
Still Lexa POV
"Sayang bangun— ini sudah siang loh," bisikku pada Hinoto yang kembali tidur setelah salat subuh.
Brettt!
Dia menarik tanganku sehingga aku terjerembab kedalam pelukannya, dia memelukku dengan erat. Namun, kedua matanya terpejam dan bibirnya tersenyum. Ide nakal kembali muncul dalam hatiku. Aku mengecup bibirnya sekilas lalu membisikan kata-kata yang biasa dia ucapkan padaku.
"Kau menggodaku, sayang?!" lirihnya padaku.
Hinoto tersenyum tipis lalu dia menarik tengkuk leherku dan mulai mengecup bibirku dengan lembut. Permainannya sangat lembut sehingga aku tidak bisa menahan untuk mengikuti semua permainannya. Dan akhirnya kami bergulat sangat lama, entah mengapa dia begitu bersemangat. Apakah tidak ada Zeroun yang selalu mengganggu saat kami berduaan.
Setelah pergulatan kami, aku memutuskan untuk membersihkan diri. Saat aku masih di dalam kamar mandi, dia masuk dan membantuku untuk membersihkan diri. Begitu pula aku membantunya untuk membersihkan dirinya.
Selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku bersiap untuk menemani Hinoto menghadiri rapat di perusahan. Semenjak Isamu tiada, aku selalu menemani dia saat menghadiri rapat di perusahaan pusat atau cabang. Untung saja ada Lexi, Aiko dan Aldo yang bisa membantuku dalam mengurus perusahaan ayah. Sehingga aku bisa membantu Hinoto jika dia membutuhkan bantuanku.
"Sayang, apa kau sudah siap?!" tanyaku pada Hinoto.
Kulihat dia sedang memasang dasi, aku menghampiri dia dan mengambil dasi yang ada di tangannya. Dengan senyum manis, aku memasangkan dasi di lehernya. Dia tersenyum melihatku dari jarak dekat.
"Jangan berpikiran mesum— bukankah kita sudah melakukannya!" Aku berkata seraya menggodanya.
Dia terkekeh mendengar apa yang baru saja aku katakan lalu dia memegang pinggangku dan merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Dia mengatakan jika akan melakukan apa saja karena aku adalah miliknya hanya miliknya seorang.
"Aku bukan hanya milikmu seorang— aku memiliki pria lain yang sangat aku cintai!" Aku berkata sembari melepaskan diri dari Hinoto.
Aku melangkah menuju nakas guna mengambil ponsel dan hendak menghubungi Zeroun. Namun, langkahku terhenti saat dia menarik lenganku sehingga tubuhku masuk dalam dekapannya.
"Coba ulangi sekali lagi apa yang kau ucapkan tadi!" Hinoto berkata padaku dengan penekanan.
Apakah dia merasa cemburu, aku menatap wajahnya lalu melihat sorot matanya yang terlihat tidak senang dengan apa yang baru saja aku ucapkan. Entah mengapa bukannya ingin menjelaskan padanya tetapi aku semakin ingin membuatnya merasa kesal.
"Kau pikir saja sendiri— mengapa aku bisa mengatakan itu!" Aku berkata padanya dengan nada dingin.
Namun, sebenarnya aku ingin terkekeh jika melihat ekspresinya yang sangat kesal itu. Coba aku ingin melihat sejauh mana dia termakan oleh kejahilanku. Dia menatapku dengan lekat lalu melepaskan dekapannya padaku. Setelah itu dia hanya diam dan duduk di atas sofa, terdengar suara ketukan pintu. Mungkin itu seorang pelayan yang mengantarkan makanan yang sudah aku pesan tadi.
Aku membuka pintu kamar, seorang pelayan membawa makanan yang aku pesan. Dia masuk dan meletakan semuanya di atas meja, setelah itu dia pergi dan aku memberikan beberapa tip padanya.
Hinoto masih terlihat kesal, dia hanya diam meski makanan sudah ada dihadapannya. Aku tersenyum lalu duduk di sampingnya dan menyantap makanan yang sudah tertata rapi di atas meja. Mengambil makanan di dengan sendok lalu aku menyuapi Hinoto. Namun, dia menutup rapat mulutnya.
"Apa kau mau tahu siapa pria yang sudah memilikiku selain kau!" ucapku padanya.
Dia tahu pasti jika pria itu bukan ayah karena dia sangat tahu pasti jika aku adalah putrinya yang sangat dicintai. Apakah dia tidak sadar dengan satu pria itu, padahal pria itu sangat dekat dengannya.
Aku menyuapinya lagi semabri berkata jika pria yang sudah memilikinya selain dia adalah Zeroun. Seketika dia memakan makanan yang aku dekatkan pada mulutnya. Dia mengunyah makanannya tetapi ada senyum tipis dari bibirnya.
"Sudah tidak marah, 'kan?" tanyaku dengan senyum padanya.
"Candamu sudah melampaui batas! Dan aku harus menghukummu kali ini!" jawabnya sembari menyeringai.
Aku tahu apa yang akan dia lakukan tetapi ini sudah siang dan mengharuskan kami untuk segera menuju rapat. Dia menyerangku dengan kecupan lembutnya. Aku berusaha melepaskan dirinya tetapi dia masih saja bermain.
__ADS_1
Kecupannya semakin lama semakin mendalam, aku mendorongnya secara perlahan. Setelah lepas aku mengatakan padanya jika sudah waktunya untuk menghadiri rapat. Dia tersenyum lalu meminta aku menyuapinya.
Ponselku berbaring, aku mengambil ponsel di atas nakas. Melihat siapa yang menghubungi, rupanya ini adalah Vidio call dari Zeroun. Mungkin dia sudah merindukanku, aku mengangkatnya terlihat wajah tampan putra kesayanganku.
"Bunda— aku rindu padamu," Zeroun serakta dari seberang telepon.
Aku tersenyum melihat Zeroun lalu berjalan mendekati Hinoto agar dia bisa melihat putra kesayangannya sekaligus saingannya. Aku memperlihatkan layar ponsel pada Hinoto sehingga mereka berdua bisa melihat wajah masing-masing.
"Ayah— apakah kau tidak menganggu Bunda, 'kan?" tanya Zeroun dengan nada menyelidiki.
Hinoto menyeringai, aku tahu apa yang hendak dia katakan. Dia pasti akan menggoda Zeroun dengan ucapan yang bisa membuat Zeroun kesal dan akhirnya mereka berdua berdebat.
Sepertinya aku harus menghentikan mereka berdua, entah mengapa mereka selalu saja berdebat untuk hal yang tidak penting. Namun, Hinoto mengambil ponselku lalu dia mulai menggoda Zeroun. Terdengar suara kesal Zeroun dari seberang sana. Hinoto terkekeh karena dia merasa menang dari putranya sendiri.
Dia pun memutuskan sambungan Vidio call, aku berkata padanya "Kau seperti anak kecil saja!"
Hinoto terkekeh dia tidak peduli dengan apa yang aku katakan, dia memelukku lalu berbisik padaku jika dia senang jika menggoda pria yang sudah merebut ku darinya. Aku tersenyum saat dia berbisik seperti itu padaku.
"Sudahlah— ayo kita pergi! Tidak baik membiarkan mereka menunggu kita!" Aku berkata pada Hinoto lalu dia melepaskan dekapannya.
Aku berjalan menuju tempat tidur guna mengambil tas, kulihat Hinoto sedang merapikan pakaiannya. Setelah semuanya siap kami pun pergi untuk menghadiri rapat di yang kebetulan berada di hotel yang sama tempat kami menginap.
Tibalah aku di ruang rapat, terlihat orang-orang sudah menungguku dan Hinoto. Terlihat vdengan jelas raut wajah mereka berubah, Hinoto duduk dan aku duduk di sampingnya.
"Kita mulai rapatnya!" Hinoto berkata dengan dingin.
Dia sangat berbeda jika sudah masuk dalam zona kekuasaannya yaitu pekerjaannya. Hinoto begitu dingin sehingga aura kekejaman tampak darinya. Aku hanya memperhatikan saja bagaimana sikap mereka semua karena cukup Hinoto yang turun tangan.
Setelah semuanya selesai menjelaskan dari laporan setiap bagian dari hotel. Aku dapat menyimpulkan jika ada salah seorang dari mereka ada yang memberikan informasi intern hotel pada saingan Hinoto.
"Baiklah lakukan apa yang kau katakan tadi! Aku ingin melihat hasilnya dalam satu minggu dari sekarang!" Hinoto berkata dengan tegas.
Setelah mengatakan itu dia pergi, itu artinya rapat sudah selesai. Aku pun berjalan keluar mengikutinya. Hari ini aku hanya bertugas sebagai asisten yang menemani kemana saja dia pergi.
"Apa kau lelah?!" tanyanya padaku. Aku tersenyum lalu berjalan mendekatinya hingga kami berjalan bersama.
***
Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya dan melihat pembangunan hotel terbarunya. Kami kembali ke kamar, aku merasa lelah karena mengikutinya sepanjang hari.
Aku menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur, tubuhku terasa lelah sekali. Kulihat dia sedang duduk di atas sofa dengan memangku laptop guna memeriksa semua pekerjaannya. Dia terlihat sangat bekerja keras kali ini. Mungkin juga ini salah satu alasan Hinoto tidak mau membawa Zeroun karena dia tidak akan bisa fokus.
Zeroun selalu saja bisa mengalihkan perhatian Hinoto, sehingga dia tidak bisa fokus terhadap pekerjaannya. Kedua pria kesayanganku ini jika dekat selaku berdebat tetapi jika berjauhan mereka akan saling merindukan.
"Sayang," Hinoto memanggilku di saat kedua mataku sudah tidak bisa menahan rasa kantuk.
"Mmmm...," jawabku.
Aku merasakan jika dia menghampiri diriku dan tidur di samping karena aku merasakan pelukannya yang begitu hangat. Kupegang Erta kedua tangannya yang melingkar di tubuhku.
"Bersihkan dirimu terlebih dahulu— setelah itu kau bisa beristirahat!" bisiknya padaku.
__ADS_1
"Aku lelah sekali— tidak kuat untuk membersihkan diri, ingin langsung tidur!" jawabku lirih.
Hinoto berbisik padaku, jika aku harus membersihkan diri sebelum tidur. Karena aku sudah sangat kelelahan, dia bersedia untuk membantuku untuk membersihkan diri. Aku tidak mau sebab dia pasti tidak akan melepaskan diriku dengan mudah.
Dia menggendongku lalu membawaku masuk ke kamar mandi, dia berjalan dengan senyum lembut padaku. Saat berada di kamar mandi, dia menurunkan diriku secara perlahan. Lalu dia mulai melepaskan satu per satu pakaianku.
Setelah selesai membersihkan diri aku langsung merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Sedangkan Hinoto masih mengerjakan pekerjaannya yang belum terselesaikan karena membantu diriku untuk membersihkan diri.
"Tidurlah!" ucapnya padaku dengan senyum lembutnya.
Dia meletakan laptop-nya lalu berjalan kearah tempat tidur, bibirnya mengecup lembut keningku dan mengecup sekilas bibirku dengan hangat. Setelah itu dia kembali berjalan menuju sofa dan kembali dengan pekerjaannya.
Keesokan harinya.
Seperti biasa aku sudah bersiap begitu juga dengan Hinoto, pagi ini aku akan menemaninya menuju sebuah lahan yang akan dijadikan sebuah vila olehnya.
"Hai Hinoto...," teriak seorang pria yang memanggil nama Hinoto.
Aku hanya melihat dengan saksama siapa pria itu karena aku baru pertama kali bertemu dengannya. Terlihat Hinoto sangat senang bertemu dengan pria itu. Mungkin dia adalah teman Hinoto.
Hinoto memperkenalkan aku dengan temannya itu dan dia mengundang kami untuk ke pesta makan malam. Dan acara itu akan dilaksanakan malam ini. Hinoto menerima undangan temannya itu, seacra otomatis aku pun harus menemaninya malam ini.
Setelah mengatakan itu temannya Hinoto berpamitan karena masih ada urusan yang harus dia selesaikan. Dan alami pun kembali dengan rencana kami yaitu melihat-lihat lokasi untuk pembangunan villa.
Aku terus mengikutinya sampai semuanya selesai, dia mengajakku untuk makan siang di sebuah restoran. Setelah makan siang dia mengajakku untuk membeli sebuah gaun yang akan aku gunakan untuk malam nanti.
Dia memikirkan gaun bewarna biru langit, gaun ini begitu indah. Aku tidak menyangka dia begitu pintar memilihkan gaun untukku. Setelah membeli gaun, kami pun segera kembali ke hotel untuk bersiap.
***
Aku sudah tiba di acara makan malam di sebuah restoran yang dilihat cukup mewah, kulihat sudah banyak yang hadir. Apakan mereka semua adalah teman Hinoto, ada beberapa wanita yang memandang ke arahku dengan tatapan yang begitu tajam. Melihat tatapan mereka seperti itu membuatku tersenyum tipis. Rupanya suamiku ini masih digilai oleh para wanita, meski sudah memiliki seorang istri dan anak.
"Hinoto— bagaimana kabarmu?!" ucap seorang wanita yang menghampiri kami.
"Aku baik, bagaimana kabarmu Shoera?" jawab Hinoto lalu dia berbalik bertanya.
Hinoto memperkenalkan diriku pada Shoera, setelah itu mereka asik berbincang-bincang. Entah mengapa aku menjadi seekor nyamuk yang sedang mengganggu keakraban mereka berdua. Aku kesal dibuatnya, wanita itu sepertinya sengaja memperlihatkan semua ini padaku.
Aku ikuti dulu saja permainan wanita itu, semakin lama wanita ini membuatku kesal saja. Dan Hinoto tidak mempedulikan diriku, itu yang berbuat kurang semakin kesal. Lebih baik aku mencari udara segar saja, dari pada melihat mereka berdua.
Tanpa mengucapkan sepatah kata aku langsung berjalan menuju balkon, menatapi langit yang begitu gelap. Udara yang dingin menusuk tulang rusukku, rasa kesal dalam hati semakin membesar ketika aku mendengar percakapan dua wanita yang mengatakan jika Shoera sejak dulu mengejar-ngejar Hinoto.
Aku menghela napas panjang lalu mengatur napasku kembali guna menenangkan hatiku yang sedang kesal. Kita lihat saja nanti, jika dia berulah aku tidak akan memaafkannya. Aku tidak menyadari sudah berdiri selama tiga puluh menit di balkon. Namun, Hinoto tidak mencariku, apakah dia sangat menikmati berbincang-bincang dengan wanita cantik.
Udara semakin dingin, aku memutuskan untuk kembali masuk kedalam. Benar saja Hinoto tidak mencariku karena dia sedang sibuk melayani para wanitanya. Jika dia sudah memiliki teman malam ini untuk apa dia memintaku untuk menemaninya.
Lebih baik aku pergi saja dari sini dan membiarkan dia bersenang-senang dengan semua wanita cantik. Aku berjalan menuju luar ruangan guna kembali ke hotel, tanpa mengucapkan kata-kata padanya.
Saat aku berjalan keluar restoran, aku melihat Rosetta dengan seorang pria meninggalkan restoran. Apakah aku harus mengikutinya atau aku membiarkan terlebih dahulu. Aku berjalan cepat mengikutinya dan memastikan kembali apakah aku akan mengikutinya atau tidak.
Sampai jumpa pada bab berikutnya...
__ADS_1
Beri like, komen yang menentramkan hati hihihi. Serta jadikan favorit ya 😉
Jangan lupa follow Instagram @macan_nurul