Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 173


__ADS_3

POV Lexi


Melihat Himawari yang duduk termenung dibatas sofa, membuatku sedikit khawatir. Sebenarnya apa yang sedang dia pikirkan, apakah menjaga anak-anak membuatnya merasa lelah.


"Ada apa, sayang?" tanyaku pada Himawari yang duduk termenung di atas sofa.


Dia tersenyum lalu berdiri dan mencium punggung telapak tanganku dengan lembut. Setelah itu dia bertanya padaku apakah ingin dibuatkan kopi apa teh hangat. Aku mengatakan padanya untuk membuatkan ku teh hangat saja, dia pun pergi keluar kamar. Dan aku memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


Saat aku keluar dari kamar mandi, Himawari baru saja tiba dengan membawa dua cangkir teh dan camilan. Dia menyimpan nampan yang berisi teh dan camilan tersebut di atas meja.


"Bagaiman pekerjaanmu, sayang?" tanya Himawari padaku sembari duduk di atas sofa.


Aku menceritakan semua pekerjaanku padanya karena sudah terbiasa selaku menceritakan apa yang terjadi di perusahaan. Setelah aku menceritakan semuanya, aku bertanya bagaimana dengan hari ini padanya. Apakah dia merasa lelah atau ingin istirahat sejenak mengurus anak-anak. Karena terlihat dia begitu kelelahan jika mengurus anak-anak, padahal aku sering menyuruh pelayan untuk membantunya tetapi dia sering menolaknya.


"Sebenarnya apa yang mengganggu pikiranku?" Aku bertanya sekali lagi padanya.


Dia kembali terdiam dan menyandarkan kepalanya ke pundakku, aku memasukkannya dalam dekapanku. Karena aku ingin selalu ada untuknya, selalu berusaha membuatnya merasa tenang serta terlindungi.


"Rein menghubungiku, dia mengatakan akan kembali ke Jepang!" Dia berkata dengan rasa sedih.


Aku tahu jika dia tidak ingin jika Rein kembali ke Jepang karena itu akan berdampak buruk bagi Aldo. Selama beberapa tahun ini bahkan sampai saat ini dia masih merasa bersalah pada Aldo, atas semua perbuatan Rein.


"Sudahlah, mungkin semua ini harus terjadi— sekarang kita berdoa saja mudah-mudahan Aldo akan baik-baik saja!" jawabku pada Himawari lalu aku mengecup keningnya dengan lembut.


Setelah itu aku mengambil cangkir teh yang ada di atas meja lalu meminumnya. Begitu pula dengan Himawari, akhirnya kami pun berbincang-bincang sejenak sembari menghabiskan minuman dan camilan.


Teh sudah habis begitu pula dengan camilannya, aku memutuskan untuk beristirahat karena badanku sudah merasa letih. Terlihat pula Himawari yang sudah tidak bisa menahan rasa kantuknya. Sehingga dia tertidur menungguku menghabiskan teh semabari melihat email yang masuk melalui ponsel.


Aku menggendongnya secara perlahan lalu berjalan menuju tempat tidur, kurebahkan tubuhnya secara perlahan agar dia tidak terbangun. Setelah itu aku pun merebahkan tubuhku di sampingnya, kupandangi wajahnya yang begitu memesona.


"Selamat malam, sayang!" lirihku sembari mengecup keningnya dengan lembut.


Keesokan harinya.


Diriku terbangun, aku pikir Himawari masih berada di sisiku tetapi aku tidak bisa melihatnya. Mungkin dia sudah mengurus anak-anak, apakah dia tidak merasa bosan atau lelah dengan rutinitas seperti ini setiap harinya. Apakah aku terlalu membatasi kehidupannya? Semua pertanyaan mulai menggangguku.


Lebih baik aku bersiap lalu melihat apa yang sedang dikerjakan olehnya. Setelah selesai bersiap, aku bergegas menuju kamar Rosalina mungkin Himawari sedang berada di kamarnya.


Terdengar suara tawa dari dalam kamar, aku membuka pintu kamar Rosalina lalu melihat kedua wanita yang aku cintai sedang bersenda gurau. Melihat tawa mereka berdua membuat hati ini menjadi tenang, tidak terlintas pikiran yang tadi menggangguku.


"Ayah," teriak Rosalina padaku.


Aku menghampiri lalu dia langsung loncat padaku sehingga dia berada dalam gendonganku. Aku bertanya padanya apa yang sedang dibicarakan sehingga terdengar suara tawa hingga keluar kamar.


Rosalina menjawab jika dulu ibu pernah terjatuh kedalam sungai, saat hendak mengejar seekor kupu-kupu yang sedang terbang. Dan yang membuatnya terkekeh ternyata di atas kepala Himawan duduk seekor kata yang sedang bernyanyi.

__ADS_1


Mendengar cerita itu aku terkekeh, begitu juga dengan Rosalina dia kembali terkekeh saat membayangkannya. Terlihat Himawari sedikit kesal apakah karena aku menertawakannya, sehingga dia memancarkan aura menghajarnya.


"Sayang, aku baru tahu jika kau pernah seperti itu." Aku berkata lalu terkekeh kemabali.


"Sudah hentikan tawamu itu!" Himawari berkata sembari cemberut dan pergi meninggalkan kami berdua di dalam kamar.


Rosalina berkata padaku jika ibunya sedang marah dan menyuruhku untuk mengejarnya lalu meminta maaf. Saat hendak mengejar Himawari terlihat Zeroun yang sudah rapi. Dia mengajak Rosalina untuk ke kamarnya karena ada yang ingin ditunjukkan.


Mereka berdua pun pergi ke kamar Zeroun sedangkan aku berjalan menuju kamar guna mencari Himawari yang marah. Aku membuka pintu kamar, terlihat Himawari sedang duduk di atas tempat tidur dengan wajah kesalnya.


"Apa kau marah padaku, sayang?" bisikku padanya.


Dia hanya dia, sikapnya yang seperti ini membuat jiwa nakal yang ada dalam diriku muncul. Tanpa mengucapkan sepatah kata, aku langsung mengecup bibirnya yang begitu manis menurutku. Dia berusaha untuk melepaskan diri dariku. Namun, aku tidak akan melepaskannya.


Awwww ... Dia menggigit bibirku, sehingga aku melepaskan kecupannya. Lalu berkata, "Apa kau lapar? Sehingga menggigit bibirku yang sexi ini."


Dia terkekeh mendengar perkataanku, padahal aku kesal karena dia sudah berani melukai bibirku ini. Karena dia terus terkekeh aku langsung mendorong tubuhnya ke atas tempat tidur. Sehingga dia terlentang di atas tempat tidur.


Dan posisiku tepat berada di atasnya guna melihat apakah dia masih bisa menertawakan diriku atau tidak. Aku pikir dia akan berhenti tertawa tetapi aku salah dia semakin terkekeh-kekeh. Dan itu membuatku semakin kesal dibuatnya.


Untuk menghentikan tawanya aku langsung menyerangnya dengan mengecup bibirnya. Dia berusaha melepaskan kecupanku tetapi tidak akan aku biarkan kali ini. Aku terus bermain dengan lembut sehingga membuatnya mengikuti permainanku.


Akhirnya dia menikmati permainanku dan ikut bermain bersama denganku. Tangan ini tidak ingin ketinggalan lalu masuk kedalam pakaiannya dan menelusuri setiap tubuhnya.


Dia mulai menikmati setiap permainan yang aku lakukan, aku menghentikan kecupanku lalu menatapnya dengan lekat. Terlihat wajahnya yang begitu memesona, ritme napasnya sudah tidak beraturan membuatku semakin ingin menyerangnya.


Setelah pergulatan kami, aku kembali membersihkan diri begitu juga dengan Himawari. Aku bersiap harus pergi ke perusahaan karena Lexa belum kembali sehingga banyak pekerjaan yang harus aku tangani. Aku kembali berpikir inilah yang dilakukan oleh Lexa saat aku tidak ingin membantunya menjalankan perusahaan dulu.


Itu sebabnya sekarang aku tidak bisa melarang Lexa jika dia ingin pergi menemani Hinoto dalam perjalanan bisnisnya. Pikiranku terlalihkan kembali jika melihat Himawari karena dia masih terbebani dengan rencana kedatangan Rein. Jika saja Rein tidak membuat ulah mungkin tidak akan menjadi seperti ini.


Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar diketuk, Himawari berjalan menuju pintu kamar lalu dia membukanya. Terdengar suara Aldo, rupanya dia sudah tiba di rumah. Himawari mengatakan jika sarapan sudah siap dan Aldo menunggu untuk pergi ke perusahaan.


Aku berjalan menuju ruang makan bersama Himawari, terlihat Aldo dan anak-anak sudah berada disana. Setelah itu aku duduk dan sarapan pun di mulai.


"Ayah Lexi— sesudah sarapan aku boleh menghubungi Bunda?" tanya Zeroun padaku.


"Boleh sayang, kau bisa meminta bantuan pada ibu Himawari untuk menghubungi bundamu." Jawabku pada Zeroun dengan lembut, mungkin dia merindukan Lexa.


Sarapan pun selesai, aku memutuskan untuk bergegas menuju perusahaan. Karena ada meeting yang harus aku hadiri, aku berpesan pada Himawari agar tidak terlalu kelelahan. Jika anak-anak sedang asik bermain dia bisa melakukan aktivitas yang membuatnya relaks.


Dalam oerjalanaenuju perusahaan, aku mengatakan pada Aldo jika Rein. Akan kembali ke Jepang. Aku melihat dia tidak mengeluarkan ekspresi mengejutkan atau apa pun. Dia hanya memperlihatkan sikap dinginnya, apakah dia sudah mati rasa terhadap Rein.


Aku mengatakan ini dengan alasan agar dia bersiap dan tidak melakukan hal-hal yang akan merugikannya. Tibalah kami di perusahaan, aku langsung menuju ruang kerja. Guna mengambil dokumen yang dibutuhkan. Setelah itu memasuki ruang meeting bersama Aldo.


Meeting selesai dengan waktu yang sangat lama hingga waktunya makan siang. Ponselku berdering, aku berpikir jika yang menghubungiku adalah Himawari. Namun, aku salah karena yang menghubungiku adalah ibunya Aiko. Dia meminta aku dan Aldo menemuinya, aku menerima ajakan ibunya Aiko sekalian untuk makan siang.

__ADS_1


"Aldo— kita akan makan siang bersama ibunya Aiko!" Aku berkata lalu pergi menuju ruanganku.


Sedangkan Aldo mengikutiku dari belakang, entah mengapa ibunya Aiko ingin bertemu denganku dan Aldo. Sebenarnya apa yang sudah terjadi, apakah ibunya Aiko ingin melanjutkan permasalahan kecelakaan itu.


***


Tibalah aku dan Aldo di rumah Aiko karena ibunya Aiko mengundang kami makan siang di rumahnya. Sebenarnya aku lebih suka di luar rumah sebab aku khawatir jika Aiko kembali ke rumah di saat jam makan siang. Aku yakin jika Aiko berada di rumah dan melihat Aldo maka dia akan sangat marah.


"Masuklah!" ucap ibunya Aiko padaku dan Aldo.


Aku pun masuk dan disuruh langsung ke ruang makan untuk makan siang terlebih dahulu. Setelah itu baru membicarakan sesuatu hal mengenai kecelakaannya suaminya.


Makan siang sudah selesai, aku dan Aldo Dudu di atas sofa sembari menunggu ibunya Aiko yang pergi ke ruang baca suaminya. Aku melihatnya berjalan mendekatiku sembari membawa map ditangannya.


"Bacalah ini!" Ibunya Aiko berkata semabri menyerahkan Mao yang ada ditangannya padaku.


Aku pun membuka map tersebut lalu membacanya, sungguh terkejutnya aku setelah membaca dokumen tersebut. Kutatap Aldo dengan saksama, apakah dia sudah tahu tentang Rein dan Isamu?


"Apa kau sudah tahu tentang semua ini?!" tanyaku pada Aldi sembari memberikan dokumen itu padanya.


Dia membaca dokumen itu tetapi dia hanya diam, terlihat jelas di matanya kemarahan yang begitu besar. Apakah ini yang sudah dia lihat saat kecelakaan itu terjadi? Aldo menyimpan dokumennya di atas meja lalu dia menghela napasnya dan berkata pada ibunya Aiko.


"Sebenarnya aku tidak lupa kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi tetapi aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat Aiko yang begitu marah padaku karena aku penyebab kematian ayah dan kekasih yang sangat dicintainya. Ditambah lagi dengan kebohongan Rein yang membuat Aiko semakin marah padanya." ucap Aldo.


Ibunya Aiko mengatakan jika dia mendapatkan pesan terkahir dari suaminya. Pesan itu mengatakan jika sampai mati pun tidak akan pernah menyetujui pernikahan Aiko dan Isamu. Setelah mendapatkan pesan itu, ibunya Aiko mendapat kabar jika sudah terjadi kecelakaan dan menewaskan suaminya.


"Maukah kau menikahi Aiko?" tanya ibunya Aiko dengan nada serius.


Aku sungguh terkejut dengan apa yang diminta oleh ibunya Aiko, entah apa yang ada dipikirannya. Mengapa meminta Aldo untuk menikahi Aiko, padahal dia tahu betul jika Aiko sangat membenci Aldo.


"Mengapa Nyonya meminta hal yang tidak mungkin padaku?" tanya Aldo pada ibunya Aiko.


"Karena itu adalah keinginan terkahir dariku!" jawabnya dengan penuh keyakinan.


Aldo mengatakan jika semua itu tidak mungkin karena hatinya sudah mati oleh penghianatan Rein. Dan juga Aiko yang sangat membencinya, itulah yang tidak bisa membuat mereka bersatu. Jika dipaksakan kama rumah tangga mereka hanya akan menimbulkan rasa sakit hati dan kesedihan.


"Pikirkan baik-baik, aku akan menunggu keputusanmu! Lagi pula aku sudah membicarakan ini dengan Tuan Alex dan ayahmu asisten Ari." Ibunya Aiko berkata sekali lagi.


Dan aku terkejut sekali lagi, se-serius inikah ibunya Aiko ingin menikahkan mereka berdua. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Aiko tahu semua ini. Sebenarnya mengapa ibunya Aiko bersikeras ingin menikahkan mereka berdua. Pasti ada sesuatu yang masih disembunyikan olehnya.


Setelah pembicaraan itu kami pun pamit dan kembali ke perusahaan. Dalam perjalanan menuju perusahaan aku melihat Aldo diam seribu bahasa. Mungkin dia sedang memikirkan apa yang sudah terjadi.


"Mengapa kau tidak mengatakan padaku jika kau tidak melupakan kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi?!" tanyaku pada Aldo.


Dia mengatakan jika sebelum kecelakaan itu terjadi dia melihat Rein dan Isamu sedang bermesraan di sebuah cafe. Dan mereka berdua tidak menyadari jika Aldo ada di sana. Tidak begitu lama ayahnya Aiko tiba dan mereka pun mulai berdebat.

__ADS_1


Dan yang membuatku tidak habis pikir mengapa Rein dan Isamu berniat menghabisi Aldo dan ayahnya Aiko. Itu yang membuatku penasaran, jika alasannya adalah hubungan mereka itu tidak mungkin. Pasti ada alasan lain dibalik penyerangan mereka pada Aldo dan ayahnya Aiko.


__ADS_2