Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 176


__ADS_3

Setelah menyelesaikan semua urusanku, Hinoto mengajakku kembali ke hotel. Karena hari ini dia hanya ingin berada di kamar bersamaku, sebelum melanjutkan pekerjaannya esok pagi.


"Sayang, bagaimana pekerjaanmu? Apakah sudah hampir selesai atau masih membutuhkan waktu lagi?" Aku bertanya pada Hinoto yang terduduk di atas sofa sembari memainkan ponselnya.


"Sedikit lagi— mungkin besok adalah hari terakhir kita di sini dan kita bisa kembali ke Tokyo," jawabnya padaku.


Setelah mendengar jawaban darinya, aku pun sama dengannya membuka ponsel untuk memeriksa apakah ada email yang masuk. Saat aku sedang asik memainkan ponselku. Hinoto membisikkan sesuatu padaku.


Sebelum aku melakukan apa yang dia perintahkan, dia sudah menarik tubuhku sehingga kepalaku sudah ada di dalam pangkuannya. Terlihat dengan jelas dia tersenyum padaku. Tangannya membelai lembut rambutku.


Saat aku sedang menikmati belaiannya, terdengar suara blits kamera ponsel. Rupanya Hinoto berfoto denganku, aku tersenyum karena tahu apa yang akan dia lakukan dengan fotoku itu.


Terlihat rencana licik dari wajahnya, sepertinya sebentar lagi akan ada seseorang menghubungiku dan akan memarahinya. Dan benar saja, ponselku langsung berdering. Namun, Hinoto mengambil ponselku lalu dia mengangkatnya.


Terdengar suara kesal dari Zeroun, dia mulai bertingkah seperti seorang pria yang tidak ingin wanitanya dekat dengan pria lain. Aku terkekeh saat mendengar setiap perkataan Zeroun. Jika dipikir-pikir dia sangat mirip sekali dengan Hinoto.


Terlihat Hinoto sangat menikmati menggoda Zeroun, dia sama sekali tidak ingin memberikan ponselku. Mungkin dia sangat merindukannya, jadi lebih baik aku membiarkannya untuk menggoda anakku kali ini.


Selama dia menggoda Zero, aku memutuskan untuk ke kamar mandi karena tubuhku terasa lengket. Dan memutuskan untuk membersihkan diri, setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri. Aku keluar dari kamar mandi, melihat Hinoto masih menggoda Zeroun.


Aku mendekatinya lalu bertanya, "Apakah kau belum selesai?"


Dia tersenyum lalu memberikan ponsel padaku, terdengar dengan jelas suara putraku yang sangat aku rindukan. Zeroun terus saja bicara padaku dan aku hanya mendengarkan semua ceritanya. Diakhir pembicaraan dia bertanya padaku kapan pulang ke rumah. Aku mengatakan mungkin besok atau lusa sudah berada di rumah. Setelah mengatakan itu, aku memutuskan sambungan telepon.

__ADS_1


Brettt! Hinoto menarik lenganku kembali sehingga aku terjerembab kedalam pangkuannya. Aku menatapnya dengan lembut seraya tahu apa yang diinginkan olehnya.


"Sayang, kau terlihat segar— sehingga aku ingin menikmatimu!" lirihnya padaku.


Tangannya memegang daguku dengan lembut, sedikit demi sedikit dia menarik daguku sehingga dia bisa mengecup bibirku dengan lembut. Setelah itu dia memegang tengkuk leherku agar aku tidak melepaskan kecupannya.


Saat dia sedang asik bermain dengan bibirku, terdengar alunan melodi dari ponselku. Aku menghentikan kecupannya, terlihat dia sedikit kesal tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Karena ponselku terus saja berdering, mungkin ini penting. Namun, aku tidak diizinkan untuk beranjak dari pangkuannya.


Saat melihat layar ponselku, tertera nama Aiko. Aku langsung mengangkatnya dan mendengarkan apa yang hendak disampaikan olehnya. Saat aku masih berbicara dengan Aiko melalui ponsel, terasa tangan Hinoto mulai bermain-main di tubuhku.


Tangannya semakin nakal, sehingga membuatku merasa kegelian. Aku menatap Hinoto dengan maksud agar dia menghentikan permainannya sekejap. Karena aku masih bicara dengan Aiko tetapi dia tidak peduli dan melanjutkan permainannya. Dengan bibirnya tersenyum nakal padaku.


Aku berusaha menahan suaraku yang bisa membuat Hinoto merasa senang. Karena aku tidak mau Aiko mendengar suara yang keluar dari mulutku. Mungkin itu terasa sangat aneh bagiku dan juga Aiko.


Betapa terkejutnya aku saat dia mengatakan itu lalu menutup sambungan teleponnya. Rupanya dia menyadari apa yang sedang terjadi padaku saat ini. Aku sedikit kesal dengan Hinoto, dia sudah membuatku malu.


Aku menatapnya dengan lekat, dia hanya tersenyum melihatku. Lalu aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya. Aku membisikkan sesuatu padanya, sebelum dia mengatakan sesuatu aku langsung mengecup bibirnya agar dia tidak menjawab dari bisikkanku.


Permainannya semakin garang, sehingga aku hanya bisa menikmati setiap permainan yanh dia lakukan. Setiap napasnya membuatku merasakan apa yang sedang dia rasakan. Dia menatapku seraya bertanya apakah aku sangat menikmatinya.


Setelah pergulatan kami, dia menggendongku lalu menidurkanku di atas tempat tidur. Setelah itu dia berjalan menuju kamar mandi, mungkin dia hendak membersihkan diri. Dan aku beristirahat sejenak, sepertinya aku pun akan kembali membersihkan diri setelah dia.


"Sayang ... Ayo bangun, aku akan mengajakmu makan malam di luar!" bisiknya padaku dengan sangat lembut lalu menggigit daun telingaku dengan lembut pula.

__ADS_1


"Kau terlalu mesum, sayang." Lirihku yang membuatnya terkekeh.


Dia mengatakan jika berada di dekatku, selalu ingin bertindak nakal. Aku terbangun dari tidurku lalu duduk dan menyandarkan tubuhku pada dadanya. Dai melingkarkan kedua tangannya pada tubuhku.


Aku bertanya padanya akan malam di mana? Dia menjawab jika itu adalah rahasia. Karena dia ingin memberikanku kejutan, dia berkata jika aku tahu maka bukan kejutan namanya.


"Ayo kita bersiap!" Hinoto berkata padaku.


Setelah mengatakan itu dia beranjak lalu bersiap begitu pula denganku, rupanya dia sudah menyiapkan sebuah gaun untukku. Aku tersenyum dia memang suamiku yang tahu betul apa yang aku suka, lebih baik aku bergegas bersiap.


Terlihat Hinoto sudah bersiap pula, dia terlihat tampan. Entah mengapa semakin kesini dia semakin memesona saja. Sehingga aku semakin merasakan jatuh cinta padanya. Dia menghampiriku dengan senyum lembutnya.


"Kau sudah siap, sayang? Kau begitu cantik!" bisiknya padaku sembari memeluk diriku dengan lembut.


Hinoto membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan, dia menatapku secara lekat. Hanya itu yang dia lakukan tanpa mengucapkan kata-kata yang selalu membuatku tersipu. Meski hanya menatapku saja, itu sudah membuat wajahku memerah.


Dia terkekeh lalu mengecup keningku dengan lembut, setelah itu dia menggenggam tanganku. Kami berjalan keluar dari kamar menuju tempat yang sudah direncanakan oleh Hinoto. Malam ini dia begitu hangat padaku, padahal hari ini adalah harus biasa, bukanlah hari tertentu yang membuatnya spesial.


Tibalah kami di sebuah taman tetapi mengapa terasa sepi sekali. Hinoto menepuk tangannya, seketika semua lampu menyala. Taman yang tadinya gelap gulita menjadi terang oleh lampu hias yang menyala. Ini begitu indah sekali, aku sangat menyukai semua ini.


"Bagaiman— kau suka?" tanya Hinoto dengan lembut dan senyum khasnya.


Aku tidak bisa berkata-kata lagi karena sangat menyukainya, meski aku tidak mengatakannya. Sepertinya dia tahu jika aku sangat menyukai kejutannya. Dia mengulurkan tangannya padaku dan aku menerima uluran tangannya.

__ADS_1


Hinoto tersenyum sangat hangat padaku, lalu dia berjalan menuju sebuah meja yang sudah dihias dengan sangat indahnya. Dia membukakan sebuah kursi seraya memintaku untuk duduk di kursi itu. Aku tersenyum lalu duduk di kursi yang sudah dia bukakan untukku.


__ADS_2