
Lexi POV
"Ada apa dengannya?!" Aku bertanya pada Azura.
Azura pun mengatakan apa yang terjadi di rumah sakit, mendengar cerita Azura membuatku semakin kesal dengan apa yang dilakukan Rey Hirasaki. Aku pun memutuskan untuk menghampiri Lexa, mungkin dia membutuhkan teman untuk bicara. Namun ayah melarangku, ayah menyuruh aku menyelesaikan tugas yang baru saja di berikan kepadaku.
Setelah mendengar perintah ayah, aku bergegas pergi ke kantor. Karena ayah menyuruhku untuk menyelesaikan permasalahan yang tidak bisa dibereskan oleh Aiko. Dalam perjalanan menuju kantor, aku melihat Himawari. Namun dia menggunakan pakaian yang sangat berbeda. Mungkin dia sedang menjalankan misinya, mudah-mudahan dia bisa menjalankan misinya dengan selamat. Kali ini aku tidak bisa membantunya.
Tibalah aku di kantor, aku disambut dengan hormat di sana. Aku segera memasuki ruanganku, seorang sekretaris mengikutiku masuk ke ruangan. Aku langsung menyuruhnya untuk menyiapkan beberapa dokumen. Dia pun bergegas pergi untuk menyiapkan dokumen yang aku minta.
Sembari menunggu aku mengaktifkan laptop, setelah itu aku mulai mencari semua informasi yang aku butuhkan. Aku harus bisa menyelesaikan semua masalah ini dengan cepat. Sehingga aku bisa segera kembali ke rumah untuk bicara dengan Lexa.
Saat aku sedang fokus dengan laptop, aku mendapatkan sebuah pesan dari Himawari. Dia memberikanku beberapa informasi mengenai Rey Hirasaki. Aku membalas pesannya untuk mengajaknya bertemu malam ini. Aku menunggu balasan darinya namun terasa lama, mungkin dia sedang sibuk. Aku pun melanjutkan pekerjaanku, lalu beberapa saat kemudian seekrtarisku datang. Dia memberikan dokumen yang kubutuhkan.
Aku mengecek semua dokumen yang diberikan sekertarisku, setelah kubaca berkali-kali aku mengeceknya. Lalu aku membubuhkan tandatangan di dalam dokumen tersebut. Sekertarisku pergi membawa dokumen tersebut untuk diproses, mudah-mudahan apa yang kurencskan untuk perusahaan ini bisa berjalan dengan baik.
Kulihat jam di tanganku ternyata sudah petang, aku memutuskan untuk segera kembali ke rumah. Ku lihat handphone, guna mengecek apakah Himawari membalas pesanku. Ternyata dia tidak membalasnya, mungkin misinya belum selesai. Sehingga dia tidak bisa membalas pesanku. Lebih baik aku segera kembali ke rumah agar semua tidak merasa khawatir padaku.
Dalam perjalanan pulang aku menerima telepon dari Himawari, dia memintaku untuk bertemu dengannya di sebuah taman. Aku pun bergegas untuk menemuinya di taman. Dia memberikanku lokasi taman tersebut, beberapa saat kemudian aku pun tiba di taman tersebut. Aku pun turun dari mobil, lalu aku berjalan menelusuri taman guna mencari Himawari.
__ADS_1
Aku masih belum menemukan keberadaan Himawari, tiba-tiba ada seorang wanita yang memelukku lalu dia mengecup bibirku. Aku begitu terkejut dengan serangan yang dilakukan oleh wanita ini. Saat aku hendak melepaskan diri dari dekapannya. Dia berbisik padaku, "Bantu aku kali ini!"
Setelah melihat dengan seksama ternyata dia Himawari, aku tersenyum ternyata dia bisa bertindak seperti ini. Saat Himawari akan melepaskan dekapannya dariku, tiba-tiba ada beberapa orang yang sedang mencari seseorang. Aku pikir mereka sedang mencari Himawari, aku pun membantunya dengan memeluknya dengan lembut. Aku membalas kecupan yang dilayangkan oleh Himawari.
Himawari terkejut karena aku telah mengecup bibirnya, aku tahu dia pasti sangat kesal kepadaku. Karena aku memanfaatkan keadaan ini, namun aku tidak sepenuhnya bersalah karena dia yang lebih dulu menyerangku dengan bibirnya itu.
Dirasa sudah aman, Himawari berusaha melepaskan diri dari dekapanku. Namun aku tidak akan melepaskannya begitu saja, setelah dia yang mendekapku terlebih dahulu. Kulihat wajahnya sudah memerah, apakah dia demam? Aku pun mengecek suhu tubuhnya dengan menyentuhkan keningku dengan keningnya. Kurasakan sesaat namun dia tidak demam, lalu aku melepaskan keningku dengan kenaningnya.
"Lepaskan aku?!"
Himawari berkata dengan lirih, aku sempat tidak mendengar apa yang dia katakan. Aku menyadari ada yang berbeda dengan Himawari, kutatap wajahnya dengan lekat. Aku terkekeh ternyata Himawari bisa tersipu malu. Himawari kesal karena aku menertawakannya, dia menginjak kakiku dengan sekuat tenaga. Sehingga aku mengerang kesakitan, secara spontan aku melepaskan dekapanku terhadap Himawari.
Dia mengatakan bahwa Rey Hirasaki sedang merencanakan sebuah penyerangan. Yang entah kapan akan dilaksanakan, dia pun mulai mengetahui apa alasan Rey Hirasaki menyerang keluargaku.
"Jadi apa alasan dia menyerang keluargaku?!"
Tanyaku pada Himawari, aku sudah tidak sabar mendengar informasi selanjutnya dari Himawari. Dia mengatakan bahwa orangtuaku telah mencelakai kekasihnya, sehingga dia ingin membuat keluargaku menderita sampai akhir. Agar keluargaku merasakan penderitaan dan kesepian yang Rey Hirasaki rasakan.
Aku berpikir apakah yang dimaksud dengan kekasihnya adalah tante Nita? Namun semuanya belum jelas. Aku tidak bisa memutuskan semuanya begitu saja, karena semuanya harus ada buktinya. Meski foto tante Nita selalu ada di kamar Rey Hirasaki, namun itu tidak bisa dijadikan bukti yang kuat.
__ADS_1
Dor!
Aku terkejut ada seseorang yang mengarahkan tembakan kearah kami, aku pun melindungi Himawari. Aku mencari tempat untuk berlindung, setelah menemukan tempat yang aman aku membawa Himawari berlari menuju tempat yang aman. Mereka masih menembaki kami, setelah berada di tempat yang aman. Aku mencari posisi mereka yang menembaki kami.
Sungguh sial sekali, aku tidak membawa senjata untuk melumpuhkan mereka. Aku bertanya pada Himawari apakah dia membawa senjata, dia menggelengkan kepalanya. Namun dia berkata hanya beberapa belati yang dia pegang. Aku tersenyum lalu aku meminta semua belati yang dia miliki.
Himawari pun menyerahkan semua belati yang dia miliki, aku memegang satu belati. Sembari memperhatikan posisi mereka berada, aku tidak boleh membuang-buang belati yang ada di tanganku. Aku mencari beberapa batu, lalu aku melemparkan sembarang batu. Terdengar suara tembakan, aku tersenyum karena aku menemukan posisi salah satu dari mereka. Aku menunggu sesaat hingga menemukan waktu yang pas untuk melayangkan belati pada mereka.
Sretttt!
Aku melepas satu belati, terdengar suara orang yang kesakitan. Aku berhasil mengenai lengan orang itu sehingga senjata yang ada di tangannya terlepas. Setelah mendengar temannya terluka, mereka keluar semua keluar. Lalu mulai menyisir taman guna mencari kami, kuhitung jumlah mereka. Mereka semua berjumlah 4 orang, lalu tanpa kami sadari ada seorang musuh yang menodongkan senjatanya di belakang kepala Himawari.
Dia menyuruhku untuk keluar lalu berjalan mendekati para musuh. Aku tidak bisa bergerak secara leluasa, karena mereka menodongkan senjata kearah Himawari. Mereka semua tersenyum setelah melihat kami tertangkap oleh temannya. Mereka meminta Himawari menyerahkan sebuah USB yang telah dia curi.
Himawari berkata meski dia mati, dia tidak akan menyerahkan barang yang sudah ada di tangannya. Terlihat jelas dia begitu memiliki sifat keras kepala. Itulah yang membuatku semakin menyukainya, aku hanya memperhatikan mereka. Jika menemukan celah aku akan langsung menghajar mereka.
___________________________________________
Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat
__ADS_1