
Lexi POV
Jepang.
Akhirnya aku tiba di bandara lalu menghubungi sopir untuk menjemput kami. Sebelum aku menghubungi sopir, rupanya sudah ada yang menjemput kami. Mungkin Lexa yang sudah menyuruhnya.
Sopir pun membantuku untuk membawa barang bawaan kami, kulihat Himawari yang sedang menggendong Rosalina dengan Zeroun yang memegang ujung pakaian Himawari.
"Zeroun— kemari!" Aku memanggilnya karena melihat sudah lelah, mungkin jika aku gendong dia pun akan tertidur.
Dia menghampiriku lalu aku menggendongnya dan berjalan menuju mobil yang sudah menunggu di luar. Saat sudah di luar bandara aku melihat sopir yang sudah membukakan pintu mobil. Aku menyuruh Himawari untuk masuk terlebih dahulu lalu aku.
Dalam perjalan menuju rumah, aku melihat dengan saksama kedua bocah yang ada di pangkuanku dan Himawari. Mereka berdua begitu polos dan bersih, aku tidak ingin jika mereka berdua merasakan kepedihan atas kehilangan orang yang dicintainya.
Ckitttt!
Mobil terhenti dengan mendadak sehingga membangunkan Rosalina dan Zeroun. Aku bertanya pada sopir ada apa, dia mengatakan jika ada beberapa orang yang menghalau jalannya.
"Tuan, biar saya tanya mereka," ucap sopir padaku.
Aku hanya melihat apa yang akan terjadi yang pasti aku tidak ingin berkelahi di hadapan anak-anak. Namun, aku tidak bisa mengelak lagi kali ini. Karena melihat sopirku langsung diserang oleh mereka, padahal terlihat jelas sopirku berkata dengan sopan dan baik-baik.
"Kau tetap di dalam!" ucapku pada Himawari.
Setelah mengatakan itu aku memberikan Zeroun pada Himawari, dia tahu apa yang harus dilakukan. Lalu aku keluar dari mobil dan mendekati mereka.
Tanpa basa-basi mereka pun menyerangku, aku bertahan dari serangan mereka. Sepertinya aku harus segera membereskan mereka karena aku yakin jika mereka pasti akan semakin bertambah banyak.
Bug!
Bug!
Whuuss!
Serangan balik pada mereka dengan memukul dan diakhiri dengan tendangan yang mematikan. Sehingga satu per satu musuh berjatuhan, aku melihat mereka kembali yang sudah terjatuh. Apakah mereka akan kembali berdiri dan menyerangku.
"Tuan, sebaiknya kita segera pergi dari sini!" ucap sopir padaku.
Aku mengangguk lalu berjalan menuju mobil diikuti oleh sopir dari belakang. Setelah kami masuk dalam mobil, aku menyuruh sopir untuk menginjak pedal gas mobil dengan kecepatan tinggi. Dan segera menuju rumah karena saat ini rumah adalah tempat yang aman bagi anak-anak.
Sopir pun langsung menginjak pedal gas mobil sehingga laju mobil berjalan dengan kecepatan tinggi. Aku berharap tidak ada yang mengejar kami. Karena aku khawatir tentang anak-anak, terlihat jelas mereka sangat ketakutan.
"Tenanglah— kita akan segera tiba di rumah!" ucapku pada anak-anak guna menenangkan mereka berdua.
Aku menatap Himawari, sorot matanya seperti bertanya padaku ada apa? Tetapi aku tidak tahu siapa mereka dan mengapa mereka menghalau jalan kami.
"Tuan, ada dua mobil yang mengejar kita!" Sopir berkata padaku dengan nada khawatir.
Mungkin dia khawatir dengan anak-anak jika dia semakin menambah kecepatan mobilnya. Maka anak-anak semakin ketakutan, aku menyuruhnya untuk menambah kecepatan mobilnya.
Aku mengambil Notebook lalu membuka dan mengaktifkannya guna mencari cara untuk lepas dari kejaran mereka. Setelah melihat jalanan yang bisa aku lewati dari Notebook, menyuruh sopir untuk mengikuti arahanku.
__ADS_1
Sopir pun mengangguk, dia mengikuti arahanku dengan cepat dan tepat. Aku melihat ke belakang mereka masih mengejar kami, mereka berusaha menyalip mobil kami. Namun, sopir berhasil menjauh tetapi mereka kembali mendekat.
Salip menyalip terjadi antara mobil kami dan musuh, sehingga membuat anak-anak semakin ketakutan. Aku mengatakan pada sopir untuk terus melaju dan menghiraukan anak-anak.
"Kalian harus tenang, agar sopir tidak khawatir!" Aku berkata agar mereka berdua bisa tenang dan Himawari pun membantuku untuk menenangkan mereka berdua.
Dan aku kembali dengan Notebook guna menunjukkan jalan keluar yang aman bagi kami. Aku menyuruhnya untuk langsung menginjak pedal gas dengan kuat, saat lampu merah di depan kami berwarna kuning.
Namun, dia masih ragu karena itu sangat berbahaya. Dia tidak mau terjadi kecelakaan dan mengakibatkan kami semua terluka. Aku mengatakan padanya dengan tegas agar dia mau menuruti perintahku.
"Cepat! Sekarang!" perintahku pada sopir dengan nada tinggi agar dia menuruti perintahku.
Sopir pun langsung menginjak pedal gas mobil dengan kuat sehingga mobil melesat dengan kecepatan tinggi. Sehingga menerobos lampu kuning yang sepersekian detik langsung berubah menjadi warna merah.
Terdengar teriakan histeris dari Rosalina dan Zeroun, aku langsung memeluk Zeroun dengan erat dan Himawari memeluk Rosalina. Aku membisikkan kata-kata yang akan membuat Zeroun tenang. Karena Lexa pernah mengatakan sebuah kalimat yang akan membuat Zeroun tenang jika dalam keadaan histeris.
"Apa kita akan tiada, Ayah Lexi?" ucap Zeroun yang menatapku.
Kulihat dari sorot kedua matanya ada ketakutan yang begitu kuat, ini adalah kali pertama kami di serang oleh musuh. Aku membisikkan padanya jika kita akan kembali ke rumah dan selamat lalu bertemu dengan ayah dan bunda.
Setelah mendengar yang kukatakan tadi terlihat sedikit kelegaan pada Zeroun. Aku masih memeluknya dengan erat, sopir pun masih melaju dengan kecepatan tinggi dan akhirnya mereka tidak bisa mengejar kami.
Tibalah kami di rumah dengan selamat, aku menyuruh sopir tersebut untuk mengobati luka yang dia dapat saat berkelahi tadi. Sedangkan Himawari berjalan masuk kedalam rumah sembari menggendong Rosalina.
Zeroun masih berada digendonganku, lalu aku masuk kedalam rumah dan membaringkannya di samping Rosalina. Kutatap mereka berdua sangat ketakutan. Apakah hidup kami akan kembali dihantui oleh rasa takut? Apakah aku harus mulai kembali dengan semua ketegangan saat Rey Hirasaki menghancurkan keluarga kami.
"Sayang, lebih baik kau hubungi Lexa dan Hinoto!" Himawari berkata padaku sembari menyelimuti anak-anak.
"Apa yang terjadi? Bagaimana anak-anak?!" Lexa bertanya dengan nada khawatir.
"Anak-anak ada di kamar, mereka masih merasa ketakutan! Sekarang Himawari bersama mereka." Aku menjawab agar Lexa bisa tenang.
Hinoto bertanya apakah aku tahu siapa yang sudah menyerang tetapi aku belum tahu jawabannya. Namun, aku teringat akan Rosetta, apakah dia yang telah menyerangku? Apakah dia sudah mulai melancarkan serangannya? Semua pertanyaan itu bergelayut di kepalaku.
"Apakah itu Rosetta!" jawabku.
"Apa...! Bukannya kau sudah membereskannya?!" Lexa bertanya dengan nada tidak percaya dan ada sedikit amarah.
Aku mengatakan pada Lexa dan Hinoto tentang informasi yang ayah temukan tentang Rosetta. Itu sebabnya aku disuruh ayah kembali secepatnya ke Jepang. Karena ayah khawatir dengan Lexa.
"Apa dia belum cukup mengangkangi keluarga kita?!" Lexa berkata dengan penuh tanda tanya. Lalu dia berjalan masuk menuju kamar anak-anak.
Sedangkan aku masih bersama Hinoto laku dia berjalan menuju sofa dan duduk di sana. Aku pun mendekatinya serta duduk di sofa yang sama. Memikirkan sebenarnya mengapa Rosetta kembali menyerang kami.
"Yang dia inginkan adalah aku!" Hinoto berkata semabri menyandarkan kepalanya ke belakang sofa.
"Apa maksudmu?!" tanyaku.
Hinoto menceritakan jika beberapa hari ini dia sering mendapatkan sebuah pesan. Dan isi dari pesan itu adalah aku harus meninggalkan Lexa dan Zeroun. Jika tidak dia akan kehilangan Lexa dan Zeroun untuk selama-lamanya.
"Apa Lexa tahu itu?" tanyaku kembali.
__ADS_1
Sebelum dia menjawab Himawari datang sang mengatakan jika Rosetta bukan hanya menginginkan Hinoto. Dia juga ingin balas dendam pada Himawari. Karena sudah membuatnya menderita dan kehilangan semua yang dia miliki.
Mungkin itu adalah motif yang dimiliki oleh Rosetta karena dia tidak bisa memiliki semua yang dia inginkan. Sehingga dia bertahan dan mengumpulkan kekuatan selama lima tahun untuk kembali menyerang kami.
Namun, aku tidak akan membiarkan dia berhasil menghancurkan keluargaku. Akan aku lindungi mereka dengan sekuat tenaga yang aku miliki meski harus mengorbankan nyawa.
Hinoto beranjak dari posisi duduknya lalu dia mengatakan akan ke kamar anak-anak. Aku bertanya pada Himawari apa yang dia katakan tadi apakah sudah tepat karena aku tidak pernah mendengar dia mengatakan tentang Rosetta.
"Kemarin Rosetta menghubungiku, dia mengatakan akan menghancurkan keluarga bahagiaku dan merebut semua yang telah hilang dari tangannya!" Himawari berkata semabri duduk di sampingku.
"Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?!" Aku bertanya padanya.
Dia mengatakan, mungkin itu hanya gertakan saja sehingga dia tidak terlalu menanggapi dengan serius. Namun, setelah kejadian ini dia merasa jika Rosetta sudah serius dengan apa yang dia lakukan.
Rosetta mengancam Himawari dan juga Hinoto, karena mereka berdua adalah yang dia inginkan. Maka aku atau Lexa harus melindungi orang-orang yang kami cintai.
"Istirahatlah— aku akan melihat anak-anak!" ucapku pada Himawari.
Saat aku melangkah untuk menuju kamar anak-anak, aku terkejut dengan kehadiran Aldo. Kapan dia tiba di Jepang? Apakah dia sudah bisa kembali bekerja denganku? Aku tidak ingin memaksakan kehendakku padanya karena dia sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri.
"Kapan kau tiba?" tanyaku pada Aldo.
"Baru saja!" jawabnya singkat.
Aku menyuruh Aldo mengikutiku menuju ruang baca, dia mengikutiku dari belakang. Setelah berada di ruang baca aku menyuruhnya untuk duduk. Dia pun duduk di hadapanku tetapi dia sangat berbeda dengan Aldo yang aku kenal dulu.
Aldo sudah berubah dia menjadi dingin, dia hanya diam menunggu aku untuk memulai pembicaraan. Aku tidak menyukai Aldo yang seperti ini yang aku sukai Aldo yang seperti dulu. Selaluenggodaku dengan kelakarnya dan aku selalu kesal dengan kelakarnya.
"Apa kau sudah siap untuk bekerja?!" Aku bertanya padanya.
Dia mengangguk lalu berkata, "Kalian membutuhkan aku, jadi aku terbang dari Indonesia ke Jepang!"
Apakah mungkin ayah yang sudah menyuruh Aldo untuk membantu kami. Namun, ayah sudah berjanji padaku untuk tidak memaksa Aldo kembali bekerja jika belum pulih.
Kulihat luka di tubuh sudah pulih tetapi luka di hati belumlah pulih sepenuhnya. Jika luka hatimu sudah sembuh aku berharap kau bisa kembali seperti Aldo yang dulu.
"Apakah ayah yang menyuruhmu?!" Aku bertanya kembali padanya karena aku masih penasaran mengapa dia kembali ke Jepang.
Aldo menjawab bukan ayah yang mengirimnya tetapi dia mengatakan jika dia mendengar pembicaraan ayah dan asisten Ari. Setelah itu dia bertanya pada ayahnya sebenarnya apa yang sudah terjadi.
Akhirnya ayahnya mengatakan semua yang sudah terjadi, itulah alasan mengapa Aldo dengan cepat kemasan tiket lalu terbang menuju Jepang.
Setalah mengatakan itu aku menyuruh Aldo untuk beristirahat karena perjalanan dari Indonesia ke Jepang bukanlah waktu yang sebentar. Begitu pula diriku yang akan beristirahat sejenak selagi Lexa dan Hinoto menjaga anak-anak.
____________________________________________
Sampai jumpa di bab berikutnya...
Jangan lupa baca cerita "Isi Hati Yuki" ya 😁
Like, komen ditunggu banget deh.
__ADS_1