
Hinoto POV
Aku selalu berada di dekat Lexa, entah mengapa aku tidak mau jika berada jauh darinya di pesta malam ini. Aku tahu Lexa masih kesal denganku karena melihatku bersama Yu-Ri.
"Hallo Tuan Young Jin, apa kabar?" ucapku pada tuan Young Jin.
"Hallo Tuan Hinoto, aku baik-baik saja. Kalian bersama?" Tuan Young Jin menjawab sekaligus bertanya mengapa aku bersama Lexa.
Aku menjelaskan bahwa aku dan Lexa sudah menikah, memang pernikahan kami tidak diselenggarakan secara besar-besaran. Sehingga semua teman bisnisku, Lexa dan ayah Alex tidak ada yang tahu.
"Kenapa Nona Lexa tidak mengundang saya?" Tuan Young Jin bertanya pada Lexa.
"Maafkan saya Tuan Young Jin, bukan maksud kami untuk tidak mengundang Anda. Namun semua terjadi sangat cepat sehingga saya juga belum melakukan resepsi pernikahan!" Lexa berkata dengan hati-hati agar tidak menimbulkan rasa sakit hati.
Tuan Young Jin tersenyum, lalu dia berkata jika dia sudah mendapatkan sebuah undangan dari ayah Alex. Untuk menghadiri sebuah pesta, akan tetapi dia tidak tahu pesta apa yang akan di laksanakan oleh ayah Alex.
Kami pun berbincang-bincang, kulihat Isamu mulai mendekati Aiko. Aku menatap sekilas Lexa yang masih berbincang dengan tuan Young Jin, dia terlihat sangat cantik. Dia sangat mempesona sehingga aku tidak bisa melepaskan pandanganku darinya.
"Siapa wanita itu Hinoto?!" Tanya Yu-Ri padaku, aku sungguh terkejut dengan kedatangannya.
Lexa yang melihat Yu-Ri mendekatiku lalu bertanya tentang siapa dia sebenarnya terlihat sangat kesal. Aku mendekati Lexa lalu mengatakan pada Yu-Ri bahwa Lexa adalah istriku.
Yu-Ri tidak percaya apa yang aku katakan, dia mengira aku belum menikah. Isamu pun mengatakan semua yang aku katakan adalah benar. Terlihat jelas dimata Yu-Ri ada begitu kekecewaan dan kemarahan terhadap Lexa.
Aku takut Yu-Ri akan melakukan hal-hal yang akan membuat malu dirinya sendiri. Karena apapun yang dia rencanakan padaku tidak akan membuahkan hasil.
"Oh..., Kau istrinya Hinoto? Namun aku tidak suka dengan kau! Karena kau tidak cocok dengan Hinoto!" Yu-Ri berkata dengan nada merendahkan Lexa.
"Jika saya tidak cocok dengan Hinoto, apakah Anda cocok bersanding dengan Hinoto?" Lexa membalas pertanyaan Yu-Ri.
Aku tersenyum melihat Lexa seperti ini, dia begitu manis jika sedang marah dan cemburu. Aku ingin tahu apa yang akan direncakan oleh Yu-Ri. Namun yang pasti aku berharap dia tidak menyuruh Lexa untuk bermain musik, Karen aku tidak tahu apakah Lexa bisa bermain alat musik atau tidak.
__ADS_1
Yang aku ketahui Lexa hanya pintar mengendarai sepeda motornya dan berkelahi dengan ilmu seni bela dirinya. Raut wajah Yu-Ri mulai berubah, dia merasa sekali dengan semua perkataan Lexa kepadanya. Yu-Ri adalah tipe wanita yang tidak mau kalah dari wanita lainnya.
"Baik, aku tantang kau untuk melakukan sebuah permainan. Jika kau kalah, kau harus menyerahkan Hinoto padaku!" Yu-Ri berkata dengan penuh percaya diri.
Aku harap Lexa tidak menerima tantangannya, jika dia berani menjadikanku sebagai taruhan. Maka aku benar-benar tidak akan mengampuninya dan aku akan menghukum dia malam ini juga.
"Baik aku terima tantangan Anda, jika aku menang maka Anda harus menjauhi suami saya!" Lexa berkata.
"Kau berani
sekali menjadikan aku sebagai taruhan hah!" bisikku pada Lexa.
Aku melihat dia tersenyum, entah apa yang dia rencanakan sebelumnya. Namun aku tidak suka jika aku dijadikan bahan taruhan oleh mereka berdua.
"Baik, tantangan kali ini adalah bermain alat musik! Di sana sudah tersedia 3 piano, aku akan bermain terlebih dahulu! Jika aku sudah selesai maka itu giliranmu." Ucap Yu-Ri dengan sombongnya.
Benar dugaanku Yu-Ri pasti akan bermain musik, karena dia adalah pemain pianis berbakat. Apakah Lexa akan bisa mengalahkan dia, aku sungguh khawatir. Aku tidak mau jika harus meninggalkan Lexa demi pertaruhan bodoh ini.
Kulihat Aiko tersenyum dengan pertaruhan yang Lexa dan Yu-Ri lakukan. Aku sungguh dibuat kesal oleh para wanita ini, terlihat sudah aku memiliki seorang istri yang tengil. Sehingga mempertaruhkan suaminya sendiri.
"Baiklah kalau begitu aku akan mulai terlebih dahulu, jika yang mendapatkan tepuk tangan terbanyak itu tandanya dia pemenangnya!" Yu-Ri berkata dengan penuh keyakinan.
Yu-Ri berjalan menuju piano yang kebetulan posisinya tidak terlalu jauh dari posisi kami. Aku sungguh khawatir dibuatnya, jika Lexa kalah maka aku tidak akan menyetujuinya apa yang mereka pertaruhkan. Ini adalah hidupku bukan hidup mereka, sehingga seenaknya dipertaruhkan.
"Lexa bagaimana? Aku dengar Yu-Ri adalah seorang pianis berbakat tahun ini! Apa kau bisa bermain piano?" ucap Aiko pada Lexa.
"Bagaimana ini Aiko, aku tidak bisa bermain piano! Aku belajar saat umurku 11 tahun, aku pikir dia hanya membual!" jawab Lexa dengan terdengar sedikit khawatir.
Aku sungguh terkejut dengan apa yang Lexa katakan, aku menarik lengan Lexa. Kutatap kedua matanya, aku ingin melihat kebenaran dari ucapannya. Namun aku tidak bisa melihat jika dia berbohong, aku sungguh ingin melahapnya sekarang juga untuk menghukumnya.
"Kau berani sekali Lexa?!" ucapku padanya dengan penekanan.
__ADS_1
Dia tersenyum, entah apa yang ada di dalam pikirannya. Aku belum bisa melihat dengan jelas apa yang akan dilakukan oleh Lexa. Terlihat juga ada sedikit rasa khawatir di wajahnya.
Yu-Ri sudah duduk di depan piano, dia menarik napasnya lalu mulai menekan tuts pianonya. Semua tamu undangan terpukau oleh permainan Yu-Ri.
Anehnya aku tidak bisa menikmati permainan piano Yu-Ri, dulu saat aku pertama kali mendengarkan permainan pianonya aku terpukau. Namun tidak turut serta menyukai Yu-Ri, karena aku lebih suka permainan pianonya.
Dari saat itu pula Yu-Ri selalu mendekatiku, akan tetapi aku selalu menghindarinya. Ternyata dia seorang wanita yang agresif dan aku tidak suka dengan tipe wanita seperti itu.
Namun jika Lexa bersikap agresif padaku, aku sangat menyukainya. Apakah ini tandanya aku sangat mencintainya, tidak ada sesuatu dari dirinya yang tidak aku sukai.
Para tamu terpesona oleh permainan Yu-Ri, semua membisikkan bahwa mereka merasa beruntung dapat menikmati permainan piano sang pianis berbakat. Aku sungguh khawatir dengan Lexa.
Aku menatap Lexa, tidak terlihat kekhawatiran dari wajahnya. Dia begitu tenang dan menikmati permainan piano Yu-Ri. Begitupun dengan Aiko, aku bingung mengapa mereka berdua bisa begitu tenangnya sembari menikmati alunan musik piano Yu-Ri.
"Ada apa denganmu?" Isamu bertanya padaku.
"Kau lihat Lexa dan Aiko, mereka terlihat tenang dan menikmati permainan musik Yu-Ri. Aku khawatir saja!" jawabku.
Isamu terkekeh, dia mengatakan baru pertama kali ini melihat aku tidak tenang dalam menghadapi suatu masalah. Ingin rasanya aku menendangnya dengan sekuat tenaga, jika melihat Isamu menertawakanku.
Semua para tamu bertepuk tangan setelah mendengar permainan piano Yu-Ri. Dia tersenyum setelah melihat para tamu bertepuk tangan padanya. Aku tahu dia pasti merasa tinggi hati atas keberhasilannya kali ini.
Dia berjalan menghampiriku dia mengatakan, "Hinoto, bagaimana dengan penampilanku?"
Aku hanya diam karena bagiku kali ini tidak bisa menikmati pianonya, kulihat dia menghampiri Lexa. Dia tersenyum angkuh, lalu mengatakan bahwa tidak ada yang bisa mengalahkannya.
"Kau memang hebat Nona Yu-Ri, aku memberimu selamat atas permainan pianomu!" Lexa berkata dengan tenangnya.
"Sekarang giliranmu Nona Lexa! Aku ingin lihat kau bermain piano meski pada akhirnya akulah yang menang!" Yu-Ri berkata dengan percaya dirinya.
Lexa tersenyum lalu dia berjalan menuju arah piano, aku sungguh khawatir dengannya. Apakah dia benar-benar bisa bermain piano, karena aku belum mengetahui tentang keahlian dia selain berkelahi dan memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
"Nona Yu-Ri, nikmatilah selagi Anda bisa menikmatinya! Karena ini adalah sejarah dalam kehidupan Anda!" Aiko berkata sembari senyum.
Aku sungguh tidak mengerti apa yang dikatakan Aiko, apakah Lexa bisa bermain piano? Apakah dia tidak akan mempermalukan dirinya sendiri? Namun yang pasti aku akan selalu ada untuknya.