Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 48


__ADS_3

Lexa POV


Aku menceritakan semua yang terjadi di pulau Shikoku pada Lexi. Lexi tercengang saat mendengar bahwa aku bertemu dengan Rei Hirasaki.


"Apakah dia orang yang sama dengan nama yang di sebutkan oleh Leo Ahmad?!" Lexi berkata dengan membuka Notebook-nya, dan mengulang kembali Vidio terkahir Leo Ahmad.


Lexi terus memutar Vidio tersebut berkali-kali, akhirnya dia memutuskan bahwa kita harus segera mengambil dokumen yang ada di Golden Pavilion. Karena besok sedang ada sebuah acara di Golden Pavilion, kami memutuskan akan datang ke acara tersebut. Lexi mempersiapkan semua peralatan yang diperlukan, begitupun dengan ku. Aku sudah memesan sebuah topeng untuk kugunakan, belum saatnya aku menunjukkan diriku di depan publik. Aku pun menyediakan topeng untuk Lexi, agar dia mudah bergerak tanpa di ketahui jati dirinya.


Handphone ku berdering, kulihat ternyata sebuah pesan dari Alan. Kulihat jam ini sudah larut malam, padahal tadi siang kami baru bertemu. Kubaca pesan yang dia kirim padaku, aku tak mengerti dengan isi pesan yang dia berikan. Ku abaikan pesan dari Alan, aku kembali mempersiapkan untuk acara esok. Jika benar Rei Hirasaki adalah dalang dibalik kematian bunda, aku tidak akan melepaskannya. Aku akan membuatnya merasakan penderitaannya yang kami alami. Akan ku hancurkan bisnisnya sedikit demi sedikit dan akhirnya hancur tak bersisa.


Aku menghubungi Aiko, memberitahukannya untuk masuk kerja esok hari. Karena aku dan Lexi tidak akan bisa ke perusahaan, Aiko bertanya alasannya dan aku mengatakan bahwa aku dan Lexi akan mengambil dokumen yang di sembunyikan oleh Leo Ahmad. Mendengar perkataan ku Aiko ingin ikut dengan ku, tapi aku melarangnya. Aku merasakan bahwa esok akan terjadi hal-hal yang membuat kami kesulitan. Aiko masih berkeras ingin ikut, tapi aku menyuruhnya untuk bertemu client. Setelah bertemu dengan client dia bebas mau melakukan apapun, Aiko pun menyetujuinya.


Setelah beres dengan persiapan untuk esok, aku memutuskan untuk segera beristirahat. Handphone ku terus berdering dengan beberapa pesan yang masuk, aku melihatnya sejenak ternyata itu Alan. Entah apa yang dia inginkan, aku sudah lelah hari ini dan kuputuskan mematikan handphone dan kembali tidur.


"Lexa bangun!" Lexi mengetuk pintu sambil berteriak.


Aku terhenyak karena ulah Lexi yang membangunkan ku, ku lihat jam memang sudah waktunya aku bangun. Aku pun langsung menuju kamar mandi dan bergegas membersihkan diri. Setelah aku selesai dengan rutinitas membersihkan diri, aku segera keluar menemui Lexi. Dia sudah siap dengan pakaian serba hitam begitupun denganku.


"Aku sudah siap!"


Mendengar perkataan ku, Lexi segera bangun dari duduknya. Dia menyuruhku untuk mengikutinya, aku pun mengikutinya. Lexi membicarakan kembali semua rencana tadi malam yang dia rencanakan. Aku sudah mengingat semuanya dalam otak, meski baru sekilas Lexi menjelaskan otak ku sudah merekam semuanya. Setelah selesai kami pun pergi menuju Golden Pavilion, dalam perjalanan Lexi tidak banyak bicara. Dia fokus terhadap apa yang sudah direncanakan dan juga dia masih memikirkan Rei Hirasaki.

__ADS_1


"Menurutmu apa Rei Hirasaki yang kau temui adalah orang yang sama?!" Pertanyaan Lexi memecah keheningan dalam perjalanan.


"Aku tidak tahu, aku belum bisa memutuskan kalau dia orang yang sama. Yang pasti, aku merasakan sesuatu yang aneh saat berdekatan dengannya! Entah perasaan apa itu sebenarnya. Kita lihat saja nanti, setelah kita mendapatkan dokumen itu! Semuanya akan terpecahkan!"


Lexi terus menjalankan mobil, dia terus mengucapkan semua rencana yang harus dijalankan. Dia tidak mau misi kali ini gagal, karena dokumen kali ini sangat penting bagi kami. Aku mendengarkan apa yang dia ucapkan terus-menerus, terkadang aku pun bosan mendengarnya. Beberapa saat kemudian, kami tiba di Golden Pavilion. Ternyata benar saja, banyak sekali pengawal dan juga pihak dari kepolisian.


"Lexi! Lihatlah begitu ketat penjagaannya! Apakah kita bisa masuk?" ucapku pada Lexi dan dia hanya tersenyum mendengar ucapan ku itu. Terkadang aku kesal dengan sikapnya yang seperti itu, dia selalu memiliki rencana cadangan dan itu baru saja dia dapatkan.


Lexi menyuruhku untuk memakai pakaian seorang pengawal, ternyata dia sudah menyiapkan sepasang pakaian untuk ku dan untuknya. Aku pun memakainya di dalam mobil begitupun dengan Lexi. Kami menggunakan semua perlengkapan seorang pengawal, kugunakan earpiece agar bisa berkomunikasi dengan Lexi. Kugunakan kacamata hitam untuk membantu penyamaran ku, setelah kami selesai dengan persiapan sebagai pengawal.


"Tunggu! Kalian dari divisi mana?!" tanya seorang pengawal pada ku dan Lexi.


"Kami pengawal dari perusahaan XGH!"


Degggg!


Disini rupanya ada Alan, sungguh sial! Aku harus berhati-hati dalam bertindak. Jangan sampai dia mengenaliku, jika dia mengenaliku aku yakin dia akan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak ku inginkan. Aku mulai berjalan berlainan arah dengannya, sembari mencari sebuah simbol.


Sial kenapa Alan sudah ada di depanku dan dia menghampiri ku. Aku harus segera menghindar darinya, jangan samapai dia menangkap ku. Aku harus bersikap tenang dan sewajarnya, sambil melihat jalur mana yang akan aku lalui. Lebih baik aku menuju lorong di sebelah kiri, aku pun langsung berjalan menuju lorong tersebut.


Brugggg!

__ADS_1


Aku terjatuh dan seorang pria paruh baya berada di hadapan ku, ku mendongakkan kepala guna mencari tahu siapa yang menabrak ku. Saat dia melihatku, dia sangat terkejut seketika mengulurkan tangannya padaku. Aku pun menerima uluran tangannya dan meminta maaf karena sudah menabraknya. Tanpa banyak bicara dia menyuruhku untuk mengikutinya, entah apa yang akan dia tunjukkan padaku. Apakah aku harus percaya padanya? Aku terdiam, aku masih berpikir apakah aku harus mengikutinya atau tidak.


"Ikutlah denganku! Aku tahu apa yang kau cari di sini!" ucap pria tersebut padaku, Lexi mendengar semuanya dan mengatakan bahwa aku harus mengikutinya.


Aku pun mengikutinya dan memberi sebuah kode pada Lexi agar segera menghampiri kami. Aku tiba di sebuah ruangan, dia menyuruhku masuk. Aku masih berpikir kembali, apakah ini bukan sebuah jebakan? Aku masih belum sepenuhnya bisa percaya pada pria ini.


"Tenang saja! Aku tidak akan mencelakainya, jika kau tidak percaya padaku. Kita bisa menunggu saudara kembarnya!" Dia berkata dengan penuh yakin. Apakah dia sudah mengetahui siapa kami.


Aku memilih menunggu Lexi, jika kami bersatu paling tidak kami bisa saling melindungi. Beberapa saat kemudian Lexi tiba, dia menghampiri kami. Setelah berbicara dengan pria tersebut, Lexi memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut. Begitupun aku akan mengikuti kemana Lexi pergi.


Setelah kami memasuki ruangan tersebut, kulihat ruangan ini begitu rapi dan terawat. Banyak buku-buku yang sudah usang namun masih bisa di baca. Sebenarnya siapa pria ini? Mengapa dia bisa mengetahui aku dan Lexi? Apakah dia teman atau lawan kami?


____________________________________________


Apakah kalian penasaran dengan pria bertopeng??


Siapa kah dia?


____________________________________________


Terimakasih karena kalian sudah setia membaca novel ku, meski ada part yang membuat sedih.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan berikan vote kalian ya😉😉


Jangan lupa jadikan favorit ya 😉😘


__ADS_2