Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
Part Aiko 1


__ADS_3

Aiko POV


Aku tidak menyangka jika harus menikah dengan Aldo, dia adalah orang yang aku benci karena dia menyebabkan ayahku tiada. Dan lagi mengapa ibu menginginkan aku untuk menikah dengannya. Padahal ibu tahu jika Aldo adalah orang yang menyebabkan suaminya pergi meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.


"Sayang, kanapa kau masih di sini?" Ibu bertanya padaku dengan lembut.


"Izinkan aku tidur malam ini bersamamu ya? Bu?" tanyaku pada ibu agar mau mengizinkan aku tidur malam ini bersamanya.


Ibu tersenyum padaku lalu mengatakan jika aku harus tidur di kamar bersama suamiku. "Dia adalah suamimu, mulailah kau mencintainya! Dan ingatlah ini sayang, lupakan tentang kematian ayahmu karena semua ini bukan salah suamimu!"


Aku menghela napasku lalu pergi meninggalkan ibu, berjalan menuju kamarku. Mungkin dia sudah ada di dalam kamar, entah mengapa aku masih belum bisa menganggapnya sebagai suami. Dan tidak terpikir olehku menikah dengan Aldo.


Saat aku membuka pintu kamar, betapa aku terkejutnya melihatnya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia hanya mengenakan sehelai handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Cepat kenakan pakaianmu Aldo!" teriakku padanya sembari menutup kedua mataku dengan telapak tangan.


"Bersihkan dirimu dan istirahatlah!" Aku mendengar Aldo mengatakan itu. Kulepaskan tanganku dan membuka mata, melihat apakah dia sudah mengenakan pakaiannya.


Namun, aku melihat dia yang sudah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurku. Ingin rasanya menariknya keluar dari kamarku tetapi aku tidak bisa melakukan itu. Aku takut ibu akan mendengar keributan di malam hari.


Lebih baik aku membersihkan diri setelah itu beristirahat, aku berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, melihat Aldo yang sudah terlelap di atas tempat tidur. Membuatku tidak memiliki pilihan lain selain tidur di atas sofa saja. Karena aku masih belum bisa menerima semua ini.


Aku berjalan menuju tempat tidur lalu mengambil batal dan selimut, setelah itu aku kembali menuju sofa dan tidur di atas sofa. Berusaha memejamkan kedua mataku tetapi terasa sulitnya. Mungkin aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada diriku.


Terdengar suara ketukan pintu kamar, mungkin itu ibu. Aku harus menyimpan banyak di tempatnya agar tidak terlihat aku hendak tidur di atas sofa. Setelah itu aku berjalan menuju pintu, guna membuka pintu kamar.


"Maaf Ibu mengganggumu, minumlah ini sebelum kau tidur!" Ibu berkata sembari memberikan segelas susu hangat padaku.


Mungkin ini adalah kebiasaan ibu setiap malam selalu memberikan aku susu hangat. Terlihat dua gelas susu hangat, mungkin itu untuk Aldo tetapi dia saat ini sudah tertidur. Aku mengambil gelas yang dibuat untuk Aldo karena aku tidak ingin membuat ibu kecewa.


Setelah aku mengambil gelas susu Aldo dan ibu pun pergi kembali menuju kamarnya. "Berikan padaku!" Sungguh aku terkejut saat melihat Aldo sudah berada di belakangku. Untung saja susu di dalam gelas ini tidak tumpah, dia langsung meneguk habis semua susu yang sudah ibu buat.


"Istirahatlah, aku yang akan tidur di sofa!"


Aldo mengatakan itu sembari mengambil bantal dan selimut lalu dia berjalan menuju sofa. Apakah dia tahu jika aku tadi sudah mau tidur di atas sofa. Sudahlah dari pada memikirkan semua itu lebih baik aku tidur saja.


Keesokan harinya.


Aku terbangun saat mendengar suara alarm ponsel Aldo, kulihat dia mematikan ponselnya lalu menuju kamar mandi. Setelah dia keluar dari kamar mandi, dia menghampiriku lalu mengatakan "Ambil wudu, kita salat bersama!"


Mendengar itu aku bergegas mengambil air wudu, setelah itu aku melihat dia sedang menungguku untuk salat bersama. Akhirnya aku pun salat bersamanya, ini kali pertama aku salat bersamanya sebagai suami dan istri.


"Bersiaplah, mulai hari ini kita akan tinggal di apartemenku!" Aldo berkata padaku dengan nada tegas, seraya tidak ingin bantahan.


"Tunggu! Kau tidak berhak memerintahku seperti itu, aku masih ingin tinggal bersama ibu!" ucapku pada Aldo yang berjalan meninggalkan kamar.


Ada apa dengannya, seenaknya saja memerintahku seperti itu. Aku masih punya hak untuk bicara, lagi pula aku belum bisa memaafkan dia karena telah membuat ayah tiada.


'Astaga ada apa denganku, mengapa aku bisa terjebak dalam pernikahan seperti ini? Dan mengapa ibu lebih memilih Aldo untuk menikahiku, sangat berbeda sewaktu aku ingin menikah dengan Isamu. Sebenarnya ada apa ini?' batinku.


Dari pada kesal di dalam kamar lebih baik aku menemui ibu, mungkin ini bisa membujuk Aldo untuk tinggal di rumah beberapa hari atau selamanya. Aku berjalan menuju kamar ibu, mungkin ini masih berada di dalam kamarnya.


Aku tidak menemukan ibu di dalam kamar, apa ibu sudah berada di pantry. Lebih baik aku melihatnya saja, setelah di pantry tidak ada ibu disana. Sebenarnya pagi-pagi gini ibu pergi kemana? Tidak biasanya ibu menghilang di pagi hari.


"Di mana ibu?!" tanyaku pada seorang pelayan.


Pelayan itu mengatakan jika ibu sedang berada di taman dengan Aldo, setelah mengetahui keberadaan ibu aku bergegas menuju taman. Guna melihat apa yang sedang mereka lakukan.


Aku hanya bisa diam, melihat ibu tertawa lepas bersama Aldo. Semenjak ayah tiada, ibu sangat jarang sekali tertawa lepas. Tidak terasa kakiku melangkah mendekati mereka berdua yang sedang asik berbincang-bincang.


"Sayang, kemarilah!" Ibu berkata semabri menyuruhku untuk duduk di sampingnya dan itu tepat sekali di samping Aldo.


Ibu berkata padaku, jika Aldo sudah meminta izin untuk membawaku tinggal di apartemennya. Dan ibu mengizinkan aku pergi hari ini, aku begitu terkejut dengan apa yang sudah ibu katakan. Apa yang Aldo berikan sehingga ibu bisa begitu saja menuruti semua keinginannya.


"Bu, ada baiknya jika aku tinggal di rumah bersama Ibu? Lagi pula kesehatan ibu sedang menurun," jawabku pada ibu dengan lembut agar tidak membuatnya sedih.


"Kau sudah menikah, sudah menjadi kewajibanmu sebagai istri ikut dengan suamimu! Ayah dan ibu selalu mengajarkan tentang agama padamu, sehingga kau tahu apa semua kewajiban seorang istri muslim."


Aku terdiam kembali setelah mendengar apa yang ibu katakan padaku, sehingga aku teringat semua ajaran ayah dan ibu. Aku kembali terbuai dalam kenangan bersama ayah, lalu tersadar ketika ibu menepuk pundakku dengan lembut.


Saat aku tersadar, Aldo sudah tidak ada disampingku. Ibu berkata jika dia hendak membersihkan diri karena tubuhnya lengket sehabis olahraga. Aku menyantap camilan yang ada di meja dan meminum minuman yang sudah di sediakan oleh pelayan.


"Dengarlah Sayang, dia sudah menjadi suamimu! Maka kau harus bersikap layaknya seorang istri dan layani dia dengan sebaik mungkin! Ibu yakin dengan Aldo, dia pasti akan menjadi suami yang baik untukmu. Pergilah ikuti kemana pun suamimu pergi, cintailah dia dengan sepenuh hati."


Setelah mengatakan itu ibu berjalan meninggalkan aku sendiri duduk di gazebo taman. Aku kembali memikirkan apa yang sudah dikatakan oleh ibu, apa yang harus aku lakukan? Hati ini masih belum bisa sepenuhnya memaafkan dia.


Aku beranjak dari duduk lalu berjalan menuju kamar, selama perjalanan menuju kamar aku memikirkan kembali apa yang ibu katakan padaku barusan. Apakah aku benar-benar harus mulai membuka hatiku untuk Aldo tetapi aku belum bisa melupakan Isamu.


Rasa cinta dan kasih sayang dalam hatiku masih untuk Isamu seorang, mungkin di hati Aldo pun masih ada Rein. Karena mereka hendak menikah sebelum terjadi kecelakaan itu. Aku juga belum mengetahui dengan jelas apa yang menyebabkan Rein kecewa pada Aldo.


***


Akhirnya aku menyetujui keputusan Aldo untuk tinggal di apartemennya, bagiku ini adalah apartement kenangan antara dia dan Rein. Masih jelas aku mengingat dia begitu bahagia membeli apartemen ini dan mendekorasinya khusus untuk Rein.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan? Cepatlah rapikan semua barang bawaanmu, sebentar lagi kita ke rumah Lexa!"


Aldo berkata dingin padaku, ya ... Apa yang aku harapkan darinya? Dalam hatinya hanya ada Rein seorang. Sebenarnya dengan dia menolak untuk menikah denganku, semua ini tidak akan terjadi. Pernikahan yang tidak ada rasa cinta apakah akan bertahan lama.


Aku memasuki sebuah kamar yang bisa dibilang lebih besar dari pada kamar yang lainnya. Hanya terdapat satu almari yang besar bewarna putih, aku membukanya untuk melihat isinya. Ternyata dia sudah menyiapkan sebuah ruang dalam almari ini untuk pakaianku dan itu tepat disebelah pakaiannya.


Setelah itu aku merapikan pakaianku karena aku ingat dia berkata akan ke rumah Lexa untuk makan siang. Di sana masih ada ayahnya Aldi dan aku tidak tahu harus bersikap seperti apa dan bagaimana. Namun, bagaimana pun juga aku harus menghadapi semua ini.


Beberapa saat kemudian Aldo masuk kedalam kamar, dia membuka almarinya untuk memilih pakaian yang akan dia gunakan saat ke rumah Lexa. Sedangkan aku menunggunya bersiap semabri memainkan ponsel duduk di atas sofa.


"Ayo kita pergi!" Aldo berkata padaku dengan senyum kecil di bibirnya.


Namun, masih terasa ada kecanggungan diantara kami berdua. Dan sikap dinginnya masih sangat terasa sehingga aku pun bersikap sama padanya. Lebih baik aku segera menghampirinya dan mengikuti langkah kakinya untuk pergi ke rumah Lexa.


Dalam perjalanan dari apartemen menuju rumah Lexa, kami hanya diam tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sebelum aku menikah dengannya, jika menghadapi situasi seperti ini aku selalu menggodanya sehingga dia bisa terkekeh-kekeh.


"Bersikaplah hangat pada ayahku, karena dia sudah menganggap dirimu seperti anaknya sendiri!" Aldo berkata padaku saat menghentikan mobilnya di depan rumah Lexa.


Yang dikatakan oleh Aldo memang benar, asistennya sangat sayang padaku. Semua itu terbukti saat aku sedang menghadapi masalah besar, ayahnya selalu membantuku. Meski itu menyita waktunya untuk beristirahat.


Semenjak ayah tiada, ayahnya Aldo selalu bersikap hangat padaku. Sehingga aku tidak merasa kehilangan sosok ayah, meski kami berada di dua negara yang berbeda.


"Aku tahu," jawabku singkat.


Saat melepaskan sabuk pengaman mengapa ini terasa sulit, apakah sabuk pengamannya rusak. Aku berusaha dengan susah payah untuk melepaskannya tetapi tetap tidak bisa.


Aldo mendekatiku, dia membantu aku untuk melepaskan sabuk pengaman yang sulit terlepaskan dari tubuhku. Aroma mint yang keluar dari tubuhnya begitu menyegarkanku. Napasnya terasa hangat menyembur ke tubuhku. Jantungku mengapa tiba-tiba berdegup sekencang ini, jangan sampai Aldo menyadari semua ini.


Akhirnya sabuk pengaman terlepas Aldo menjauh dariku dan membuka pintu mobil lalu dia keluar. Sedangkan aku masih menenangkan diri setelah apa yang terjadi padaku. Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Mengapa aku bisa merasakan hal seperti tadi? Bukankah aku sudah mengenal Aldo sedari lama dan tidak pernah aku merasakan hal yang membuat hatiku berdegup kencang.


Tok! Tok! Aku terkejut saat Aldo mengetuk kaca pintu mobil, mungkin aku terlalu lama di dalam sehingga dia bosan menunggu. Padahal dia bisa berjalan masuk sendiri tanpa aku. Sehingga dia tidak perlu menunggu aku yang sedang mengatur degub jantungku sehingga kembali normal.


Aku membuka pintu mobil lalu keluar, Aldo berjalan perlahan di depanku apa mungkin dia menungguku untuk berjalan seiringan dengannya. Sepertinya aku harus bertindak lebih baik jika berada di rumah Lexa karena ada ayah Alex dan tentunya ayahnya Aldo.


Langkah kakiku dipercepat sehingga aku berjalan disampingnya Aldo, terlihat Zeroun dan Rosalina sedang tersenyum pada kami dari kejauhan. Mereka berlari menuju arah kami berdua, Zeroun bergerak dengan cepat sehingga dia langsung berada di gendongan Aldo. Begitu juga dengan Rosalina dia sudah ada di pelukanku.


"Bibi Aiko, apakah kalian sangat bahagia?!" tanya Rosalina padaku dengan ekspresi manisnya.


"Apakah aku terlihat bahagia, Sayang?" Aku balik bertanya padanya.


Dia tersenyum lalu mengecup pipiku dengan lembut, terdengar suara himwari yang menyuruh anak-anak turun dari gendongan kami. Kedua bocah itu pun turun dengan senyum manisnya.


"Kalian sudah datang? Pergilah ke gazebo, semuanya sudah menunggu kalian." Himawari berkata padaku dan Aldo.


Aku berjalan menuju gazebo, terlihat dari kejauhan semuanya sudah berkumpul. Semuanya terlihat sangat bahagia tetapi aku masih merasa ada yang kurang dalam hatiku. Namun, jika melihat mereka semua bisa tersenyum seperti itu aku pun ikut merasakan kebahagiaan mereka.


Mungkin jika aku menikah dengan Isamu, Aldo menikah dengan Rein pasti semuanya akan terasa lengkap. Entah mengapa jika aku memikirkan Isamu dan mengingat kembali kecelakaan yang membuat mereka tiada, hati ini seperti ada yang menyayatnya. Sehingga terasa sangat sakit.


"Akhirnya pengantin baru kita sudah tiba," celetuk Lexi yang membuat semuanya tertuju padaku dan Aldo.


Semuanya tersenyum, terlihat ayahnya Aldo berdiri dia berjalan mendekat. Dengan senyumnya yang hangat dia berkata, "Selamat datang, Sayang."


Sungguh bodohnya aku, membalas ucapan selamat datang dengan diakhir memanggil nama asisten Ari. Dengan cepat aku menutup mulut dan meralat kembali apa yang aku katakan tadi. "Terima kasih Ayah."


Terdengar suara ayah Alex yang terkekeh-kekeh melihatku, itu membuat jiwa manjaku kembali muncul. Aku menghampiri ayah Alex dan berkata, "Hentikan itu Ayah Alex—apa kau ingin aku terus masuk kedalam jurang rasa malu?!"


Semuanya terkekeh saat aku mengatakan kalimat itu, sungguh membuatku semakin kesal saja. "Hentikan tawa kalian, kalau tidak aku pergi saja dari sini!" Aku mengatakan itu dengan nada kesal apalagi setelah melihat Aldo berusaha menahan tawanya dan kembali bersikap dingin.


"Sudah ... Sudah, lebih baik kita makan siang di sini. Jangan terus menggoda mereka, nanti bisa-bisa mereka balas dendam dengan pergi dari perusahaan!" ucap Lexa yang enak didengar diawal tetapi tidak enak terdengar diakhir.


Aku mendekatinya lalu memeluknya dari belakang dan mengeluarkan kata-kata ancaman padanya. Namun, dia terkekeh-kekeh setelah mendengar ancaman dariku.


"Aku tahu kau Aiko, maka aku akan menugaskan kau ke Korea. Besok kau bisa pergi ke sana dengan tenang." Lexa berkata padaku sembari tertawa.


"Dan kau tidak akan sendirian karena suamimu juga akan ikut ke Korea. Tapi ingat pekerjaan di sana harus selesai terlebih dahulu, baru kalian bisa bersenang-senang!" timpal Lexi yang membuatku sedikit kesal sehingga aku mencubit lengannya dengan sekuat tenaga.


Lexi meringis saat menerima serangan dariku, dia hendak melawanku namun aku berhasil mudur darinya. Sehingga dia tidak bisa menyentuhku, aku pikir dia tidak akan membalas cubitanku. Namun, aku salah dia beranjak dari duduknya dan mulai menatapku dengan sorot mata ingin menerkamku.


Benar saja dia mulai mengejarku, aku berusaha menghindar dari kejarannya. Dan tidak aku sadari tubuh Aldo kujadikan tameng untuk menghindari Lexi. Semua terdengar menyertakan tingkah Lexi yang mengejarku seperti anak kecil.


"Hentikan Lexi! Apa kau tidak malu sudah di tertawa kan seperti ini hah?!" teriakku pada Lexi sembari memegang tubuh Aldo sebagai tameng.


Lexi tidak mendengar apa yang aku katakan, dia masih mengejarku. Meski Zeroun dan Rosalina mengatakan dia seperti seorang anak kecil, dia mengatakan tidak peduli dengan semua itu karena aku sudah membuatnya kesakitan. Maka aku harus merasakannya juga.


Posisiku berlatih ke depan Aldo dan Lexi di belakang Aldo. Dia masih tidak mau melepaskan aku, rasa lelah terasa dan aku mengatakan yang kesekian kali agar Lexi menghentikannya karena aku sudah lelah dengan permainannya.


"Hentikan Lexi! Istriku sudah kelelahan!" ucap Aldo yang dingin membuat Lexi menghentikan permainannya.


Terlihat Lexi menghela napas dengan kasar lalu dia berkata, "Liahtalah Asisten Ari, putramu membela istrinya!"


"Itu adalah salahmu, jangan membuat Aldo marah jika iya maka kau akan ditinggalkan olehnya untuk mengurus semua pekerjaanmu!" celetuk Lexa.


***

__ADS_1


Setelah makan siang selesai, aku bermain bersama dengan Zeroun dan Rosalina. Tidak terasa hari sudah sore, Lexa mengatakan agar aku menginap. Begitu juga dengan ayah Ari yang masih ingin membicarakan sesuatu pada Aldo mengenai suatu pekerjaan tentunya bersama ayah Alex juga.


Jika masalah pekerjaan aku tidak bisa menghalangi mereka karena aku sangat tahu pasti jika Aldo adalah tipikal seorang pria yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang sudah dia anggap penting.


"Bibi Aiko, dipanggil bunda!" Zeroun berkata padaku.


Aku bertanya padanya dimana bundanya, dia mengatakan jika Lexa ada di kamarnya. Mungkin Hinoto sedang tidak ada di dalam kamar sehingga dia menyuruhku untuk ke kamarnya.


Setelah mengatakan pesan dari Lexa, Zeroun berlari bersama Rosalina. Mereka berdua tidak dapat di pisahkan, meski mereka bukan anak kembar tetapi mereka seperti anak kembar. Aku tersenyum karena mereka mengingatkan aku terhadap Lexa dan Lexi.


Tok! Tok! Aku mengetuk pintu kamar Lexa dan terdengar suaranya yang menyuruhku masuk. Saat membuka pintu kamar, aku ragu untuk masuk karena Hinoto berada di dalam kamar. Dia duduk di atas sofa sembari membaca beberapa dokumen yang ada di tangannya.


"Masuklah!" Lexa berkata dengan senyum lembutnya dan Hinoto pun menyuruh ku untuk masuk.


Aku pun masuk, berjalan perlahan mendekati Lexa yang duduk di atas tempat tidur. Terlintas dalam benakku apakah dia sedang tidak sehat? Tetapi jika berada di kantor dia akan terlihat sangat sehat.


"Ada apa?!" tanyaku pada Lexa.


Dia bertanya padaku apakah aku bahagia, mendengar pertanyaan itu membuatku bingung apa yang harus aku katakan. Karena ku belum bisa merasakan kebahagiaan itu.


"Belajarlah memaafkan dia, belajarlah untuk mencintai dia. Karena dia adalah pria yang pantas bersanding denganmu hingga mau memisahkan kalian!" Lexa berkata dengan senyum dan penuh keyakinan.


"Bagaimana kau bisa berkata seperti itu? Kau tahu bukan? Jika aku masih belum bisa melupakan peristiwa yang mengakibatkan ayah dan Isamu tiada. Dan itu adalah ulahnya!" jawabku.


Lexa menghela napasnya, entah mengapa aku merasa dia menyembunyikan sesuatu dariku. Dan aku tidak tahu apa itu, terdengar Hinoto mengatakan sesuatu padaku. Dia berjalan mendekati kami lalu dia duduk di samping Lexa.


"Hilangkan prasangka itu karena semua itu tidak benar! Kau akan tahu semuanya jika sudah tiba saatnya. Namun, yang pasti kau harus bisa membuka hatimu untuk Aldo. Bagaimanpun juga dia adalah suamimu saat ini." Hinoto berkata padaku dengan lembut mungkin dia takut aku merasa tersinggung dengan apa yang akan dia katakan.


"Apa kalian belum melakukannya? Kau tahu maksudku, 'kan?!" tanya Lexa.


Aku hanya diam, mungkin dengan diam dia bisa tahu apa jawabanku. Terdengar Lexa menghela napasnya lagi. Dia mengatakan jika seorang wanita sudah menjadi seorang istri maka harus menjalankan kewajibannya. Dia tidak menjelaskan semuanya secara detail karena menurutnya aku sudah dewasa dan tahu apa yang harus aku lakukan.


Setelah berbicara panjang lebar dengan mereka berdua, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Karena aku melihat Lexa sudah kelelelahan.


"Ingat kamarmu di kamar Aldo!" teriak Lexa padaku yang sedang berjalan menuju pintu kamar guna keluar dari kamarnya.


Aku tersenyum lalu mengatakan padanya kalau aku tidak lupa akan hal itu. Aku berjalan keluar dari kamar dan menutup pintunya dengan rapat. Seorang pelayan mengatakan padaku jika aku sedang di tunggu ayah Alex dan ayah Ari.


Setelah mengatakan itu palayan pergi dan aku berjalan menuju ruang baca ayah Alex. Aku mengetuk pintu ruang baca, terdengar suara ayah Alex yang menyuruh masuk. Aku pun masuk, melihat kedua ayahku sedang duduk di atas sofa.


"Duduklah!" perintah ayah Alex padaku.


Sebelum duduk aku melihat sekeliling, aku pikir Aldo bersama mereka. Ternyata dugaanku salah, bukankah dia mengatakan akan bicara dengan ayah.


"Aldo bersama Lexi!" Ayah Ari berkata dengan nada menggoda.


Ayah Alex tersenyum melihatku sudah mulai salah tingkah, aku bertanya pada ayah apa yang akan dibicarakan padaku. Jika melihat mereka berdua ada di hadapanku, entah mengapa aku merasa akan di sidang saja.


"Aku tahu kau masih membenci Aldo tetapi aku yakin jika rasa benci itu bisa berubah menjadi cinta! Sehingga kalian bisa hidup bahagia," Ayah Ari berkata dengan lembut padaku.


Terlihat senyum di bibir ayah Alex, lalu aku bertanya apa yang membuatnya tersenyum seperti itu. Ayah Ari mengatakan jika ayah Alex sedang teringat akan kenangannya dengan istrinya.


"Benar yang kau katakan Ari, aku teringat tentang Alin. Apa kau tahu Sayang, dulu aku dan Alin bermusuhan dia sangat membenciku sehingga dia terus berniat lari dariku. Namun, seiring berjalannya waktu cinta kami semakin kuat. Meski mau tidak memisahkan kami aku tetap mencintainya." Ayah Alex berkata dengan tersenyum tetapi ada kesedihan dibalik itu. Mungkin sekarang ayah sedang merindukan istri yang dicintainya.


Kami pun berbincang-bincang, ayah Alex mengatakan padaku jika semuanya sudah selesai di bicarakan. Sehingga aku disuruh untuk kembali ke kamar untuk istirahat.


"Tunggu, Sayang!" Ayah Ari mengehentikan langkahku.


Ayah Ari mengeluarkan sebuah kotak perhiasan padaku dan menyuruh untuk menyimpan lalu memakainya setiap saat. Aku membuka kotak tersebut, terlihat sebuah kalung dengan model yang sederhana tetapi terlihat sangat indah.


"Apa ini Ayah?!" tanyaku.


"Itu adalah kalung istriku, dia berpesan padaku untuk menyerahkan kalung itu pada wanita yang menjadi istri Aldo. Sekarang aku serahkan kalung itu dan juga Aldo. Jaga dan cintai dia, penuhi hidupnya dengan cinta. Karena dia sudah mengalami hari-hari yang menyakitkan." Jawab ayah Ari.


Setelah mengatakan itu ayah Ari menyuruhku untuk kembali ke kamar, aku berjalan menuju kamar dan melihat Lexi yang masih berbicara dengan Aldo.


Saat di kamar aku kembali memikirkan apa yang ayah Ari katakan, tentang rasa sakit yang dialami oleh Aldo. Dan aku tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Aldo. Bukankah yang bermasalah adalah Aldo karena dia sudah menyakiti Rein.


Beberapa saat kemudian pintu kamar terbuka, rupanya Aldo masuk lalu berjalan menuju kamar mandi. Mungkin dia hendak membersihkan diri, sedangkan aku teringat tidak membawa pakaian ganti. Aldo keluar dari kamar mandi dia menuju almari dan mengambil pakaiannya.


"Bersihkan dirimu, lalu istirahatlah!" ucap Aldo padaku.


Aku pun masuk kedalam kamar mandi guna membersihkan diri, setelah selesai aku hanya menggunakan sehelai handuk dan bingung apa yang aku akan pakai malam ini.


Aldo langsung menutupi tubuhku dengan sehelai kain putih, dia membisikkan sesuatu padaku. Jika di kamar ini terpasang kamera pengintai. Sepertinya lexi sengaja memasang ini, 'Dasar kau Lexi! Lihat saja nanti akan aku balas kau!' batinku.


"Pakailah ini, setelah itu tidur bersamaku di atas tempat tidur! Jika tidak dia akan masuk kemari!" bisiknya padaku.


Aku bergegas masuk ke kamar mandi guna memakainya pakaian yang dia berikan tanpa melihat apa yang diberikannya. Saat aku melihatnya ini adalah sebuah kemeja miliknya. Terlihat sangat besar jika aku pakai, lebih baik aku pakai saja dari pada tidak memakai apa pun.


Setelah selesai aku langsung keluar dan melihat Aldo sudah tertidur dibatas tempat tidur. Aku mengingat jika Lexi memantau, lebih baik aku tidur satu tempat tidur dengannya. Karena aku yakin Aldo tidak akan melakukan hal-hal yang aneh.


Aku merebahkan tubuh di sampingnya, aku terkejut saat dia memelukku. Dia berbisik padaku untuk diam dan tidur lalu mematikan lampu kamar sehingga hanya lampu kecil di atas nakas yang menyala.

__ADS_1


__ADS_2