
Lexa POV
"Lexa mereka masih mengejar kita!" ucap Aldo padaku.
Aku menyuruh Aldo terus mencair mobilnya dengan kecepatan penuh, aku belum bisa menghubungi Lexi. Aku pikir dia pun dalam keadaan sulit. Kulihat mereka terus berusaha mengejar kami, aku memutuskan mengganti gaun dengan pakaian yang bisa membuatku bergerak dengan leluasa.
Aku menyuruh pria bertopeng untuk bertukar tempat, lagipula semua ini karena menolongnya. Sehingga dikejar-kejar musuh, anehnya sifat mesumnya tidak berubah.
Aku menyuruh Aldo menutup bagian penumpang dengan bagian depan. Sehingga orang yang di depan tidak bisa melihat bagian belakang. Itu semua demi keamanan ku untuk mengganti pakaian.
Ckitttt!
Brukk!
Aku terkejut karena Aldo berhenti mendadak lalu terdengar suara benda tertabrak. Aldo membuka skat pemisah ditengah mobil, aku melihat Aldo menabrak sebuah mobil.
Setelah dilihat dengan seksama ternyata mobil yang ditabrak Aldo adalah mobil musuh. Mereka dengan sengaja menabrakan mobilnya, agar mobil kami berhenti.
Aku menyuruh Aldo untuk memakai sebuah topeng, belum saatnya wajah kami diketahui mereka. Benar-benar gila, kulihat dibelakang sudah ada beberapa mobil musuh. Mereka mengepungku, aku harap Lexi tidak mengalami banyak masalah.
Mereka menghampiri mobil, kulihat mereka membawa tongkat pemukul. Mereka berniat memecahkan kaca mobil, sebelum mereka memecahkan kaca mobil Aldo keluar. Begitupun dengan pria bertopeng itu. Seorang musuh membuka pintu mobil belakang, dia menyuruhku keluar.
Salah seorang musuh mencoba menarik topengku, aku menepis tangan orang itu. Dia tidak menerimanya, tanpa kata-kata dia langsung menyerangku dengan tinjuannya. Melihat itu aku otomatis mengelak, dia semakin kesal karena gagal meninjuku.
Bug!
Whussss!
Dia melayangkan tinjuannya dan diakhir tinjuannya dia melayangkan tendangannya. Melihatku sudah mulai berkelahi, Aldo serta pria bertopeng itu mulai berkelahi.
Tidak hanya satu musuh yang menyerangku, melainkan ada beberapa musuh yang menyerangku. Tinjuan mereka layangkan kepadaku, aku berhasil menangkisnya atau menghindar dari tinjuan mereka.
Yang bisa kulakukan saat ini adalah bertahan, setelah terlihat celah untuk membalas mereka. Aku pun melancarkan serangan, ku menghajar satu per satu dari musuhku. Sehingga mereka terjatuh, satu per satu dari mereka berdiri kembali.
Whussss!
Salah satu dari mereka membawa balok kayu, aku berlari untuk menghajarnya. Dia melayangkan pukulannya menggunakan balok kayu. Aku menghindarinya dengan melipat kedua kakiku lalu berseluncur melewatinya. Saat di hendak berbalik badan, aku menendang kedua kakinya. Setelah itu dia terjatuh dan tidak berdiri lagi.
Bug!
Seorang musuh berhasil memukulku, aku berusaha menahan rasa sakit akibat pukulannya. Lalu bersiap kembali untuk bertarung, tidak akan kubiarkan mereka untuk menyentuh tubuhku kembali.
Mereka sudah bersiap-siap untuk menyerangku kembali, aku berdiri tegap. Kuangkat kakiku yang sebelah kanan, dengan posisi ini aku siap meluangkan tendangan secara bertubi-tubi.
Bug!
Bug!
__ADS_1
Tendangan kakiku menghantam wajah mereka satu per satu, sehingga mereka terjatuh. Kulihat ada beberapa yang masih berdiri, tanpa berpikir panjang aku berlari lalu melayangkan tinjuanku pada daerah perutnya. Sehingga dia pun akhirnya terjatuh.
Brugggg!
Aku terjatuh, lenganku sangat sakit. Kulihat seorang musuh membawa kayu balok. Sepertinya dia yang sudah memukulku dengan kayu balok itu.
"Lexa!!" teriak Aldo yang melihatku terjatuh.
Aku berusaha berdiri, namun musuh sudah berlari dia berniat untuk memukulku kembali. Aku belum siap untuk menghindar dari pukulannya, aku menyimpangkan kedua tanganku.
Brugggg!
Kubuka mataku, kulihat musuh sudah terhempas sangat jauh dariku. Ku mendongak, untuk melihat siapa yang mengulurkan tangannya padaku. Ternyata dia adalah pria bertopeng, di tersenyum sembari membantuku untuk berdiri.
Aldo pun mendekatiku, dia bertanya bagaimana dengan keadaanku. Aku berkata padanya bahwa aku baik-baik saja. Kami tidak menyadari bahwa musuh sudah mengepung.
Kami terkepung, Aldo serta pria bertopeng melindungiku. Mereka pikir aku tidak bisa bertarung lagi, tapi mereka salah! Aku masih bisa bertarung melawan para musuh.
Mereka mulai menyerang bersamaan, kami bertiga saling membelakangi. Sehingga kami bisa saling melindungi. Akhirnya kami pun memulai bertarung kembali.
Bug!
Tinjuan mereka dilayangkan bertubi-tubi padaku, aku berhasil bertahan lalu menghindarinya. Setelah aku mendapatkan kesempatan, aku balas mereka dengan tinjuanku lalu diakhiri tendangan.
Ada seorang musuh yang hendak menembak, aku mengambil belati yang tersimpan di sepatuku. Kulemparkan belati itu kearah musuh yang memegang senjata api.
Setttttt!
Clebb!
Aku tidak sempat menghindar, belati itu sudah tertancap di lenganku. Dia tersenyum saat belati yang dia lemparkan mengenai tanganku, seraya mengatakan kau mengenai lenganku maka kubalas.
Aldo melihat lenganku tertancap belati, dia segera berlari lalu menendang dengan sekuat tenaga orang yang telah menyerangku. Dia jatuh seketika dan tidak berdiri lagi.
Musuh-musuh sudah dilumpuhkan, aku menyuruh Aldo untuk segera pergi. Jika kita masih ada di sini mereka akan semakin bertambah.
"Bagaimana dengan lukamu?!" Aldo berkata dengan nada khawatirnya.
Aku menjawab tidak usah khawatir, karena saat ini yang perlu dilakukan adalah pergi dari tempat ini secepatnya. Aldo pun bergegas memasuki mobil, aku dan pria bertopeng pun ikut masuk ke dalam mobil.
"Kita pergi ke basecamp untuk bertemu dengan Lexi!" Aku memerintahkan pada Aldo.
Aldo ingin membawaku ke rumah sakit, namun aku tidak mau. Untuk saat ini yang ada dalam pikiranku adalah bertemu dengan Lexi. Aku mulai kesal dengan sikap Aldo yang tidak menurutku, akhirnya aku mengatakannya lagi dengan penekanan.
Aldo pun menyetujuinya, dia bergegas ke basecamp dengan kecepatan penuh. Aku mengambil kotak P3K, lalu aku berusaha untuk mencabut belati yang masih tertancap di lenganku.
"Apa kau kuat! Jika aku mengambil belati di lenganmu?!" Pria bertopeng itu bertanya, karena dia hendak membantuku untuk mencabutnya.
__ADS_1
Aku mengangguk, menandakan aku siap. Dia sudah memegang belati yang tertancap di lenganku. Aku berusaha menahan rasa sakit, dia mendekat padaku. Lalu berbisik mengucapkan kalimat mesumnya, aku kesal sehingga ingin rasanya menghajarnya.
"Sudah! Belatinya sudah terlepas!"
Belatinya sudah terlepas, aku terkejut karena tidak terlalu sakit pada saat tercabut. Apakah dia sengaja berbisik seperti itu padaku, dia berusaha mengalihkan pikiranku. Sehingga aku tidak terlalu mereka akan kesakitan saat beliau itu tercabut dari lenganku.
Dia membersihkan lukaku dengan telatennya, lalu mengoleskan krim obat pada lukaku. Setelah itu membalut lukaku dengan perban yang tersedia dalam kotak P3K.
Beberapa saat kemudian, aku tiba di basecamp. Ternyata Lexi sudah berada di sana. Aku bergegas menghampiri Lexi, ku lihat secara seksama apakah ada luka di tubuhnya. Karena aku tidak ingin dia terluka lagi.
"Hentikan itu! Kau seperti Bunda sja! Kau tahu Lexa aku bukan anak kecil lagi!"
Ucap Lexi padaku, namun aku menghiraukannya. Entah mengapa sejak mengetahui musuh kami adalah Rey Hirasaki, aku semakin takut kehilangan orang-orang yang kusayangi.
Lexi melihat luka di lenganku, sekarang giliran dia yang bersikap seperti ayah. Aku mulai kesal dengan sikapnya yang seperti itu. Saking kesalnya aku memukul pelan kepala belakangnya.
Aiko dan Aldo terkekeh melihat kelakuan kami, mereka sangat senang jika melihat kami seoerti ini. Aku melepaskan sesuatu, iya aku melupakan pria bertopeng itu dan partner-nya begitupun dengan Lexi.
"Oke, aku ingin tahu? Apa tujuan kalian di kediaman Rey Hirasaki? Dan apa yang kalian ambil dari sana?!" Tanya Lexi pada pria bertopeng dan temanya.
Pria bertopeng itu mengatakan semuanya, dia sedang mencari semua informasi mengenai Rey Hirasaki. Karena Rey Hirasaki adalah seorang mafia, dan juga seorang pembunuh.
Mendengar kata-kata pembunuh, terlihat jelas dimata teman pria bertopeng. Ada kemarahan yang sangat besar, apakah dia ada dendam dengan Rey Hirasaki. Aku tidak tahu, namun yang pasti tujuan kami sama. Membalas dendam pada Rey Hirasaki.
"Bukalah topeng kalian?! Lagipula kalian sudah melihat kami!" ucap Lexi, karena dia penasaran dengan pria bertopeng.
Wanita bertopeng membuka topengnya, lalu berkata "Aku sudah membukanya! Dan kau juga sudah mengenalku Tuan Lexi!"
Aku teringat gadis ini, apakah dia wanita yang membuat Lexi penasaran. Kutatap Lexi dengan arti aku ingin jawaban darinya. Lexi pun tersenyum, ternyata benar dia wanita yang Lexi kejar.
Sekarang semua mata tertuju pada pria bertopeng, karena dia yang belum memperlihatkan wajahnya. Namun dia tidak melepaskan topengnya. Karena belum saatnya dia membongkar jatidirinya pada semua orang.
Kami pun menghargai keputusannya, sehingga tidak memaksanya untuk melakukan hal yang tidak ingin dia lakukan. Wanita yang dikejar Lexi bernama Himawari, nama yang bagus itu artinya adalah bunga matahari.
Mereka pun berpamitan pada kami untuk pergi, namun saat melangkah keluar ada yang terjatuh dari genggaman Himawari. Aku pun mengambil foto tersebut, sungguh aku terkejut dengan ayang aku lihat.
"Siapa kau sebenarnya Himawari?! Kenapa kau memiliki foto ini?!"
Himawari mendekatiku, dia mengambil foto yang ada di tanganku. Dia mengatakan bahwa wanita yang ada di dalam foto ini adalah kakaknya. Dia telah tiada karena Rey Hirasaki, hanya karena wajahnya mirip dengan wanita Rey Hirasaki. Namun entah apa yang membuat Rey Hirasaki membunuh kakaknya.
____________________________________________
Wah ternyata banyak sekali musuh Rey Hirasaki!
Wajah siapa kah yang berada di dalam foto? Yang membuat Rey Hirasaki membunuh saudara Himawari?
____________________________________________
__ADS_1
Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉
selamat membaca c u next bab 😘