Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 180


__ADS_3

Still Lexi POV


"Ayah, bisakah kita berlibur atau jalan-jalan dan bermain bersama?" Rosalina bertanya padaku dengan wajahnya yang menggemaskan.


Aku menggendongnya lalu bertanya dia ingin pergi kemana, dia menjawab ingin bermain keluar rumah dan tentunya bersama Zeroun. Aku mengecup pipinya dengan lembut dan tersenyum padanya.


"Sayang, mengapa tidak hanya dengan Ayah dan ibumu saja? Kita bisa pergi hanya bertiga," Aku hanya ingin tahu jawaban apa yang akan dia berikan padaku. Karena dia sepertinya tidak bisa jauh dari Zeroun.


Dia mengatakan selalu akan bersama Zeroun, jika tidak ada dia terasa ada yang kurang. Dan dia tidak tahu mengapa muncul perasaan seperti itu. Apakah ini merupakan ikatan batin antara mereka berdua, meski mereka tidak dilahirkan dari rahim yang sama. Namun, mereka lahir di waktu yang bersamaan.


Jika membayangkan itu Rosalina seperti diriku yang tidak bisa berjauhan dari lexa. Hingga saat ini pun aku selalu merindukan Lexa jika dia tidak berada di rumah.


"Bagaimana Ayah—bisakah kita mengajak Zeroun dan tentu saja ayah Hinoto serta bunda Lexa ikut juga!" Rosalina bertanya kembali padaku.


Aku mengatakan padanya untuk bertanya terlebih dahulu pada bunda Lexa karena mungkin saja mereka sudah memiliki rencana lain. Setelah mendengar perkataanku, Rosalina berlari keluar kamar. Mungkin dia akan bertanya pada Lexa mengenai hal ini.


Lebih baik aku mengikutinya, aku berjalan keluar dari kamar. Melihat Rosalina yang berlari menuju kamar Lexa. Aku berjalan cepat untuk menuju kamar Lexa.


"Kak—bisa aku bicara padamu sebentar?" Rein bertanya padaku saat kami bertemu dengannya di dekat tangga.


"Apa yang ingin kau bicarakan?!" Aku berbalik bertanya padanya.


Dia memintaku untuk duduk di kursi taman samping, entah apa yang hendak dia katakan padaku. Ingin rasanya aku menolaknya tetapi aku penasaran dengan apa yang dia inginkan.


Aku menyetujuinya lalu berjalan menuju kursi di taman samping rumah. Dengan pikiran yang melayang dan banyak pertanyaan yang menggangguku. Tibalah aku di taman samping dan duduk di kursi warna coklat.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanyaku padanya yang baru saja duduk di kursi kecil yang tepat berada di hadapanku.


Dia menghela napasnya, seperti seorang yang hendak mengatakan sesuatu yang akan merubah hidupnya. Namun, entah mengapa aku tidak bisa percaya begitu saja dengan apa yang hendak dia katakan.


"Aku ingin kembali pada Aldo, aku tahu telah berbuat salah tetapi aku masih mencintainya. Jadi aku mohon bantulah aku Kak," Dia berkata dengan nada memelas dan terlihat kesedihan di matanya.


Meski terlihat seperti itu, aku masih belum bisa merasakan adanya ketulusan di dalam matanya. Entahla apa yang aku rasakan dan pikirkan ini. Dia terus saja memaksaku untuk membantunya kali pada Aldo.


Namun, aku tidak bisa karena ini semua menyangkut dengan hati dan kebahagiaan Aldo. Aku tidak bisa mengabaikan itu semua, bagaimana juga dia adalah sahabat sekaligus saudaraku. Karena baik aku atau Lexa sudah menganggapnya seperti itu.


"Sayang, Lexa mencarimu!"


Himawari berkata padaku dari belakangku, aku tersenyum lalu mengangguk. Aku mengatakan pada Rein akan memikirkan semua yang baru saja dia katakan padaku. Rein mengangguk sembari menghapus air matanya.


Aku mengajak Himawari untuk bertemu dengan Lexa agar dia tidak berdebat dengan Rein. Karena jika sudah berdebat dengan Rein bisa membuat suasana hatinya semakin memburuk dan aku tidak suka akan hal itu.

__ADS_1


"Lexa berada di kamarnya," Himawari berkata sembari berjalan denganku.


Terlihat jelas dia ingin bertanya padaku, mungkin dia ingin tahu apa yang dikatakan oleh rekan padaku. Aku mengatakan padanya jika akan mengatakan apa yang baru dikatakan Rein padaku setelah bertemu dengan Lexa.


Setibanya di kamar Lexa, terlihat anak-anak yang sedang bermain dengan Hinoto. Sedangkan Lexa sedang terduduk di atas tempat tidur, apakah dia sedang tidak sehat? Karena wajahnya terlihat tidak seperti biasanya.


"Ada apa?" tanyaku pada Lexa.


Dia tersenyum lalu mengatakan jika Rosalina mengajaknya untuk jalan-jalan. Namun, dia tidak bisa karena dia merasa tidak enak badan. Mungkin kelelahan dan membutuhkan istirahat yang cukup. Dia juga mengatakan jika ingin membawa Zeroun dia mengizinkannya dengan syarat harus membawa pengawal untuk berjaga-jaga.


Aku merasa khawatir dengannya, lalu aku mengatakan lebih baik membatalkan rencana kali ini. Dia tidak suka dengan apa yang aku katakan karena dia tidak ingin melihat Rosalina kecewa karena tidak bisa pergi keluar bersenang-senang.


"Pergilah ... Bersenang-senanglah bersama anak dan istrimu! Karena kalian membutuhkan itu." Lexa berkata padaku dengan tegas tetapi terdengar lembut.


Dia pun mengatakan padaku jika ingin pergi hanya berdua saja, itu lebih baik. Untuk masalah Rosalina dia juga bersedia untuk menjaganya, memang sudah terpikirkan olehku untuk pergi beberapa hari bersama Himawari. Namun, dia tidak ingin pergi karena Rein ada di rumah sehingga dia merasa tidak tenang meninggalkan semuanya begitu saja.


"Baiklah aku akan pergi dan Zeroun pun akan aku bawa!" Aku berkata pada Lexa.


Mendengar apa yang sudah aku putuskan Himawan membawa Rosalina dan Zeroun untuk bersiap-siap. Lexa juga berkata untuk membawa Aldo karena dia sudah menyuruh Aiko untuk ikut bersamamu untuk menjaga Zeroun.


Sebenarnya apa yang sudah direncanakan Lexa, apakah dia sudah mengetahui rencana ibunya Aiko terhadap pernikahan mereka berdua. Dan aku tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Rein jika mengetahui Aiko akan menikah dengan Aldo


"Mengapa kau ingin Aldo menikah dengan Aiko? Bukankah kau adalah sahabat Isamu?!" tanyaku padanya.


Terlihat ada sesuatu yang sedang dia sembunyikan padaku. Sebenarnya apa yang terjadi? Apakah dia mengetahui sesuatu yang membuatnya berpikir seperti ini? Saat aku bertanya kembali, dia hanya diam dan mengatakan jika sudah saatnya dia akan mengatakan semuanya padaku.


Aku mengangguk lalu pergi meninggalkan Hinoto dan Lexa tetapi sebelum pergi aku mengatakan padanya untuk menjaga Lexa sebaik mungkin. Dia tersenyum lalu mengatakan, "Untuk itu kau tidak perlu khawatir."


Memikirkan kembali apa yang baru saja dikatakan oleh Hinoto sembari berjalan menuju kamar. Semua ini membuatku tidak bisa berbuat apa-apa, Rein ingin kembali pada Aldo dan sekarang Hinoto memintaku untuk membuat Aldo menerima pernikahannya dengan Aiko.


Ahhh ... Sudahlah lebih baik aku tidak memikirkan itu dulu untuk saat ini, sekarang aku harus menghubungi Aldo untuk ikut bersama denganku untuk berpiknik bersama dengan anak-anak.


"Sayang, semua sudah siap?" tanyaku pada Himawari yang masih berbicara dengan anak-anak.


"Sudah, sekarang tinggal menunggu Aldo dan juga Aiko!" Himawari menjawab dengan senyum manisnya.


Aku mengatakan agar semuanya menunggu di bawah saja, sehingga bisa langsung pergi jika melihat mereka berdua tiba. Himawari bertanya padaku bagaimana jika Aiko menolak untuk ikut pergi bersama kami karena ada Aldo.


"Dia pasti akan ikut dengan kita, karena Lexa sudah mengatakan itu!" jawabku sembari mengajak mereka ke bawah.


Terlihat Aiko yang sudah duduk di atas sofa sembari memainkan ponselnya. Aku langsung mendekatinya lalu menyapanya, dia terlihat sedikit kesal. Mungkin Lexa sudah memaksanya sehingga dia terlihat kesal.

__ADS_1


Tidak berapa lama Aldo tiba, betapa terkejutnya Aldo melihat Riko yang sudah duduk bersamaku. Setelah itu aku menyuruhnya untuk duduk tetapi dia tidak mau karena melihat Rein yang berjalan menghampiri kami.


"Kalian mau kemana? Bolehkan aku ikut bersama kalian?" tanya Rein padaku dan Himawari.


Himawari melarang Rein untuk ikut karena dia tidak ingin membuat Aldo atau Aiko merasa sedih. Namun, Rein memaksa untuk ikut sehingga aku tidak bisa berbuat apa-apa.


"Izinkan saja dia ikut!" Aiko berkata dengan nada dingin.


Akhirnya aku pun mengizinkan Rein untuk ikut setelah bertanya pada Aldo apakah dia setuju jika Rein ikut bersama kita. Dia hanya diam lalu mengatakan jika semua keputusan berada di tanganku dan dia akan mengikutinya.


***


Tibalah kami di sebuah taman, Aldo membatu Himawari untuk menyiapkan semuanya. Sedangkan aku bersama anak-anak bermain begitu juga Aiko yang menemaniku.


Sedangkan Rein hanya memandangi Aldo yang sedang membatu Himawari, sembari memperhatikan anak-anak aku selalu memperhatikan gerak-gerik Rein.


Anak-anak merasa kelelahan karena sudah bermain denganku dan Aiko. Himawari menyuruh kami untuk beristirahat dan memakan camilan yang sudah disiapkan oleh Himawari. Kami pun menyantap makanan yang sudah disediakan.


Jika saja Lexa dan Hinoto berada di sini mungkin akan semakin terasa bahagia. Namun, Lexa sedang tidak sehat. Aku berharap dia segera pulih dan bisa kembali ceria seperti semula. Karena masih banyak yang harus kami pikirkan bersama.


Terlihat Rein sedang mendekati Aldo tetapi Aldo tetap bersikap dingin. Sedangkan Aiko terlihat sangat kesal dengan apa yang dia lihat sekarang, dia pun berdiri lalu berjalan menjauh dari kami.


Aku membiarkan Aiko untuk pergi karena itu lebih baik agar dia bisa menenangkan pikirannya. Beberapa saat kemudian Aldo pergi meninggalkan kami karena sudah merasa kesal dengan sikap Rein.


Saat Rein hendak mengejar Aldo dengan cepat Himawari mencegah Rein. Sehingga dia menghentikan keinginannya untuk mengejar Aldo, wajahnya sangat kesal pada Himawari.


Ponselku bergetar, aku mengambil ponsel yang ada di saku celanaku. Melihat siapa yang memberi pesan, tertera nama Lexa. Dia mengatakan jika ayah akan ke Jepang bersama asisten Ari untuk membicarakan masalah pernikahan Aldo dan Aiko.


Aku sungguh terkejut mengapa semuanya begitu sangat cepat, yang aku pikirkan adalah bagaimana dengan keinginan dari Aldo dan Aiko. Karena yang aku tahu mereka berdua masih belum berbaikan. Kesalahpahaman antara mereka belum terselesaikan.


Dari kejauhan aku melihat Aldo dan Aiko sedang berdebat, entah apa yang sedang mereka sebarkan kali ini. Namun, aku tidak ingin mengganggu mereka. Sebab mereka membutuhkan waktu untuk membicarakan semuanya.


"Kak, apakah mereka akan menikah?!" tanya Rein.


Aku terkejut kembali saat Rein berkata seperti itu, aku bertanya mengapa dia bisa berpikir seperti itu. Dia mengatakan entah mengapa semua itu bisa terlintas dalam pikirannya.


"Itu lebih bagus, jika mereka menikah!" Himawari berkata dengan dingin.


"Kak, mengapa kau seperti itu padaku! Aku sangat mencintainya dan hanya aku yang akan menjadi istrinya!" Rein berkata dengan sangat kesalnya.


Aku memegang tangan Himawari lalu mengingatkan dirinya tentang anak-anak. Karena semua perdebatan ini tidak baik untuk anak-anak, setelah aku mengatakan itu Himawari menarik napasnya guna menenangkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2