
Lexa POV
Aku tidak tahu apa yang direncanakan oleh Alan, apakah dia turut membantu Rey Hirasaki. Aku masih belum bisa percaya padanya, tapi entah mengapa ada yang berbeda dari Alan kali ini. Tatapannya terhadap Annisa sangat berbeda, terlihat kelembutan dimatanya. Tapi apakah mungkin dia menyukai Annisa, padahal mereka belum pernah bertemu. Apakah ada yang terlewat olehku?
Setelah kepergian Alan, aku terkejut dengan kedatangan om Adam dan tante Anna. Terlihat jelas ada kecemasan di mata mereka, aku yakin mereka pasti akan membawa pulang Annisa dan memperketat penjagaannya. Pasti Annisa akan merasa sedih karena dia tidak dapat pergi bebas kemanapun dia mau.
"Sayang, mengapa semua bisa terjadi lagi padamu?" ucap tante Anna dengan lirih pada Annisa, terlihat bulir air mata menetes membasahi kedua pipi tante Anna.
Melihat suasana seperti ini sangat menyayat hatiku, ternyata aku gagal menjaga adikku sendiri. Aku benar-benar merasa bersalah pada om dan tante. Om Adam menghampiriku, dia memelukku dengan erat. Tidak terasa air mataku mengalir, tangisku menyeruak.
"Maaf..., Maafkan aku Om, aku tidak bisa melindungi Annisa!" Aku berkata sembari menangis karena tak bisa menahan semuanya.
Om Adam terus memelukku, dia tidak banyak bicara. Tangisku tidak bisa berhenti, aku sungguh menyesal. Akhirnya aku mendengar Om Adam bicara, dia tidak menyalahkan ku atas semua yang terjadi pada Annisa. Mungkin ini sudah harus terjadi, seharunya om Adam lah yang menjaga keselamatan Annisa.
Tante Anna menghampiriku dia berkata bahwa semua ini bukan salahku, jadi aku tidak usah merasa bersalah. Tante Anna menyuruhku untuk pulang agar aku bisa beristirahat di rumah. Sedangkan tante Anna akan tinggal di rumah sakit untuk menjaga Annisa bersama om Adam.
Aku pun mengangguk, sebelum pulang aku menghampiri Annisa. Aku berpamitan padanya lalu memeluknya, dia berbisik padaku agar aku tidak menyalahkan semua yang terjadi padanya. Aku tersenyum, mungkinkah adikku ini sudah bisa menerima semuanya.
Saat aku hendak meninggalkan ruangan, aku melihat Lexi baru saja tiba. Dia menyuruhku untuk menunggu sebentar, karena dia akan pulang bersamaku. Mungkin ayah yang mengirimnya kemari, apakah ayah khawatir juga terhadapku. Setelah selesai bicara pada om Adam Lexi pun menghampiriku lalu mengajakku untuk pulang.
__ADS_1
Dua hari berlalu setelah kejadian itu, sekarang keadaan Annisa sudah membaik. Aku berencana untuk ke rumah sakit, aku ingin melihatnya sendiri. Apakah dia sudah benar-benar membaik, aku meminta ijin pada ayah untuk pergi ke rumah sakit. Ayah mengijinkanku ke rumah sakit, namun aku harus ditemani oleh Azura. Aku berkata tidak usah karena Aiko sudah menungguku di luar.
Ayah masih tidak mengijinkanku pergi kecuali bersama Azura, akhirnya aku mengikuti apa mau ayah. Azura pun bersiap untuk mengantarku pergi ke rumah sakit. Aiko yang sudah menunggu di depan terkejut mengapa aku keluar bersama Azura. Dia bertanya mengapa aku bersamanya, bukannya aku berjanji pergi bersama Aiko.
Aku pun mengatakan bahwa ayah yang menyuruh Azura untuk menemani kita. Jika tidak bersamanya maka ayah tidak akan mengijinkanku untuk pergi. Mendengar penjelasan itu, Aiko pun tidak bisa berkata apa-apa. Akhirnya mereka pergi meninggalkan rumah menuju rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, aku melihat Alan sudah berada di ruangan Annisa. Dia sedang berbincang-bincang bersama om Adam. Aku pun menghampiri Annisa, sekarang dia terlihat sudah membaik. Aku memeluknya lalu bertanya bagaimana keadaannya. Dai pun tersenyum, itu menandakan bahwa dia sudah pulih.
Aku melihat Alan mendekati kami, lalu dia mulai bertanya sedikit demi sedikit masalah yang menimpanya beberapa hari yang lalu. Annisa pun sudah mulai bisa diajak untuk bicara, dia menceritakan bahwa sebelum Fais membiusnya. Dia melihat Fais sedang berbicara dengan seorang pria paruh baya. Namun dia tidak mengenali siapa pria yang bicara pada Fais.
Namun yang pasti mereka merencanakan hal-hal yang buruk, asalnya Annisa tidak ingin ikut campur. Namun Fais mengenalinya, lalu dia menyuruh orang untuk membiusku. Setelah tersadar dia sudah berada di sebuah ruangan. Dan itu membuatnya kembali teringat akan masa lalu.
Fais masih sangat dendam pada Annisa dan tante Anna, namun sekarang tidak akan ada lagi Fais yang selalu mengganggu hidup Annisa. Karena Fais sudah tiada di tangan Alan. Tante Anna mengucapkan terimakasih karena Alan sudah menyelamatkan Annisa. Lalu dia menghabisi Fais sehingga dia tidak akan mengganggu Annisa lagi.
Aku penasaran dengan cerita Annisa mengenai pria yang bicara dengan Fais sebelum penculikan terjadi. Aku pun bertanya sekali lagi pada Annisa apakah dia mengingat wajah pria yang bersama Fais, dia pun mengangguk. Aku langsung mengambil handphone, lalu aku menunjukkan sebuah foto pada Annisa. Annisa mengenali pria itu, dia mengatakan bahwa pria itulah yang bersama Fais.
Aku sungguh terkejut, lalu aku menatap Alan terlihat jelas dia pun sama terkejutnya denganku. Ternyata yang bersama Fais adalah Rey Hirasaki, aku sungguh geram. Aku berniat pergi menemui Rey Hirasaki, aku ingin bertanya sebenarnya apa yang menjadikannya begitu benci pada keluargaku.
Namun Aiko dan Azura melarangku, mereka menghalangiku untuk pergi. Mereka berkata tidak ingin melihatku terluka, aku sudah terluka oleh semua perbuatan Rey Hirasaki. Sekarang sudah saatnya aku menemuinya langsung.
__ADS_1
"Tenangkan dirimu!" Om Adam berkata dengan penegasan.
Aku tahu om Adam juga ingin melarangku pergi, mungkin dia tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk padaku. Alan pun mengatakan bahwa belum saatnya aku bertemu dengan ayahnya. Karena saat ini dia sudah mempersiapkan penjagaan yang begitu ketat. Dia pun sedang merencanakan sesuatu hal yang menurutnya, hal tersebut sangat merugikan orang.
Alan belum tahu pasti rencana apa yang sedang di buat oleh ayahnya. Dia memintaku untuk bersabar, dan yang lebih penting adalah untuk saling menjaga keselamatan. Entah mengapa Alan mengatakan semua ini padaku. Apakah dia tidak sama dengan ayahnya, bukannya dia adalah anak dari Rey Hirasaki. Tidak mungkin seorang anak akan menghadirkan ayahnya sendiri.
"Kalau kau tidak percaya padaku, itu terserah! Yang pasti aku menginginkanmu agar selalu berhati-hati!"
Alan berkata padaku, lalu dia berpamitan untuk pergi. Dia pun pergi meninggalkan ruangan, aku terdiam sesaat memikirkan apa yang baru saja Alan katakan padaku. Dalam benakku apakah aku bisa mempercayainya? Ataukah aku harus berhati-hati juga terhadapnya. Karena aku tidak tahu seperti apa Alan sebenarnya.
Aiko berkata, untuk saat ini kita ikuti saja perkataan Alan. Menurutnya semua yang dikatakan Alan tidak ada keraguan sama sekali, mungkin dia benar-benar ingin membatu kita. Dia pun mengingatkanku bahwa hari pernikahanku dengan Mamoru semakin dekat. Lebih baik aku mulai fokus terhadap persiapan pernikahan.
Aku pun memutuskan untuk kembali ke rumah, aku merasa lelah dengan semuanya. Dalam otakku begitu banyak pertanyaan dan amarah pada Rey Hirasaki. Dalam perjalanan pulang aku hanya diam, aku tidak ingin membicarakan apapun saat ini.
Setibanya di rumah aku segera masuk ke dalam kamar, aku tidak menghiraukan panggilan Lexi ataupun ayah. Yang aku butuhkan saat ini adalah menenangkan pikiranku. Aku memutuskan untuk tuk berendam, agar otakku tidak panas.
___________________________________________
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat
__ADS_1