Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 152


__ADS_3

Lexa POV


Aku sungguh kesal dengan apa yang sudah diperbuat Lexi, dia seenaknya saja pergi tanpa kata pada ayah. Apakah dia tidak tahu bahwa ayah akan sangat sedih jika dia melakukan semua itu.


"Apa yang terjadi padamu?" Aiko bertanya padaku yang baru saja masuk ke ruang kerjaku.


Aku menceritakan apa yang sudah dilakukan Lexi, hanya karena kesal pada ayah dia langsung pergi tanpa pamit. Dan ayah menghubungiku bertanya tentang Lexi.


Sehingga aku langsung kembali ke rumah untuk bertemunya dengannya. Dan benar saja dia sudah ada di rumah bersama Himawari. Lalu aku bertanya padanya mengapa dia seperti itu pada ayah.


"Lalu apa yang dikatakan oleh Lexi padamu?!" Aiko kembali bertanya padaku.


Lexi mengatakan jika dia kesal pada ayah yang membela Rosetta dan menjadikannya pimpinan perusahaan bunda. Sebenarnya aku juga marah pada ayah tetapi ayah pasti punya alasan yang kuat untuk melakukan semua ini.


Aiko berkata padaku mungkin Lexi butuh waktu untuk menenangkan pikirannya. Dia juga mengatakan jika aku jangan terlalu memaksa dirinya untuk meminta maaf pada ayah. Jika aku terus memaksanya maka dia akan semakin jauh.


Setelah mengatakan itu Aiko kembali ke ruangannya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Dan aku kembali dengan dokumen yang harus diselesaikan.


Ponselku berdering, aku mengangkatnya karena yang menghubungiku adalah Hinoto. Dia mengajakku untuk makan malam di apartemennya, karena ada teman yang akan di undang malam ini.


Aku bertanya padanya mengapa tidak di rumah saja, dia menjawab jika temannya ini belum tahu siapa sebenarnya diriku. Dan juga untuk berjaga-jaga saja dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Selebihnya dia tidak mengatakan padaku siapa temannya itu, lebih baik aku segera menyelesaikan pekerjaanku. Lalu aku bisa pulang lebih awal untuk menyiapkan makan malam di apartemen Hinoto.


Setelah aku menutup telepon, tidak begitu lama Lexi menghubungiku. Dia bertanya apakah aku akan pulang untuk makan malam, aku mengatakan padanya jika amalan ini aku tidak akan makan malam di rumah karena ada acara makan malam dengan teman Hinoto.


Setelah mengatakan semua itu Lexi pun memutuskan sambungan teleponnya. Dan aku kembali pada pekerjaanku, terdengar suara pintu diketuk. Aku menyuruhnya masuk, Aiko yang sudah siap dengan dokumen di tangannya itu menandakan sudah saatnya aku menghadiri meeting kali ini.


Mengapa aku sampai lupa jika ada meeting siang ini, apakah meeting-nya akan selesai dengan cepat atau lebih lama. Bagaimana aku bisa menyiapkan untuk makan malam kali ini.


Aku pun mengambil ponsel lalu memberi pesan pada Hinoto jika aku ada meeting dan tidak tahu jam berapa akan selesainya. Namun, yang pasti aku akan kembali sebelum makan malam tetapi aku tidak bisa memasak untuk makan malam kali ini.


Hinoto membalas pesanku, dia mengatakan bahwa bahwa aku tidak perlu repot untuk masak. Karena dia sudah memesan masakan dari restoran.


Sebenarnya dia mengatakan akan mengajak temannya makan malam di restoran tetapi temannya tidak mau. Teman Hinoto menginginkan makan malam di apartemen saja, sehingga terlihat santai.


Aku memasuki ruang meeting, rupanya semuanya sudah hadir. Dan acara meeting pun di mulai, semau mempresentasikan mengenai masalah perusahaan yang baru saja terjadi.


Mereka sudah menemukan masalah yang baru saja dihadapi oleh perusahaan. Kerugian yang dialami tidak terlalu besar tetapi itu terlihat menganggu bagiku.


Aku bertanya apakah mereka sudah menemukan cara untuk mengatasi semua masalah ini. Seorang wanita menjawab jika dia sudah menemukan cara untuk mengatasi masalah kali ini. Dan dia membutuhkan persetujuan darik.


Setelah meeting selesai, aku menyuruh Aiko untuk menyiapkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk menangani masalah perusahaan kali ini. Dia juga harus mengecek terlebih dahulu dengan benar, apakah rencana ini memiliki keberhasilan atau masih memiliki kekurangan.


Aiko mengangguk, lalu aku pergi dari ruangan meeting karena semua sudah selesai. Aiko mengikutiku dari belakang lalu dia berjalan cepat guna mensejajarkan langkahnya dengan langkahku.


"Aku akan pulang lebih awal, karena Hinoto mengundang temannya untuk makan malam di apartemennya!" ucapku pada Aiko.


"Baiklah semua berkas yang dibutuhkan akan aku siapkan, besok pagi sudah ada di mejamu!" jawab Aiko lalu dia pamit padaku untuk kembali ke ruangannya.


Aku kembali ke ruanganku lalu merapaiakn barang-barang di meja kerjaku. Setelah itu mengambil tas dan berjalan menuju parkiran mobil, aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Mudah-mudahan tidak terlambat tiba di apartemen.


Karena aku tidak ingin terlambat hingga sampai di apartemen, aku langsung tancap gas. Sehingga mobilku melesat dengan kecepatan tinggi melintasi jalanan Tokyo.

__ADS_1


Tidak begitu lama aku tiba di apartemen Hinoto, aku bergegas menuju apartementnya. Setelah menekan tombol kunci apartementnya, aku masuk melihat Hinoto yang sedang menyiapkan semuanya.


"Kau sudah pulang, sayang?!" Hinoto bertanya padaku dengan lembut dan senyumnya yang hangat.


Aku mengangguk lalu berkata, "Apa yang bisa aku bantu?"


Dia tersenyum dan mengatakan padaku untuk membersihkan diri lalu bersiap untuk makan malam. Karena sebentar lagi temannya akan tiba dan dia pun akan segera bersiap setelah aku membersihkan diri.


Dia begitu perhatian, aku mengecup bibirnya sekilas lalu berjalan menuju kamar untuk membersihkan diri dan bersiap. Saat aku masuk ke dalam kamar, di atas tempat tidur sudah ada gau bewarna hitam tetapi tidak terlalu formal.


Melihat sekilas saja aku sudah menyukai gaun itu, rupanya dia seperti ayah dan Lexi yang tahu dengan jelas apa gaun. Lebih baik aku segera membersihkan diri sebelum Hinoto masuk ke dalam kamar.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku keluar dari kamar mandi. Dan melihat Hinoto yang sudah berada di dalam kamar, dia menatapku dengan tatapan mesumnya tetapi aku mengatakan padanya jangan aneh-aneh karena ada temannya yang akan tiba. Dia tersenyum lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


Aku bergegas mengambil gaun yang ada di atas tempat tidur, lalu memakainya. Saat hendak merapatkan ritsleting di bagian punggung aku kesulitan.


"Apa kau butuh bantuanku, sayang?" bisik Hinoto yang membuatku terkejut.


"Hentikan itu, kau selalu berbisik padaku!" Aku berkata sembari menjauhkan telingaku dari bibirnya.


Dia memelukku dengan erat sehingga aku tidak bisa lepas darinya, terdengar dia tertawa kecil dan deru napasnya di telingaku sehingga membuatku kegelian.


Secara perlahan dia melepaskan dekapannya lalu tangannya mulai membantuku merapatkan ritsleting di punggungku. Setalah itu dia mengecup tengkuk leherku dengan lembut.


Setelah mengecup tengkuk lerehku dia berjalan menuju tempat tidur untuk mengambil pakaian yang sudah disiapkan. Lalu dia mulai bersiap, aku pun membantunya memakaikan pakaiannya.


Meski dia tidak memakai pakaian formal, dia terlihat sangat gagah dan aku menyukainya. Sehingga aku tidak menyadari bahwa dia sedang menatapku.


"Haha ... Kau terlalu percaya diri!" jawabku sembari berjalan menjauhinya.


Dia menarik tanganku lalu menatapku dengan lekat, dia bertanya sekali lagi padaku jika dia tampan dan aku sudah tergoda akan ketampanannya. Entah dari mana dia memiliki rasa percaya diri yang begitu besar.


Hinoto tersusun menatap mataku dengan tidak mengedipkan matanya, dia ingin mendapatkan jawaban yang terjulur dari mataku. Karena dia tahu jika yang aku katakan dari mulutku terkadang berbohong.


Dia terus menatap kedua bola mataku dengan lekat saat dia hendak mengecup bibirku. Terdengar suara bel apartemen tandanya teman Hinoto sudah berada di balik pintu.


Aku berniat untuk membuka pintu apartemen tetapi Hinoto malah mengecup bibirku dengan lembut. Dia bermain dengan bibirku, aku berusaha menghentikan permainannya. Namun, dia tidak melepaskanku meski suara bel terus saja berbunyi.


Akhirnya dia melepaskan kecupannya lalu aku berkata, "Apa kau tidak bisa menahannya? Dengarlah temanmu sudah dari tadi menekan bel!"


Dia tersenyum lalu keluar dari kamar guna membukakan pintu apartemennya. Sedangkan aku merapatkan make-up yang sudah terlihat sedikit berantakan gegara Hinoto yang terlalu bersemangat.


Setelah merapikan make-up dan pakaian, aku keluar dari kamar guna menemui teman Hinoto. Aku begitu terkejut teman Hinoto adalah seorang wanita dan dia adalah Rosetta.


"Sayang, kemarilah! Kau pasti sudah kenal dengannya, -kan?" Hinoto berkata padaku dan menyuruh aku untuk mendekati mereka.


"Kau pasti terkejut dengan kedatanganku Lexa?!" tanya Rosetta padaku.


Aku memang sangat terkejut dengan kedatangannya dan juga aku tidak tahu jika Hinoto adalah teman Rosetta. Mengapa Hinoto merahasiakan semua ini dariku jika dia mengenal Rosetta. Lalu aku hanya tersenyum padanya.


"Kita duduk dulu, baru kita membicarakan semuanya!" Hinoto berkata padaku dan Rosetta. Lalu menyuruh kami untuk duduk di atas sofa.


Demi menghormati suamiku, aku terpaksa duduk. Jika aku tidak menghargai dia sebagai suamiku mungkin aku sudah pergi meninggalkan apartement ini.

__ADS_1


Melihat Hinoto dan Rosetta begitu akrab aku merasa sedikit risih, aku teringat perkataan Hinoto yang tidak ingin aku dekat dan bicara dengan pria lain. Ini buktinya dia sendiri dekat dan bicara dengan seorang wanita dan dia adalah wanita yang tidak aku sukai.


Aku teringat akan Lexi dan ayah karena wanita ini mereka berdua menjadi bersitegang. Sungguh aku semakin kesal jika melihat Rosetta yang bisa tersenyum lepas bicara dengan Hinoto.


Lebih baik aku melihat persiapan untuk makan malam yang sudah disiapkan oleh Hinoto. Karena aku belum melihat apa yang sudah dia kerjakan.


"Kalian lanjutkan berbincang-bincangnya, aku akan ke pantry sebentar." Aku berkata pada Hinoto dan Rosetta lalu aku berjalan menuju pantry.


Saat melihat semua makan yang sudah tertata begitu rapi membuatku tidak menduga jika Hinoto bisa melakukan semua ini. Aku melihat ke arah mereka berdua yang masih asik berbincang-bincang, mereka sepertinya sangat dekat.


Jika melihat Hinoto dan Rosetta sangat berbeda jika Hinoto berbincang dengan Himawari. Sebenarnya apa akan mereka memiliki sebuah hubungan yang tidak aku ketahui.


Apakah Rosetta merupakan salah satu wanita yang Hinoto sukai? Mengapa aku menjadi berpikir buruk pada mereka berdua dan aku merasa aneh juga mengapa ayah begitu mendukung dan melindungi Rosetta. Sebenarnya siapa dia? Sehingga membuat semua pria yang ada di sekeliling aku menjadi dekat dan membelanya.


"Sayang, apakah semuanya sudah siap?!" Hinoto bertanya padaku yang membuyarkan semua pikiranku tentang Rosetta.


Aku tersenyum tipis lalu mengatakan padanya semuanya sudah siap, sehingga makan malam bisa dimulai. Entah mengapa aku menjadi sangat kesal dengan Hinoto, ingin rasanya pergi meninggalkan mereka.


Setelah mendengar jawaban dariku, dia memanggil Rosetta untuk makan malam. Rosetta pun berjalan mendekati kami lalu dia duduk di kursi yang sudah tersedia. Begitu pula diriku dan Hinoto.


Setelah menyantap makan malam, Rosetta kembali duduk di sofa bersama Hinoto. Sedangkan aku memilih untuk ke kamar dulu karena ponselku tertinggal di kamar.


Aku berjalan menghampiri mereka berdua, terlihat mereka tidak peduli dengan kehadiranku. Mengapa demikian apakah aku tidak ada artinya di hati Hinoto sehingga aku dilupakan setelah ada Rosetta.


"Ada apa denganmu Lexa? Kau tidak seperti biasanya, apakah kau merasa cemburu pada Hinoto?" gumamku lalu berjalan mendekati mereka dan aku duduk di samping Hinoto.


Rosetta menatapku, entah apa yang ada dipikirannya. Namun, yang pasti aku sungguh kesal dengan Hinoto yang menyembunyikan bahwa dia mengenal Rosetta dengan baik.


"Apa kau ingin bertanya padaku, Lexa?" Rosetta bertanya padaku sembari tersenyum.


"Aku tidak tahu harus mulai bertanya padamu dari mana! Jika kau ingin menceritakan semuanya, maka ceritakan saja!" jawabku dengan nada dingin padanya.


Hinoto memegang tanganku seraya dia tidak suka dengan sikapku pada Rosetta. Apakah dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Rosetta yang membuat ayah dan Lexi bersitegang.


Aku yakin jika Hinoto tahu masalah ayah dengan Lexi karena ayah sangat dekat dengan Hinoto. Pasti ayah sudah cerita pada Hinoto tentang masalah ayah dan Lexi.


Rosetta pun mulai menceritakan dari awal, aku sungguh terkejut karena dia mengangkat bunda. Rupanya bunda pernah menyelamatkannya dari para pria hidung belang yang ingin menghancurkannya.


Setelah itu dia dibawa oleh bunda ke tempat singgah, dia tinggal selam beberapa bulan di tempat singgah. Lalu aku bertanya bagaimana dia bisa berada di jalanan dan bertemu dengan pria hidung belang.


Rosetta mengatakan jika dia pergi dari rumah karena tidak tahan dengan perlakuan sang ayah padanya. Sang ayah pun sudah membuat ibunya tiada dengan sikap yang temperamental.


Selama di rumah singgah dia belajar mengenai meracik parfum, dan itu diketahui oleh bunda. Lalu bunda mengatakan padanya jika sudah besar nanti menyuruhnya untuk mengurus perusahaan parfum.


"Aku beruntung bisa bertemu dengan bunda kalian, dia wanita yang sangat baik. Jika saja ibuku masih ada mungkin mereka berdua bisa menjadi teman." Rosetta berkata dengan nada sedih.


"Lalu?" tanyaku padanya seraya menyuruhnya untuk melanjutkan ceritanya.


Dan dia pun mengatakan jika ayahnya berhasil menemukannya sehingga membawanya kembali ke rumah. Beberapa bulan setelah kembalinya dia ke rumah bersama ayahnya. Dia bertemu kembali dengan bunda dan bunda mengajak Rosetta ke perusahaan parfum.


Bunda pun menunjukan semua mengenai perusahaan karena bunda menginginkannya untuk melihat-lihat tentang parfum yang diproduksi. Dari situlah dia bertekad untuk belajar dengan giat agar suatu hari nanti bisa bekerja bersama dengan bunda.


Namun, dia begitu terkejut saat mendengar tentang kematian Bunda tetapi tekadnya masih kuat. Dia terus belajar meski sangat yah menginginkannya dirinya melanjutkan perusahaannya. Akan tetapi, dia masih teguh dengan keinginannya.

__ADS_1


__ADS_2