Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 138


__ADS_3

Hai gaes jangan lupa kasi like, komen ya karena itu sangat berarti bagiku😉 biar aku semakin semangat


___________________________________________


Still Lexi POV


Pagi ini aku hanya diam di rumah untuk mencari semua informasi yang aku butuhkan. Sebelum nanti malam pergi menghadiri sebuah pesta, sebenarnya kalau bisa aku ingin pergi bersama Himawari.


Namun, sekarang terasa sulit untuk bertemu dengannya. Lebih baik aku meretas jaringan komputer perusahaan tuan Fadil. Aku ingin lihat sebusuk apa dia.


"Apa yang kau lakukan?!" Annisa berbisik padaku sehingga membuatku terkejut.


"Kapan kau datang?" Aku bertanya balik padanya.


Dia menjawab baru saja tiba karena tidak melihat siapa-siapa, dia memutuskan untuk mencariku ke dalam kamar. Bukannya ayah tadi ada di ruang tamu. Apakah ayah pergi? Ahh sudahlah aku tidak usah khawatir karena ayah selalu bersama asisten Ari.


"Ada apa kau kemari?" tanyaku pada Annisa.


"Apakah aku tidak boleh mengunjungi saudaraku sendiri," jawab Annisa dengan wajah sedihnya.


Aku tahu dia hanya berpura-pura saja, sehingga dia tidak kusuruh untuk kembali ke rumahnya. Annisa berjalan menuju tempat tidur lalu dia menghempaskan tubuhnya secara perlahan.


Dia mulai bercerita tentang apa yang dia alami selama beberapa hari ini. Lalu mengatakan bahwa ayah dan ibunya selalu melarang dia untuk pergi jauh-jauh sendirian.


Annisa ingin ke Jepang bertemu dengan Lexa dan Hinoto karena dia belum pernah sekali pun bertemu dengannya. Aku juga tidak bisa menyalahkan semuanya pada om Adam serta tante Anna. Mungkin semua itu demi kebaikannya sendiri.


"Lexi, apakah kau tahu kabar dari inspektur Alan?" tanya Annisa padaku.


Aku tidak menyangka dia akan bertanya tentang Alan, sudah lama juga aku tidak mendengar kabar Alan. Setelah kematian Rey Hirasaki, baik aku atau Lexa kehilangan kontak dengan Alan.


Mungkin saja dia sedang mencari siapa orangtua kandungnya, aku berharap dia bisa bertemu dengan kedua tangannya. Tunggu dulu! Mengapa Annisa bertanya tentang Alan.


"Mengapa kau bertanya tentang Alan?!" Aku bertanya pada Annisa yang masih tiduran di atas tempat tidurku.


Aku menunggu jawaban darinya tetapi dia tidak menjawabku, lalu aku memalingkan wajahku guna melihatnya. Pantas saja dia tidak menjawab pertanyaanku, meski aku bertanya hingga mulutku berbusa karena dia tertidur.


Lebih baik aku biarkan saja dia tertidur, nanti juga bangun sendiri. Sekarang aku bisa kembali fokus pada pekerjaanku yaitu meretas jaringan komputer perusahaan tuan Fadil.


Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu kamar, aku berjalan menuju pintu guna melihat siapa yang mengetuk pintu. Saat aku membuka pintu kamar, aku melihat om Adam yang sudah melihatku dengan tatapan kesalnya.


"Di mana anak gadisku?!" tanya om Adam dengan nada kesal padaku.


Aku terkekeh saat om Adam bertanya dengan nada kesalnya, lalu aku membuka pintu kamar dengan lebar agar om Adam melihat Annisa yang tertidur pulas.


Aku mengajak om Adam untuk duduk di sofa di luar kamarku, untungnya om Adam menyetujui ajakanku. Lalu aku berjalan menuju sofa yang jaraknya tidak jauh dari kamar.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku pada om Adam yang baru saja duduk di sampingku.


"Semenjak dia kembali dari Jepang, sikapnya berubah! Dia seperti bukan Annisa. Aku merasa dia menjadi seperti bunda kalian yang suka dengan balapan dan bela diri!" jawab om Adam sembari menghela napasnya.


Aku terkejut dengan apa yang dikatakan oleh om Adam, mana mungkin Annisa bisa berubah begitu cepat. Pasti ada yang membuatnya berubah seperti itu.


"Apakah Om dan tante tidak memberikan kebebasan padanya?" Aku bertanya kembali seperti seorang pengacara bertanya pada client-nya.


Om Adam mengangguk, itu dilakukan karena rasa khawatir pada Annisa. Mungkin rasa khawatir om dan tante terlalu berlebihan, sehingga membuat Annisa tidak bisa bergerak dengan bebas.


Mungkin itu juga alasannya dia datang ke rumah, lalu bertanya mengenai Alan. Apakah om Adam melarang Annisa untuk berhubungan dengan Alan hanya karena dia sudah dibesarkan oleh Rey Hirasaki.


"Sejak kapan Ayah ada di sini?!" Annisa bertanya pada om Adam.


Om Adam melihat putrinya yang baru saja terbangun, Annisa berjalan mendekati kami. Lalu dia duduk di atas sofa tepat di hadapan aku dan om Adam.


"Pulanglah, ibumu sangat khawatir!" om Adam berkata pada Annisa.


"Aku tidak akan pulang jika Ayah dan ibu terus melarangku untuk pergi keluar dari rumah! Bukannya Fais sudah tiada. Aku pun akan mulai melupakannya!" lirih Annisa.

__ADS_1


Om Adam terdiam saat mendengar perkataan putrinya itu, aku pikir apa yang dikatakan oleh Annisa ada benarnya. Jika om dan tante terus melarangnya keluar rumah, bagaimana dia bisa berinteraksi dengan teman serta lingkungannya.


"Sampai kapan kau akan mengurung Annisa? Sekarang dia sudah bersikap tengil seperti Alin!" ucap ayah yang baru saja tiba.


Om Adam terkekeh saat mendengar ayah berkata jika Annisa sudah seperti bunda. Dan ayah juga menyebut Annisa gadis tengil, apakah ayah melihat Annisa seperti bunda.


"Haha, Mas Alex ada-ada saja! Bagimu gadis tengil cukup satu yaitu mba Alin seorang." Om Adam menjawab sembari tertawa.


Ayah pun ikut tertawa lalu duduk di samping Annisa, lalu ayah mengatakan akan membantunya untuk membebaskan diri dari belenggu ayah dan ibunya. Annisa tersenyum lalu dia memeluk ayah karena dia merasa gembira ada yang membelanya.


"Akhirnya aku mendapatkan bantuan dari Om Alex, dengar itu Ayah! Aku tidak ingin terikat lagi kecuali jika aku sudah menikah!" Annisa berkata secara spontan pada om Adam.


"Hai..., Tunggu kau jangan menikah dulu sebelum aku menikah ya! Kau harus ingat itu!" timpalku pada Annisa.


Sesaat ayah, om Adam dan Annisa terdiam lalu mereka terkekeh bersamaan. Mereka menertawakan apa yang aku ucapkan tetapi aku langsung menutup mulut mereka dengan mengatakan bahwa aku akan menikah dengan Himawari.


"Yah..., Bearti gagal dong! Tadinya aku akan menjodohkanmu dengan temanku yang masih melanjutkan pendidikannya di Kairo." Annisa berkata dengan nada kecewanya.


"Hei jangan kau menjodohkan aku dengan siapa pun! Karena aku akan mencari jodohku sendiri, Ayah juga tidak pernah menjodohkan aku. Kecuali Lexa!" balasku pada Annisa.


Ayah tersenyum mendengar apa yang aku ucapkan, terlihat beautiful wajahnya berubah. Mungkin saat ini ayah sedang merindukan Lexa, jangankan ayah aku pun sama merindukannya.


Mungkin jika Lexa belum menikah dengan Hinoto, maka dia akan bersama dengan kami saat ini. Karena dia tidak akan mau pergi jauh dariku atau ayah.


"Tuh -kan kalian menyebut Lexa, aku -kan jadi merindukannya! Jika saja Ayah mengijinkan aku untuk pergi ke Jepang, mungkin saat ini aku sedang bersenang-senang dengannya! Annisa berkata sembari memonyongkan bibirnya.


Ponsel om Adam berdering, lalu om Adam mengangkat ponselnya. Setelah selesai bicara, om Adam mengatakan jika yang menghubunginya adalah tante Anna.


"Ayo kita pulang, ibu sudah menunggu kita di rumah!" Om ada berkata pada Annisa. Annisa mengangguk, lalu mereka pergi meninggalkan aku dan ayah.


"Lexi, apakah persiapan untuk pesta nanti malam sudah siap!" tanya ayah padaku mengenai pesta untuk malam nanti.


Aku mengangguk karena Aldo sudah menyiapkan semuanya sehingga aku tidak terlalu repot dengan persiapan pesta nanti malam. Setelah mengetahui jawaban dariku, ayah pergi menuju ruang bacanya.


Lebih baik aku membersihkan diri terlebih dahulu lalu bersiap untuk pergi ke pesta malam ini. Sebelum Aldo datang menjemput, aku harus sudah siap dengan semuanya.


Tok! Tok! Terdengar suara pintu kamar diketuk, aku menyuruhnya untuk masuk. Ternyata itu adalah Aldo, dia mengatakan sudah waktunya untuk pergi.


Untuk berjaga-jaga aku menyuruh Aldo membawa beberapa peralatan yang bisa di gunakan untuk melindungi diri dari musuh. Aku berjalan keluar dari kamar guna mencari ayah untuk berpamitan.


"Kau, sudah mau pergi? Kalau begitu berhati-hatilah!" ucap ayah karena ayah tidak bisa mengawasimu terus-menerus.


Entah mengapa ayah berkata seperti itu tapi aku jadi teringat kata-kata ayah beberapa hari yang lalu. Jika aku ingin berhasil di dalam bisnis maka aku harus bisa bersikap kejam dan dingin. Jangan memberi ampun bagi siapa saja yang sudah membuat masalah bagi kita.


Aku tahu dulu ayah dikenal dengan pria kejam dalam bisnisnya, setiap musuh takut padanya. Namun, semua itu berubah semenjak ayah bertemu dengan bunda. Rupanya bunda bisa merubah pandangan dan cara berpikir ayah.


Setalah mendengar perkataan ayah, aku dan Aldo pergi. Dalam perjalanan menuju sebuah hotel berbintang lima di ibu kota. Seperti biasanya terlihat jalanan masih padat oleh kendaraan.


"Aku sudah mengumpulkan beberapa informasi tentang tuan Fadil," Aldo berkata padaku.


Rupanya tuan Fadil sudah berlaku curang dengan tidak membayar pajak pada pemerintah. Dan jumlah pajak yang tidak di bayarkannya itu berjumlah fantastis.


"Apakah kau mempunyai salinan dokumennya sebagi alat untuk kita menghancurkannya sedikit demi sedikit," ucapku.


Aldo mengangguk itu artinya dia memiliki buktinya, aku yakin dengan kinerjanya. Dia seperti asisten Ari, sehingga diriku tidak pernah merasa kecewa dengan kinerjanya.


"Bagus, sekarang bagi kita adalah mengumpulkan semua kebusukkan dari musuh kita!" gumamku yang masih bisa terdengar oleh Aldo.


Mobil terhenti, sopir mengatakan jika sudah tiba di tempat pesta. Aldo turun terlebih dahulu lalu dia membukakan pintu mobil untukku. Aku berjalan memasuki hotel tersebut.


Aldo mengatakan jika pesta yang diselenggarakan berada di lantai 3, aku mengangguk lalu berjalan menuju sebuah lift. Saat aku sudah berada di dalam lift ada tangan yang menghalangi pintu lift tertutup.


Dia seorang wanita cantik tetapi wajahnya terlihat sangat sombong, aku tidak menyukai tipe wanita seperti itu. Terlihat jelas dia memiliki ambisi yang sangat kuat.


Lift berhenti tepat di lantai 3, wanita itu berjalan terlebih dahulu keluar dari lift. "Wanita yang sombong dan penuh ambisi," gumamku.

__ADS_1


"Dan tentunya bukan tipe wanitamu!" gumam Aldo yang masih bisa terdengar olehku. Tidak begitu lama dia terkekeh.


"Sudah hentikan tawamu itu! Aku tahu dia bukan tipeku apalagi tipemu!" balasku padanya.


Karena aku tahu benar tipe Aldo seperti apa, dia menyukai wanita yang lembut seperti apa yang dia pikirkan mengenai ibunya dari cerita yang dia dengar. Baik dari asisten Ari atau kedua kakek dan neneknya.


"Aldo, dengarkan aku! Dalam pesta ini bersikaplah seperti sahabatku jangan kau bersikap seperti asisten! Mengerti!" perintahku pada Aldo yang selalu bersikap kaku seperti layaknya seorang asisten. Jika aku melihatnya seperti itu, mengingatkan diriku akan asisten Ari.


Sebelum masuk ke ruangan pesta, seorang pria bertanya padaku tentang kartu undangan yang harus diperlihatkan sebelum memasuki ruangan. Aldo dengan sigap memberikan kartu undangan atas nama perusahaan bunda.


Karena saat ini aku tidak ingin pergi menggunakan undangan atasan nama perusahaan ayah. Akhirnya aku dan Aldo bisa memasuki ruangan pesta, terlihat sudah banyak tamu yang hadir malam ini.


Aku tidak begitu mengenal banyak orang penting dalam bisnis di Indonesia. Namun, jika aku menginginkan informasi mengenai mereka itu sangatlah mudah bagiku.


"Aldo beradalah sejajar denganku! Jika kau di belakangku, kau bertidak seperti asisten!" perintahku padanya.


Aldo menganggukkan kepalanya lalu mensejajarkan tubuhnya denganku. Aku mengedarkan kedua mataku untuk melihat apakah ada orang yang aku kenal di dalam pesta ini.


"Lexi, lihat arah jam 3!" ucap Aldo padaku.


Aku menfokuskan pada arah yang ditunjuk oleh Aldo, bibirku tersenyum tipis karena melihat Himawari yang berdiri di sana. Dia terlihat sangat cantik malam ini.


Tidak terasa kakiku ini melangkah menuju posisi Himawari yang berdiri bersama seorang wanita paruh baya. Mungkin wanita itu adalah ibunya karena wajah mereka terlihat mirip meski dari kejauhan.


"Hai..., Santai saja— dia tidak akan pergi kemana-mana!" Aldo berkata sembari tersenyum.


Sial! Aldo menggodaku kembali, tapi biarkanlah. Karena malam ini aku melihat Himawari, dia kumaafkan. Setelah jarak kami tidak terlalu jauh, sehingga Himawari melihatku.


Himawari tersenyum padaku lalu dia memberikan sebuah kode agar aku menemui ibunya. Aku berjalan sedikit cepat untuk lebih dekat dengannya.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku pada Himawari.


Dia tersenyum lalu memperkenalkan diriku pada ibunya, terlihat jelas jika ibunya sangatlah baik. Terlihat lembut seperti bunda jika sedang menatapku.


Kami pun berbincang-bincang tetapi terganggu oleh kedatangan seorang wanita. Dia membentak ibunya Himawari, aku sungguh jengah dibuatnya.


Terlihat jelas jika Himawari sedang berusaha menahan dirinya agar tidak tersulut emosi. Lengan sang ibu pun menggenggam lengan Himawari seperti memberi kekuatan untuknya agar tetap bersabar.


Mungkin jika tidak ada ibunya dia akan langsung menghajar wanita sombong itu. Apakah selama dia berada di rumah selalu bersikap sabar seperti ini jika menghadapi penghinaan.


"Nona, bisakah Anda menjaga nada bicara! Karena ini di dalam pesta, apakah Anda tidak malu dengan itu!" Aku berkata dengan nada dingin pada wanita itu.


"Heiii..., Siapa kau! Berani melarangku bicara, apakah kau tidak tahu aku hah! Ohh..., Mungkin kau baru di bidang bisnis ya— sehingga tidak mengenal diriku!" jawab wanita itu dengan nada menghina.


"Sudah cukup Rosetta!" Himawari berkata dengan penekanan.


Rosetta berjalan mendekati Himawari lalu dia bertanya padanya, apa yang membuatnya mulai berani. Apakah aku ada hubungan dengannya.


"Iya, dia adalah calon suamiku!" jawab Himawari penuh percaya diri pada Rosetta.


Dia tersenyum tipis, menandakan sebuah penghinaan baik padaku atau pada Himawari. Dia mengatakan pada ibunya Himawari jika yang miskin pasti akan mendapatkan yang miskin juga.


Terlihat dari kedua mata ibunya Himawari berusaha menahan agar tidak menangis. Namun tidak terasa air matanya menetes, sungguh aku tidak menyangka ada wanita sejahat itu. Meski namanya yang mengandung arti yang sama seperti bunda. Namun kelakuannya sangat berbanding terbalik dengan bunda.


Setelah mengatakan itu Rosetta pergi meninggalkan kami, aku menyuruh Aldo untuk mengumpulkan semua informasi mengenai wanita tadi. Dia mengangguk lalu meminta izin padaku untuk pergi ke toilet.


"Mengapa kau tidak melawannya!" ucapku pada Himawari.


"Jangan salahkan Himawari, sebenarnya dia bisa melawannya tetapi aku selalu melarangnya! Semua ini salahku, maafkan Ibu sayang. Karena Ini tidak bisa membela diri ibu sendiri dan juga kau serta adikmu!" jawab ibunya Himawari.


Aku tidak menyangka Himawari yang keras bisa bertahan dengan perlakuan yang tidak adil padanya atau pada orang yang dia cintai. Sebenarnya apa yang menjadi tujuanmu sebenarnya.


Karena yang aku tahu dia bisa membawa ibu dan saudarinya pergi dari Indonesia dan kembali ke Jepang. Karena di sana dia bisa dibilang memiliki pekerjaan yang mampu membiayai dirinya sendiri dan juga ibu serta saudarinya.


"Bersabarlah Bu, sebentar lagi semuanya akan selesai! Kita akan bahagia dan orang yang membuat kau menderita selama ini akan hancur." Himawari berkata pada ibunya dengan lembut tetapi ada penekanan.

__ADS_1


Mendengar ucapan Himawari tersebut membuatku yakin jika dia sedang menjalankan misinya. Entah misi apa yang dia jalankan saat ini tetapi aku harus tahu apa yang menjadi rencana dan misinya kali ini.


__ADS_2