Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 143


__ADS_3

Still Lexa POV


Setelah bercengkerama dengan om dan tante, aku memutuskan untuk kembali ke rumah bersama Aiko. Annisa merengek ingin ikut bersamaku, dia ingin menginap di rumah. Namun tante Anna melarangnya sebagai hukuman karena sudah balapan motor bersamaku dan Aiko.


Aku pikir hanya om Adam saja yang akan marah dengan tindakan Annisa rupanya tante Anna juga sama. Mungkin ini yang membuat dia menjadi seperti ini dan dia mendapatkan dukungan dari ayah.


Namun aku percaya pada ayah, jika mengajarinya motor tentu saja mengajarinya seni bela diri sehingga dia semakin jago dan bisa melindungi dirinya sendiri.


Saat tiba di rumah, aku belum melihat ayah atau Lexi. Mungkin mereka masih di kantor. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak, begitu pula dengan Akiko.


Ponselku berdering, aku bergegas mengambil ponsel di nakas. Aku pikir yang menghubungiku adalah Hinoto tetapi itu bukan dia. Yang menghubungi adalah orang yang aku percaya untuk mengurus perusahaan di Jepang selama aku dan Aiko berada di Indonesia.


Dia menghubungiku untuk menginformasikan tentang keadaan perusahaan. Aku senang dengan hasil kerjanya, tidak ada masalah yang sangat mendesak semuanya berjalan dengan baik.


"Aku sungguh kesal, denganmu Hinoto!" teriakku sembari menghempaskan tubuh di atas tempat tidur.


Aku sungguh tidak peduli jika kau memerlukan bantuanku, akan dibalas kau nanti. Karena sudah membuatku begitu sangat kesal, sehingga ayah dan Lexi tidak bisa menolongmu.


Malam sudah tiba, aku memutuskan untuk keluar dari kamar dan berjalan di taman. Mungkin itu bisa membuatku merasa tenang sehingga tidak memikirkan kembali Hinoto.


Saat aku berjalan menuju taman, aku melihat ayah dan Lexi yang baru saja tiba. Lebih baik aku menemui mereka yang baru saja tiba karena mereka terlihat sangat lelah.


Lexi duduk di atas sofa, aku menghampiri Lexi lalu duduk disampingnya sedangkan ayah seperti biasa masuk ke dalam kamarnya. Seorang pelayan menghampiri kami, dia bertanya apakah mau dibuatkan secangkir kopi atau teh.


Lexi meminta secangkir kopi, aku meminta dua cangkir teh karena sebentar lagi Aiko pasti akan turun ke bawah untuk bergabung dengan kami. Setelah mendapatkan jawaban dari kami, pelayan itu pergi untuk menyiapkan apa yang kami inginkan.


"Bagaiman rencana berkunjung ke rumah Himawari lusa nanti?!" tanyaku pada Lexi.


"Entahlah, aku belum bisa menghubungi kembali Himawari! Aku merasa ada yang aneh dengannya, terkahir aku bertemu dia mengatakan mengundangku dan ayah untuk makan malam di hari sabtu." Lexi menjawab dengan menyadarkan kepalanya pada sofa.


Himawari tidak bisa dihubungi? Apakah dia sedang menjalankan misi bersama Hinoto? Tidak mungkin tetapi— mereka berdua tidak bisa dihubungi dalam waktu yang bersamaan. Dan juga mereka tidak menghubungi kami sama sekali.


"Apa Hinoto sudah menghubungimu?" tanya Lexi padaku.


Aku menggelengkan kepala menandakan bahwa Hinoto belum menghubungiku. Kumelihat Aiko berjalan menuruni anak tangga lalu menghampiri kami.


Dia membawa kartu undangan ditangannya, lalu memberikannya padaku dan Lexi. Rupanya ini adalah undangan sebuah pesta di sana akan hadir para pengusaha baik dari dalam dan luar negri.


Dalam undangan ini tertera untuk perusahaan ayah yang berlokasi di Jepang dan yang satunya lagi perusahaan parfum bunda.


"Kita harus menghadiri pesta besok malam!" ucap Aiko padaku dan Lexi.


"Persiapkan semuanya Lexi! Mungkin di sana kita akan menemukan informasi yang kita butuhkan!" Aku berkata pada Lexi.


Lexi mengangguk lalu dia pergi meninggalkanku dan Aiko untuk menuju kamarnya. Aku harap lusa acara pertemuan keluarga kami dan Himawari bisa berjalan lancar.


"Lebih baik kita istirahat saja! Besok kita harus mempersiapkan diri untuk pesta." Aku mengatakan itu pada Aiko lalu berjalan menuju kamar begitu juga dengan Aiko.


Mengapa terasa sepi, apakah aku merindukannya? Mungkin aku sudah terbiasa dengan kehadirannya? Haaaaa ... Kau membuatku pusing Hinoto. Lebih baik aku tidur saja lagi pula dia tidak akan menghubungiku.


Keesokan harinya aku memutuskan untuk ikut Lexi ke perusahaan parfum bunda. Guna melihat bagaimana jalannya perusahaan saat ini dan juga aku ingin melihat persiapan untuk launching produk terbaru.


Setelah melihat perusahaan dan mengecek parfum yang akan launching. Aku memutuskan untuk membeli sebuah gaun untuk pesta malam nanti bersama Aiko.


Aku mengunjungi sebuah butik yang biasa bunda kunjungi, aku memilih gaun bewarna merah menyala. Sedangkan Aiko memilih gaun bewarna hitam. Lalu memilihkan dua stel jas untuk Lexi dan Aldo.

__ADS_1


Ponselku berdering, aku langsung mengangkatnya karena ayah yang menghubungiku. Ayah bertanya mengenai persiapan untuk pesta malam nanti. Aku mengatakan pada ayah semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.


Sekarang ayah lebih memilih duduk di belakang layar, sedangkan aku dan Lexi berada di baris paling depan. Mungkin ini adalah salah satu cara ayah untuk mendidik kita menjadi lebih kuat.


Karena ayah pernah berkata padaku, jika dunia bisnis sekarang lebih kejam di bandingkan masanya dulu. Mungkin dulu ayah disegani oleh para saingannya. Sekarang mereka sudah mulai berani mengusik kehidupan pribadi kami.


Selesai memilih gaun yang akan kami kenakan nanti malam, aku memutuskan untuk kembali ke rumah untuk bersiap-siap. Lalu menyuruh Lexi untuk pulang ke rumah lebih awal karena dia juga harus bersiap.


Setibanya di rumah aku memutuskan untuk istirahat sejenak lalu membersihkan diri dan bersiap untuk pesta malam nanti. Entah mengapa aku merasa akan terjadi sesuatu.


Lebih baik aku buang semua pikiran buruk yang ada di dalam otakku, karena itu akan membuatku semakin gelisah dan berpikir jernih. Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, sembari melihat langit-langit kamar.


Setelah itu aku bangun dan berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Rutinitas membersihkan diri beres, sekarang tinggal bersiap.


Terdengar suara ketukan pintu kamar, aku berjalan menuju pintu kamar guna melihat siapa yang ada di balik pintu kamarku. Saat aku membukanya terlihat Lexi yang sudah siap. Dia menggunakan jas yang aku belikan tadi.


"Ada apa?!" tanyaku padanya.


"Gunakan ini!" jawabnya singkat.


Aku melihat apa yang disodorkannya padaku, rupanya itu adalah peralatan untuk melindungi diri dari serangan musuh. Dan juga alat komunikasi untuk selalu bisa berhubungan setiap saat.


Sebenarnya ada apa ini, mengapa Lexi menyuruhku untuk memakai semua ini. Setelah memberikan peralatan itu Lexi pergi dan menyuruhku untuk cepat-cepat agar dia tidak menunggu terlalu lama.


Benar-benar aneh dengan sikap Lexi hari ini, jika melihat semua peralatan ini mengingatkan aku akan rencana balas dendam kami. Semua ini aku gunakan untuk mencari semua informasi mengenai Rey Hirasaki.


Apakah di pesta nanti akan ada orang yang menginginkan kehancuran kami. Aku pikir setelah tewasnya Rey Hirasaki kehidupan keluargaku akan berjalan normal seperti keluarga lainnya.


Mungkin aku tidak bisa hidup layaknya keluarga pada umumnya, hidup bahagia, menjalankan rutinitas pekerjaan biasa. Yang tidak selalu berhubungan dengan perkelahian guna melindungi diri dari musuh.


Setelah selesai bersiap dan menggunakan aksesoris perlengkapan tempur. Aku keluar dari kamar, saat hendak berjalan melihat Aiko di kamarnya. Termyata dia sudah ada di depanku dengan.


Mungkinkah Lexi juga menyuruh Aiko menggunakan peralatan yang sama. Aku melihat Aiko dari atas hingga bawah lalu mengulanginya dari bawah ke atas. Rupanya Lexi menyuruh Aiko menggunakan aksesoris perlengkapan tempur. Meski terlihat berbeda denganku.


"Lebih baik kita kebawah, mereka sudah menunggu kita!" Aku mengatakan pada Aiko.


Lalu kami berjalan menelusuri anak tangga untuk menghampiri Lexi yang sudah menunggu. Aku melihat Lexi sedang duduk di atas sofa dengan Aldo yang berdiri menendang keluar halaman.


"Aku sudah siap, ayo kita pergi!" ucapku pada Lexi tetapi Aldo pun tersadar dengan kehadiranku dan Aiko.


Aku tidak melihat ayah, apakah ayah belum pulang dari kantornya. Lalu aku bertanya pada Lexi tentang keberadaan ayah, dia mengatakan jika ayah ke luar kota untuk mengurus sesuatu.


Mengapa ayah tidak memberitahukannya padaku, membuatku khawatir saja. Setelah mengatakan itu Lexi berjalan menuju mobil, dia berkata jika aku akan menjadi pasangannya di pesta malam ini.


Sedangkan Aiko akan menjadi pasangan Aldo, kami pun pergi menggunakan 2 mobil tanpa sopir. Lexi menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya secara perlahan keluar dari area rumah.


Tibalah kami di salah satu kawasan elit di Jakarta, ternyata pesta malam ini di adakan di rumah seorang pengusaha ternama. Dia merupakan pengusaha yang baru beberapa tahun melejit.


Tibalah kami di tempat pesta, aku melihat penjagaannya sangat ketat, sehingga membuatku merasa aneh. Sebenarnya pesta macam apa malam ini, sehingga membutuhkan penjagaan yang begitu ketat.


"Lexi, apakah kau tidak merasa aneh dengan pesta malam ini?!" tanyaku pada Lexi.


"Iya— aku tahu karena itu aku menyuruhmu dan Aiko untuk menggunakan alat tempur!" jawab Lexi.


Lalu Lexi menyuruhku untuk menyalakan earpiece agar apa yang kami berempat katakan bisa terdengar. Setelah itu Lexi keluar dan aku pun mengikutinya.

__ADS_1


Aku melihat Aldo dan Aiko yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah yang di bilang seperti istana. Sebelum memasuki pesta kami harus melewati beberapa pemeriksaan terlebih dahulu.


Tidak ada rasa takut dengan peralatan tempur yang aku gunakan karena semua itu bisa lolos dari deteksi kemanan mereka. Lexi tersenyum padaku, lalu mengurutkan tangannya guna memperlihatkan bahwa kami pasangan.


Saat memasuki rumah terlihat begitu banyak tamu undangan yang sudah hadir. Semua para pengusaha yang bisa dibilang masih muda, itu sebabnya ayah menyerahkan undangan ini pada Aiko untuk diberikan pada kami.


Kami berjalan menuju Aiko dan Aldo, sembari melihat sekeliling ruangan yang sangat penuh penjagaan. Ini membuatku merasa tidak nyaman.


"Sebenarnya pesta apa malam ini? Sehingga membutuhkan penjagaan yang sangat ketat?" tanyaku yang semakin penasaran.


"Sepertinya akan ada seseorang yang penting akan hadir di pesta malam ini!" jawab Aiko.


Beberapa saat kemudian, seorang pria paruh baya memberikan ucapan selamat datang. Dan dia juga memulai pesta malam ini dengan memperkenalkan seorang pria.


Aku merasa tidak asing dengan wajah itu tetapi entah dimana melihat wajah itu. Dia sepertinya orang Jepang, otakku masih berpikir melihat wajah itu di mana? Namun, aku tidak bisa menemukan jawabannya.


"Dia adalah pengusaha sekaligus penyelundup senjata secara ilegal!" ucap Aldo yang membuatku terkejut.


"Lebih baik kita menghindar dari hal-hal seperti ini! Aku tidak ingin terjadi pertempuran yang mengakibatkan kematian!" timpalku.


Setalah itu pesta kembali berjalan seperti biasanya, aku sedang menyuruh Lexi, Aiko dan Aldo untuk tidak mencari masalah di pesta ini dengan para penjahat yang berada di pesta ini.


"Apa kabar Nona Lexa?!" tanya seseorang dari belakangku.


Aku membalikkan badan untuk melihat siapa yang menyapaku, sungguh aku terkejut melihat orang yang menyapaku. Dia adalah pria yang baru Aldo katakan sebagai pengusaha sekaligus penyelundup senjata ilegal.


Dia tersenyum lalu bertanya kembali bagaimana kabarku, dari mana dia bisa mengenalku. Padahal aku tidak pernah bertemu dengannya sama sekali.


"Aku baik, maaf— apakah kita pernah bertemu?!" tanyaku padanya.


"Kau tidak mengenalku? Baiklah kalau begitu aku perkenalkan diriku, namaku Takeda Shinichi. Kau bisa memanggilku Takeda!" jawabnya padaku.


Aku tersenyum lalu memberi tanda pada Lexi untuk mendekatiku lebih dekat. Lexi mengerti tanda yang aku berikan, lalu dia menghampiriku tetapi Takeda tahu jika Lexi adalah adikku.


"Bagaimana kabar Anda Tuan Alexi?" tanya Takeda pada Lexi yang terlihat sedikit terkejut. Namun, dia bisa dengan cepat merubah rasa terkejutnya.


"Aku baik— bagaimana Anda bisa mengenal kami?!" tanya Lexi pada Takeda.


Takeda tersenyum lalu dia mengatakan, "Aku bisa mengenali kalian karena kalian adalah putra dan putri dari Tuan Alex Wibowo. Siapa yang tidak mengenal Tuan Alex di dunia bawah!"


Aku terkejut dia mengatakan itu, memang benar ayah dulu berada di dunia mafia Jepang. Namun, semua itu sudah ayah tinggalkan semenjak menikah dengan bunda.


"Namun, yang saya sesali mengapa Tuan Alex melepaskan begitu saja kekuasaannya di dunia bahwa! Sungguh di sayangkan!" ucap Takeda.


"Aku lebih bendukung jika ayah tidak terlibat lagi dengan dunia bawah!" Aku berkata dengan tegas pada Takeda.


Dia terkekeh mendengar apa yang kukatakan lalu dia mengatakan jika saja aku belum menikah mungkin akan menjadikanku sebagai istrinya. Aku terkejut karena dia juga tahu jika aku sudah menikah, apakah dia sudah mencari semua informasi tentang keluargaku?


Aku berusaha bersikap normal meski ada rasa kesal dalam diriku karena aku tidak ingin mencari masalah saat ini. Semua ini aku lakukan untuk diriku dan juga untuk orang-orang yang aku sayangi.


Tidak ingin lagi terjadi sesuatu yang membahayakan mereka, sudah cukup kasus ku dengan Rey Hirasaki. Jangan ada dendam lagi di hatiku atau Lexi yang akan memicu peperangan.


Ada seorang pengawal yang berbisik pada Takeda, terlihat dengan jelas raut wajahnya berubah menjadi kesal. "Tangkap penyusup itu! Hidup atau mati hadapkan padaku!" perintah Takeda pada pengawalnya.


Semua tamu undangan di perintahkan untuk duduk dan dijaga dengan ketat. Beberapa saat kemudian beberapa pengawal membawa seseorang dengan tampilan penyusup.

__ADS_1


Terlihat dari lekuk tubuhnya dia adalah seorang wanita, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan terhadap penyusup itu. Apakah dia akan memukulinya atau membunuhnya langsung.


Aku merasa gelisah jika malam ini akan terjadi hal-hal yang akan membuatku marah. Lexi memegang tanganku, dia mengetahui jika aku sedang gelisah.


__ADS_2