
Akhirnya kami tiba di Indonesia, negara yang penuh kenangan yang bahagia dan menyedihkan bagi ku dan Lexi. Pesawat kami mendarat jam 19.30, teryata kedatangan kami sudah di sambut oleh Asisten Ari dan ayah. Wajah ayah sedikit menua tapi tidak menghilangkan ketampanannya. Aku pun langsung berlari dan memeluk ayah, aku rindu dengan pelukannya.
Ayah memelukku dengan hangat, dia membelai rambutku dengan lembut dan berkata, "aku sangat merindukanmu Lexa kesayangan Ayah!"
Aku tak kuasa mendengar kata-kata yang ayah ucapkan padaku, air mataku menetes membasahi pipiku. Aku terus memeluknya dan tak ingin ku lepas lagi. Ayah terus membelai rambutku, aku pun sampai melupakan Lexi yang berada di belakang ku.
"Sampai kapan kau akan memeluk Ayah! Apa kau tidak memberikan ku kesempatan untuk memeluk Ayah juga!"
Aku langsung melepaskan pelukan dan memberi kesempatan pada Lexi untuk memeluk ayah. Ayah tersenyum mendengar ucapan Lexi, dia langsung memeluk putra tercintanya. Lexi pun membalas pelukan ayah, aku tahu dia sangat merindukan Lexi juga. Suasana haru menyelimuti pertemuan kami, Asisten Ari hanya bisa memperhatikan kami yang sedang melepas kerinduan.
"Ayo kita pulang ke rumah!" Ayah berkata sambil berjalan menuju mobil.
Kami mengikuti ayah menuju mobil, Asisten Ari membukakan pintu mobil untuk kami. Dia masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah darinya kecuali umurnya yang bertambah. Asisten Ari masih sangat setia dengan ayah, dia masih mau bekerja dan menemani ayah di rumah. Ayah pasti sangat kesepian setelah kepergian bunda, ditambah lagi aku dan Lexi yang pergi ke Jepang.
Sedari tadi aku mencari keberadaan Aldo, tapi aku tidak menemukan batang hidungnya. Apa dia sedang menjalankan tugas dari ayah. Dalam perjalanan menuju rumah, suasana sangat hening di dalam mobil. Aku tahu banyak yang ingin ditanyakan ayah pada kami. Tak terasa akhirnya sampai di rumah, ayah menyuruh kami untuk segera istirahat karena besok pasti akan banyak pertanyaan dari ayah.
Aku melangkah menelusuri setiap lantai di rumah, semuanya yang ada hanya kenanga akan bunda. Ku naikin anak tangga satu per satu hanya kenangan bunda yang ada dalam benak ku. Jika saja bunda masih ada mungkin kami akan hidup bahagia. Kamar ku berdampingan dengan kamar Lexi dan masih seperti dulu tidak ada yang berubah dengan rumah ini.
Plak!
Secara refleks aku melayangkan tinjuanku ke belakang, dia berhasil menangkisnya. Aku terus melayangkan serangan padanya, dia berhasil menahan semua serangan ku. Saat aku melihat dengan jelas siapa orang yang menepuk pundak ku. Aku terkejut rupanya dia Aldo.
"Kau rupanya! Aku mencarimu di bandara, kupikir kau yang akan menjemput kami!" Aku berkata dengan mengatur napas ku karena sudah mengeluarkan tenaga.
"Maaf Nona Lexa! Bukannya saya tidak mau menjemput Nona dan Tuan Lexi! Tapi Tuan Alex menyuruh saya melakukan sebuah pekerjaan penting!" jawab Aldo padaku dengan hormat.
"Sudahlah! Aku akan istirahat dulu, jika ada yang ingin dibicarakan besok kita bicara bersama Lexi!"
"Baik Nona, selamat beristirahat!" Aldo berkata sambil memberi hormat dan pergi meninggalkan ku.
Setelah kepergian Aldo, aku pun melangkah masuk ke dalam kamar. Aku terkejut setelah masuk ke dalam kamar, semua masih seperti semula. Aroma wewangian yang selalu bunda gunakan untuk mengharumkan kamar ku. Aku memilih wewangian ini dengan bunda, tak terasa air mataku menetes aku sangat rindu padamu bunda! Huhuhuhuhu.
Tok!
Tok!
Tok!
Bunyi ketukan pintu di luar kamar, aku menghentikan tangisan ku dan melap air mataku di pipi. Setelah itu aku membuka pintu kamar, aku melihat ayah yang sudah berdiri dengan raut muka sedih. Aku pun mempersilahkan ayah masuk ke kamar dengan senyum manis ku.
__ADS_1
"Apakah kau menangis? Kau rindu padanya?" Ayah bertanya padaku, aku pun menganggukkan kepala.
Ayah langsung memelukku dengan maksud memberikan ku kekuatan, agar aku bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Aku tahu bahwa ayah pun sangat merindukan bunda, tapi dia menyembunyikannya dari ku dan Lexi. 'ayah aku akan mencari siapa yang telah menyebabkan bunda tiada! Aku berjanji padamu!'
"Aku sudah tidak apa-apa! Jadi Ayah tidak usah khawatir padaku! Lebih baik sekarang Ayah istirahat saja masih ada waktu esok hari, kita akan mengobrol panjang lebar!" ucapku pada ayah karena aku tidak mau ayah melihatku menangis, ayah pun pergi meninggalkan ku.
"Alexa bangun sayang!"
Aku terbangun samar-samar terdengar suara bunda yang membanggakan ku. Aku segera berdiri dan mencari-cari keberadaan bunda di dalam kamarku. Ternyata ini adalah khayalanku saja, aku terduduk di sofa untuk menenangkan diri sejenak. Begitu banyak kenangan bunda di sini dan itu yang membuatku semakin bertekad untuk mencari musuh ku.
Ku langkahkan kaki ku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai aku pun bersiap ada suatu tempat yang ingin ku kunjungi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Masuk!"
"Selat pagi Nona, maaf saya menggangu Anda! Nona sudah di tunggu Tuan Alex di bawah." Ucap seorang pelayan padaku dan aku pun mengangguk, setelah mendapatkan jawaban dari ku diapun pergi meninggalkan ku.
Saat sarapan sedang berlangsung aku meminta ijin pada ayah untuk pergi ke suatu tempat. Aku ingin mengunjunginya, karena sudah satu tahun aku belum mengunjunginya lagi. Ayah tahu tempat yang ingin aku kunjungi dan dia mengijinkan aku pergi setelah sarapan selesai.
"Lexi apakah mau mau ikut dengan ku?" Aku bertanya pada Lexi siapa tahu dia mau pergi bersama ku untuk mengunjunginya.
"Aku akan kesana sendiri, ada yang harus diselesaikan terlebih dahulu! Setelah selesai urusannya aku akan mengunjunginya!" jawab Lexi padaku, aku tahu dia tidak ingin bersamaku karena dia tidak mau aku melihat dia menangis.
"Maaf Ayah tidak bisa menemani mu! Ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan itu harus Ayah yang urus!" Ayah berkata padaku, sebenarnya aku tahu setiap hari ayah tidak pernah absen untuk mengunjunginya.
Acara sarapan sudah selesai, aku meminta Asisten Ari untuk menyiapkan motor. Asisten Ari pun menyuruh seorang pengawal untuk menyiapkan sebuah motor. Lexi pergi terlebih dahulu, entah kemana dia pergi sedangkan ayah masuk ke ruang kerjanya bersama Asisten Ari. Tinggal aku dan Aldo, aku bertanya informasi apa yang dia dapat. Tapi dia tidak bisa mengatakannya sebelum Lexi menemukan kebenaran dari informasi itu.
Aldo pun pamit pergi ada urusan yang harus dia selesaikan. Aku pun melangkah ke luar rumah, ternyata motor ku sudah dipersiapkan. Aku langsung menaiki motor, kunyalakan mesin motor. Kutarik gas motorku sepersekian detik motor ku melesat dengan cepat.
Tak berapa lama aku pun tiba di tempat tujuan ku, disana tempat orang yang kucintai bersemayam. Ku parkirkan motor dan kumatikan mesin motorku. Ku melangkah menelusuri pemakaman, mataku tertuju di dua makam yang berjejer. Itu adalah malam bunda dan nenek Rahma. Dua wanita yang sangat di sayangi ayah dan juga kami.
Aku duduk di sisi makam bunda, kupanjatkan doa untuknya semoga bunda ditempatkan di sisi-Nya. Aku tidak boleh menangis di sini, karena bunda tidak suka melihat ku menagis. "Bunda aku akan terus mencari siapa yang telah membuatmu tiada! Tidak akan ku lepaskan dia yang telah membuat mu menderita!"
Setelah mendo'akan bunda aku lanjut mendo'akan nenek Rahma. Semua kupanjatkan do'a terbaik buatnya, kalian berdua tiada karena orang yang sama. Do'akan aku agar aku bisa membalasnya karena telah menyebabkan kalian tiada. Aku pun beranjak dan melangkah keluar dari area pemakaman. Ada satu tempat yang ingin ku kunjungi.
__ADS_1
Ku pacu motor dengan kecepatan tinggi sehingga melesat menembus jalanan. Kulihat ada seorang pria yang di kepung para preman, dari kejauhan dia mengenakan setelan jas. Sepertinya dia seorang pengusaha muda, aku pun berhenti dan memantau dari kejauhan. Aku tidak bisa begitu saja langsung ikut campur urusan mereka.
Bak!
Bik!
Buk!
Perkelahian di mulai, para preman sudah mulai menyerang. Pria itu menahan dan menangkis serangan mereka dan sesekali membalas serangan mereka. Dengan melayangkan tinjuan dan tendangan, aku hanya ingin melihat sampai dimana dia bisa bertahan. Setelah ku lihat dengan seksama ternyata pria itu adalah Mamoru. 'Sedang apa dia di Jakarta? Bukankah dia di Jepang!' gumam ku.
Dia lumayan hebat juga bisa menghadapi para preman sebanyak itu. Ada yang mulai mau berbuat curang, kalau begitu aku bantu kau Mamoru. Ku nyalakan mesin motorku, kutarik gas motor sehingga melesat menghampiri mereka.
Ckitttt!!
Suara decitan motor yang ku rem di tengah-tengah perkelahian mereka. Mereka kaget melihat ku dan mereka marah karena sudah menggangu urusan mereka. Aku pun langsung menghajar satu persatu preman, Mamoru bingung melihat ku. Dia tidak mengenaliku karena aku masih menutup wajahku menggunakan helm berwarna hitam.
Kami pun bersama-sama saling menyerang dan melindungi satu sama lain. Akhirnya satu persatu musuh berjatuhan, salah satu preman menelepon rekan-rekannya dan meminta bantuan. Jika aku masih disini, bisa-bisa mati kelelahan. Aku pun menarik Mamoru naik motor dan aku memacu motorku dengan kecepatan penuh.
Daerah ini sudah dekat dengan rumah singgah bunda, lebih baik aku kesana saja. Itu adalah tempat yang aman bagi kami untuk saat ini. Kupandangi setiap jalan menuju rumah singgah, ternyata masih sama tidak ada yang berubah sama sekali. Beberapa saat kemudian sampailah di rumah singgah.
Kubuka helm yang menutupi wajahku, aku berbalik memandang Mamoru. Dia terkejut melihat yang di balik helm adalah aku Alexa, aku tersenyum miring dan berkata, "kenapa kau terkejut Tuan Mamoru!"
"Iya aku terkejut bahwa yang menolongku ada lah seorang gadis dan itu adalah kau Nona Alexa!" jawab Mamoru dengan lembut.
Tak lama kemudian datang seorang wanita dia adalah kak Santi, dia sudah banyak berubah. Terlihat sekali dia bertambah dewasa dan sifat keibuannya terlihat jelas. Kak Santi sangat menyangi bunda, saat dia mendengar kematian bunda dia tak sadarkan diri hingga beberapa hari. Dia merasa tak bisa melindungi bunda, padahal dia sudah memiliki firasat yang tidak bagus.
"Kenapa terlambat? Dan siapa pria di belakangmu?" Pertanyaan yang membuatku seperti hendak di interogasi oleh kak Santi.
"Kakaku sayang nadamu seperti akan mengintrogasi ku saja! Aku tidak suka!" jawabku pada kak Santi dengan nada manja sambil memeluknya.
Kak Santi hanya tersenyum melihat sikap manjaku, dia memeluk ku erat. Aku sudah menganggapnya seperti kakaku sendiri, begitu pula Lexi dia sangat sayang padanya. Aku pun memperkenalkan Mamoru pada kak Santi, kami pun dia ajak masuk ke dalam rumah singgah. Aku senang kalau berada disini, meski disini banyak juga kenangan tentang bunda.
Aku bermain bersama anak-anak di rumah singgah, mereka bisa membuatku melupakan kesedihan ku. Karena mereka pun pasti lebih sedih dibandingkan dengan ku. Di saat aku sedang bermain dengan anak-anak, kak Santi yang menemani Mamoru berbincang-bincang. Entah apa yang mereka bicarakan, aku pun tak peduli lebih baik aku gunakan hari ini khusus untuk anak-anak.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab berikutnya 😊
aku siap menampung poin kalian kalau mau mendukung novel ku 😚😚
__ADS_1
ku tunggu dukungan kalian ya jangan lupa vote biar aku semakin maju ke depan kalau tidak juga tak masalah 😏