Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 160


__ADS_3

Alex POV


Sayang ini sudah tahun ke-5, setelah kelahiran cucu kita. Lexa dan Lexi selalu kembali ke rumah kita. Mereka selalu membawa kebahagian padaku. Andai saja kau berada di sini, mungkin kau akan merasakan kebahagian yang sama denganku.


Aku selalu mengingat dirimu istri tengilku, sampai akhir hayatku aku akan selalu mencintaimu sayang. Sepertinya mereka sudah tiba di rumah, aku harus menyambut mereka dengan senyumku yang hangat.


Tok! Tok! Suara pintu kamarku diketuk, aku menyuruhnya masuk. Kulihat Ari dengan senyumnya mengatakan jika Lexa dan Lexi sudah tiba.


Aku bergegas keluar kamar dan berjalan menghampiri mereka, dari kejauhan sudah terdengar suara yang sangat aku rindukan. Apakah mereka juga merindukan aku?


"Kakek...!" teriak seorang gadis kecil yang sangat pecicilan dia sama persis dengan istriku Alin. Dia juga bernama Rosalina Wibowo dia alasan putri dari Lexi dan Himawari.


Rosalina berlari memeluk dengan erat, seraya dia tidak ingin melepaskan diriku yang tua renta ini.


"Apa kau merindukan Kakek tua ini?!" Aku bertanya pada Rosalina dengan senyumku.


"Apa yang Kakek bilang? Kau tidak tua— Kakekku ini adalah Kakek tertampan!" jawabnya dengan nada gadis kecil yang energik.


"Lepaskan dia Rosalina! Dia juga Kakekku— kau jangan menguasainya sendiri!" celetuk Zeroun yang tidak mau kalah.


Aku terkekeh jika Rosalina dan Zeroun sudah berebut pelukanku, kedua orangtuanya tidak bisa menghentikan mereka. Terkadang mereka bisa sampai berkelahi, mereka berdua sudah dilatih ilmu beladiri.


"Sudah hentikan ulah kalian! Apa kalian tahu jika Kakek merasa pusing dengan ocehan kalian!" Lexa berusaha meraih kedua bocah tengil yang ada dihadapanku ini.


"Bunda Lexa jahat! Kakek tidak akan sakit karena kita!" Rosalina berkata dengan nada kesal.


"Iya Bunda jangan begitu dong, Kakek hanya akan pusing menghadapi tingkah Ayah Lexi!" timpal Zeroun.


Semua terlihat bahagia, Lexi yang mendengar keponakanya mengatakan bahwa dia sumber kepusinganku langsung berlari menangkap zeroun. Dia langsung mengilikitik Zeroun sehingga dia tertawa tanpa henti hingga meneteskan air mata.


"Sudah hentikan Lexi, kau menyakiti cucuku!" Aku berkata pada Lexi dengan nada tinggi. Namun, ada sedikit menggodanya.

__ADS_1


"Ahhh, Ayah kau curang sekarang! Sekarang yang ada di hatimu hanya Rosalina dan Zeroun saja! Tidak ada aku atau Lexa sama sekali!" Lexi berkata semabari memonyongkan bibirnya.


Semua terkekeh-kekeh melihat sikap Lexi yang seperti anak kecil, sejak kelahiran Rosalina dan Zeroun dia sudah berubah. Sekarang dia seperti anak kecil. Namun, yang tidak berubah adalah Hinoto. Kedua bocah tengil ini takut jika Hinoto sudah mulai serius dan marah.


Akan tetapi, jika kedua bocah ini dimarahi oleh kedua ibu mereka, maka kedua bocah tengil ini akan berlari dan mencari Hinoto untuk berlindung.


"Sudahlah, kalian istirahat dulu! Besok pestanya akan dimulai!" Aku berkata pada mereka karena terlihat lelah di wajah mereka semua.


"Kakek, bolehkah aku tidur bersama Kakek?" Rosalina bertanya begitu pula dengan Zeroun.


Aku mengangguk mengizinkan mereka tidur bersamaku malam ini, meski Lexa dan Himawari melarang. Karena kedua bocah ini pasti ingin aku menceritakan tentang neneknya.


"Sebelum masuk kamar Kakek, kalian bersihkan diri kalian terlebih dahulu!" perintah Himawari yang terlihat tegas karena menghadapi kedua bocah tengil ini butuh ketegasan.


Mereka pun menurut lalu berjalan memasuki kamar, setelah mereka selesai. Mereka langsung menuju kamarku, kedua bocah ini langsung berlari dan naik ke atas tempat tidur.


"Kakek, ayo ceritakan tentang istri tengilmu!" Zeroun berkata padaku serta Rosalina ikut menimpalinya.


Aku tersenyum dengan membawa kumpulan foto istri tengilku, aku duduk di samping mereka berdua. Lalu mulai menceritakan satu per satu dari pertemuanku dengan gadis tengil hingga menjadi istri tengilku.


Sebelum cerita berkahir mereka berdua sudah tertidur, lalu terdengar suara pintu kamar diketuk. Aku menyuruhnya masuk, Lexa dan Lexi masuk kedalam kamar. Mereka melihat kedua anaknya yang sudah tertidur.


"Apakah mereka merepotkanmu Ayah? Jika iya, aku akan membawa mereka tidur bersamaku!" Lexa berkata padaku dengan lembut.


"Tidak usah, mereka tidak mengangguku! Lebih baik biarkan mereka tidur bersamaku malam ini!" jawabku.


Lexi tersenyum melihatku, aku tahu apa yang ada di pikirannya. Dia pasti ingin memeluk diriku. Karena selama kedua bocah tengil ini masih terbangun, aku tidak diizinkan untuk memeluk putra dan putriku.


Aku berdiri lalu berkata, "Kemarilah!"


Lexi langsung memelukku dengan erat, setelah itu giliran Lexa yang memelukku. Aku sungguh beruntung memiliki merek berdua, jika tidak ada mereka berdua mungkin aku sudah terjatuh kedalam lubang kegelapan setelah Alin tiada.

__ADS_1


"Istirahatlah kalian!" ucapku pada Lexa dan Lexi.


Setelah mereka pergi meninggalkan kamar, aku kembali duduk di atas sofa. Melihat kembali wajah istriku yang sangat aku rindukan.


"Sayang, apakah kau melihat kedua cucu kita— entah mengapa aku merasa mereka mirip denganmu."


***


Pesta sudah akan dimulai, semua tamu undangan sudah mulai hadir. Aku tidak mengundang banyak orang hanya keluarga terdekat saja, karena aku inginkan hanya keluargaku saja yang menikmati semua kebahagiaan ini.


Aku mengundang Santi dan anak-anak yang berada di yayasan yang Alin dirikan. Semuanya tampak bahagia, entah mengapa aku sangat merindukanmu sayang. Meski semuanya bahagia aku tidak bisa melupakan dirimu.


"Kakek, apakah mau bergabung dengan kami?" ucap Zeroun padaku.


"Bermainlah bersama mereka, Kakek akan melihat dari sini!" jawabku.


Dia pun langsung berlari setelah aku mengatakan semua itu. Aku melihat kedua cucuku bisa bermain dengan anak-anak yayasan.


Terlihat jelas mereka tidak membeda-bedakan status yang dimiliki. Aku bersyukur Lexa dan Lexi sudah merawat dan mendidik anak-anaknya dengan baik.


Santi mendekatiku lalu dia bertanya, "Tuan, Anda masih merindukan Nyonya Alin?"


Aku tidak bisa berbohong jika berada di dekatnya, aku hanya tersenyum mendengar apa yang dia tanyakan. Karena semua itu benar adanya.


"Jika aku tidak menjawab pertanyaan darimu— kau pasti sudah mengetahuinya dengan jelas!" jawabku.


"Nyonya Alin pasti bahagia melihat keluarganya bisa hidup bahagia seperti ini. Itu sangat terlihat jelas, aku harap Tuan juga bisa terus berbahagia!" Santi berkata dengan lirih.


Namun, aku bisa mendengarnya dengan jelas, apakah Alin berada disini sedang melihat kebahagiaan putra dan putrinya. Jika iya aku sangat senang dia bisa merasakan semua ini.


Aku akan menunggu hingga ajalku tiba dan aku bisa tertidur dengan tenang disampingnya. Hidupku sudah tenang melihat kedua anakku sudah bisa hidup tenang. Tidak ada lagi musuh yang bisa menghancurkan mereka.

__ADS_1


"Jaga kesehatan anda Tuan dan janganlah lupa untuk selalu bahagia! Itulah yang diinginkan oleh istri tengil Anda!" ucap Santi lalu pergi meninggalkan diriku.


Kulihat Santi tersenyum ke arah lain yang tidak ada siapa pun, mungkin dia melihat istri tengilku. Aku tahu itu, kau pasti disini sayang. Tunggu aku sebentar lagi, aku akan menemanimu.


__ADS_2