Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 96


__ADS_3

Lexi POV


"Tidak akan kubiarkan kalian pergi begitu saja meninggalkanku!"


Aku terus berkata seperti itu agar ayah dan Lexa mendengarnya. Sehingga mereka tidak berniat untuk melepaskan tangannya dari genggamanku.


"Sudah cukup Ayah! Sudah cukup kau menyakiti mereka!"


Rey Hirasaki berhenti memukuliku setelah dia mendengar perkataan Alan. Aku mendengar Rey Hirasaki terkekeh lalu dia berkata pada Alan, "Kau bukan anakku! Aku hanya membantu temanku untuk menjauhkanmu dari kedua orangtuamu!"


Alan begitu kesal dengan jawaban yang dikatakan oleh Rey Hirasaki, mereka mulai berdebat. Tiba-tiba ada seseorang yang membatuku menarik Lexa dan ayah. Dia adalah pria bertopeng dan Mamoru.


Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega, aku melihat Lexa dan ayah yang terkapar lemas di atas tanah. Aku langsung memeluk Lexa, aku begitu takut kehilangannya. Setelah itu aku memeluk ayah, dia terlihat sudah tidak memiliki banyak tenaga.


"Cepat katakan padaku! Siapa orangtua kandungku?!" teriak Alan, suaranya bergema. Namun Rey Hirasaki hanya terkekeh mendengar semua itu.


Rey Hirasaki berkata bahwa sampai kapanpun dia tidak akan mengatakan siapa orangtua kandung dari Alan. Mendengar perkataan itu membuat Alan semakin marah, dia mendorong Rey Hirasaki ke pinggir jurang. Dia masih memegang kerah baju Rey Hirasaki.


Alan terus memaksa agar Rey Hirasaki mengatakan yang sebenarnya, semua ancaman Alan pada Rey Hirasaki tidak mempan. Dia masih saja tetap tutup mulut mengenai orangtua Alan.


"Meski kau mengancamku untuk membunuhku, aku tetap tidak akan mengatakannya padamu!" Begitu keras kepalanya Rey Hirasaki, apakah dia tidak memiliki sedikitpun hati nurani.


"Jika itu yang kau inginkan, akan ku berikan kematian yang begitu cepat padamu!" ucap Alan pada Rey Hirasaki, lalu dia melepaskan tangannya dari kerah baju Rey Hirasaki.


Terdengar suara tawa Rey Hirasaki yang sudah terjatuh kebawah, aku tidak tahu segila apa dia. Sehingga menjelang ajalnya pun dia masih tertawa dengan gilanya.


"Dia sudah tiada kah?!" Lexa bertanya dengan suara lirihnya.


Aku tidak tahu harus menjawab apa pada Lexa, karena aku tidak tahu apakah Rey Hirasaki sudah tiada atau dia masih hidup. Karena di bawah merupakan sungai yang alirannya cukup deras.


"Pergilah kalian dari sini! Biar semuanya aku yang urus!" ucap Alan padaku.


Entah apa yang dia pikirkan, dia berdiri di sisi jurang. Aku tahu perasaanya pasti sangat sedih. Hanya Rey yang bisa memberitahukan siapa orangtua kandungnya. Namun dia memilih menghabisi Rey Hirasaki dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


Aku menyuruh Azura untuk menyiapkan mobil, aku berusaha memapah ayah yang sudah terlihat lemas. Sedangkan Lexa, aku menyuruh pria bertopeng itu menggendongnya. Entah mengapa aku lebih suka pria bertopeng itu dari pada Mamoru.


Mungkin Lexa pun akan menyetujuinya jika dia masih sadarkan diri. Kulihat Mamoru hanya bisa memandang Lexa yang digendong oleh pria bertopeng. Dalam benakku aku tidak peduli dengan apa yang Mamoru pikirkan.


Kami tiba di rumah sakit, semua dokter dan perawat langsung memberikan perawatan pada Lexa, ayah dan semuanya termasuk diriku. Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega, karena penyebab kekacauan keluargaku sudah tiada.


***


Hari ini aku sudah bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhku, namun masih ada rasa nyeri yang terasa olehku. Mungkin semua itu akibat pukulan benda tumpul yang dilayangkan oleh Rey Hirasaki.


Kulihat Aldo sudah ada di ruanganku, aku menyuruhnya untuk mengurus dokumen kepulanganku. Aku sudah tidak betah berada di ruangan rawat rumah sakit.


Selagi Aldo mengurus dokumen kepulanganku, aku berjalan menuju ruangan Lexa. Aku melihat dia masih tertidur, aku mendekatinya secara perlahan agar tidak membangunkannya.


Kutatap dia terlihat jelas banyak luka lebam yang dia miliki, tangannya terluka cukup parah akibat tusukan pisau. Aku tidak menyangka dia bisa bertahan dengan luka ditangannya.


Lexa masih bisa memegang ayah agr tidak jatuh ke bawah, begitu kuat dirimu Lexa. Aku sangat bangga memiliki kau sebagai saudari kembarku, aku harap kau cepat pulih.


"Tidak usah menangis! Aku akan selalu ada untukmu, walau kau sudah menikah nanti!" Lexa berkata dengan lirih.


"Bagaiman keadaanmu?!" Aku bertanya pada Lexa.


Dia tersenyum, menandakan dia sudah membaik dari hari sebelumnya. Lexa hendak merubah posisi tidurnya menjadi posisi duduk, aku membantunya agar bisa duduk dengan tidak menimbulkan rasa sakit padanya.


"Apa kau sudah melihat Ayah? Bagaimana keadaannya sekarang?" Lexa bertanya padaku, aku tahu dia khawatir pada ayah.


Aku mengatakan setelah dari mengunjunginya akan segera mengunjungi ayah. Karena tadi Aldo mengatakan bahwa ayah sedang di periksa oleh dokter.


"Bagaimana dengan Rey Hirasaki? Apakah kau sudah mendapatkan kabar darinya? Apakah dia sudah tiada atau masih hidup?"


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan Lexa, karena aku belum mendapatkan informasi tentang Rey Hirasaki setelah dia terjatuh dari jurang.


Aku menggelengkan kepalaku menandakan bahwa aku belum mengetahuinya. Lexa hanya terdiam, dia masih khawatir jika Rey Hirasaki masih hidup.

__ADS_1


"Kau tidak usah khawatir, yang terpenting sekarang adalah kau cepat pulihkan tubuhmu! Sehingga kau bisa cepat kembali ke rumah!"


Dia pun mengangguk, dia juga bertanya apakah nenek dan kakek tahu akan hal ini. Aku menjawab iya, karena mereka harus tahu tentang keadaan kita.


Namu aku melarang mereka untuk ke Jepang, karena aku takut mereka akan merasa sedih jika melihat keadaanmu dan ayah. Aku mengatakan pada kakek dan nenek untuk tetap berdiam di Paris bersama om Rio serta mereka tidak usah khawatir dengan keadaan kami. Karena kami baik-baik saja.


Lagi pula Azura sudah menghubungi mereka agar mereka percaya akan perkataanku. Setelah mengatakan semua itu, aku mengatakan pada Lexa untuk beristirahat. Karena aku akan mengunjungi ayah.


Aku melangkah keluar ruangan Lexa lalu menuju ruang rawat ayah. Sebelum kubuka pintu ruang rawat ayah, aku melihat seorang yang sedang bertanya pada ayah.


Aku bergegas masuk ke ruangan ayah, aku ingin tahu apa yang dia katakan pada ayah. Ternyata yang aku lihat itu adalah om Arata, entah apa yang dia tanyakan pada ayah.


"Bagaimana keadaanmu Lexi?" Om Arata bertanya denganku dengan mengembangkan senyum di bibirnya.


Aku menjawab baik-baik saja, setelah itu om Arata pun pamit padaku dan ayah. Sebenarnya aku ingin bertanya pada ayah apa yang dikatakan oleh om Arata. Namun aku urungkan, lebih baik aku tidak mengetahuinya.


"Bagaimana keadaanmu Ayah?" Aku bertanya pada ayah yang sedang terbaring di atas ranjang.


Aya tersenyum, dia melambaikan tangannya seraya menyuruhku untuk mendekatinya. Aku pun mendekati ayah, tanpa kusadari aku langsung memeluk ayah.


Aku sungguh tidak ingin kehilangan ayah, akhirnya aku bisa menyelamatkan orang-orang yang aku sayangi. Aku juga sudah menepati janjiku pada bunda.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉

__ADS_1


c you next bab 😘


__ADS_2