Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 149


__ADS_3

Still Lexa POV


Akhirnya aku dan Hinoto sudah berada di Jepang dan kembali ke rutinitas biasa. Arata mengurus semua pekerjaan di rumah untuk hari ini karena dia sedang tidak ingin keluar rumah.


Aku pikir dia sedang sakit, ternyata alasannya hanya malas saja dan ingin menungguku pulang dari kantor. Terkadang apa yang dia lakukan membuatku tidak habis pikir.


Aku berada di kantor karena sudah beberapa hari tidak berada di Indonesia sehingga pekerjaanku sangat banyak. Meski sudah ada orang yang mengurus semua pekerjaanku tetapi aku tetap harus memeriksanya kembali.


Begitu pun dengan Aiko yang sedang sibuk di ruangan, selain disibukkan dengan pekerjaan dia juga disibukkan dengan tingkah Isamu yang selalu menghubunginya.


Terkadang jika sudah kesal dengan tingkah Isamu, dia tandang ke ruanganku lalu marah-marah padaku. Aku bingung mengapa dia marah padaku, padahal yang menganggunya adalah Isamu buka aku.


"Lexa! Kau beritahu teman suamimu itu, jangan terus-terusan mengganggu diriku! Aku jadi tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaanku! Apakah dia tidak punya kerjaan lain selain menganggu aku?!" ucap Aiko dengan nada kesal pada diriku.


"Kenapa kau marah padaku? Marahin saja Isamu!" jawabku pada Aiko.


Aku pun merasa kesal jadinya setiap Aiko kesal pada Isamu, dia selalu marah padaku. Dan sekarang aku benar-benar kesal pada Isamu karena dia Aiko melampiaskan kekesalannya padaku.


Setelah mendengar jawabanku Aiko kembali ke ruangannya dengan kesal karena aku mengatakan itu padanya. Sungguh kau membuatku kesal Isamu.


Ponselku berdering, aku mengangkatnya langsung karena Hinoto yang menghubungiku. Dia bertanya padaku kapan pulang, aku mengatakan pulang agak telat. Dia bertanya jam pastinya, mendengar itu aku mejadi kesal.


Mengapa kedua pria hari ini membuatku sangat kesal, pertama Isamu sekarang Hinoto. Sebenarnya ada apa dengan mereka berdua, apakah mereka ingin membuatku kesal dan menghajar mereka.


Karena kesal aku menutup teleponnya, aku sudah tidak peduli mau pulang jam berapa. Ponselku terus saja berdering, itu sangat menggangguku. Akhirnya aku putuskan untuk mematikan saja ponsel agar tidak ada yang mengangguku.


Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu, aku mengatakan masuk. Rupanya itu Aiko yang sudah memegang tasnya, kulihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Ternyata sudah senja, pekerjaanku pun sudah selesai. Namun, ada beberapa dokumen yang harus aku selesaikan.


"Kau akan pulang sekarang?" tanya Aiko sembari duduk di atas sofa.


"Sebentar lagi, ini ada dokumen yang harus selesai hari ini!" jawabku pada Aiko.


Aiko memutuskan untuk menungguku karena dia ingin mengajakku ke sebuah cafe untuk meminum kopi. Saat aku selesai memeriksa dokumen terakhir, aku dikejutkan dengan kedatangan Hinoto.


"Kenapa kau mematikan ponselmu?!" Hinoto bertanya dengan nada kesal tetapi ada rasa khawatir dalam pertanyaannya.


Aku tidak menjawab pertanyaannya, dia berjalan dengan cepat menghampiri diriku. Aku langsung berdiri guna bersiap-siap jika Hinoto akan berlaku aneh. Masalahnya ini di kantor bukan di rumah.


Aku hendak menghindar darinya tetapi dia dengan cepat menarik tanganku. Lalu dia menggendongku seperti sekarung berasa saja, aku kesal dengan apa yang dia lakukan.


Aiko terkekeh melihatku digendong oleh Hinoto seperti sekarung beras. Lihat saja nanti kau Aiko, akan aku bakas! Jika kau mengeluh Isamu aku tidak akan membantumu sama sekali. Semua orang melihat ke arahku yang di gendong oleh Hinoto, sungguh aku merasa malu.


"Cepat lepaskan aku! Jika tidak kau akan menyesal!" bisikku pada Hinoto tetapi dia tetap saja tidak melepaskanku.


"Diam— jika tidak aku akan berbuat sesuatu yang lebih membuatmu malu!" Hinoto berkata dengan lirih tetapi ada penekanan di dalamnya.


Aku terpaksa diam karena Hinoto sedang tidak bercanda, apakah dia marah padaku masalah tadi siang. 'Arrgghhhh kau ini Lexa membuat masalah baru saja,' batinku.


Aaaaa ... Dia membuka pintu mobil lalu menghempaskan tubuhku ke dalam mobil. Tubuhku terasa sakit, dasar kau Hinoto sudah membuatku kesakitan seperti ini tetapi dia tidak merasa bersalah sama sekali.


Setelah menghempaskan diriku dia masuk dan duduk di kursi kendali setir. Dia terlihat dingin padaku, sorot matanya penuh dengan kekesalan. Aku menghela napas lalu duduk tanpa bicara, dia mendekatiku dan memasangkan sabuk pengaman untukku.


Tunggu dulu! Jalan ini bukan menuju rumah, aku hapal betul ini adalah jalan menuju apartementnya. Lebih baik aku diam saja guna melihat apakah yang aku pikirkan benar jika dia mengajakku ke apartemennya.


Sepanjang perjalanan hingga tiba di apartemen dia hanya diam membuatku merasakan ngeri. Entah apa yang akan dia lakukan padaku karena dia pasti bisa melakukan hal-hal yang membuatku menyesal.


Dia menghentikan mobilnya setelah itu keluar dari mobil, tidak ada niatku untuk melawannya kali ini. Jika dipikir-pikir dia mirip ayah yang sedang marah padaku.


Dia membuka pintu mobil sebelahku, dengan maksud menyuruhku untuk turun. Namun, entah mengapa tubuh ini tidak dapat bergerak meski aku berusaha menggerakkannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia melepaskan sabuk pengaman yang masih menempel di tubuhku. Lalu dia menggendongku seperti seorang pengantin wanita tetapi tatapannya begitu dingin.


Ingin rasanya aku mengatakan sesuatu tetapi mulut ini mendadak kaku tidak bisa bicara. Baru pertama kali ini aku melihat kemarahan Hinoto, apakah ini sifat aslinya jika sedang marah padaku.


Dia berjalan dengan cepat meski sedang menggendongku, apakah tubuhku begitu ringan sepertinya dia tidak merasakan aku berat. Kutatap wajahnya terlihat raut wajah yang sangat dingin, tidak ada sedikitpun senyum di bibirnya.


Senyum hangatnya yang selalu ditujukan padaku semuanya hilang seketika. Aku hanya mematikan ponselku, mengapa dia semarah ini. Bukankah dia bisa menghubungiku di saluran kantor, jika ada hal penting yang dia butuhkan.


Dia menekan tombol guna masuk ke dalam apartemen, pintu terbuka lalu dia masuk dan pintu secara otomatis tertutup. Sebenarnya aku ingin bertanya mengapa dia membawaku pulang ke apartemennya bukan ke rumah. Namun, bibir ini tidak bisa mengeluarkan suara.


Hinoto membuka pintu kamar lalu menutupnya dengan rapat, setelah itu dia berjalan mendekati tempat tidur dan menghempaskan tubuhku dengan kasar.

__ADS_1


Lalu dia berjalan mendekati pintu kamar dan menguncinya, seraya tidak mengijinkan aku untuk keluar dari kamar. Aku semakin takut dengan Hinoto yang seperti ini. Dia begitu asing bagiku, sebenarnya apa yang terjadi padanya.


"Sebenarnya apa yang terjadi padamu?" Aku memberanikan diri untuk bertanya pada Hinoto.


Namun dia tetap diam, aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang dingin seperti ini. Lebih baik aku pergi dari kamar ini, biar dia bisa menenangkan dirinya.


Aku berdiri dan berniat untuk pergi dari kamar tetapi dia memegang tanganku dengan erat sehingga membuatku sakit. Aku berusaha melepaskan diri darinya tetapi tidak bisa karena genggamannya begitu erat.


Bug!


Dia bergeming menerima pukulanku pada dadanya, aku tahu itu pasti sakit. Namun, rasa sakit di tanganku tidak terelakkan lagi. Dia menarik tanganku hingga aku masuk ke dalam pelukannya.


Dia hanya diam semabri memelukku, entah mengapa aku tidak suka dengan Hinoto yang seperti ini. Aku lebih suka Hinoto yang selalu bersikap hangat padaku atau Hinoto yang selalu bersikap mesum padaku.


"Lepaskan aku!" ucapku padanya dengan lirih.


Namun, dia tidak menanggapi perkataanku sehingga membuat aku semakin kesal. Aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga, sehingga dia mengerang kesakitan lalu melepaskan dekapannya.


Melihat dia kesakitan aku bergegas menuju pintu kamar untuk pergi dari kamar. Karena aku tidak ingin melihat Hinoto yang seperti ini tetapi dia berhasil memojokkanku.


Tubuhku dan tubuhnya saling berdekatan sehingga aku bisa mendengar degub jantungnya serta napasnya yang begitu menderu. Entah dia sedang menahan emosi atau apa? Aku sungguh tidak mengerti dia hari ini.


"Aku tidak suka kau melakukan itu padaku!" bisiknya padaku setelah itu dia menggigit daun telingaku dengan sedikit keras sehingga terasa sakit.


"Apa yang aku lakukan sehingga kau marah padaku?!" tanyaku padanya yang tidak paham dengan perkataannya tadi padaku.


Hinoto mengetahui jika aku sedang kesal terhadap Isamu dan yang tidak dia sukai jika aku kesal dengan pria lain makan aku tidak boleh melampiaskannya padanya.


Karena dia tidak suka diperlakukan seperti itu lalu dia juga tidak suka jika aku memikirkan pria lain selain dirinya. Jika dia kesal lebih baik dia hanya kesal tentang tingkah lakunya bukan tingkah laku pria lain.


"Apa kau cemburu?" lirihku padanya sembari melihat wajahnya yang terlihat masih kesal.


Aku terkekeh melihat Hinoto seperti ini, rupanya dia merasa cemburu jika aku kesal atau memikirkan pria lain selain dia. Aku tidak menyangka rasa cemburunya begitu besar. Apakah dia begitu mencintaiku hingga rasa cemburunya sangat besar pula.


Hinoto mengecup bibirku, dia tidak melepaskan kecupannya mungkin dia ingin membuatku berhenti tertawa. Aku berusaha melepaskan bibirku dan bibirnya karena napasku hampir habis. Namun, dia tidak melepaskanku begitu saja.


Aku sedikit mendorong tubuhnya agar aku bisa melepaskan kecupannya guna mengambil napas. Dia akhirnya melepaskan kecupannya, itu adalah kesempatan diriku untuk mengatur ritme napasku yang sudah diambil oleh Hinoto.


Dia menatapku dengan lekat, melihat setiap napas yang tersengal-sengal karena ulahnya. Terlihat senyum puas dari bibirnya lalu dia berbisik padaku bahwa hukumanku belum selesai. Setelah berbisik seperti itu dia kembali mengecup bibirku dengan permainan yang begitu menggila.


Setelah itu dia melepaskan celana panjang yang menutupi seluruh kakiku. Dan akhirnya semua tubuhku terlihat dengan jelas tanpa tertutup sehelai kain pun.


Kecupannya belum berhenti tetapi dia menggendongku secara perlahan. Namun, dia tidak melepaskan kecupannya lalu berjalan mendekati tempat tidur.


Dia melepaskan kecupannya lalu menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur. Dia melihat diriku yang sudah tidak menggunakan pakaian. Dia tersenyum tipis lalu membuka satu per satu kancing kemejanya dengan cepat.


Sehingga terpampang dadanya yang bidang dan otot perutnya yang membuatku tergoda. Setelah itu dia melepaskan ikat pinggang yang melingkar di pinggangnya lalu dia melepaskan celana jins-nya.


Setalah itu dia langsung menyerangku dengan permainan bibirnya, lidahnya mulai bermain di dalam rongga mulutku dengan begitu lihainya. Sehingga aku mengikuti setiap gerakannya.


Tidak hanya bibirnya namun tangannya pun mulai berjalan di tubuhku dengan lembut. Secara perlahan bibirnya menyapu setiap lekuk tubuhku yang dilewati oleh bibirnya sehingga membuatku merasa kegelian tetapi aku menikmatinya.


***


Aku terbangun saat mendengar alarm ponsel berdering, aku mengambil ponsel yang ada di nakas tepat disamping tempat tidurku. Lalu mematikan alarm yang selalu mengulang bunyinya jika tidak disentuh layar ponselnya.


Sebelum aku beranjak, melihat Hinoto yang masih terlelap. Aku tidak menyangka apa yang dia lakukan semalam bisa membuatku sangat kelelahan. Entah berapa kali dia terus menyerangku dengan permainannya.


Lebih baik sekarang aku membersihkan diri, setelah itu aku bangunkan dia untuk membersihkan dirinya. Saat aku akan bangun dari posisi duduk di atas lempar tidur. Kakiku tidak memiliki tenaga aku merasa sangat lemas sekali. Dan bagian sensitifku paling bawah terasa sangat sakit sekali.


Rupanya ini yang dimaksud dengan hukumanku, sungguh suami yang tidak sayang pada istrinya. Mengapa juga dia membuatku tidak bisa berdiri karena serangan suami tidak hanya sekali atau dua kali.


Dan akhirnya aku hanya terduduk di atas tempat tidur karena kakiku begitu lemas. Menunggu hanya itu yang bisa aku lakukan hingga kedua kakiku bisa berdiri tegap lalu berjalan menuju kamar mandi.


Brettt!


Aku kembali tertidur karena Hinoto memeluk pinggangku dan menariknya sehingga aku kembali masuk kedalam pelukannya. Dia tidak mau melepaskan pelukannya.


"Sayang, ayo bangun! Bersihkan dirimu setelah itu giliranku untuk membersihkan diri!" aku berkata dengan lembut padanya.


Dia masih saja tidak mau melepaskanmu meski aku sudah menyatakan dengan lembut. Malah dia semakin memelukku dengan erat, lebih baik aku diam sejenak sembari mengumpulkan tenagaku agar kakiku tidak lemas.

__ADS_1


Setelah dia puas memelukku, dia melepaskan pelukannya dia menatapku dengan lekat lalu tersenyum lembut padaku. Entah mengapa aku suka senyumnya yang seperti ini terlihat begitu hangat.


"Apa kau menyukai hukumanku?" tanyanya dengan senyum menggoda padaku.


Darimana aku menyukai hukuman yang dia berikan padaku, masalahnya hukuman dia sudah membuatku tidak bisa berdiri. Lebih baik aku tidak mengatakan apa-apa, jika dia tahu aku tidak bisa berjalan bahkan untuk berdiri saja sulit. Mungkin dia akan menertawakanku.


"Lain kali jika ingin menghukum diriku, jangan menggunakan hukuman seperti malam lagi!" ucapku dengan nada lirih.


Dia tersenyum mendengar apa yang aku katakan, lalu dia merubah posisi tidurnya menjadi duduk. Dan dia berdiri melangkah menuju kamar mandi.


Namun, entah apa yang ada di dalam pikirannya dia kembali menghampiri diriku. Lalu dia menggendong lembut diriku dan berjalan masuk ke kamar mandi.


"Apa yang hendak kau lakukan?!" Aku bertanya dengan nada sedikit tinggi karena aku takut jika dia akan melakukan hal semalam.


Saat ini aku belum siap untuk melakukan hal-hal seperti semalam, tubuhku terasa lemas. Aku harap dia tidak akan melakukannya lagi karena aku butuh istirahat.


Dia menurunkanku secara perlahan lalu dia berbisik, "Mari aku bantu kau membersihkan diri, bukankah kau tidak bisa berjalan?"


"Bagaimana kau tahu?" Aku bertanya dengan lirih karena saat aku hendak berdiri dan berjalan dia masih terlelap.


Lalu dia mengatakan bahwa sudah bangun sedari tadi tetapi dia berpura-pura tertidur. Dan dia selalu memperhatikan diriku yang tidak bisa berjalan menuju kamar mandi.


"Ohh ... Jadi kau sedari tadi sudah bangun?! Ini semua kalibata perbuatan mu sehingga aku seperti ini!" ucapku sembari senderut.


Dia kerkekeh, entah apa yang membuatnya lucu sehingga tertawa seperti itu. Yang aku rasakan kali ini lemas dan sakit, dia malah terkekeh melihat penderitaanku.


"Dasar kau suami yang aneh!" Aku berkata dengan nada kesal.


"Apa kau bilang?! Apa kau ingin aku hukum seperti semalam?" lirihnya tetapi ada penekanan dari setiap kata yang dia keluarkan dari bibirnya, sembari menyalakan keran shower sehingga air membasahi kepalaku dan tubuhku.


"Tidak! Aku tidak mau kau melakukan hal semalam saat ini! Sungguh aku merasa lelah, biarkan aku istirahat sejenak?" Aku mengatakan itu agar dia tidak melakukannya lagi.


Dia tersenyum padaku lalu mengecup bibirku, kecupannya begitu dalam sehingga aku tidak bisa mengimbanginya. Dia melepaskan kecupannya lalu mengambil sabun cair yang ada didekatku.


Hinoto menatapku dengan lembut, tangannya yang sudah dipenuhi sabun menyapu setiap lekuk tubuhku dengan lembut. Tanpa mengucapkan kata-kata, dia memegang tanganku lalu memasukan sabun ke telapak tangan. Seraya dia ingin aku melakukan apa yang sudah dia lakukan padaku.


Aku pun melakukan apa yang dia lakukan dengan lembut, kami saling menatap. Dia kembali tersenyum lembut lalu mengecup sekilas bibirku, entah mengapa dia selalu mengecupku.


Setelah selesai dengan rutinitas membersihkan diri, dia mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhku. Lalu dia menggendongku kembali dan berjalan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur.


Dia mendudukanku dengan lembut di atas tempat tidur, setelah itu dia berjalan menuju almari guna mengambil pakaianku. Lalu dia kembali berjalan ke arah diriku.


"Sebenarnya kau kesal terhadap Isamu? Apa yang membuatmu kesal padanya?" Hinoto bertanya padaku dengan lembut tetapi ada rasa ingin tahu yang cukup kuat dari setiap perkataannya.


Aku mengatakan semuanya pada Hinoto jika Isamu selalu menganggu Aiko. Sehingga Aiko tidak bisa fokus terhadap pekerjaannya lalu dia marah-marah padaku.


"Lalu?" tanya singkat Hinoto padaku.


"Lalu kau menghubungiku dengan pertanyaanku yang banyak sekali, sehingga aku kesal kepadamu! Tunggu dulu semalam kau mengatakan jika aku kesal terhadapnya? Kau tahu dari mana jika aku sedang kesal terhadapnya?!" Aku bertanya padanya dengan nada menyelidiki, jika dia sudah tahu mengapa di bertanya lagi padaku.


Dia menghubungi Aiko, bertanya padanya mengapa aku tidak menjawab teleponnya bahkan ponselku tidak aktif. Lalu Aiko marah-marah padanya, itu yang membuatnya kesal. Dan juga dia berpikir jika aku memikirkan pria lain selain dirinya serta kesal pada pria lain.


"Dengarkan aku! Mulai dari sekarang aku tidak ingin mendengar atau melihat kau membicarakan pria lain selain diriku! Karena aku tidak suka jika pikiranmu teralihkan pada pria lain selain diriku!" Hinoto berkata dengan tegas lalu dia mengeringkan rambutku yang masih basah.


Setelah selesai mengeringkan rambutku, dia menyuruhku untuk mengenakan pakaian yang baru saja dia ambil. Dia pun mendekati pakaiannya, setelah selesai dia berjalan keluar kamar.


Sedangkan aku masih di dalam kamar, aku berusaha untuk berdiri lalu berjalan perlahan keluar kamar. Perutku terasa lapar, mungkin Hinoto memiliki makannya di lemari pendinginnya.


Saat aku keluar dari kamar aku mencium aroma masakan yang begitu lezat. Kulihat Hinoto sedang memasak sesuatu di pantry. Apakah dia sedang memasak untukku kembali setelah apa yang dia lakukan semalam. Apakah ini tanda permintaan maaf dia, ahhh tidak mungkin karena semalam itu merupakan hukuman dia terhadapku.


Aku berjalan mendekatinya yang sedang sibuk dengan acara memasaknya. Aku duduk di kursi yang menghadap pantry, kulihat dia tampak tampan jika sedang memasak.


"Mengapa memandangiku terus? Bukankah kau sudah tahu jika suamimu ini sangat tampan!" Hinoto bertanya padaku semabri memasak.


Saat mendengar Hinoto berkata dengan rasa percaya dirinya yang begitu besar. Namun, aku tidak memliki apa yang dia katakan karena semua itu benar bagiku.


Beberapa saat kemudian terdengar suara ponsel Hinoto yang berdering, dia menyuruhku untuk mengangkatnya karena dia sedang sibuk memasak. Aku mengambil ponsel yang ada di atas meja, lalu aku melihat siapa yang menghubunginya. Ternyata itu adalah Lexi, aku heran mengapa Lexi menghubunginya.


Aku mengangkat telepon dari Lexi, sebelum aku mengatakan hallo. Lexi sudah bertanya bertubi-tubi sehingga aku tidak ada kesempatan untuk bicara. Hinoto yang mengetuk meja, memberikan kode seraya bertanya siapa yang meneleponnya.


Tanpa berkata-kata aku langsung memberikan ponselnya, dia juga terlihat sangat terkejut dengan apa yang dia dengar. Akhirnya dia terkekeh karena sudah tidak tahan dengan kecerewetan Lexi.

__ADS_1


Dia pun memberikan ponselnya padaku karena dia masih tertawa dan tidak bisa menjawab semua pertanyaan Lexi. Lalu aku mengatakan pada Lexi untuk menghentikan kecerewetannya jika tidak aku akan memutuskan sambungan teleponnya.


Namun, dia masih saja cerewet dan membuatku semakin kesal dan akhirnya aku mematikan sambungan teleponnya. Sudah cukup dia bersikap seperti wanita. Aku pikir dia akan berubah jika sudah menikah dengan Himawari.


__ADS_2