
Lexa POV
Persiapan untuk menyelamatkan ayah sudah siap, aku pun mulai memakai perlengkapan tempurku. Aku berharap ayah baik-baik saja, aku tidak ingin kehilangan ayah. Sudah cukup aku kehilangan bunda akibat ulah Rey Hirasaki.
"Kau sudah siap?!" Aiko bertanya padaku.
Aku mengangguk, kulihat di belakang Aiko ada Himawari. Dia sudah datang sedari malam. Aku pun memberikan beberapa alat pada Aiko dan Himawari. Alat yang sudah dibuat oleh Lexi untuk berjaga-jaga.
Kami para wanita sudah selesai bersiap, aku berjalan ke bawah untuk melihat persiapan Lexi, Aldo dan Azura. Saat aku melihat mereka sudah berdiri di ruang keluarga, mereka masih mengumpulkan beberapa senjata yang akan di gunakan.
"Kau sudah siap Lexa?!" Lexi bertanya padaku.
Aku menganggukkan kepala, setelah itu Lexi mengatakan semua rencana yang sudah di buat. Di memiliki rencana A dan rencana B. Dia menjelaskan semua rencananya tersebut.
Tim kali ini dibagi menjadi 3 tim, yang pertama aku bersama Azura, Lexi bersama Himawari dan Aiko bersama Aldo. Lexi sudah merencanakan semua ini. Mengapa bisa terbentuk tim seperti ini, karena Lexi sudah memperhitungkan berasaskan keahlian kami masing-masing.
Aku percaya penuh akan penilaian Lexi, karena selama ini dia tidak pernah salah. Setelah semuanya mengerti dengan tugas dan tanggungjawab. Kami pun pergi dengan menggunakan kendaraan yang sudah disiapkan.
Lexi lebih memilih menggunakan mobil bersama Himawari begitu juga dengan Aiko dan Aldo. Sedangkan aku menggunakan sepeda motor, Azura pun menggunakan sepeda motor yang sudah Lexi modifikasi.
Lexi menyiapkan mobil yang bisa di gunakan di jalanan yang berbatu dan berliku. Karena jalanan yang akan kita tempuh sangat berbahaya, setelah semua siap kami pun bergegas menyelamatkan ayah.
Dalam perjalananku tidak mengalami kendala, aku berpikir mungkin saja Rey sudah menyiapkan segala sesuatunya di sana. Ayah aku harap kau baik-baik saja, tunggu aku ayah! Aku berkata dalam hatiku.
Perjalanan menuju lokasi kami tempuh dengan waktu satu jam karena kami memacu kendaraan kami dengan sangat cepat.
"Lexa berhati-hatilah, kita sekarang sudah berada di daerah kekuasaan Rey Hirasaki! Aku harap kalian semua tidak mematikan sambungan earpiece, karena kita harus selalu berkomunikasi!"
Semua menjawab serentak "Iya!"
Ckitttt!
Kami semua berhenti, aku melihat di depan ada pos penjagaan. Di sana sudah banyak penjaga yang menanti kedatangan kami. Mungkin mereka sudah mengetahui bahwa kami akan datang untuk menyelamatkan ayah.
Aldo mengatakan pada pos pertama ini biar dia dan Aiko yang membereskannya. Sedangkan aku dan Lexi melanjutkan perjalanan kami. Aku percaya mereka berdua bisa mengalahkan mereka lalu menyusul kami.
__ADS_1
Lexi langsung tancap gas, mobilnya melesat menabrak penghalang di depannya. Para penjaga berhamburan mereka menghindari laju mobil Lexi, aku pun langsung menarik gas motor begitu juga dengan Azura. Kami berdua mengikuti Lexi dari belakang.
"Kita sudah hampir dekat, namun di depan ada satu lagi pos penjagaan. Lexa dengarkan aku! Kau harus terus maju lalu menyelematkan ayah! Aku akan menyusulmu setelah aku selesai dengan pos di depan!"
Lexi berkata padaku lewat earpiece, aku menyetujui rencana Lexi. Dia membuka jalan untukku dan Azura.
"Aku percaya padamu Lexi! Aku tunggu kau di sana! Kita akan membawa kembali Ayah pulang!" ucapku pada Lexi.
Lexi berkata, "Kita pasti akan membawa kembali Ayah bersama-sama, jangan biarkan Rey merebut orang yang kita sayangi! Sudah cukup kita kehilangan Bunda! Pergilah Lexa!"
Setelah mendengar perkataan Lexi, aku bergegas menarik gas motorku. Aku harus segera menuju kediaman Rey, jangan samapai aku terlambat untuk menyelamatkan ayah.
Karena informasi yang Lexi dapat, bahwa ayah akan di hukum oleh Rey hari ini. Aku berpikir apakah ini yang dinamakan cinta? Dia rela membunuh orang, meski orang itu adalah orang yang dicintai oleh wanita yang dia cintai? Semua pertanyaan itu kembali berkeliaran di pikiranku.
Aku memutuskan untuk menghentikan motorku, Azura bertanya mengapa aku menghentikan motor. Aku mengatakan padanya bahwa kita sudah sampai.
Aku menunjukkan sebuah gerbang yang di jaga oleh beberapa pengawal, aku memutuskan lebih baik masuk secara diam-diam. Itu lebih baik untuk saat ini. Azura mengerti akan maksudku, dia pun mulai mencari jalan masuk untuk kami.
"Ada sebuah pintu masuk yang aman bagi kalian! Di sebelah barat ada sebuah lorong! Kalian bisa langsung masuk kesana, semoga berhasil!" Lexi memberikan arahan padaku melalui earpiece.
Ku dengar napasnya terengah-engah, paskah dia bisa menghadapi mereka. Aku yakin Himawari dan Lexi bisa saling melindungi, aku pun bergegas menuju sebuah lorong yang dikatakan oleh Lexi.
Azura berkata padaku, dia memilih untuk berjalan terlebih dahulu. Aku mengikutinya dari belakang dengan posisi siap siaga. Aku merasa lorong ini terlalu sepi, apakah yang akan menghadang kita di depan sana.
"Hati-hati Azura! Aku merasa ada yang tidak beres!"
Azura pun mengangguk, dia mulai berjalan namun dengan sangat berhati-hati. Terlihat cahaya di depan sana, mungkinkah ini akhir dari lorong gelap ini.
Benar saja yang aku pikirkan, di depan sana sudah berdiri para pengawal Rey Hirasaki. Mereka mengarahkan senjata api padaku dan Azura.
"Angkatan tangan kalian!" ucap seorang pengawal pada kami.
Aku pun mengangkat tanganku begitu juga dengan Azura. Aku mengikuti dulu saja apa mau mereka. Yang penting aku harus bisa melihat ayah.
Mereka menyuruhku berjalan, aku pun mengikuti arahan mereka. Karena tidak ada pilihan lain. Mereka menyuruhku berhenti di sebuah halaman yang begitu luas.
__ADS_1
Aku melihat ayah yang sedang terikat, kedua tangannya terikat di dua buah pilar yang berdiri kokoh. Aku sungguh tidak tahan melihat itu, aku hendak berlari namu mereka menghentikanku dengan menodongkan senjata.
Prok!
Prok!
Terdengar suara tepuk tangan seseorang dari kejauhan, aku berusaha mencari siapa orang itu. Semakin lama suara tepukan itu semakin jelas, dia adalah Rey Hirasaki. Dia berjalan mendekati ayah yang sedang terikat.
Terlihat jelas bahwa mereka telah memukuli ayah dengan sangat brutal. Banyak luka lebam dan darah kering yang menempel di tubuh ayah, namun ada pula darah segar yang masih mengalir.
"Haha tidak kusangka yang baru tiba di sini adalah kau Lexa! Kemana saudaramu? Aku ingin melihat kalian semua tiada!" Rey Hirasaki berkata sembari menyeringai.
Setelah itu dia mendekati ayah, entah apa yang akan dia lakukan. Dia mulai memukul ayah dengan tangannya, ayah mengerang kesakitan. Aku tidak tahan dengan semua yang aku lihat ini.
"Ayah..., Ayah!" Aku berteriak sekuat tenagaku dengan berusaha melepaskan diri dari cengkraman dua orang pengawal.
Mereka mencengkramku dengan sangat kuat, sehingga aku tidak bisa melepaskan diri dari mereka. Aku terus berteriak memanggil ayah, namun ayah belum bisa mendengar suaraku.
"Lexa..," Aku mendengar suara lirih ayah.
Ayah terlihat begitu kesakitan, aku tidak terima dengan semua ini. Aku tidak ingin melihat lagi Rey memukul ayah. Namun Rey masih saja memukuli ayah. Begitu bencikah dia terhadap ayah sehingga di memukulnya tanpa berperasaan.
"Hentikan itu Rey Hirasaki! Mengapa kau begitu jahat kepada Ayahku? Kau sungguh tidak berperasaan!" teriakku.
Meski aku sudah berteriak namun Rey tidak menghentikan memukul ayah. Dia semakin menjadi gila, aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman para pengawal. Kulihat Azura pun berusaha melepaskan diri namun itu terlihat sulit.
___________________________________________
Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.
Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉
Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.
__ADS_1
Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉
c you next bab 😘