan kepalaku ke arah yang Aiko katakan, aku sangat terkejut melihat Mamoru yang sedang duduk dengan seorang wanita. Mereka terlihat sangat mesra, sehingga mereka berani bercumbu di tempat umum seperti ini.
Anehnya aku sama sekali tidak merasa kecewa atau cemburu, yang ada adalah rasa ingin membalas semua trik yang telah dia lakukan kepadaku. Aku tersenyum ternyata ini adalah Mamoru yang sesungguhnya, aku semakin bersemangat untuk menghancurkan kebanggaanmu itu.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
__ADS_1
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉