Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 59


__ADS_3

Alan POV


Aku menuju sebuah restoran, dimana aku janji bertemu dengan seseorang. Sebenarnya aku lelah dengan semua ini. Aku lelah harus terus menghapus jejak kebusukan ayah. Entah sampai kapan aku harus membantunya seperti ini.


Aku duduk di meja pelanggan, dia memberiku pesan untuk menemuinya di toilet. Karena disana tidak ada CCTV, aku pun berjalan mendekatinya. Kami membicarakan semua hal yang harus dilakukan.


Dia adalah suruhan ayah, dia memintaku untuk menghapus semua jejak atas semua kekacauan yang dibuatnya. Sehingga aku harus mengecek semuanya satu persatu.


Aku menyuruh seorang bawahanku untuk mengecek semuanya, setelah dia mengumpulkan buktinya aku akan kembali ke kantor. Saat aku akan pergi dari restoran, kulihat Mamoru sedang duduk menunggu seseorang. Aku melangkah untuk menghampirinya.


"Kau menunggu seseorang? Apakah aku bisa bergabung denganmu?"


Mamoru melihatku, dia tersenyum lalu mempersilahkan ku untuk duduk dengannya. Kulihat ada dua gelas bertengger diatas meja, sepertinya dia bersama seseorang. Ternyata aku benar, kulihat Lexa berjalan mendekati meja kami.


Aku tersenyum pada Lexa yang baru saja tiba, entah mengapa meski dia membalas senyumku ada yang berbeda dengannya. Dari caranya memandangku terlihat sangat berbeda, dari saat pertama kali bertemu.


Aku merasakan kalau dia menyembunyikan sesuatu, atau dia mengetahui sesuatu tentang diriku yang tidak disukainya. Begitu banyak pertanyaan di otakku, kenapa sikapnya berbeda padaku.


Aku terbangun dari lamunanku, dengan datangnya pelayan mengantarkan pesanan. Kulihat Mamoru begitu sangat perhatian pada Lexa, terlihat jelas jika Mamoru sangat mencintainya. Aku tahu jelas dia, jika sudah menjatuhkan hati pada satu wanita maka dia akan setia dan melindunginya. Meski itu akan membuatnya kehilangan nyawanya sendiri.


Aku memutuskan untuk kembali ke kantor setelah makan siang, sepertinya aku memang harus menyerah terhadap Lexa. Aku tidak ingin menghancurkan persahabatanku dengan Mamoru. Seburuk-buruknya aku, aku tetap menghargai sahabatku.


****


Aku tiba di kantor, kulihat diatas mejaku sudah ada data-data yang ingin ku hancurkan. Sebelum kumusnahkan, aku ingin melihat sebenarnya apa yang ingin ditutupi oleh ayah.


Aku pun membuka satu per satu Vidio CCTV, kulihat beberapa kasus penyerangan terhadap seorang wanita. Jika kuperhatikan secara seksama wanita itu mirip dengan seseorang. Aku terus berpikir, wanita itu mirip dengan siapa?


Sembari mengingat lagi, kubuka Vidio yang lainnya. Ada kasus penyerangan lagi, sekarang yang diserang ayah adalah pria dan wanita. Tetapi wanita yang sama, siapa dia sebenarnya? Saat aku berusaha mengingat siapa wanita ini. Ayah memberiku pesan, bahwa dia memberiku hadiah di rumah.


Entah apa yang diberikannya padaku, yang pasti aku selalu tidak menyukai hadiah yang dia berikan. Lebih baik aku selesaikan semua pekerjaanku, agar aku bisa pulang dengan cepat.

__ADS_1


Aku masih memikirkan siapa wanita itu sebenarnya, mengapa dia selalu muncul disaat orang-orang ayah beraksi. Tak terasa waktu begitu cepat, hari sudah malam aku pun memutuskan untuk pulang.


Dalam perjalanan pulang aku masih saja memikirkan gadis yang ada dalam Vidio tersebut. Aku teringat pada gadis bertopeng yang pergi bersama pria pencuri bertopeng. Yang selama ini kucari-cari, apakah dia adalah wanita yang sama? Akan kucari tahu ini semua.


Aku tiba di apartemen dengan pikiran penuh pertanyaan mengenai wanita di dalam Vidio tersebut. Saat kubuka pintu apartemen, sudah ada wanita yang menungguku. Aku tahu ini semua adalah perbuatan ayah, aku sedang tidak ingin bermain. Aku lelah, rasanya aku ingin beristirahat saja.


Aku tidak tahu dari mana ayah mendapatkan wanita ini, kulihat dengan seksama sepertinya dia wanita baik-baik. Dia berhijab, entah mengapa wajahnya mengingatkan ku akan Lexa. Seperti dia di bius, aku sungguh muak dengan sikap ayah seperti ini.


Lebih baik aku tidur saja, kubiarkan gadis ini tertidur dengan pulas. Aku tak tega jika harus merusaknya. Aku memilih tidur diatas sofa, biarkan gadis itu tidur dengan nyaman diatas ranjang.


Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku, kulihat gadis itu sudah menodongkan sebuah benda runcing padaku. Aku sungguh terkejut dengan apa yang gadis ini lakukan padaku.


"Tenang, biarkan aku duduk dahulu! Setelah itu kita bicara baik-baik!"


Kukatakan itu agar dia mengijinkanku untuk duduk, sehingga aku bisa mencari cara merebut benda runcing yang ada ditangannya. Dia pun mengijinkanku untuk duduk.


"Siapa kau sebenarnya? Mengapa aku ada disini? Kenapa pula kau membius ku hah?!"


Akupun menarik lengannya sehingga dia terduduk di pangkuanku, saat dia terduduk aku berusaha melepaskan beda runcing tersebut. Dia meronta, dia berusaha melepaskan diri dari dekapanku.


"Lepaskan aku! Kau tidak berhak menyentuhku apalagi mendekapku seperti ini! Kalau kau seorang pria, lepaskan aku dan kita bertarung!"


Ucapan gadis ini membuatku merasa tertantang, akan kuturuti apa maunya. Akan aku lihat sejauh mana kehebatan yang di sombongkannya itu. Aku melepaskan dekapanku, gadis itu langsung berdiri lalu berancang-ancang.


Rupanya dia sudah siap untuk bertarung denganku, akan aku layani kau gadis imut. Aku pun berdiri dan mendekatinya, tanpa kata-kata dia langsung menyerangku dengan tinjuannya dan sesekali melayangkan tendangannya.


Tidak kusangka gadis berhijab ini begitu pintar bela diri. Aku sangat menikmati pertarungan ini. Tidak akan kubiarkan gadis ini lepas dariku, entah mengapa meski dia sedang marah dia masih terlihat cantik.


Gadis imut ini terus saja menyerangku tanpa memberiku kesempatan untuk menyerang balik. Aku terpaksa bertahan dari serangannya, rasanya aku ingin menggodanya. Aku melakukan serangan balik yang diakhir dengan mencolek hidungnya, dia sangat marah karena aku berhasil menyentuh hidungnya.


"Dasar otak mesum! Jika kau sentuh aku lagi, kau habis!"

__ADS_1


Mendengar amarah gadis imut itu membuat Alan bersemangat untuk terus menggodanya. Dia terus menyerang dengan sedikit sentuhan yang akan membuat gadis itu kesal.


Entah mengapa dia suka melihat gadis itu kesal, tidak ada niat untuk melahapnya. Meski perkataannya selalu membuat Alan kesal, sifat iblis ya tidak keluar.


Perkelahian terus berlangsung, kulihat dia sudah kelelahan. Dia terdiam sejenak entah apa yang sedang dia pikirkan. Dia menyapu seluruh ruangan dengan matanya. Dia tersenyum tipis, entah apa yang dia rencanakan.


Whuuss!


Tanpa kusadari dia melayangkan tendangannya, aku terhenyak secara spontan aku menghindar dan terjatuh. Melihatku terjatuh dia tersenyum lalu berlari menuju arah pintu. Dia membuka pintu yang ternyata dia bisa membukanya, mungkin aku lupa tidak mengunci pintu semalam.


Dia tersenyum tipis dengan artian dia sudah menang dan aku kalah. Aku sangat menyukai gadis ini, jangan sampai aku melihatnya lagi. Jika aku melihatmu lagi! Tidak akan kulepaskan kau gadis imut.


Dia pergi secepat kilat, aku terduduk untuk mengistirahatkan tubuhku. Baru saja terbangun dari tidur, aku langsung berolahraga bersama dia. Sungguh gadis yang menarik.


Sudah lama aku tidak merasakan hal seperti ini, ada sesuatu yang aneh dalam diriku. Gadis ini tidak membuat iblis di diriku keluar, sama seperti aku berhadapan dengan Lexa.


Biasanya jika aku bertemu dengan wanita yang membuatku tertarik, iblis di dalam diriku selalu keluar dan melahapnya. Namun berbeda kalau aku bertemu dengan Lexa dan gadis imut ini.


"Sial! Aku belum mengetahui nama gadis itu! Jika aku bertemu dengannya lagi, aku akan mencari tahu siapa namanya!"


____________________________________________


Siapa gadis itu? Yang membuat iblis didalam diri Alan tidak melahapnya!


____________________________________________


Jangan lupa juga baca kisah Lili dan Arata di novel "Musuhku Menjadi Imamku"


____________________________________________


Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉

__ADS_1


selamat membaca c u next bab 😘


__ADS_2