
Aldo POV
Sudah beberapa hari aku di Korea, sekarang aku sudah berada di Jepang. Akan kembali dengan rutinitas seperti biasanya. Namun, saat ini di sisiku sudah ada seorang wanita yang akan mengisi setiap detik, menit, jam dan hari. Semua itu membuatku merasa sangat bahagia. Aku berharap kebahagiaan ini tidak akan pernah luntur oleh waktu.
"Sayang, apa sarapan yang kau inginkan?" tanyanya padaku.
"Apa saja yang kau bisa buat,"jawabku.
Aku tidak tahu sejak kapan dia ingin memulai belajar memasak, padahal aku tidak terlalu memaksanya untuk bisa memasak. Namun, dia pernah berkata jika dia ingin bisa memasak untukku dan juga untuk calon anak kami kelak. Jika mendengar itu aku tersenyum, rupanya dia sudah memikirkan tentang seorang anak.
Tercium aroma yang begitu menggugah rasa lapar, aku berjalan keluar kamar menuju pantry. Aku melihat Aiko yang sedang memasak, entah apa yang dia masak kali ini. Aku harap yang dimasaknya enak seperti aroma masakannya kali ini.
Melihatnya sekejap di dalam pantry, rupanya dia sedang memasak nasi goreng, sejak kapan dia bisa memasak nasi goreng? Ini adalah masakan yang selalu aku makan saat berada di Indonesia bersama ayah.
"Duduklah," perintahnya padaku.
Mendengar apa yang diperintahkan oleh wanita yang sangat memesona ini, aku pun duduk di atas kursi yang menghadap ke pantry. Dia menyodorkan sepiring nasi goreng yang sudah tertata rapi. Dia dengan senyum menyuruhku untuk menyantapnya.
"Dari mana kau belajar membuat nasi goreng?!" Aku bertanya padanya dengan rasa penasaran yang bisa dibilang cukup tinggi.
"Aku meminta resep pada ayah," jawabnya padaku dengan senyum yang begitu menggodaku.
Saat aku mencobanya, aku sungguh terkejut sepertinya dia terlalu banyak memasukkan garam kedalam nasi goreng ini. Dia bertanya padaku apakah nasi goreng yang dimasaknya enak, aku mengangguk karena tidak ingin membuatnya kecewa dengan masakan yang keasinan ini.
Dia tidak percaya padaku, mengambil satu sendok lalu menyuapkannya kedalam mulutnya. Dengan cepat dia memuntahkan kembali apa yang sudah ada di dalam mulutnya, setelah itu dia meminum segelas air putih yang ada di dalam gelasku.
"Jika tidak enak, jangan di makan!" ucapnya padaku.
"Aku tidak mungkin mengatakan masakan pertama istriku tidak enak, 'kan?" Aku menjawab pertanyaan Aiko yang terlihat malu sekaligus kesal.
Aiko mengambil piring yang ada di atas meja lalu dia membuangnya karena menurut dia makan yang dimasaknya tidak layak untuk dimakan. Meski aku menahannya untuk membuang semua hasil jerih payahnya. Namun, aku tidak bisa menahan tawa jika melihat wajahnya yang kesal sebab sudah gagal membuat nasi goreng yang enak untukku.
"Sudahlah—kita beli sarapan di luar saja," ucap Aiko padaku sembari berjalan menuju kamar.
Aku pun berjalan mengikutinya dari belakang, belum sampai di dalam kamar dia sudah membawakan jas dan semua perlengkapan ke kantor untukku. Dengan senyum aku mengambil apa yang di sodorkan padaku.
Dalam perjalanan penuhi perusahaan, dia menyuruhku untuk berhenti di sebuah restoran. Dia bertanya padaku ingin sarapan apa yang bisa di bawa ke kantor, aku mengatakan apa saja yang dia pesan pasti akan aku memakannya.
Aiko turun dari mobil, tidak berapa lama dia kembali dengan menjinjing beberapa makanan. Dia membeli begitu banyak makanan, untuk apa dia memesan begitu banyak. Bukankah hanya aku dan dia yang akan memakannya. Jika sebanyak itu, tidak mungkin akan habis termakan olehku atau dia.
"Apa aku tidak salah lihat—kau membeli sebanyak itu?!" Aku bertanya padanya.
__ADS_1
"Tadi Lexa menghubungi aku—dia meminta aku belikan makanan untuknya juga, padahal dia sudah sarapan di rumahnya!" jawab Aiko padaku sembari memonyongkan bibirnya.
Sepertinya dia sedang kesal, entah apa yang membuatnya kesal. Aku menyalakan mesin mobil lalu menjalankan mobil dengan perlahan. Setibanya di perusahaan terlihat orang-orang melihat kami, memang ada yang salah dengan penampilanku saat ini. Aku menatap Aiko secara tidak langsung bertanya ada apa? Dia menggelengkan kepala menandakan dia pun tidak tahu apa yang terjadi.
Ada seorang resepsionis mendekati kami, dia mengatakan jika ada seorang pria yang menunggu Aiko. Pria tadi membuat kekacauan, Aiko bertanya siapa pria itu tetapi resepsionis tersebut tidak mengatakannya. Dia hanya meminta Aiko untuk segera ke ruangan Lexa.
Aiko bergegas menuju ruangan Lexa begitu pula dengan aku, karena aku ingin tahu siapa pria yang sudah membuat keributan di perusahaan sepagi ini. Aiko memasuki ruangan Lexa tanpa mengetuk pintu, aku selalu ada di belakangnya.
"Kau...," Aiko begitu terkejut saat melihat Isamu yang sedang duduk di atas sofa.
Isamu bergegas mendekati Aiko, dia menggenggam tangannya. Namun, Aiko menepisnya seraya dia tidak ingin di sentuh oleh Isamu.
"Bukankah kau sudah mati—untuk apa kau kemari?!" Aiko bertanggung dengan nada dingin.
"Maafkan aku, Sayang—aku tidak mengatakan semuanya karena aku merasa tidak pantas berada di sisimu. Karena saat kecelakaan itu terjadi aku tidak bisa berjalan, sehingga aku memutuskan untuk pergi darimu dan membuat informasi palsu tentang kematiannya." Jawab Isamu dengan penuh harapan agar Aiko percaya dengan apa yang dia katakan.
Aiko hanya diam, aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya. Apakah dia masih mencintai Isamu? Apakah dia akan kembali pada Isamu? Pertanyaan itu mulai menghantuiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa jika Aiko akan memilih kembali pada Isamu.
Isamu terus saja mengatakan hal-hal yang begitu membuatku sangat muak, dia berusaha untuk meminta maaf pada Aiko dan dia juga mengatakan ingin kembali bersama Aiko. Dia bermain peran cukup bagus menurutku, seorang pria yang begitu tidak tahu malu saat ketahuan berselingkuh oleh calon mertuanya. Serta melakukan hal buruk yang mengakibatkan kematian.
"Kau begitu tidak tahu malu—Isamu!" ucapku dengan nada dingin.
Sebenarnya siapa yang berhak dan tidak berhak atas Aiko, akulah yang paling berkah akan Aiko sepenuhnya karena dia adalah istriku. Jika Aiko meminta aku melepaskan dirinya aku tidak akan mengizinkannya. Apa lagi jika alasannya itu adalah Isamu karena bagiku Isamu adalah pria yang begitu busuk. Aku bersyukur jika Rein bertemu dengan Dae-Jung di Korea.
"Dia berhak mengatakan apa pun—karena dia adalah suamiku!" Aiko berkata dengan nada penekanan.
"Apa maksudmu Aiko—aku tidak percaya dengan yang kau katakan!" pekiknya yang menggema di ruangan Lexa.
Aku melihat Lexa hanya mengamati, dia ingin melihat sejauh mana Isamu akan bertindak. Sudah lama aku mengenal Lexa, ini adalah salah satu cara untuk mengetahui apa yang akan dia lakukan. Meski terkadang Lexa mudah terbawa oleh perasaannya dan suka bertindak gegabah.
Aiko mendekat padaku, tanpa mengucapkan sepatah kata dia mengecup bibirku dengan sangat lembutnya. Aku terkejut dengan apa yang dia lakukan kali ini, masalahnya di sini ada Lexa. Dia sudah bertindak nakal, akan aku hukum saat tiba di apartemen nanti sore.
"Semua ini adalah bukti jika Aldo adalah suamiku!" Aiko berkata setelah melepaskan kecupannya.
Isamu masih tidak mau mengerti, dia masih yakin jika Aiko sangat mencintainya. Dia semyiruh Aiko untuk meninggalkan diriku lalu kembali padanya. Sesuatu yang tidak mungkin akan terjadi karena aku tidak akan membiarkan semua itu terjadi dengan sangat mudahnya.
"Sudah cukup Isamu! Apa aku harus bertindak!" ucap Hinoto yang baru saja tiba.
Dia terlihat sangat marah padanya, itu terlihat sangat jelas dari sorot matanya. Dia mendekati isamu, aku tidak tahu jika Hinoto akan sangat marah melihat sahabatnya itu. Mungkin dia sangat kecewa karena Isamu sudah mengkhianatinya dan membuat dia merasa bersalah karena tidak bisa membuatnya selalu berada di jalan yang benar.
Mereka mulai berdebat, semua masalah kecil hingga terbesar mereka terbongkar. Isamu mengatakan semua hal-hal yang sudah pernah dilakukan oleh Hinoto. Semua itu membaut Lexa sangat terkejut tetapi dia bisa kembali tenang. Dan aku yakin jika Hinoto tidak oernahelakukan hal-hal yang akan merugikan orang. Hinoto sangat mencintai Lexa dan aku yakin itu.
__ADS_1
"Sudah cukup—apakah kau akan terus membuat jarak antara aku dan suamiku!" Lexa berkata dengan sinis.
Terdengar jelas jika dia sangat marah, mungkin yang dikatakan oleh Isamu adalah sebuah kebohongan belaka. Karena aku tahu betul siapa Isamu, dia bisa melakukan. Apa pun untuk menuju segala keinginan. Aku tidak menyangka jika Hinoto bisa dengan mudah terpedas oleh Isamu sangat lama sekali.
Hinoto mengatakan pada Isamu untuk memilih, salah satunya adalah meninggalkan Aiko karena dia sudah menikah denganku. Yang kedua adalah berhenti mempengaruhi atau mendekati kembali Rein. Dia juga mengatakan jika Rein akan menikah.
Isamu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Hinoto, mungkin dia tidak menyangka jika Rein akan menikah dengan orang lain. Namun, dia mengatakan jika akan kembali lagi dan akan mengambil apa yang sudah menjadi haknya.
Hinoto mencengkeram kerah baju Isamu, aku tidak tahu apa yang dia bisikkan pada Isamu. Namun, yang pasti terlihat dengan sangat jelas olehku, Isamu begitu ketakutan dengan apa yang baru saja dia dengar.
Isamu pun pergi, dengan rasa kesal, marah, takut semuanya bercampur aduk. Aku memperhatikan tatapan Aiko padanya, apakah dia masih memiliki rasa padanya. "Kejarlah dia jika kau masih menginginkannya!" Aku mengatakan itu pada Aiko.
"Kau pria bodoh!" Aiko menjawab dan pergi meninggalkan aku mungkin dia menuju ruangannya.
Hinoto memintaku untuk tinggal di ruangan, ada yang ingin dia bicarakan denganku. Apakah ini mengenai Isamu atau ada hal lain yang ingin dia katakan padaku, dia mengatakan padaku untuk menjaga Aiko dengan sebaik-baiknya. Dia yakin jika Isamu akan berusaha mendekati Aiko dengan berbagai cara.
"Percayalah pada Aiko—dia tidak akan meninggalkan dirimu dan kembali padanya!" Lexa berkata sembari berjalan mendekati aku.
Dia duduk di atas sofa bersama Hinoto, aku pun duduk di atas sofa saling berhadapan dengan mereka berdua. Kami membicarakan tentang informasi perusahaan Paper-Kr, Lexa mengatakan jika Aiko menemukan siapa pemilik Paper-Kr.
"Lebih baik kau melarang Lexi untuk melanjutkan membeli perusahaan Paper-Kr!" Aku berkata dengan yakin.
Lexa mengerti apa yang aku katakan, dia pun akan mengikuti apa yang sudah menjadi keputusanku. Meski mereka berdua adalah pemilik perusahaan ini tetapi mereka tidak pernah sedikit pun bertindak arogan.
Aku kembali ke ruangan, seorang sekretaris mengatakan jika Lexi ingin bertemu. Dengan langkah cepat aku menuju ruangan Lexi. Dia sedang duduk di atas kursi kerjanya, dengan membaca beberapa dokumen yang ada di tangannya.
"Kau sudah memutuskan apa yang akan kau ambil, Aldo?"
Lexi bertanya dan aku tahu apa yang dia maksud, "Iya—aku harap kau tidak melanjutkan membeli perusahaan Paper-Kr. Menurut aku itu akan merugikan dan kita akan mendapatkan masalah hukum nantinya."
Dia tersenyum, lalu mengatakan akan mengikuti semua yang sudah aku putuskan. Dia tidak menyangka jika Isamu alberada di balik semua ini. Aku mengatakan padanya yang dia inginkan adalah kehancuranku, Aiko dan Hinoto. Mungkin sekarang bertambah karena Rein akan menikah dengan pria lain.
"Iya—aku tahu!" jawab Lexi.
Lexi menyuruhku untuk kembali ke ruangan, aku pun kembali ke ruangan untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang belum terselesaikan. Sebenarnya aku ingin menemui Aiko dan meminta maaf padanya. Namun, aku urungkan lebih baik membicarakannya di apartemen saja—itu lebih nyaman untuk membicarakan masalah pribadi.
___________________________________________
Jangan lupa like, komen yang membangun, serta jadikan favorit ya 😉
Nah jangan terlupakan juga follow Instagram @macan_nurul ya
__ADS_1