Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 108


__ADS_3

Lexi POV


Ingin rasanya aku mengagalkan pernikahan Lexa, aku sungguh masih belum bisa menerima keputusan Lexa menikah dengan Mamoru. Handphone-ku berbunyi aku langsung mengangkatnya, ternyata yang menghubungiku adalah Aldo. Dia mengajakku untuk bertemu dengannya, namun dia ingin bertemu denganku di luar rumah.


Aku tidak tahu apa yang akan dia bicarakan padaku, sehingga mengajakku bertemu di luar rumah. Aku pun bergegas untuk menemui Aldo, sepertinya ada hal yang serius yang ingin dia sampaikan padaku.


"Mau kemana kau? Ini 'kan sudah malam!" tanya Lexa padaku.


Aku mengatakan ada urusan sebentar dengan seorang teman, jika ayah mencariku katakan saja seperti itu. Lexa mengangguk lalu aku pergi meninggalkannya, aku harus bergegas menemui Aldo. Aku tidak sabar apa yang akan dia katakan padaku.


Tibalah aku di sebuah cafe dimana Aldo menungguku, aku langsung memasuki cafe tersebut dan mencari posisi Aldo. Kulihat seorang pria melambaikan tangan padaku, ternyata itu adalah Aldo. Aku pun langsung menghampirinya.


"Ada apa kau memanggilku kemari?!" ucapku pada Aldo.


Dia mengatakan semua yang dia ketahui dan aku sungguh terkejut mendengarnya. Ternyata Mamoru memiliki rencana yang busuk pada Lexa, aku tidak menyangka Lexa sudah terjebak oleh trik Mamoru.


Aku menyuruh Aldo untuk membantunya mengagalkan pernikahan Lexa dan Mamoru. Dia terdiam sesaat, mungkin dia masih masih ragu dengan yang aku katakan. Jika dia tidak mau membantuku, aku tidak masalah karena aku tidak bisa memaksakan kehendak.


"Baiklah aku setuju dengan rencanaku untuk menggagalkan pernikahan Lexa! Bagaimanapun kalian selalu membantuku dari dulu hingga sekarang!" jawab Aldo dengan keyakinan.


Aku tersenyum, aku tahu Aldo dia pasti akan setuju denganku. Karena dia sudah menganggap Lexa seperti saudarinya sendiri. Aku mengatakan pada Aldo untuk membicarakan rencana penggagalan pernikahan Lexa besok padi di kantor.


Malam ini aku akan memikirkan semuanya setelah kembali ke rumah, aku mengajak Aldo untuk pulang bersama namun dia menolak karena masih ada yang harus dia lakukan.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pulang duluan! Berhati-hatilah kau!" ucapku pada Aldo sembari berjalan meninggalkannya.

__ADS_1


Dalam perjalanan pulang pikiranku melayang, aku tidak habis pikir betapa bodohnya Mamoru. Sehingga dia menyangka bahwa yang menyebabkan penderitaan Leo Ahmad adalah bunda dan ayah. Apakah dia tidak menyelidiki terlebih dahulu kebenarannya.


Ckitttt!


Aku menghentikan mobilku dengan tiba-tiba karena di depanku ada seorang wanita yang hendak menyebrang. Wanita itu terkejut sehingga terjatuh di depan mobilku. Aku keluar dari mobil lalu berjalan cepat mendekatinya, wanita itu terlihat sedikit ketakutan.


"Kau tidak apa-apa Nona?!" tanyaku padanya.


Dia tersenyum menandakan bahwa di tidak apa-apa, saat dia hendak berdiri kakinya terasa nyeri. Mungkin kakinya terkilir, lalu aku bertanya tempat tinggalnya di mana. Sehingga aku bisa mengantarnya pulang, karena hari sudah larut malam dan tidak ada taxi yang lewat di daerah ini.


Dia pun mengatakan lokasi tempat tinggalnya dan itu tidak terlalu jauh dengan lokasimu sekarang. Aku pun memapahnya untuk masuk kedalam mobil, lalu aku menjalankan mobil dengan perlahan untuk mengantarnya pulang. Dalam perjalanan menuju rumahnya dia terduduk saja menatapku, aku menjadi tidak nyaman dengan tatapannya.


"Siapa nama anda Nona?!" ucapku guna mengalihkan dia untuk terus menatapku.


Setelah mengetahui siapa namanya aku pun kembali fokus menyetir, beberapa saat kemudian aku tiba di sebuah lokasi yang dia tunjukkan rupanya dia tinggal ldi sebuah apartemen yang cukup bagus. Sepertinya dia bukan wanita biasa yang membuatku aneh mengapa wanita sepertinya keluar tengah malam begini.


Aku pun turun membantunya untuk memasuki apartemennya, ku papah dia secara perlahan agar dia tidak terlalu merwakasan nyeri di bagian kakinya. Setelah sampai di apartemennya, dia menyuruhku masuk sebentar.


Entah mengapa aku merasakan hal yang tidak tenang jika aku berlama-lama di sini. Lebih baik aku pergi saja dari apartemennya, karena perasaanku tidak enak. Aku tidak ingin menimbulkan masalah baru sebelum pernikahan Lexa.


Aku menolak secara halus karena ini sudah malam, sehingga mengharuskannya kembali ke rumah jika tidak istriku akan marah. Setelah mendengar aku sudah memiliki istri, ekspresi wajahnya berubah.


Entah apa yang ada dipikirannya, kulihat dia semakin agresif dan aku tidak menyukainya. Dia terus saja memaksaku untuk masuk dan tinggal sesaat. Namun aku tidak ingin bersentuhan dengan wanita sepertinya, sudah pasti dia berhubungan dengan berbagai macam pria.


Karena sikap Keiko yang sudah kelewat batas, akhirnya aku memukul tengkuk lehernya sehingga dia tidak sadarkan diri. Setelah itu aku bergegaslah pergi meninggalkannya. Karena dia pasti akan sadar dalam beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Aku langsung memasuki mobil dan tancap gas sehingga mobilku melesat meninggalkan aparteman itu. Aku sungguh tidak mengira akan bertemu dengan wanita seperti itu. Karena niatku baik ingin menolongnya, namun wanita itu begitu menjijikkan bagiku.


Akhirnya aku tiba di rumah, aku bergegas menuju kamarku lalu membuka pakaianku satu per satu. Lalu aku masuk ke kamar mandi guna membersihkan diriku, aku sungguh ingin membersihkan seluruh tubuhku yang sudah terkena sentuhan tangan wanita itu.


Baju yang aku kenakan tadi lebih baik aku membuangnya saja, aku tidak ingin mengingat kejadian malam ini. Itu sungguh membuatku merasa risih, kukira dia wanita yang sopan dan baik. Ternyata penilaianku salah.


Kalau aku tahu dia wanita seperti itu aku pasti akan meninggalkannya di jalanan. Setelah selesai membersihkan diri aku duduk sesaat sembari memikirkan rencana untuk menggagalkan pernikahan Lexa.


Aku tidak peduli jika Lexa akan membenciku karena sudah mengagalkan pernikahannya. Namun semua ini baik untuknya, lebih baik jika Lexa menikah dengan Hinoto saja. Karena aku lebih setuju jika Lexa menikah dengan Hinoto.


Entah mengapa perasaanku berkata jika Lexa akan hidup bahagia bersama Hinoto. Padahal aku tidak terlalu dekat atau mengenal Hinoto, namun yang pasti penilaianku kali ini tidak mungkin salah.


Lebih baik aku istirahat sejenak besok pagi aku akan memikirkan semuanya di kantor. Mataku terasa lelah, aku pun berjalan mendekati ranjang yang bisa membuatku tertidur lelap. Ku rebahkan tubuhku di atas ranjang, kumayikan lampu kamarku sehingga yang menyala adalah lampu redup.


Keesokan harinya aku terbangun dengan suara ketukan pintu, aku membuka pintu kamarku ternyata Lexa. Dia membangunkan ku guna mengajak salat bersama dengan ayah.


Aku pun berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu, setelah itu aku berjalan menuju mushola. Ternyata disana sudah ada ayah, Lexa, asisten Ari dan Aldo. Setelah melihatku salat bersama pun di mulai.


Setelah salat selesai aku kembali ke kamarku, guna melanjutkan tidurku sebentar sebelum aku pergi ke kantor. Karena jam tidurku semalam tidak benar sehingga menimbulkan rasa kantuk.


Aku menyuruh Lexa untuk membangunkanku jika sudah jam 07.00, jadi aku tidak akan kesinambungan masuk ke kantor hari ini. Meski itu adalah perusahaan ayah, aku tetap tidak boleh terlambat masuk kantor. Begitu tegas aturan ayah padaku sehingga aku tidak bisa datang seenaknya seperti dulu.


Andai saja Lexa masih memegang sepenuhnya perusahaan, aku masih bisa bersantai di rumah. Namun semenjak beberapa hari ini, Lexa menyerahkan seluruh tanggung jawab perusahaan padaku. Sedangkan dia tidak memegang sepenuhnya namun masih pergi ke kantor dengan jam yang dia inginkan.


Sepertinya Lexa sedang membalas semua tindakanku dahulu, yang bersikap santai saat masuk kantor. Sekarang giliran dia yang bermalas-malasan untuk masuk kantor, ayah pun mendukung Lexa jika tentang perusahaan.

__ADS_1


__ADS_2