Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 127


__ADS_3

Still Lexa POV


Cengkeraman Hinoto begitu kuat, sehingga lenganku terasa sakit. Aku tahu dia pasti sangat marah padaku. Seharusnya aku yang marah kepadanya, mengapa sekarang dia yang marah kepadaku.


"Lepaskan tanganky Hinoto!" Aku berkata pada Hinoto dengan penekanan, akan tetapi dia tidak mendengar apa yang aku katakan.


Brugggg!


Dia menghempaskan tubuhku ke dalam mobil, sehingga aku terduduk di kursi samping kemudi. Setelah itu dia berjalan ke arah kemudi, dia masuk dengan wajah masamnya.


Aku memegang pergelangan tanganku terlihat sedikit memerah, ternyata genggaman Hinoto begitu kuat. Aku hanya bisa diam seribu bahasa, karena aura kemarahan yang dikeluarkannya sangat kuat.


Aku tidak tahu dia akan membawaku kemana. Namun yang pasti ini bukanlah jalan menuju hotel yang aku tempati. Aku sudah tidak peduli dia akan membawaku kemana.


Tidak begitu lama Hinoto menghentikan mobilnya, aku melihat sekeliling. Ini merupakan sebuah rumah yang cukup lumayan besar, Hinoto membuka pintu mobilnya seraya menyuruhku untuk keluar dari mobilnya.


Dia menarik tanganku kembalikan, aku berusaha mengikuti langkah kakinya yang begitu cepat. Apakah dia sungguh marah padaku? Apakah dia marah dengan aku menjadikannya sebagai taruhan? Beberapa pertanyaan itu melayang di otakku.


Dia berjalan dengan cepat hingga memasuki sebuah kamar, dia membuka pintu kamar tersebut lalu menutupnya. Dengan cepat dia menyerangku dengan kecupannya.


Aku tidak suka dengan kecupan yang dia lakukan padaku, karena terasa ada pemaksaan dan kemarahan dalam kecupannya itu. Sehingga aku tidak merasakan kehangatan Hinoto sewaktu di Jepang.


Aku berusaha melepaskan diri darinya, namun dia menggenggam kedua tanganku lalu menempatkannya diatas kepalaku. Kedua tanganku menempel pada dinding. Aku tidak bisa melepaskannya, karena Hinoto mencengkeramnya sangat erat meski dengan satu tangannya.


Bibirnya tidak berhenti untuk mengecilkan dengan kasar, tangan yang satunya lagi mulai berjalan di setiap lekuk tubuhku. Aku sungguh tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Hinoto.


Saat kakiku hendak menginjak kakinya, dia dengan cepat mengunci tubuhku dengan tubuhnya sehingga aku tidak bisa bergerak dengan leluasa. Dia menghentikan kecupannya lalu melihat ke mataku, aku berusaha mengatur ritme napasku. Karena dia sedari tadi tidak melepaskan kecupannya.


"Kau begitu kasar! Aku tidak suka kau yang seperti ini!" Aku berkata dengan tersengal-sengal.


Ingin rasanya aku menangis karena perlakuannya padaku seperti ini, akan tetapi aku tidak ingin memperlihatkan sisi lemah ku padanya. Ku tatap dia dengan lekat apakah masih ada kemarahan di matanya.


Dia menempelkan keningnya dengan keningku, dia hanya diam. Namun aku masih bisa mendengar napasnya yang kasar. Dia tidak berkata apa-apa, hanya napasnya saja yang bisa kudengar. Sepertinya dia sedang menahan semua emosinya.

__ADS_1


"Maafkan aku, jika semua yang kulakukan di dalam pesta tadi membuatmu kecewa." Aku berkata dengan lirihnya, aku ingin mendengar suaranya.


Dia mulai melonggarkan cengkeramannya, akan tetapi dia tidak melepaskan sepenuhnya. Mungkin dia masih kesal kepadaku, sebenarnya aku sangat menyesal dengan apa yang aku lakukan dalam pesta tadi.


"Jangan kau diam saja! Jika kau marah kepadaku lah semuanya, aku tahu aku salah! Aku minta maaf...." Aku ingin mendengar suaranya akan tetapi dia tidak mengatakan apapun.


Aku terus saja meminta maaf padanya tidak terasa air mataku menetes membasahi kedua pipiku. Entah mengapa air mata ini mengalir begitu saja padahal aku tidak mengijinkan air mataku untuk keluar.


Hinoto memelukku dengan erat, aku merasakan kehangatan yang biasanya jika dia memelukku. Apakah dia sudah memaafkanku, akan tetapi dia masih saja diam.


"Jangan kau lakukan itu lagi padaku! Aku sangat mencintaimu sehingga ku tidak ingin melepaskanmu. Hanya maut yang bisa memisahkan kita, kau harus ingat itu, sayang!" Hinoto berkata dengan lembut akan tetapi ada penekanan di setiap kalimatnya.


Aku membalas pelukannya padaku, tanpa aku sadari aku mengecup bibirnya dengan lembut. Seraya mengatakan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah membuatnya kecewa.


"Maafkan aku, karena berbuat kasar padamu tadi." Hinoto berbisik padaku.


Aku tersenyum yang mengartikan bahwa aku sudah memaafkannya, dia melepaskan diriku dari pelukannya. Lalu menggendongku dengan lembut dan mendudukanku di atas tempat tidur.


Aku menyukainya yang seperti ini, pria dingin yang selalu memperlakukanku dengan lembut. Aku harap selamanya dia akan menjadi suamiku hingga maut memisahkan.


Aku mengalungkan kedua tanganku di pundaknya sehingga melingkar di lehernya. "Jangan pernah berubah ya, bersabarlah terhadapku sebentar lagi!" bisikku padanya dengan lembut.


Hinoto tersenyum tanpa meminta ijin terlebih dahulu, dia langsung mengecup bibirku dengan lembut. Permainan begitu lembut dan hangat sehingga membuatku terbuai.


Hingga akhirnya aku pun ikut dalam permainannya, secara perlahan tubuhku terhempas secara lembut di atas tempat tidur. Namun dia tidak melepaskan sedetikpun kecupannya kepadaku. Saat aku terbuai oleh permainan lidahnya yang bermain di rongga mulutku, tangannya mulai berjalan di setiap lekuk tubuhku.


Tangannya mulai menyentuh dan memainkan bagian sensitif daerah dadaku. Setelah puas dengan daerah dadaku, dia melepaskan sedikit demi sedikit pakaianku. Hingga akhirnya tubuhku tidak tertutup sehelai kainpun.


Kulihat dia pun mulai melepaskan satu per satu pakaiannya, setelah itu dia langsung menyerang seluruh bagian tubuhku dengan kecupannya. Sehingga meninggalkan tanda di setiap tubuhku yang di singgahi oleh bibirnya.


Semua permainannya membuatku semakin menikmatinya hingga membuat tubuhku menggeliat. Dia menghentikan permainannya lalu menatapku, dia tersenyum mesum padaku.


"Apa kau menikmatinya sayang?" lirihnya padaku.

__ADS_1


Aku hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dia ucapkan, karena tangannya masih memainkan bagian sensitifku di bagian dada. Aku tidak tahu mengapa dia semakin mesum semenjak kepergiannya ke Korea.


"Aku akan mulai menghukummu, karena kenakalanmu di pesta tadi!" ucapnya padaku dengan lembut tetapi terdengar penekanan di setiap kalimatnya.


Aku tahu apa yang akan dia lakukan, aku teringat malam itu saat bagian tubuhnya memasuki ke dalam bagian tubuhku yang sensitif paling bawah. Itu terasa sangat sakit, apakah rasa sakit itu akan kembali aku rasakan.


"Relaks dan sayang, jika kau tegang maka akan terasa sakit." Dia berkata lirih padaku.


Aku berusaha tenang setelah mendengar ucapannya, akan tetapi aku masih tegang. Akhirnya dia mengecup bibirku dengan lembut sehingga aku kembali terhayut oleh permaian kecupannya.


Tanpa aku sadari bagian tubuhnya sudah memasuki bagian bawah tubuhku yang sangat sensitif. Dia melepaskan bibirnya dari bibirku, dia tersenyum melihatku yang sudah mengeluarkan suara yang membuatnya semakin terprovokasi.


Hentakan demi hentakan yang awalnya dilakukan secara perlahan, lama kelamaan semakin cepat dan kuat. Sehingga aku merasakan kenikmatan. Wajahku sudah tidak bisa ku kontrol, sehingga memperlihatkan seorang wanita yang menginginkan kenikmatan dari pasangannya.


Aku tidak tahu sudah berapa lama kami bermain, akan tetapi dia tidak terlihat lelah. Dia masih saja terus ingin bermain denganku, aku tidak tahu mengapa diriku ini berubah menjadi mesum sepertinya.


Saat aku sudah mau mencapai puncak kenikmatan dia berbisik padaku, "Aku sudah mencapai puncaknya, kita keluarkan bersama!"


Setelah mencapai puncak kami berdua kelelahan, kulihat dia sudah tertidur sembari memelukku dengan erat. Aku begitu bahagia akan tetapi aku merasa sangat lelah kali ini. Apakah ini yang dia maksud sebagai hukuman.


Aku terbangun mendengar ponselku berdering, aku berusaha melepaskan lengan Hinoto yang memelukku. Setelah terlepas aku berusaha berdiri untuk mengambil ponselku.


Brugggg!


Namun saat aku hendak berdiri kedua kakiku tidak bisa berdiri dengan tegap. Kedua kakiku terasa lemah sehingga aku terjatuh di dekat tempat tidur.


"Kenapa denganmu?" Hinoto bertanya dengan nada khawatir.


Dia terbangun mendengarku terjatuh, aku sungguh kesal dengannya. Tidak terlihat sedikitpun rasa bersalah karena telah membuatku tidak berdaya seperti ini.


"Ini semua salahmu! Jika semalam kau tidak menyerangku dengan waktu yang lama, semua ini tidak akan terjadi!" ucapku dengan nada kesal padanya.


Hinoto terkekeh setelah mendengar perkataanku, lalu dia berdiri dan menggendongku. Dia mendudukanku dalam pangkuannya, dia melihat diriku dengan lekat. Entah apa yang ada di dalam pikirannya, tapi yang pasti aku tidak sanggup jika dia menyerangku kembali.

__ADS_1


__ADS_2