
Lexa POV
Hari ini aku ingin pergi bersama Annisa, namun semua rencana ku gagal seketika. Aku mendapatkan kabar dari Aiko ada masalah yang harus aku selesaikan. Aku pun terpaksa masuk kantor sedangkan Lexi yang menemani Annisa berjalan-jalan.
"Sepertinya mereka sudah mulai melancarkan serangan pada kita!" ucap Aiko padaku sembari menyerahkan beberapa dokumen yang harus aku periksa.
Setelah menyerahkan dokumen Aiko kembali ke ruangannya. Aku pun menyelesaikan semua pekerjaanku. Lenganku masih terasa sakit jika di gerakkan terlalu lama. Sepertinya luka di lenganku belum pulih total. Aku mengistirahatkan sejenak lenganku sembari membaca semua dokumen yang di berikan oleh Aiko. Tiba-tiba handphone ku berbunyi, ternyata ada sebuah pesan yang masuk. Kulihat pesan tersebut dan membacanya, seseorang meminta aku untuk menemuinya. Jika aku menginginkan Drafting tube-nya, dia juga mengirimkan foto Drafting tube.
Ternyata yang mengirim pesan padaku adalah pria mesum bertopeng. Aku heran darimana dia mendapatkan nomor telepon ku, yang mengetahui nomor ini hanya segelintir orang saja. Dia memintaku untuk menemuinya di sebuah taman, pada jam 8 malam. Yang ku ketahui bahwa di taman tersebut akan sepi pada jam malam. Apakah itu benar-benar dia? Apa yang dia serencakana sebenarnya! Tapi aku harus bertemu dengannya. Karena aku membutuhkan dokumen yang ada di tangannya, sepertinya dia juga sangat membutuhkan benda yang ada di tanganku.
Aku pun melanjutkan semua pekerjaanku, aku menyuruh Aiko untuk menyiapkan motor ku dan pakaian ganti untuk ku. Aiko bertanya aku akan kemana menggunakan motor, karena dia tahu pasti aku kan melakukan hal-hal yang memacu adrenalin. Aku tersenyum padanya, kusuruh dia menyiapkan semuanya. Ku yakinkan dia bahwa aku tidak akan melakukan aksi tanpanya. Akhirnya Aiko pergi dan menyiapkan semua yang kubutuhkan meski dia sedikit cemberut.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, aku pun mengganti pakaian dan bersiap untuk menemui pria bertopeng itu. Aku pun mengabari Lexi bahwa malam ini aku pulang terlambat. Karena aku akan mengambil kembali barang milikku dari pria bertopeng itu. Lexi mengijinkan ku pergi sendiri, entah mengapa Lexi sangat yakin kalau pria bertopeng tidak akan melukaiku.
Aku pun mengendarai sepeda motor dengan kecepatan penuh menuju taman tersebut. Aku tiba lebih awal, ku duduk di sebuah kursi di sisi taman. Ku terpaku dengan pemandangan malam ini, ternyata malam ini pangsit begitu cerah banyak bintang-bintang bertaburan. Sudah lama aku tak menikmati suasana malam seperti ini. Dulu aku selalu melakukan hal ini bersama bunda dan Lexi, semenjak bunda tiada kami berdua tidak pernah melihat bintang-bintang dimalam hari.
"Apa kau menikmati suasana malam ini?!"
Aku terkejut mendengar seseorang bicara di sampingku, kulihat sudah ada seorang pria yang mengenakan switer bertopi duduk di sampingku. Dia juga membawa sebuah Drafting tube yang sama dengan milikku. Mungkinkah dia adalah pria bertopeng, dia melihat ke arahku dan tersenyum nakal. Benar! Dia benar pria bertopeng itu. Kulihat dengan seksama, kupikir dia tidak mengenakan topengnya. Ternyata aku salah dia masih menggunakan topengnya, apakah wajahnya buruk sehingga terus menggunakan topeng.
"Haha kenapa? Apakah kau ingin melihat wajah tampan ku? Maaf aku membuatmu kecewa! Karena belum saatnya kau melihat wajahku!"
"Huh percaya diri sekali kau!" timpal ku.
Dia kembali tersenyum, tanpa basa basi dia menginginkan barang yang ada di tanganku. Dan itu akan ditukar dengan Drafting tube yang berada ditangannya. Begitupun dengan ku, aku tidak ingin berbasa-basi dengannya. Aku ingin segera kembali ke rumah dan beristirahat. Sepertinya tubuhku sedikit demam, apa mungkin ini akibat luka di tanganku.
__ADS_1
Aku pun memberikan syarat, dia harus memberikan Drafting tube terlebih dahulu baru aku memberikan barang yang ada di tanganku. Dia pun menyetujuinya, anehnya dia tidak bertindak mesum kali ini. Syukurlah aku sedang lelah, aku ingin segera pulang dari sini dan tidur di ranjang empuk ku.
Dia pun menyerahkan Drafting tube padaku, aku mengambilnya dan berdiri. Saat aku berniat ingin menyerahkan benda yang ada di tanganku padanya.
Whussss!
Secara refleks pria bertopeng menarik tanganku dan menarikku ke sebuah pohon besar. Aku terkejut dengan serangan pisau yang ditujukan ke arah kami. Mataku menyapu kesehatan arah guna mencari dari mana asal pisau terbang tersebut.
Whuuss!
Kami menerima serangan pisau lagi, aku masih belum bisa menemukan arah pisau terbang itu berasal. Aku tunggu beberapa saat, semuanya terlihat tenang mungkin penjahat itu sudah pergi meninggalkan taman ini. Saat aku hendak melangkah, tanganku ditarik alhasil tubuhku masuk dalam dekapan pria bertopeng. Wajahku terbenam dalam dadanya yang bidang, saat aku hendak melepaskan diri dari dekapannya. Dia tidak mau melepaskan ku, dia semakin mendekapku urat.
"Lepaskan aku! Dasar kau pria mesum!" teriakku padanya.
Aku diam seketika, entah mengapa badanku terasa lemah. Aku tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan, entah apa yang terjadi padaku. Tapi aku tidak boleh jatuh, aku harus bisa mengumpulkan kembali tenagaku. Masih ada musuh yang mengintai ku, aku tidak ingin tiada sebelum membalas dendam atas kematian bunda.
"Keluar kalian! Kalian sudah tidak mungkin lagi lepas dari kepungan kami!" ucap seorang musuh dengan sombongnya.
Tetapi memang benar kami sudah terkepung, kulihat mereka berjumlah 6 orang. Apakah aku sanggup melawan mereka, 'apa yang kau pikirkan Lexa! Kau adalah gadis kuat, kau pasti bisa mengatasi mereka! Batinku.
"Apa kau sanggup melawan saat ini!? Meski tanganku terluka dan tubuhmu sakit?!" tanya pria bertopeng padaku, sepertinya dia mengetahui kondisiku saat ini.
Aku tidak yakin dengan apa yang aku jawab yang pasti aku akan berusaha untuk melindungi diriku sendiri. Aku melepaskan dekapan pria bertopeng dengan lembut, seraya memberinya tanda bahwa aku bisa melawan mereka dan melindungi diriku sendiri.
"Cepat keluar!" Kali tidak kami akan menembaki seluruh area taman, tentu kalian tahu pasti akan ada korban jiwa!" Ancaman musuh kami mulai menggila.
__ADS_1
Sebelum keluar dari persembunyian kami, pria mesum ini memasangkan sebuah topeng pada wajahku. Entah apa yang ada di pikirannya, tapi sudahlah aku ikuti caranya dulu.
"Hai, pria mesum apa tujuan mu memakaikan topeng padaku?" tanya ku padanya.
Pria mesum itu mendekatkan tubuhnya padaku dia berbisik, "dengar gadis ku, jangan kau memanggilku pria mesum! Kau bisa memanggilku S, seperti simbol yang selalu ku berikan pada musuhku!"
Bug!
Ku tinju perutnya, karena dia sudah berani berbisik di telinga ku. Dia meringis kesakitan namun kembali tersenyum nakal padaku, sungguh membuatku jengkel. Musuh kami tersusun saja mengancam akan melukai warga yang tak berdosa. Akhirnya S keluar terlebih dahulu, tanpa sepatah katapun para musuh langsung menyerangnya. Aku menunggu waktu yang pas untuk ikut bertarung, kuperintahkan semua para musuh.
Sebenarnya aku bisa saja pergi dari sini dan meninggalkan S sendiri untuk menghadapi musuhnya. Entah mengapa hatiku tak bisa meninggalkannya begitu saja, karena dia selalu membantuku jika dalam kesulitan. Tapi hati jahatku mengatakan bahwa aku harus pergi, biar dia tahu rasa karena sudah berlaku mesum setiap kali bertemu. Hati jahatku dan hati baikku sedang berkecamuk, apa yang harus aku lakukan? Kubantu dia apa aku pergi dari sini?
___________________________________________
Apakah Lexa akan membatu pria bertopeng S ? atau Lexa akan meninggalkannya sendiri menghadapi musuhnya?
____________________________________________
Jangan lupa juga baca kisah Lili dan Arata di novel "Musuhku Menjadi Imamku"
____________________________________________
Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉
selamat membaca c u next bab 😘😍
__ADS_1