Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
Part Aiko 8


__ADS_3

Aiko POV


Kenapa pula Aldo berkata padaku untuk mengejar Isamu, apakah dia sudah tidak menginginkan aku sebagai istrinya. Begitu mudahnya dia mengucapkan semua itu, aku tahu dia belum sepenuhnya mencintaiku begitu pula dengan aku. Namun, aku berusaha untuk membuka hati untuknya.


Ponsel berdering sehingga menggetarkan meja kerjaku, melihat layar ponsel rupanya ibu yang menghubungiku. Ibu memintaku untuk menemuinya siang ini di perusahaan ayah, ada sesuatu yang harus di bicarakan padaku.


Aku berjalan menuju ruang Lexa dengan membawa beberapa berkas yang harus dibubuhi tanda tangannya. Mengetuk pintu ruang kerjanya, terdengar suaranya menyuruh untuk masuk. Aku langsung masuk dan berjalan mendekati dia yang sedang duduk di atas kursi kerjanya.


"Siang ini aku akan pergi ke perusahaan ibu," ucapku pada Lexa sembari menyodorkan dokumen untuk di periksanya.


Lexa balik bertanya padaku apakah ada masalah di perusahaan, aku mengatakan jika ibu ingin bicara sesuatu padaku. Dia tersenyum lalu menyuruhku untuk bergegas pergi menemui ibu, bagaimana pun ibu pasti sangat membutuhkan aku.


Aku pergi meninggalkan ruangan Lexa, menuju ruang kerja lalu mengambil tas. Kulihat Aldo sedang sibuk dengan pekerjaannya. Lebih baik aku tidak mengganggunya, lagi pula aku masih kesal padanya yang sudah berkata seenaknya.


Karena aku tidak membawa mobil sehingga aku menggunakan taksi, dalam perjalanan menuju perusahaan ibu. Aku kembali terpikirkan apakah sudah saatnya aku berhenti membantu Lexa dan fokus pada perusahaan yang sudah ditinggalkan oleh ayah.


Tibalah aku di perusahaan, setiap karyawan yang melihatku memberi hormat. Seorang resepsionis mengantarku menuju ruangan ibu, setelah itu dia kembali ke tempatnya untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Bagaiman kabarmu Bu?" Aku bertanya sembari memeluknya dengan erat.


"Ibu baik-baik saja, beberapa hari ini kau tidak mengunjungi Ibu," ibu menjawab sembari bertanya padaku.


Dengan senyum aku mengatakan setelah kembali dari Korea langsung bekerja karena banyak yang harus aku urus. Ibu mengatakan padaku ingin membicarakan hal penting lalu menyuruhku untuk duduk di atas sofa bersamanya.


"Ada apa Bu?" tanyaku.


"Ibu sudah lelah—bisakah kau menjalankan perusahaan ayahmu ini!" Ibu menjawab dengan nada sedih.

__ADS_1


Aku tahu pasti ini akan terjadi, melihat ibu yang sudah terlihat lelah dengan semua pekerjaan ini. Semenjak ayah tiada ibu yang mengurus semua perusahaan, ibu pernah mengatakan jika aku harus menjalankan perusahaan ayah.


Namun, aku belum siap karena setiap melihat ruang kerja ayah membuat aku merasa sedih. Sehingga aku tidak sanggup untuk berlama-lama berada di perusahaan ayah tetapi sekarang aku sudah tidak seperti dulu. Aku tidak ingin membuat ibu sakit karena kelelahan.


"Baiklah—aku akan menjalankan perusahaan ini, berikan aku beberapa hari untuk mengurus semua hal sebelum aku pergi dari perusahaan Lexa!" Aku berkata pada ibu.


"Maafkan Ibu—karena membuatmu harus memilih ini! Ibu tahu jika kamu tidak bisa begitu saja meninggalkan perusahaan Lexa tetapi perusahaan ayahmu butuh kau, Sayang!" Ibu berkata dengan menggenggam tanganku.


Dengan senyum aku mengatakan pada ibu jika semua ini sudah menjadi kewajiban, aku pun tidak bisa meninggalkan begitu saja. Bagaimana juga perusahaan ini adalah jerih payahnya ayah sejak dulu hingga akhir hayatnya. Mana mungkin aku membiarkan begitu saja.


"Apa kau tahu mengapa di ingin membunuh ayahmu?!" tanya ibu padaku.


Pertanyaan itu membuatku terkejut, mengapa ibu bisa bertanya seperti itu. Apakah ibu mengetahui apa yang tidak kuketahui. Aku menggeleng kepala menandakan aku tidak tahu alasan dia ingin menghabisi ayah karena yang aku tahu Isamu melakukan semua itu sebab tidak ingin ayah mengatakan tentang perselingkuhan Isamu bersama Rein.


Ibu menyodorkan sebuah amplop coklat padaku dan mengatakan bahwa ibu baru menemukan amplop itu di ruang kerja ayah di rumah. Aku membuka amplop tersebut, membaca secara perlahan apa yang tertulis di dalamnya.


Betapa terkejutnya aku dengan isi dari amplop tersebut, semua itu adalah tindakan kejahatan yang dilakukan oleh Isamu. Semua kecurangan yang dilakukan Isamu, semua yang dia lakukan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Bahkan dia pun sedang di cari oleh beberapa orang.


"Apakah aku boleh membawa ini?!" Aku bertanya pada ibu untuk membawa amplop yang ibu temukan.


Ibu mengangguk karena semua pembicaraan sudah selesai aku pamit pada ibu untuk kembali ke perusahaan Lexa. Mungkin besok aku akan memberitahukan pada Lexa jika aku akan berhenti dari perusahaannya dan memegang kendali perusahaan yang sudah ayah tinggalkan.


Dalam perjalan pulang, aku merasa tidak enak badan. Apakah aku lelah dengan semua yang terjadi dalam beberapa hari ini. Aku pun tidak cukup untuk beristirahat sekembalinya dari Korea. Lebih baik aku kembali saja ke apartemen untuk beristirahat selagi Aldo bekerja, aku menghubungi Lexa dan mengatakan untuk tidak kembali ke perusahaan. Dan juga mengatakan padanya agar tidak memberitahukan pada Aldo jika aku langsung kembali ke apartemen.


Aku menyuruh sopir untuk mengganti lokasi tujuanku, dia berbelok arah menuju apartemen. Setibanya di apartemen aku menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur, sungguh hari ini begitu melelahkan meski aku baru menjalankan setengah dari hari ini.


Yang tidak aku kira adalah tentang Isamu, mengapa dia melakukan semua itu? Apakah yang dia inginkan hanya perusahaan ayah lalu menghancurkannya begitu saja. Apakah Hinoto tidak mengenal dengan baik dari sahabatnya itu.

__ADS_1


***


Aku terbangun karena merasa terkejut dengan sentuhan Aldo, dia sudah berada di sampingku. Dia mengatakan, "Lanjutkan tidurmu—aku akan menemanimu!"


Aldo menyentuh keningku dengan lembut, mengecek suhu tubuhku. Dia meminta maaf padaku atas perkataannya sewaktu di kantor tadi pagi. Aku tersenyum padanya dan mengatakan tidak perlu dipikirkan tetapi memang benar aku masih kesal padanya.


Namun, dengan sikapnya yang seperti ini membuatku merasa senang. Dia langsung meminta maaf setelah berada di apartemen. Itu tandanya dia bisa melihat situasi yang baik untuk menyelesaikan masalah pribadi.


"Sayang—aku akan berhenti bekerja di perusahaan Lexa," ucapku padanya sembari bangun dari posisi tidur.


Dia terkejut dengan apa yang aku katakan lalu dia bertanya, "Mengapa ingin berhenti?!"


Aku berdiri, berjalan menuju tas yang tergeletak di atas sofa lalu mengambil amplop yang ibu temukan di ruang baca ayah. Berjalan mendekati Aldo yang masih duduk di atas tempat tidur. Aku menyodorkan amplop coklat yang ada di tanganku padanya.


Aldo bingung dengan apa yang aku serahkan padanya, tatapannya mengisyaratkan apa ini? Aku menyuruhnya untuk membuka dan membaca isi dari amplop tersebut. Dia pun membuka lalu membacanya dengan saksama.


Rasa marah terlihat dari ekspresi wajahnya setelah membaca isi dari amplop itu, dia mengatakan tidak menyangka jika Isamu dapat melakukan semua ini. Aldo mengatakan jika semua bukti ini bisa diberikan pada pihak yang berwajib—maka Isamu akan mendekam di dalam jeruji besi.


"Jika dia terus mengganggu kita dan keluarga Lexa—maka aku akan menyerahkannya pada pihak yang berwenang!" Aku berkata pada Aldo dengan yakin.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusanmu—aku akan mendukung dan selalu ada di belakangmu!" Aldo mengatakan itu sembari mendekati aku dan memelukku.


Aku mengatakan padanya jangan berada di belakangku tetapi berada di sampingku selamanya. Dia tersenyum lalu mengecup bibirku dengan lembut, entah mengapa pikiranku terlaihan pada Azura. Aku merasa bersalah padanya karena sudah salah paham terhadapnya.


Apakah aku harus mencari tahu lebih lanjut apa yang terjadi pada Azura dan Isamu? Apa yang aku pikirkan. Dihadapan sudah ada Aldo, dia adalah suamiku sekarang dan untuk selamanya. Karena hari ini yakin jika dia adalah pria yang baik, lagi pula nyonya Alin sudah memutuskan hubungan kami sedari dulu. Dan aku yakin jika pilihan nyonya Alin tidak akan pernah salah.


Lebih baik aku melupakan semua masa lalu, sekarang yang harus aku lakukan adalah hidup bahagia dengan Aldo. Berusaha untuk membuatnya jatuh cinta padaku dan aku pun harus seperti itu mulai mencintai Aldo hingga akhir hayat.

__ADS_1


"Apa kau lapar?" Aldo berbisik padaku.


Dia tersenyum dan mengatakan akan memasakkan sesuatu untukku sembari berjalan keluar dari kamar. Aku akan mencoba mencintaimu Aldo hingga akhir hayat kau akan selalu menjadi pria yang ada di dalam hatiku.


__ADS_2