
Lexa POV
Dor!
Dor!
Terdengar suara tembakkan yang begitu nyaring sehingga membangunkan diriku dari tidur. Apakah ini Lexi yang sudah menemukanku kalau dia datang menyelamatkan diriku.
Mendengar suara tembakan yang tidak henti-hentinya membuat rasa ingin tahuku memuncak. Akhir aku bangun lalu berjalan menuju jendela guna melihat apa yang sedang terjadi.
Terlihat orang yang berpenampilan serba hitam tetapi mereka menggunakan kain bewarna merah di lehernya. Mereka bukan pengawal ayah, siapa mereka? Tetapi yang mereka lakukan kurang akurat karena jumlah pengawal Takeda masih banyak dan mereka sedang bersembunyi.
Mungkin mereka adalah musuh dari Takeda yang sudah mengetahui tempat ini. Aku harus bisa keluar dari sini tetapi aku tidak boleh gegabah mungkin saja aku bisa terbunuh jika terlihat oleh mereka.
Karena mereka tidak tahu jika aku adalah tawanan Takeda, ini membuatku pusing saja. Sehingga apa yang akan aku lakukan bisa menjadi bumerang tersendiri.
Mungkin aku harus menghabisi mereka satu per satu, lebih baik aku mencobanya dari pada aku hanya diam menunggu mereka menemukanku.
Aku berjalan menuju pintu kamar, aku berusaha membukanya tetapi tidak bisa. Mereka mengunciku dari luar, dasar Takeda kurang ajar dia tidak membiarkanku bisa keluar begitu mudah.
Ini 'kan kamarnya, lebih baik aku mencari sesuatu di kamar ini. Mungkin saja Takeda menyimpan sebuah senjata yang bisa aku gunakan. Aku mengecek semua laci di dalam kamar ini tetapi tidak menemukan sesuatu yang bisa kugunakan.
Lalu aku berjalan menuju almari, aku membukanya rupanya almari ini tidak terkunci. Setelah terbuka, aku mencari sesuatu di dalam alamari ini. Ada satu kunci di bawah pakaian yang terlipat, sepertinya ini adalah kunci dari laci yang ada di dalam almari ini.
Biar aku coba membuka laci ini dengan kunci yang baru saja aku temukan. Binggo aku berhasil membuka laci ini, melihat isi dari laci ini membuatku terkejut. Di dalamnya ada foto Rosetta dan juga Hinoto, sebenarnya apa hubungan mereka bertiga.
Masih begitu banyak misteri tentang Hinoto, aku harus mencari tahu kebenarannya. Aku tidak ingin kembali terkhianati, sudah cukup Mamoru yang membuatku kecewa.
Mudah-mudahan Hinoto tidak melakukan yang akan membuatnya menyesal karena perbuatannya sehingga aku akan pergi meninggalkannya. Meski aku sangat mencintainya jika dia sudah berbuat curang buat apa aku mempertahankannya.
Ada sebuah senjata yang bisa aku gunakan, pelurunya masih terisi penuh. Dan ada beberapa peluru cadangan, akan aku bawa semuanya. Sekarang bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari kamar ini.
Dor!
Aku menembak dekat gagang pintu kamar, sehingga kuncinya rusak dan aku bisa keluar dari kamar ini. Rupanya penjaga sudah mulai keluar untuk menyerang musuh. Sehingga di dalam rumah tidak terlalu ketat penjagaannya.
Lebih baik aku berhati-hati dalam setiap melangkah, senajta ditangan ini harus aku gunakan dengan sebaik mungkin. Tidak boleh membuang-buang peluru yang ada.
Dor!
Sial ada yang menembakkan senjatanya ke arahku, aku harus mengetahui dari mana arah tembakan itu. Dia terus menembakkan senjatanya ke arahku, bagaimana dia bisa tahu aku masih ada di posisi ini.
Saat aku berpaling rupanya ada cermin besar dibelakang tubuhku, mungkin cermin ini yang membuat dia tahu gerakanku. Kau membuatku ketahuan cermin tetapi aku juga bisa memanfaakan cermin ini untuk mulai menembak orang yang terus menghujaniku dengan pelurunya.
"Apakah aku harus membunuh orang? Itu yang membuatku bimbang— karena baik bunda atau ayah tidak mengijinkanku membunuh kecuali untuk melindungi diri! Mungkin ini adalah salah satu cara untuk melindungi diriku maka aku harus menghabisi sebelum dihabisi musuh." Gumamku.
'Maafkan aku ayah dan bunda, aku terpaksa membunuh kali ini!', batinku.
Dor!
Aku menembak pas di bagian kepalanya, entah mengapa aku merasa sangat sedih. Mungkin ini yang pernah ayah atau bunda lakukan. Untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Berjalan perlahan masih dengan senjata di tanganku, tetapi langkahku terhenti. Karena melihat Takeda dengan beberapa pengawalnya berjalan menuju kamarnya. Apakah musuh yang menyerang tadi sudah berhasil dia musnahkan. Tidak boleh begini, aku harus keluar dari rumah ini. Aku tidak ingin berada di dalam cengkeramannya.
Dor!
Dor!
__ADS_1
Terdengar dua tembakan dari dalam kamar mungkin dia sudah tahu jika aku sudah tidak berada di dalam kamar. Aku harus bergegas keluar dari sini, mungkin dia tidak akan berbuat baik jika aku sudah berusaha lari darinya.
"Cepat cari wanitaku! Aku ingin dia dalam keadaan hidup!" Takeda berteriak sangat keras sehingga suaranya menggema di setiap ruangan.
Aku rasa dia benar-benar marah tetapi aku tidak akan menyerah untuk pergi dari tempat ini. Karena ini bukanlah tempat untukku! Tempatku berada di sisi ayah dan Lexi.
Aku berlari dengan melihat sekeliling hanya ada mayat yang bergelimpangan begitu saja. Taman yang terlihat indah ini sudah tersiram banyak cairan merah segar.
Dor!
Aku terhenti mendengar suara tembakan yang mengarah ke kakiku tetapi meleset. Mungkin itu sengaja untuk menghentikan langkahku untuk keluar dari rumah.
"Kau wanita pintar! Berani sekali kau mengambil senjataku lalu berniat lari dariku hah!" Takeda berkata dengan nada tinggi.
Terlihat sorot matanya penuh dengan kemarahan, aku berjalan mundur dengan perlahan saat dia menghampiriku dengan senjata ditangannya.
Brugggg!
Aku terjatuh karena kakiku mengenai mayat seorang pengawal yang sudah tidak bernyawa. Tubuhku menjadi bewarna merah, tanganku terlumuri darah. Sungguh aku tidak menyukai ini, meski aku tangguh aku tidak suka dengan suasana ini.
Takeda terkekeh melihatku terjatuh dan seluruh badanku sudah penuh dengan darah. Aku segera berdiri tegap dan kembali memegang senjata yang masih ada di tanganku.
"Sekuat apa pun kau berusaha pergi dariku—kau tidak akan bisa!" Takeda berkata dengan nada dingin sembari tersenyum samar.
"Kau terlalu percaya diri Takeda! Jika aku gagal sekali lari darimu— maka aku akan mencoba beribu-ribu kali untuk lari darimu!" jawabku dengan tegas.
Takeda kembali tersenyum lalu dia mengatakan padaku jika aku tidak akan pernah berhasil. Karena semua pengawalnya akan selalu menjaga istananya dengan ketat.
Sebentar lagi akan tiba 100 lebih pengawal untuk memperketat penjagaan istananya. Sehingga tidak akan ada yang bisa lolos dari tempat ini. Atau pun tidak akan ada yang bisa masuk ke istananya untuk merebut wanita yang dia miliki.
Kumelihat sekeliling sisa dari pengawal yang selamat masih mengelilingiku dengan senjata ditangan mereka. Mungkin saja jika aku menembak Takeda mereka akan langsung menghujaniku dengan peluru mereka.
Dor!
Dor!
Lalu diikuti oleh Aldo, Lexi serta Hinoto, mereka kemari untuk menyelamatkan diriku. Akhirnya kau berhasil menemukanku Lexi, aku tidak pernah salah dengan kemampuanmu itu.
Mereka mendekatiku lalu aku berkata pada Takeda, "Kau lihat mereka sudah tiba— orang-orang yang mencintai aku akhirnya tiba untuk menjemput."
"Hahaha ... Apakah peluru kalian cukup untuk menghadapi semua pengawalku!" Takeda berkata sembari terkekeh.
Dia menghina ayah yang sudah tidak memiliki kekuatan dan kekuasaan, yang hanya bisa mengirim beberapa orang untuk menyelamatkan putri kesayangannya.
"Apakah ini kemampuan kalian! Aku sungguh kecewa— cobalah lihat di sekeliling kalian pengawalku sudah siap untuk menghabisi kalian hingga tidak tersisa!"
Aku melihat semua arah ternyata para pengawal yang Takeda katakan sudah tiba. Apakah kami sanggup melawan mereka semua tetapi aku merasakan jika ayah akan tiba untuk menyelamatkan kami semua.
"Kau yang tidak memiliki kemampuan apa-apa! Kau hanya bisa menyuruh pengawalmu untuk menghabisi setiap musuhmu! Aku berkata dengan nada dingin tetapi terselip sebuah penghinaan terhadapnya.
Dia menyeringai lalu menuju pengawalnya untuk menyerang kami semua tanpa menggunakan senjata api. Aku melempar senjata ayang ada di tanganku lalu mulai bersiap untuk melawan.
Begitu pula dengan Aiko dan yang lainnya mereka sudah meletakkan senjata api mereka. Sekarang sudah mulai bersiap-siap dengan jurus yang mereka miliki.
"Serang!" Takeda berkata pada pengawalnya untuk menyerang kami.
Bug!
__ADS_1
Bug!
Whussss!
Aku memukul mereka dengan tinjuanku lalu diakhiri dengan tendanganku. Satu per satu para pengawalnya jatuh tersungkur di atas tanah. Namun, mereka kembali berdiri lagi dan siap menyerangku.
Bug! Bug! Mereka mulai melayangkan pukulannya padaku secara bertubi-tubi. Sehingga aku hanya bisa bertahan terhadap serangan mereka. Serangan mereka membutakan mudur, lalu punggungku bersentuhan dengan tubuh Hinoto.
Dia tersenyum padaku tetapi aku tidak ingin tersenyum padanya karena dia sudah tidak jujur padaku. Dia memegang tanganku lalu membisikan sesuatu yang membuatku kesal.
"Hai— hentikan itu! Kalian tidak melihat musuh masih banyak hah!" Aiko berkata dengan nada tinggi napasnya mulai terengah-engah.
Aku tersenyum saat mendengar Aiko berkata seperti itu, kulihat Lexi, Aldo dan Himawari terus bertarung. Mereka mengeluarkan seluruh jurus yang dimiliki. Aku tidak boleh lengah, aku harus bisa menghabisi semua musuhku.
Dor!
Terdengar suara tembakan aku melihat Lexi, Himawari, Aldo, Aiko mereka tidak apa-apa. Saat aku melihat Hinoto tangannya sudah tertembak dan mengeluarkan darah segar. Hatiku terasa sakit melihat itu.
"Dasar kau bajing*n! Kau memang tidak memiliki kemampuan— sehingga kau melakukan kecurangan!" Aku berteriak pada Takeda yang tersenyum puas.
"Teruslah berkata buruk padaku— itu tidak berarti! Akan kuhabisi suamimu itu lalu aku bisa memilikimu seutuhnya!" Takeda berkata dengan nada yang membuatku merasa jijik.
Namun, dari setiap kata yang dia ucapkan aku merasakan aura membunuh yang kuat darinya. Dia menodongkan senjatanya pada Hinoto. Aku bergeser menutupi Hinoto dengan tubuhku, aku tahu dia pasti tidak akan bisa menembakku.
"Apa yang kau lakukan, sayang?!" Hinoto berkata lirih padaku.
Aku tidak menjawab pertanyaan darinya, kutatap dengan lekat Takeda. Dia akan menarik pelatuknya, apakah dia benar-benar akan menembakku.
"Kau pikir dengan menjadi tameng bagi suamimu akan menyelamatkannya! Kau salah Lexa sayang! Aku akan melukaimu terlebih dahulu lalu menghabisi suamimu dengan tanganku ini!" Takeda berkata sembari tertawa.
Dor! Dor! Dor! Aku menutup kedua mataku, aku pikir dia benar-benar menembakku. Namun, aku tidak merasa sakit sedikit pun. Akan tetapi aku mendengar suara tembakan berkali-kali.
Aku membuka kedua mataku, lalu melihat beberapa pengawal yang jatuh akibat tembakan.
"Lexa kau tidak apa-apa?!" Lexi bertanya padaku.
Aku terdiam melihat kembali ke arah Hinoto yang sudah tertembak dua kali di tangannya. Lalu aku melihat ayah berjalan mendekat seperti seorang bos mafia. Apakah ini yang membuat bunda jatuh hati pada ayah. Kharisma ini yang membuat ayah disegani oleh para musuh-musuhnya.
"Berani sekali kau menculik putri kesayanganku! ditambah kau juga melukai menantuku! Apa kau sudah siap mati— ditanganku!" Ayah berkata dengan nada dingin tetapi aura membunuhnya sangat kuat. Inikah ayah yang sesungguhnya sebelum bertemu dengan bunda.
Takeda terkekeh mendengar ayah berkata seperti itu, karena baginya ayah adalah harimau tua yang sudah tidak memiliki kekuatan apa-apa. Namun, dia salah menilai ayah. Sepertinya ayah akan melakukan hal yang kotor tetapi bukan dengan tangannya sendiri.
"Kau begitu merendahkanku— aku akan menghabisimu tetapi— kau akan kuberikan pada mereka yang sudah menunggumu sedari tadi! Mereka akan memangsamu dan menyiksamu hingga mati segan, hidup pun segan!" Ayah berkata sembari menyeringai, itu terlihat mengerikan bagiku.
Karena ayah tidak pernah memperlihatkan sisi gelapnya padaku. Ayah selalu memperlihatkan sisi lembut dan penuh kasih sayang baik pada bunda, Lexi dan diriku.
Ayah memberikan sebuah tanda, seketika beberapa mobil tiba terlihat beberapa orang yang memiliki kekuasaan keluar dari mobil. Mereka menghampiri ayah lalu tersenyum. Semua pengawal Takeda berhasil dilumpuhkan.
Sedangkan Takeda di bawa oleh orang-orang tersebut, seorang pria paruh baya menghampiriku. Lalu dia berkata, "Kau mirip dengan bundamu— teruslah hidup bahagia karena itu yang diinginkan oleh kedua orangtuamu."
Aku tersenyum mendengar itu, lalu pria itu meminta izin pada ayah dan diriku apakah dia bisa memelukku. Ayah mengizinkannya dan aku pun mengizinkan pria itu memelukku. Dia sama seperti ayah terlihat hangat tetapi jika sudah marah mungkin aura membunuhnya aakn kuat juga.
"Apakah kau tidak ingin memeluk suamimu ini, sayang?!" Hinoto berbisik padaku.
Aku tidak peduli dengannya, biarkan saja dia memeluk dirinya sendiri. Namun, aku teringat jika dia terluka tembak di lengannya. Aku segera melihat lukanya, terlihat kedua luka tembak itu semakin parah darah terus saja mengalir.
"Lebih baik kita kembali ke rumah! Dan membawa Hinoto ke rumah sakit!" Ayah berkata lalu menuju ke arahku lalu memelukku dengan erat. Aku rindu pelukan ini selam beberapa hari disekap oleh Takeda.
__ADS_1
Namun, Hinoto menolak untuk ke rumah sakit, dia ingin merawat lukanya di rumah saja. Ayah menuruti keinginan Hinoto, akhirnya kami pun masuk ke dalam mobil untuk kembali ke rumah.
Setelah tiba di rumah sudah ada dokter dan asistennya menunggu kedatangan kami. Rupanya ayah sudah menghubungi mereka sedari kami masih dalam perjalanan pulang.