
Still Lexa POV
Duduk di meja kerjaku yang dipenuhi oleh tumpukan dokumen yang harus aku baca dan membubuhi tanda tangan. Sehingga aku tidak menyadari bahwa di hadapanku Aiko sudah duduk sembari memandangiku.
"Astaga— Aiko! Sejak kapan kau ada dihadapanku?" tanyaku sembari memegang dadaku yang masih berdegup kencang karena terkejut dengan kehadirannya.
Dia terkekeh melihatku yang sedang menarik napas guna menenangkan degub jantungku. Setelah dia puas menertawakan ku, wajahnya kembali serius. Dia mengatakan jika wanita itu sudah mulai melancarkan gerakannya.
Yang dimaksud oleh Aiko adalah Rosetta, menurutnya Rosetta sudah mulai membuat masalah di perusahaan. Meski efek yang dihasilkannya tidak terlalu besar. Namun, jika dibiarkan maka dia akan terus mengacau dan akan berakibat sangat buruk.
"Apa kau sudah mengatasi masalah yang telah di perbuat Rosetta?!" tanyaku padanya.
"Untuk saat ini aku sudah mengatasinya tetapi kita harus bertindak agar dia tidak melakukan yang lebih buruk lagi!" jawabnya.
Aku menyadarkan tubuhku ke belakang kursi, memikirkan apa yang harus dilakukan. Dan aku pun mengatakan pada Aiko jika Rosetta sudah mulai berani mengacau di keluargaku. Salah satu contohnya adalah penyerangan terhadap Lexi dan anak-anak. Dia terdiam saat aku mengatakan itu, apakah dia mendengar apa yang baru saja aku katakan.
"Lupakan dia— mulailah hidup barumu! Aku tidak ingin kau terus larut dalam kesedihan dan amarah!" ucapku pada Aiko.
"Bagaimana aku bisa melupakan semua itu!" jawabnya padaku lalu dia pergi meninggalkan diriku sendiri di ruangan kerjaku.
Begitu menderitanya kau Aiko, aku tidak menyangka Isamu saat tiada menyisakan penderitaan padamu. Aku berharap jika suatu saat nanti kau bisa bertemu dengan pria yang benar-benar mencintaimu dan akan melindungimu.
Setelah Aiko kembali ke ruangannya, aku kembali menyelesaikan semua pekerjaanku. Ponselku berdering, saat melihat layar ponsel tertera nama Hinoto. Aku berpikir sejenak apa yang membuatnya menghubungiku, bukankah dia sudah menghubungiku satu jam yang lalu.
Aku pun mengangkat teleponnya, dia mengatakan padaku agar selalu berhati-hati. Nanti sore dia akan datang untuk menjemputku, pada intinya dia tidak mengizinkan diriku untuk pergi sendirian. Aku menyetujui semua yang dia inginkan. Setelah mendengar apa yang aku katakan dia pun menutup sambungan teleponnya. Dan aku kembali dengan pekerjaanku.
Tidak terasa sudah saatnya makan siang, Aiko mengajakku untuk makan siang di luar. Namun, aku sedang tidak ingin di luar karena pekerjaanku masih banyak. Akhirnya Aiko memutuskan untuk memesan makanan dari luar.
Tidak berapa lama pesanan makan siang yang dipesan oleh Aiko tiba. Aiko menatap makanan di atas meja lalu dia menyuruhku untuk makan siang bersamanya. Saat aku hendak menyantap makan siang, Lexi dan Aldo masuk ke ruanganku lalu dia ikut makan siang bersama kami.
Aiko tidak tahu jika Aldo sudah kembali ke Jepang karena yang dia tahu jika Aldo masih di Indonesia. Dia pergi sebelum menyantap menyantap makan siangnya. Apakan Aiko masih marah pada Aldo? Apakah dia belum bisa berdamai. Lagi pula ini bukan salah Aldo atau dirinya.
"Tunggu— Nona Aiko! Kau tidak perlu pergi! Biar aku yang pergi!" Aldo berkata dengan nada dingin.
"Kau nikmati saja makan siangmu! Aku sudah kenyang!" jawab Aiko sembari berjalan keluar ruanganku.
Aldo kembali terduduk, dia terdiam tetapi kembali berdiri dan hendak meninggalkan ruanganku tanpa menyantap makan siang. Lexi menyuruh Aldo untuk kembali duduk lalu menyantap makanannya tetapi dia tidak mau.
"Duduklah dan makan— ini perintah!" ucap Lexi dengan nada penekanan kerena dia tidak mau ada penolakan lagi.
Akhirnya Aldo pun duduk lalu menyantap makanannya walaupun hanya sedikit. Setelah selesai menyantap makan siang kami, aku menyuruh Aldo untuk memesan makan siang untuk Aiko dan kirimkan ke ruangannya. Dia mengangguk lalu pergi meninggalkan ruangan, aku berjalan menuju meja guna menghubungi sekretaris untuk memanggil orang membersihkan meja di ruanganku.
"Sampai kapanpun mereka akan seperti ini?" gumam Lexi dan masih bisa terdengar oleh pendengaranku.
"Aku tidak tahu, mungkin seiring berjalannya waktu mereka akan berdamai dengan masa lalu dan diri mereka sendiri!" jawabku sembari duduk di hadapannya.
Kami pun berbincang-bincang sesaat lalu tiba seseorang untuk merapikan mejaku. Setelah di masuk Lexi memutuskan untuk kembali ke ruangannya. Sebelum pergi dia bertanya apakah aku akan pulang bersamanya. Aku mengatakan jika sore ini Hinoto akan menjemputku, dia pergi sesudah mendengar jawabanku.
Aku tahu hari ini dia sedang banyak pekerjaan, mungkin dia khawatir denganku sehingga ingin pulang bersama ke rumah. Kita punya peranan masing-masing dalam perusahaan ini, aku bersyukur dia bisa membantuku untuk mengurus sebagian urusan perusahaan ini.
__ADS_1
Karena perusahaan ini adalah perusahaan yang dirintis oleh ayah sedari nol dan bunda pun ikut menjalankan perusahaan ini sewaktu ayah sakit. Jadi perusahaan ini tidak boleh hancur begitu saja, aku harus bisa menjalankan perusahaan ini begitu juga Lexi.
Semuanya sudah rapi, aku kembali pada pekerjaanku sehingga nanti saat Hinoto menjemput aku sudah siap. Telepon kantor berbunyi, sekretarisku mengatakan jika Hinoto sudah tiba. Aku mengagakan padanya agar Hinoto langsung ke ruanganku.
Tidak begitu lama Hinoto sudah masuk ke ruanganku, dia berjalan mendekati yang masih duduk dan mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Dia berdiri di belakangku, aku mengatakan kursi untuk melihat apa yang dia lakukan. Dia hanya memandang keluar melalui tembok kaca yang tebal. Namun, masih terlihat jelas pemandangan Tokyo menjelang malam.
Saat dia sedang asik dengan lamunannya aku memutuskan kembali mengerjakan pekerjaan yang tinggal sedikit lagi selesai. Aku fokus terhadap pekerjaanku sehingga tidak menyadari jika bibirnya sudah ada di dekat telingaku.
"Sayang, samapai kapan kau mau membuatku menunggu?!" bisiknya padaku dan itu membuatku sedikit terkejut.
Aku tersenyum lalu mengatakan jika perkerjaanku sudah selesai, setelah mengatakan itu kulihat Hinoto tersenyum. Tanpa pemberitahuan dia mengecup bibirku dengan lembut. Tangannya mulai bertindak nakal tetapi aku berhasil menghentikannya karena saat ini sedang berada di ruang kerja. Yang nantinya bisa ada orang yang masuk tanpa pemberitahuan.
"Lexa!"
Nah salah satu contohnya adalah Aiko yang masuk tanpa mengetuk pintu. Sehingga Hinoto menghentikan permainannya, aku langsung melihat ke arah Aiko dan tersenyum bertanya ada apa.
"Huh— jika mau bermesraan jangan di sini! ucapnya dengan nada kesal.
Aku terkekeh melihat Aiko kesal seperti ini, dia mulai menggerutu. Jika seperti ini aku melihat dia yang dulu, mudah-mudahan dia bisa kali seperti Aiko yang aku kenal dulu.
"Makannya cepat bersaing dengan masa lalumu dan temukan cinta sejatimu! Aku berkata pada Aiko dan dia langsung berhenti menggerutu.
Setelah itu dia pergi meninggalkan ruanganku, aku sungguh tidak ingin melihat Aiko seperti ini. Karena sudah 4 tahun peristiwa itu terjadi dan semua itu bukan salah dia sepenuhnya.
"Kau sudah selesai, 'kan? Kita pulang!" Hinoto berkata sembari berjalan dan duduk di sofa.
Terlihat dia kembali termenung, mungkin dia memikirkan Isamu dan semua peristiwa yang terjadi antara Isamu, Aiko, Rein dan Aldo. Mereka semua saling terkait sehingga aku tidak tahu harus berkata apa lagi tentang peristiwa itu.
***
"Bunda!" teriak Zeroun saat aku sudah tiba di rumah dengan suara riangnya.
Dia berlari langsung memelukku dengan erat, aku menggendongnya dan mengecup keningnya dengan lembut. Mengatakan jika aku sangat merindukannya, bahkan mencintainya. Karena dia menginginkan aku mengatakan itu saat kembali dari perusahaan.
"Apa kau tidak menyambut ayahmu ini hah?!" ucap Hinoto yang kesal karena Zeroun hanya melihatku saja.
Aku tersenyum saat Hinoto mengatakan itu lalu melirik Zeroun agar dia mau meluncur ke pelukan ayahnya. Dia tersenyum nakal lalu mengangguk dan aku pun menghempaskan dengan lbut Zeroun ke pelukan Hinoto yang terlihat kesal.
"Ayahku sayang— aku tidak lupa padamu!" Zeroun berkata sembari tersenyum dan mengecup kening Hinoto dengan lembut.
Hinoto tersenyum lalu dia berputar-putar sehingga Zeroun meminta ampun agar Hinoto menghentikannya. Karena kepalanya sudah terasa pusing, Hinoto pun tersenyum dan menghentikannya. Mereka berdua terjatuh di atas lantai sebab kepala mereka berdua terasa berputar-putar.
Aku terkekeh melihat sikap Hinoto yang terkadang bertingkah seperti anak anak-anak. Namun, dia masih tidak menghilangkan kharisma seorang ayah dan dia tidak mau jika Zeroun berani membantahnya. Itu sebabnya dia akan memperlihatkan sisi tegasnya sehingga Zeroun merasa takut dengannya jika melakukan kesalahan.
"Bunda Lexa, sudah pulang!" Rosalina yang baru tiba langsung memelukku.
Rosalina mengecup pipiku dengan lembut dan mengucapkan selamat datang. Himawari tersenyum melihat tingkah Rosalin yang menyambut kedatanganku. Dari tatapan bisa terlihat jika dia sedang menunggu kedatangan Lexi. Mungkin Lexi masih menyelesaikan pekerjaannya, sekarang dia terlihat sangat sibuk pula.
"Sebentar lagi makan malam, biarkan Bunda dan Ayah kalian beristirahat sejenak!" ucap Himawari dengan lembut dan membawa Rosalina serta Zeroun bersamanya.
__ADS_1
Setelah mereka pergi meninggalkanku, aku berjalan menuju kamar begitu pula dengan Hinoto. Dalam kamar aku menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur sembari menunggu seseorang memanggil untuk makan malam. Lelah rasanya hari ini dengan banyaknya dokumen yang harus diselesaikan.
Hinoto pun berbaring di sampingku, dia menatap langit-langit kamar sangat lama. Sehingga membuat jiwa nakalku meningkat, aku duduk di kedua kakinya. Dia sangat terkejut dengan apa yang aku lakukan tetapi dia bisa dengan cepat merubah ekspresi keterkejutannya. Senyumnya merekah tetapi aku melihatnya itu adalah senyuman mesumnya.
Sepertinya aku harus bergerak cepat untuk beranjak dari posisiku saat ini. Jika tidak dia akan menyerangku dengan sangat ganasnya dan tidak peduli jika ada yang mengetuk pintu kamar.
"Mau ke mana, sayang?!" lirihnya padaku dengan senyum nakalnya sembari memegang pinggulku.
Aku tersenyum serta berusaha untuk melepaskan tangan Hinoto dari pinggulku. Namun, itu terasa sulit karena dia tidak akan melepaskan diriku dengan mudah.
Dia berkata jika diriku yang telah memulai semua ini maka aku harus menerima hukuman darinya. Dan dia tidak akan melepaskan diri dengan mudah. Senyum nakalnya membuatku terkekeh, terlihat dia sangat kesal dengan tawaku.
Dia menarik tanganku perlahan dan pasti wajahku sudah dekat dengan wajahnya. Tengkuk leherku dipegangnya lalu mengecup bibirku dengan lembutnya. Dia bermain didalam rongga mulutku dengan lembut tetapi semua permainan itu membuatku tergoda, sehingga aku pun mengikuti setiap permainannya.
Saat dia sedang menikmati setiap permainannya, terdengar suara Zeroun yang memanggil-manggil namaku. Hinoto tidak peduli dengan teriakan Zeroun, dia masih melakukan permainannya. Namun, teriakan Zeroun ternyata membuatnya terganggu dan akhirnya dia menghentikan permainannya dengan wajah kesal. Aku tersenyum, seperti akan terjadi perdebatan antara ayah dan anak kali ini.
"Bukakan pintu untuk bocah penggangguku! Dia selalu saja mengganggu permainanku!" ucapnya dengan nada kesal sembari melepaskan pegangannya pada tubuhku.
Aku tersenyum kembali dengan apa yang dia katakan lalu berdiri dan merepakin apakaian. Setelah itu aku membuka pintu kamar dan melihat putraku sudah melipat kedua tangannya di atas dadanya. Rupanya dia sudah terlalu kesal karena menunggu aku membukakan pintu kamar untuknya.
Dia masuk dengan cemberut berjalan mendekati Hinoto yang masih merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Zeroun menatap dengan tajam pada Hinoto tetapi ayahnya mengabaikannya. Lebih baik aku menikmati suasana ini, pasti sebentar lagi mereka mulai berdebat.
"Ayah bangun? Aku tahu kau berpura-pura tidur, 'kan?!" ucap Zeroun dengan nada kesalnya.
Namun, Hinoto tidak peduli dengan ucapan Zeroun, dia masih saja menutup kedua matanya. Aku hanya memperhatikan kedua pria yang sangat aku cintai ini akan mulai berdebat tentunya masalahnya adalah aku tidak boleh terlalu dekat dengan Hinoto.
Zeroun terus saja bertanya sehingga Hinoto mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di sampingnya. Senyum jail meriah di bibir Hinoto, pasti dia akan berbuat makan pada anaknya sendiri. Dan benar saja Hinoto mulai mengkilikitik Zeroun yang selalu saja mengganggu permainannya.
"Sudah hentikan Ayah— sudah cukup!" Zeroun berkata sambil tertawa.
Hinoto masih tidak menghentikannya karena dia belum puas dengan putranya itu. Dan akhirnya aku memutuskan untuk menghentikan Hinoto karena pasti Himawari sudah menunggu di ruang makan. Itu sebabnya Zeroun datang ke kamar guna memanggil kami berdua.
"Sudah hentikan, sayang! Himawari sudah menunggu kita di ruang makan!" ucapku sembari menghampiri mereka berdua.
Akhirnya Hinoto menghentikannys dan berdiri guna merapikan pakaiannya. Sedangkan aku membangunkan Zeroun yang sudah lemas karena tertawa dan menggendongnya. Namun, dia tidak mau digendong olehku. Dia ingin digendong Hinoto karena ayahnya yang membuat dia lemas karena tertawa.
Hinoto tersenyum lalu dia mengambil Zeroun dariku, dia mengatakan jika menganggu lagi maka hukuman akan bertambah. Namun, Zeroun tidak merasa takut karena waktunya bersamaku masih berlaku. Dan dia mengatakan jika waktu Hinoto belum tiba bersamaku.
"Habis Ayah curang— aku man belum tidur, jadi Bunda masih menjadi milikku! Jika aku sudah tidur maka Bunda menjadi milikmu!" ucap Zeroun dengan polosnya.
Aku terkekeh mendengar Zeroun berkata itu pada Hinoto, sehingga kedua pria itu menatapku dengan tajam. Sepertinya aku salah kali ini, lebih baik aku bergegas berjalan keluar untuk menuju Himawari. Jika tidak habislah aku diserang oleh Hinoto dan Zeroun.
____________________________________________
Sampai jumpa di bab berikutnya...
Jangan lupa beri like, komen yang membangun, vote atau koin boleh lah 😉
jangan lupa jadikan favorit juga ya
__ADS_1
Macan promosi ahh jangan lupa baca "Isi Hati Yuki" sequel dari Lili &Arata
Duh macan banyak maunya ya hahaha... Jangan lupa follow juga Instagram ya @macan_nurul