
Hinoto POV
Aku tidak menyangka wanita yang ada di dalam pangkuanku ini sangat menarik. Sehingga aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya dan kenapa pula aku tidak bisa menahan diri ini saat dekat dengannya.
Aku mengecup keningnya dengan lembut terbersit dalam pikiranku untuk menggendongnya lalu membawanya ke kamar mandi. Namun semua itu terabaikan, kecupan di kening menjalar ke kecupan sekilas di bibir.
"Aku ingin membersihkan diri," Lexa berkata dengan lirih terlihat jelas wajahnya merona.
Saat mendengar dia berkata seperti itu, aku tidak bisa menahan diriku untuk kembali bermain dengannya. Bibirnya begitu menggoda sehingga tanpa sadar bibir ini mengecupnya secara perlahan dan pasti. Awalnya dia hanya diam, lama-kelamaan dia pun mengikuti permainanku.
Setelah selesai dengan permainan selama satu jam, aku menggendongnya lalu berjalan menuju kamar mandi. Dia terlihat lemas, apakah permainanku terlalu berlebihan terhadapnya.
"Sayang, kamu kuat berdiri?" bisikku padanya.
Mukanya semakin merona setelah mendengar apa yang kutanyakan padanya. Terlihat dia menggelengkan kepalanya secara perlahan tetapi aku dapat mengerti apa yang dimaksud. Aku tersenyum melihat dia yang pemalu seperti ini.
Aku menurunkannya perlahan lalu memutar keran shower sehingga menghasilkan tetes demi tetes air yang membasahi tubuh kami berdua. Kami pun melakukan rutinitas untuk membersihkan diri.
Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Menggendongnya lalu berjalan menuju tempat tidur. Mendudukkannya secara perlahan di atas tempat tidur.
Terdengar lantunan musik dari ponsel yang tersimpan di atas nakas, aku berjalan untuk mengambilnya. Lalu aku mematikan alarm ponsel yang selalu menjadi pertanda untuk menghubungi Lexa dikala dia tidak disampingku.
"Sayang, kamu mau sarapan apa pagi ini?" ucapku pada Lexa yang masih terduduk di atas tempat tidur.
"Apapun itu yang penting kamu yang memasaknya." Jawabnya dengan senyum manis di bibirnya.
Mendengar jawaban darinya, aku memikirkan menu apa yang akan dibuat sembari berjalan menuju pantry. Memang sengaja hari ini semua pelayan meliburkan diri, sehingga aku bisa berduaan bersama Lexa hari ini.
Aku membuka lemari pendingin guna melihat apa bahan yang bisa dimasak. Memilih semua bahan yang sudah tersedia di dalam lemari pendingin lalu aku mulia memasak dengan bahan yang sudah aku ambil dari dalam lemari pendingin.
Selesai sudah memaafkan untuk sarapan kali ini, saat hendak menyiapkan di atas piring. Aku melihat Lexa keluar dari kamar, dia menggunakan kemejaku lagi. Rupanya aku lupa menyiapkan pakaiannya, tetapi aku suka melihatnya menggunakan kemeja yang tampak kebesaran di tubuhnya.
__ADS_1
"Duduklah!" Aku mengatakan pada Lexa sembari merubah posisi kursi agar siap untuk diduduki.
Dia tersebut lembut padaku, lalu dia duduk dengan santainya di atas kursi yang menghadapku. Melihat makanan yang sudah tertata rapi di atas piring membuat matanya berbinar. Tanpa mengucapkan kata-kata dia langsung melahapnya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuknya untuk menghabiskan makanannya. Aku tersenyum melihat dia menyantap habis semua makanan yang sudah kubuat dengan penuh cinta.
"Kamu terlihat dingin, tetapi jika sudah berduaan seperti ini kamu terlihat sangat hangat dan romantis." Lexa berkata dengan senyum manisnya, terlihat ada sisa makanan yang menempel di ujung bibirnya.
Aku langsung mengecup bibirnya sekilas dan memakan sisa makanan yang menempel di ujung bibirnya yang terasa manis. Dia terkejut dengan apa yang kulakukan. Namun sepersekian detik dia membalas apa yang sudah kulakukan dengan kecupan yang begitu hangat.
Saat dia hendak melepaskan bibirnya, aku tidak membiarkannya begitu saja. Kuraih tengkuk lehernya sehingga kecupannya tidak berkahir dengan cepat. Dia begitu menikmatinya, itu membuat hasrat di dalam hati terprovokasi ingin terus melahapnya.
Namun semua kesenanganku terganggu oleh suara musik bel rumah yang terus saja berbunyi. Lexa melepaskan kecupannya karena merasa terganggu dengan bunyi bel yang terus menerus bersuara.
"Bukalah, aku akan kembali ke dalam kamar!"
Aku berjalan menuju pintu guna melihat siapa yang datang sepagi ini ke rumah. Saat melihat layar kamera pengawas pintu, terlihat Aiko yang sudah berdiri di sana. Mungkin Lexa yang menghubunginya untuk membawakan pakaian gantinya.
"Lexa memerlukan ini, dia tadi menghubungiku untuk membawakan ini!" ucapnya padaku sembari berjalan menuju sofa dan duduk di sana dengan santai.
Aku mengambil tas yang dia bawa dan membawanya masuk ke dalam kamar untuk diberikan pada Lexa. Saat membuka pintu kamar kulihat dia sedang memandang ke luar jendela. Kaki ini melangkah perlahan untuk mendekatinya lalu memeluknya dengan lembut.
"Aiko sudah tiba, kamu menyuruhnya kemari?" bisikku dengan lembut lalu mengecup ceruk lehernya.
Dia menggeliat karena merasa kegelian lalu berkata, "Hentikan ini Hinoto! Kau sudah keterlaluan dari semalam."
"Kamu masih aku hukum!" Aku berkata dengan sedikit penekanan tetapi penuh kelembutan.
Setelah mengatakan itu aku pergi meninggalkannya di kamar untuk mengganti pakaiannya. Mungkin hari ini masih ada pekerjaan yang harus dia lakukan bersama Aiko.
Aku berjalan menuju Aiko yang sedang duduk sembari memainkan ponselnya. Dia melihat kedatanganku, tetapi raut wajahnya terlihat sangat kesal. Ada apa dengannya sehingga terlihat kesal seperti itu.
__ADS_1
"Hinoto, katakan pada temanmu agar tidak terus menggangguku!" Aiko berkata dengan nada kesal.
Teman? Apakah yang di maksud adalah Isamu. Apa yang sudah dilakukan olehnya sehingga membuat Aiko sangat kesal. Lebih baik aku memperingatkan Isamu agar tidak terlalu agresif pada Aiko.
"Apa yang sudah dia lakukan padamu?" Lexa berkata dari belakangku.
"Aku kesal dibuatnya, dia terus saja menghubungiku!" Aiko berkata dengan ketus.
Lexa terkekeh mendengar apa yang baru saja Aiko katakan, begitupun denganku. Dia duduk di sampingku sembari tertawa, lalu dia menatapku dengan penuh arti. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu untuk Aiko.
"Hentikan tawa kalian! Itu semakin membuatku kesal saja." ucap Aiko yang membuat aku dan Lexa semakin terkekeh.
"Sudah jangan marah, biar aku yang mengatakan pada Isamu agar tidak terlalu agresif padamu." Aku berkata pada Aiko yang masih terlihat kesal.
Lexa masih saja terkekeh, muncul niat jail dalam pikiranku untuk menghentikan tawanya yang manis. Dengan cepat aku mengecup bibirnya sekilas, terlihat kedua matanya terbelalak.
"Hai kalian, hentikan itu! Aku masih sendiri jomlo!" Aiko berdecak.
Niatku Inging menghentikan tawa Lexa, mendengar Aiko berkata seperti membuatku kembali terkekeh begitupun dengan Lexa. Terlihat raut wajah kesal Aiko semakin membesar, dia berdiri mungkin hendak pergi meninggalkan kami.
"Lanjutkan saja kemesraan kalian, hari ini tidak ada pekerjaan! Aku akan kembali ke hotel saja!" dia berkata lalu berjalan keluar rumah.
Lexa berusaha menghentikan tawanya dengan menarik napas guna mengatur ritme pernapasannya, yang sudah banyak tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Hukumannya belum selesai, sayang!" bisikku padanya.
Seketika raut wajahnya berubah, tubuhnya mulai menjauhiku. Aku tahu dia akan menghindar. Namun hari ini aku tidak akan melepaskannya.
Tiba-tiba ponsel Lexa berdering, dia langsung berdiri dan mengambil ponselnya. Dia terlihat sangat serius menerima telepon tersebut, siapa yang menghubunginya?
Setelah selesai berbicara di telepon, dia menghampiriku lalu dia mengatakan bahwa Lexi dan ayah akan ke Indonesia. Karena ada masalah yang harus di selesaikan di Indonesia.
__ADS_1