
Still Lexa POV
Setelah perdebatan yang panjang dan menguras emosi akhirnya Aiko bersedia menikah dengan Aldo. Dan pernikahan mereka pun akan dilaksanakan dalam dua hari kedepan.
"Mengapa kau menyetujui keputusan mereka untuk menikahkan aku dengan Aldo?!" Aiko bertanya padaku yang sedang membaca dokumen yang hendak aku bubuhi tanda tangan.
"Jika kau ingin membalas Aldo atas kematian ayahmu, maka kau harus melakukan ini!" jawabku padanya.
Aku terpaksa mengatakan semua ini padanya agar dia mau menikah dengan Aldo. Dan aku yakin jika Aldo dapat membuat Aiko mencintainya begitu juga Aiko dapat membuat Aldo mencintainya. Sehingga mereka berdua bisa melupakan masa lalu yang membuat mereka tersakiti.
Setelah mendengar apa yang aku katakan, dia pergi meninggalkan ruanganku dengan membawa dokumen yang sudah aku bubuhi tanda tangan. Aku menyandarkan tubuhku kebelakang kursi, semoga saja apa yang aku putuskan terhadap sahabat-sahabatku benar.
Ponselku berdering, aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja dan melihat layar ponsel guna melihat siapa yang menghubungiku. Nomor yang tidak aku kenal, aku mengabaikannya tetapi dia terus saja menghubungiku.
Akhirnya aku mengangkatnya, saat mendengar suara di seberang sana terasa familiar. Ini adalah Rosetta, dia mengajakku untuk bertemu di sebuah restoran. Ada yang ingin dia katakan denganku dan dia ingin hanya aku saja yang menemuinya.
Aku berusaha menolaknya tetapi dia masih bersikeras dan mulai mengancam jika dia akan menyakiti Zeroun. Aku pun terpaksa menyetujui apa yang dia inginkan.
Setelah mendengar persetujuanku, aku langsung berjalan menuju mobil dan menemui Rosetta. Aku harap dia tidak melakukan apa yang dia katakan padaku tentang Zeroun. Aku menghubungi Himawari lalu bertanya bagaimana keadaannya. Dia mengatakan jika Zeroun berada di rumah sedang bermain bersama ayah.
"Mau kemana kau?!" tanya Aiko yang melihat aku hendak pergi menemui Rosetta.
Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya jika akan bertemu dengan Rosetta. Karena aku yakin dia pasti akan ikut atau memberitahu Lexi dan Hinoto. Aku tidak ingin itu, sebab aku harus mencari tahu apa yang diinginkan oleh Rosetta.
"Aku ada perlu sebentar, ada seorang client ingin bertemu denganku." Aku menjawab Aiko setelah itu aku pergi meninggalkannya.
"Tunggu! Aku ikut denganmu!" teriak Aiko padaku.
Namun, aku tidak mengizinkannya karena Rosetta hanya ingin bertemu denganku seorang. Aku mengatakan pada Aiko tidak perlu ikut sebab dia harus mengusut beberapa dokumen yang aku butuhkan saat kembali nanti.
Aku tahu dia tidak percaya padaku tetapi semua ini aku lakukan untuk semuanya. Aku pikir masih bisa menghadapi tingkah Rosetta, setelah mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan Aiko dengan perasaan tidak percaya padaku.
Seorang sopir yang berada di mobilku, berniat untuk mengantarku tetapi aku menolaknya. Aku memerintah dia untuk tinggal di perusahaan sebab aku ingin pergi sendiri.
Dia tidak bisa membantahku karena aku bersikeras untuk pergi sendiri, setelah mengatakan semua itu aku langsung pergi meninggalkan perusahaan. Dalam perjalanan menuju tempat Rosetta, dia merubah tempat pertemuan kami.
Saat aku tiba di sebuah gedung yang sudah lama tidak digunakan, aku terdiam sejenak. Mengapa Rosetta ingin bertemu denganku di tempat seperti ini? Apakah dia sudah merencanakan semua ini.
Tok! Tok! Seorang pria mengetuk jendela mobilku, dia menyuruhku untuk keluar. Aku melihat keluar ternyata tidak hanya seorang tetapi mereka berjumlah lebih dari lima orang.
Aku tidak bisa keluar begitu saja, apa aku harus pergi dari sini atau turun dan menemui Rosetta. Karena aku yakin mereka adalah anak buahnya, ponselku berdering kembali.
Rupanya Rosetta yang menghubungiku, aku mengangkatnya. Dia mengatakan agar aku keluar dari mobil dan mengikuti para pengawalnya. Jika tidak maka dia akan menghabisi Zeroun yang sedang bermain di dalam rumah bersama ayah.
Aku terkejut mengapa dia mengetahui Zeroun sedang bermain dengan ayah. Apakah di rumah sudah ada mata-mata? Tidak—aku tidak akan membiarkan ayah dah Zeroun celaka. Aku pun keluar dari mobil dan berjalan mengikuti mereka.
"Silakan, Nona!" Seorang pengawal mengatakan padaku dengan hormat.
Namun, aku tahu ini hanyalah basa-basi semata, mungkin jika aku melawan mereka akan melakukan hal-hal lebih gila lagi. Aku berkelana memasuki sebuah bangunan tua, terlihat seorang wanita yang sedang duduk dengan santainya. Dia aldslah Rosetta.
__ADS_1
"Selamat datang di istanaku, Alexa Wibowo!" ucap Rosetta dengan begitu penuh percaya diri.
"Apa yang kau inginkan?!" Aku bertanya padanya dengan nada menyelidiki.
Rosetta menyuruhku duduk lalu dia mengatakan ingin menghabisiku. Karena jika aku tiada maka Hinoto akan kembali padanya, entah mengapa dia berpikir seperti itu. Namun, apa yang dia pikirkan itu salah sebab yang akan dia dapatkan hanya kebencian Hinoto saja.
"Mengapa kau begitu yakin dengan apa yang kau ucapkan?!" Aku bertanya kembali padanya.
Dia tersenyum mendengar apa yang aku tanyakan, lalu dia berdiri dan mendekatiku. Dia membisikkan sesuatu padaku yang membuat aku terkejut. Rupanya dia sudah merencanakan semua ini.
Rosetta berniat menyekapku lalu memaksa Hinoto untuk menikahinya. Meski aku masih menjadi istri sahnya Hinoto, dia mengatakan jika Hinoto diperbolehkan memiliki dua orang istri sekaligus.
"Mengapa kau begitu ingin menikah dengan Hinoto? Padahal kau tahu jika dia tidak mungkin mencintaimu?!" ucapku padanya.
"Jika aku sudah menjadi istrinya, aku akan setiap hari bertemu dengannya dan aku akan membuatnya jatuh cinta padaku. Jika kau setuju aku menikah dengannya maka aku akan membebaskan diriku dan calon anak yang masih berada di perutku itu." Rosetta berkata dengan penekanan.
Setelah mengatakan itu dia mengambil ponselnya, lalu menekan sebuah nomor di ponselnya. Entah siapa yang dihubunginya, perutku terasa sakit sekali. Tidak, aku tidak boleh seperti ini terus karena bisa berpengaruh pada bayiku.
Rupanya dia menghubungi Hinoto, dia memintanya untuk menemuinya. Akan tetapi dia tidak mengatakan jika aku sudah berada di tangannya, sebenarnya apa yang sedang dia rencanakan? Aku harap Hinoto tidak masuk dalam jebakan Rosetta.
"Kau akan lihat nanti Lexa, aku akan membuat Hinoto bermain di atas ranjang bersamaku! Meski dia sangat mencintaimu, seorang pria pasti akan tertarik pada wanita yang selalu menggodanya!" Rosetta kenekatan padaku.
Dia berjalan memasuki sebuah ruangan dan aku bisa melihat dengan jelas apa yang dia lakukan. Rupanya ruangan itu sudah di pasangi kaca yang hanya bisa dilihat dari posisiku.
Apakah Hinoto akan jatuh ke tangannya? Jika itu terjadi lebih baik aku mundur dan mengerjakan Hinoto padanya. Karena aku tidak ingin berhubungan dengan suami yang sudah berhubungan intim dengan wanita lain.
Dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang memperlihatkan kemolekan tubuhnya. Namun, itu terasa menjijikan bagiku. Perutku terasa nyeri kembali. Apakah aku terlalu stres memikirkan apa yang akan terjadi.
Aku melihat Hinoto sudah tiba, dia memasuki ruangan yang sudah berada Rosetta yang menggunakan pakaian yang begitu menerawang. Rosetta mulai melakukan hal-hal yang akan membuat Hinoto tergoda, aku tidak akan membiarkan semua itu.
Jika saja aku tidak terikat mungkin bisa menghentikan semuanya, ada apa dengan Hinoto mengapa dia? Apakah dia tergoda oleh Rosetta? Apakah ini adalah Hinoto yang sesungguhnya yang bisa tergoda oleh wanita.
Tidak mungkin Hinoto akan tergoda begitu saja oleh wanita seperti Rosetta. Aku benci kau Hinoto, mengapa kau seperti ini padaku? Apakah ini yang kau namakan cinta? Akan tetapi kau tergoda oleh rayuan wanita lain.
Aku berusaha melepaskan ikatan di tangan dan kakiku tetapi tidak bisa, kukerahkan seluruh tenagaku. Masih saja tidak bisa melepaskan ikatan ini, aku benci jika harus melihat adegan mereka yang sedang bermesraan. Lebih baik aku menghilang saja dari sini, mungkin itu lebih baik dari pada melihat suamiku sendiri bercumbu dengan wanita lain.
Lampu di dalam ruangan itu sudah padam, mungkin mereka melakukan hal yang lebih. Aku berteriak memanggil-manggil nama Hinoto tetapi dia tidak mendengarku. Meski aku bergerak hingga pita suaraku putus dia tetap tidak akan mendengar apa yang aku teriakan.
Brugggg!
Kursi yang menopang tubuhku jatuh, perutku sangat sakit. Air mata menyebut keluar, aku tidak tahan lagi dengan rasa sakit di perut. Hanya bisa menangis dan bertahan, aku terus memanggil-manggil nama Hinoto tetapi dia tidak mendengar. Mungkin dia sedang bersenang-senang dengan Rosetta.
Aaaaaaaaa ... pekikku, sekeras apa pun aku berteriak tidak ada yang menghampiriku. Rasa sakit ini semakin tidak tertahankan, bunda aku sudah tidak tahan lagi. Apakah aku akan berkahir seperti ini, aku hanya bisa menangis menahan rasa sakit di perutku. Dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh suamiku sendiri dengan wanita lain.
"Hinoto...." Aku berteriak dengan sejuta tenaga yang aku punya. Berharap dia akan mendengar aku dan menyelamatkan aku dari rasa sakit ini. Setiap berteriak hanya rasa sakit yang semakin menjadi, aku mohon tolonglah aku Hinoto.
"Brakkk! Lexa...," Aku mendengar ada seseorang yang berteriak memanggilku. Namun, aku tidak tahu siapa yang memanggilku. Rasa sakit di perut ini sudah tidak tertahankan lagi.
"Sayang, kau harus bertahan! Lihatlah ini aku Hinoto!"
__ADS_1
Rupanya dia adalah Hinoto, dia melepaskan ikatan kedua tangan dan kakiku. Lalu menggendongku, "Lepaskan aku ... Aku tidak ingin disentuh oleh tangan kotormu!"
"Hentikan ini sayang, biarkan aku membawamu ke rumah sakit!" Hinoto berkata dengan nada khawatir.
Bug!
Brugggg!
Ada yang memukul Hinoto dari belakang sehingga aku dan dia terjatuh, siapa yang sudah memukulnya. Aku berusaha untuk bangun dan melihat siapa yang sudah memukul Hinoto.
Rasa nyeri di perutku membuat aku kehabisan tenaga, aku berusaha berdiri dengan tenaga yang masih aku miliki dengan memegang sebuah tembok tua. Rupanya yang memukul Hinoto ada Rosetta.
"Dasar pria bodoh! Aku menyerahkan semuanya padamu tetapi kau menolaknya hanya demi wanita seperti dia!!" teriak Rosetta yang terlihat sangat kesal.
Hinoto berusaha bangun, dia memandangi diriku yang sedang bertahan dengan rasa sakit di perutku. Dia melangkah perlahan mendekatiku, entah mengapa aku tidak ingin tangannya menyentuhku. Karena aku melihat tangan itu telah menyentuh tubuh Rosetta.
"Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu itu!" Aku berkata dengan lirih.
Dia terlihat sedih saat aku mengatakan semua itu tetapi aku tidak bisa jika dia menyentuhku dengan tangannya itu. Aku masih tidak terima di menyentuh tubuh Rosetta dengan kedua tangannya itu.
Bug! Rosetta kembali memukul bagian belakang tubuh Hinoto sehingga dia tersungkur dan tidak sadarkan diri. Dia menyuruh pengawalnya untuk mengikatku. Apa yang hendak dia lakukan padaku dan Hinoto.
"Apa yang akan kau lakukan Rosetta? Lepaskan aku!" teriakku padanya tetapi dia hanya tersenyum picik.
Pengawalnya mengikat kedua tanganku, Rosetta menyuruhku mereka untuk menggantungkan di tiang yang menjulur keluar gedung. Apakah dia hendak menghabisiku dengan menjatuhkan aku dari atas geding.
"Apa kau ingat ini Lexa ... Bukankah seperti ini bunda kesayanganmu itu tiada? Ingatlah semua itu karena kau pun akan tiada seperti bundaku!" Dia berkata dengan nada dingin tetapi ada rasa kesenangan di dalamnya.
Rosetta mengingatkan semuanya padaku, apakah dia begitu membenciku dan ingin aku tiada. Saat aku melihat kebawah, semua potongan puzzle saat bunda terjatuh kembali muncul di pikiranku.
Air mata ini tidak bisa aku hentikan untuk keluar membasahi kedua pipiku. Rasa penyesalan kembali muncul, jika saja aku tidak pergi keluar mungkin bunda sampai saat ini masih bersama kami. Dan ayah tidak akan merasakan kesepian hingga hari ini.
'Maafkan aku bunda, semua itu adalah salahku, seharusnya aku yang tiada bukan kau. Aku sudah tidak tahan lagi, rasa sakit ini semakin menggila. Bunda ... Maafkan aku!' batinku.
Terdengar suara Rosetta yang terkekeh-kekeh melihatku ketidak berdayaanku. Dia merasa puas melihatku seperti ini, lalu dia berkata ini semua belum setimpal dari apa yang telah aku perbuat yaitu merebut semua yang dia miliki termasuk Hinoto.
"Lepaskan aku Rosetta, izinkan aku untuk menyelamatkan bayi ini! Dia tidak bersalah, jika kau ingin memiliki semua yang menjadi milikmu kita bisa bicarakan!" Aku berkata dengan lirih.
Dia terkekeh lalu mengatakan jika semuanya sudah terlambat karena yang dia inginkan kali ini adalah kematianku dan juga Hinoto. Baginya Hinoto sekarang sudah berkahir. Dia sangat kecewa sebab Hinoto terus saja menolaknya.
Bahkan tadi Hinoto memukul Rosetta dan pergi menyelamatkan diriku, dari perkataannya itu. Bearti Hinoto tidak melakukan hal yang menjijikan itu, ternyata dia adalah suami yang sangat mencintaiku.
Tidak berapa lama Hinoto tersadar, dia berteriak pada Rosetta untuk melepaskan aku. Namun, Rosetta hanya tersenyum lalu dia mengatakan pada Hinoto jika ingin menyelamatkan aku maka Hinoto harus menyelamatkannya sendiri.
"Jika kau ingin menyelamatkannya—maka lakukan sendiri!" Rosetta mengatakan itu.
Setelah mengatakan itu pada Hinoto, dia menyuruh seorang pengawalnya untuk memotong tali yang mengikatku. Namun, tidak semuanya dia potong. Akan tetapi, sedikit demi sedikit tapi itu pasti akan putus karena sudah tidak bisa menyangga berat tubuhku.
"Kau sudah tidak waras Rosetta! Mengapa kau melakukan ini pada istriku!" pekik Hinoto yang berusaha melepaskan diri dari cengkeraman anak buah Rosetta.
__ADS_1
Rosetta kembali terkekeh, lalu dia berkata ini semua karena rasa cinta yang begitu besar darinya untuk Hinoto. Jika saja Hinoto tidak menolaknya mungkin semua ini tidak akan terjadi.
Aku sudah tidak tahan lagi, perutku semakin terasa nyeri. Apakah aku akan kehilangan bayi ini dan juga nyawaku. Jika merasakan ajalku sudah dekat, aku kembali teringat akan Zeroun. Bagaiman adegan dia jika aku tiada. Apakah dia akan merasakan apa yang aku rasakan setelah kehilangan bunda. Dan apakah Hinoto akan seperti ayah yang tidak akan menikah kembali, hanya mengurus Zeroun setelah kepergianku.