
Mamoru POV
Saat aku menjemputnya di rumah, aku begitu terpesona oleh parasnya. Dia tampak berbeda dari biasanya, tak tahan mataku ini selalu ingin meliriknya. Hari ini dia menggeraikan rambutnya itu semua tampak memesona. Jika setiap kali bertemu dengannya, dia selalu mengikat rambutnya yang hitam berkilau. Entah kenapa aku suka melihatnya seperti ini.
"Ada apa? Ada yang salah dengan wajah ku?" Lexa bertanya padaku, mungkin dia menyadari bahwa aku selalu meliriknya.
Aku tersenyum dan berkata, "tidak ada apa-apa."
Hari ini aku ingin mengajaknya ke pulau Shikoku, semoga dia menyukainya. Sudah kupikirkan ini sedari aku bertemu dengannya di Indonesia. Aku ingin memberikan kebahagiaan pada dirinya, sudah cukup banyak kesedihan yang dia alami. Biarkan aku memberikan sedikit kebahagiaan pada dirimu Alexa Wibowo. Dalam perjalanan kulihat dia melamun, entah apa yang sedang dia pikirkan. Akhirnya sampai juga di sebuah dermaga, aku menyewa sebuah kapal untuk menuju pulau Shikoku.
"Ternyata kau membawaku ke pulau Shikoku?" ucap Lexa sembari menyunggingkan senyumnya.
Aku tersenyum dan menganggukan kepala ku dan berkata, "apa kau suka?"
Dia hanya tersenyum dan menikmati perjalanan menggunakan kapal. Aku pun berdiri di sampingnya, aku sangat menikmati perjalanan kali ini. Tiba-tiba rambutnya mengenai wajahku, wangi yang sangat khas Lexa. Dia menyadari bahwa rambutnya tersibak oleh angin dan dia pun merapihkannya menggunakan kedua tangannya.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, akhirnya kami sampai di pulau Shikoku. Aku lebih memilih sebuah pulau kecil di Shikoku yaitu Khoci. kupikir Lexa pasti akan sangat menyukai pulau Khoci ini, karena meski pulau ini kecil namun memiliki keindahan tak kalah dari pulau lainnya.
Kami pun menelusuri setiap jalanan di pulau Khoci, Lexa begitu menikmati pemandangan. Rambutnya tersibak oleh semehilir angin dan itu menampakkan keindahan, dia hendak mengikat rambutnya.
"Tunggu! Biarkan saja rambutmu tergerai, aku suka melihatnya seperti itu!" Aku berkata seraya memerintah agar Lexa tak mengikat rambutnya. Lexa menyunggingkan senyumannya dan membiarkan rambutnya tergerai.
__ADS_1
Setelah berjalan-jalan aku memutuskan untuk membawanya ke sebuah vila. Aku menyuruh para pelayan untuk menyiapkan makan siang, selagi menunggu para pelayan menyiapkan makan siang kami berbincang-bincang. Disaat sedang asik berbincang-bincang aku di kejutkan dengan kedatangan tuan Rei Hirasaki dan Alan.
"Hai Mamoru! Apa kami mengganggu mu?!" ucap Alan dengan nada menggoda.
Alan langsung menghampiri ku dan duduk di samping Alexa, aku berdiri untuk memberi hormat kepada tuan Rei Hirasaki. Aku pun mempersilahkan tuan Rei untuk duduk di sebelah Alan. Akupun duduk kembali, Lexa sedikit bingung dengan kedatangan mereka. Aku pun memperkenalkan tuan Rei pada Lexa dan kuberi tahu dia bahwa tuan Rei adalah ayah dari Alan. Setelah mendengar nama Rei Hirasaki, ekspresi Lexa berubah entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Aku, Alan dan tuan Rei berbincang-bincang mengenai bisnis, Lexa hanya diam saja. Terkadang sesekali Alan menggodanya namun Lexa tak memedulikannya. Beberapa saat kemudian datang para pelayan dan menghidangkan makanan, kami pun menyantap makanan yang sudah di hidangkan. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada Lexa. Kenapa setelah kedatangan Alan dan tuan Rei sikapnya berubah drastis.
Acara makan siang kami pun selesai, tuan Rei meminta waktu padaku untuk membicarakan bisnis. Aku pun mengajaknya ke ruang baca, sedangkan Lexa dia memilih untuk berjalan-jalan ke taman. Aku melihat Alan pun mengikuti Lexa dari belakang, dalam pikir ku 'apakah Alan menyukai Lexa?.' Saat aku sibuk dengan yang ada dalam pikiranku, tuan Rei menepuk pundak ku dan menanyakan tentang Lexa.
"Apakah dia gadis yang kau sukai?!" aku terkejut dengan pertanyaan tuan Rei. Tapi memang benar aku menyukai Lexa, bahkan aku akan melindunginya dengan segenap jiwa dan raga ku.
Tuan Rei hanya tersenyum, sebelum aku menjawab pertanyaannya mengenai perasaanku pada Lexa. Dia sudah mengalihkan pembicaraan menjadi ke permasalahan bisnis. Aku pun mulai serius dengan pembicaraan kali ini. Tak terasa sudah satu jam kami berbicara, aku mulai memikirkan Lexa. Aku pun langsung menuju taman, ku lihat Lexa sedang duduk di temani Alan. Mengapa jika aku melihat Lexa bersama pria lain rasanya aku tak rela. Aku pun melangkahkan kaki dengan cepat, rasanya ingin sekali aku langsung berada di sampingnya.
"Iya!" jawabku singkat, aku pun langsung ikut dengan bergabung dengan mereka. Aku bertanya apa saja yang di bicarakan, Lexa menceritakan semuanya. Aku lihat ada yang berbeda dengan Alan, dari dia menatap Lexa, aku sudah tahu bahwa Alan menyukai Lexa. Aku berusaha tenang, mungkin itu hanya perasaanku saja. Karena Alan tahu bahwa aku menyukai Lexa dari awal kami bertemu, aku yakin tidak akan terjadi hal-hal tidak kuinginkan.
Setelah kami puas berbincang, tuan Rei menghampiri kami. Dia mengajak Alan untuk segera pergi, karena masih ada urusan yang di selesaikan. Akhirnya akan dan tuan Rei pun pergi, sekarang tinggal kami berdua. Kulihat tatapan Lexa terhadap tuan Rei berbeda, seperti ada aura ingin membunuh saja. Ku tepuk bahunya dengan lembut, dia terkejut namun sepersekian detik dia tersenyum padaku.
"Apakah kau mengenal Tuan Rei?!" aku bertanya pada Lexa, sungguh aku begitu penasaran dengan yang ada di pikirannya.
"Tidak! Oia apakah kau akan mengajak ku jalan lagi?" timpal Lexa.
__ADS_1
Aku pun tersenyum, meski masih ada yang mengganjal di hatiku. Aku mengajak Lexa untuk berjalan-jalan menelusuri taman, karena taman ini begitu luas. Banyak sekali bunga-bunga yang tumbuh di sini, aku sengaja menyuruh para pelayan untuk merawat taman ini. Karena taman ini merupakan taman yang ibu sukai sebelum beliau meninggalkan ku.
Selama dalam perjalanan menelusuri taman ini, Lexa hanya diam. Yang kurasakan tubuh Lexa ada bersamaku namun pikirannya tidak berada di sini. 'sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan Lexa' batinku.
"Aku mau pulang!" ucap Lexa padaku, aku pun mengiyakannya.
Kami pun menuju dermaga dan menaiki kapal, kulihat dia masih saja diam. Ingin rasanya aku bertentangan kembali apa yang telah mengganggu pikirannya. Tidak lebih baik aku tidak terlalu memaksanya, lagipula status ku hari ini masih seorang teman baginya. Aku belum mengetahui perasaannya padaku, mungkin dia akan menolakku jika aku menyatakan perasaanku padanya.
Beberapa saat kemudian kapal kami merapat di dermaga, aku dan Lexa langsung menuju mobil. Aku langsung menjalankan mobil mengantar Lexa ke rumahnya. Selama dalam perjalanan dia hanya terdiam, setiap kutanyakan apa yang terjadi dia selalu menjawabnya tidak ada apa-apa.
Ckitttt!
Mobilku berhenti di depan rumah Lexa, saat dia hendak turun kupegang tangannya. Kupandangi wajah Lexa yang begitu menawan, bibirnya yang merah merona rasanya ingin ku kecup. Dia tersenyum melihatku, dengan lembut dia melepaskan tangan ku.
"Terimakasih untuk hari ini!" ucap Lexa sembari membuka pintu mobil. Dia pergi meninggalkan ku dan masuk ke dalam rumahnya, sebelum menutup pintu dia tersenyum lembut padaku.
Aku pun menyalakan mesin mobil dan melesat pergi meninggalkan rumah Lexa. Aku tidak bisa menghentikan pertanyaan yang ada di pikiranku. Apakah ada hubungannya dengan tuan Rei?
____________________________________________
Hai hai hallo para pembaca setia ku, terimakasih loh ya sudah membaca dan menunggu up ku setiap harinya π
__ADS_1
Jangan melupakan like dan komen yang membangun, atau masukkan dari kalian silahkan. Oia kalau mau ya, ini kalo mau masukkan semua poin kalian pada Alexa ya π kalau tidak juga tidak mengapaππ