Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 106


__ADS_3

Still Lexa POV


Setelah melihat semuanya, kemesraan mereka di depan umum. Aku sudah memutuskan untuk membuatnya merasa menyesal dengan semua perbuatannya padaku. Aku memutuskan untuk pergi dari cafe tersebut bersama Aiko.


Saat di parkiran Aiko mengatakan bahwa dia sedang ada urusan sehingga dia tidak bisa menemaniku. Aku mengatakan tidak apa-apa, urus saja urusanmu terlebih dahulu.


Sepertinya aku membutuhkan udara segar untuk menenangkan pikiranku. Lebih baik aku mencari tempat yang bisa membuatku merasa tenang.


Kunyalakan mesin motor, aku langsung tarik gas sehingga motorku melesat meninggalkan cafe dimana masih ada Mamoru dengan wanitanya. Biarkan motor ini berjalan tanpa arah sehingga aku menemukan tempat yang bagus.


Kulajukan motorku dengan kecepatan penuh di jalanan yang tidak terlalu padat. Motorku terhenti di sebuah taman yang sangat indah namun tidak banyak orang yang mengunjunginya.


Kuhentikan motorku di pinggir taman itu, aku berjalan menelusuri taman yang sedang sepi tanpa pengunjung. Kulihat ada sebuah kursi putih yang menghiasi taman, aku memutuskan untuk duduk saja di kursi itu.


Saat aku duduk untuk menikmati suasana tenang di taman ini, aku melihat sepasang anak kecil yang sedang bermain bersama ibunya. Mereka tampak bahagia, terkadang tingkah mereka membuatku tersenyum.


"Tampaknya kau menyukai anak-anak ya?!" tanya seseorang padaku.


Aku mendongak ingin tahu siapa yang bicara padaku, kulihat seorang pria yang berdiri lalu duduk di sampingku. Aku menatapnya sesaat, dalam benakku mengapa jika bertemu denganku dia selalu menggunakan sebuah topeng.


"Apa kau selalu menggunakan topengmu itu?!" Aku bertanya karena aku ingin tahu mengapa dia selalu menggunakan topengnya itu.


Dia tersenyum lalu berkata, " Ini khusus jika aku bertemu denganmu! Apa kau ingin melihat wajahku? Jika iya, maka kau harus menikah denganku!"


Apa aku tidak salah dengar, dia sedang melamarku? Ahh tidak mungkin, sepertinya aku salah memahami apa yang dia katakan. Lagipula aku tidak terlalu ingin melihat wajahnya. Pandanganku kembali pada kedua anak yang sedang bermain, tidak terasa hari sudah sore.


"Apa kau belum puas memandangi kedua anak itu? Bagaiman jika kita menikah lalu memiliki anak-anak seperti mereka?!" ucapnya padaku.


Aku semakin tidak mengerti dengannya, apa ini cara dia merayuku. Mengapa dia begitu yakin aku akan menerima lamarannya, menurutku dia pria yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.


"Kau terlalu percaya diri Tuan! Sebaiknya kau periksakan dulu otakmu! Lagipula siapa yang ingin menikah dengan kau!" ucapku padanya lalu berdiri dan berjalan meninggalkannya.


Srettt!

__ADS_1


Dia menarik tanganku sehingga aku terjatuh dalam pelukannya, aku berusaha melepaskan diriku dari pelukannya. Dia begitu kuat, dia membisikkan sesuatu yang membuatku tidak percaya.


Dia mengatakan bahwa aku pasti akan menikahinya, aku sungguh tidak mengerti. Bagaimana aku bisa menikah dengannya, wajahnya saja aku tidak tahu. Ayah dan Lexi pun pasti tidak akan begitu saja setuju kan.


Aku menginjak kakinya dengan sekuat tenaga, sehingga dia mengerang kesakitan. Kulayangkan tinjuanku padanya, karena dia sudah berani memeluk tanpa seijinku. Namun dia berhasil menghindar dari seranganku.


Terjadilah perkelahian antara kami, entah mengapa aku menikmati semua ini. Mungkin sudah lama aku tidak menggerakkan tubuhku ini, saat aku melayangkan tinjuanku. Dia menangkap kepalan tanganku, entah mengapa masih terasa sedikit nyeri.


Awwww!


Aku meringis kesakitan, dia melepaskan tanganku lalu mendekatiku. Aku melihat telapak tangan yang kemarin-kemarin terluka karena tusukan belati Rey Hirasaki. Meski sudah terlihat sembuh namun ini masih terasa sangat menyakitkan.


Mungkin luka di luar sudah terlihat sembuh apakah luka di dalamnya masih belum sembuh. Dia memapahku untuk duduk di kursi lagi, aku menurutinya karena rasa nyeri yang kurasakan membuatku lemas.


"Apa lukamu belum sembuh?!" Dia bertanya padaku dengan nada yang lembut, baru kali ini aku mendengar dia berkata dengan nada seperti ini. Namun ada rasa khawatir di dalamnya.


Aku berusaha menarik napas untuk mengatur ritme pernapasanku karena habis berkelahi dengannya. Setelah napasku kembali normal, rasa sakit di telapak tanganku berangsur-angsur berkurang.


"Jika kau masih terluka, mengapa kau berani menyerangku hah?!" dia berkata.


Apa yang kau pikirkan Lexa? Hentikan ini, kau tidak jatuh hati padanya bukan? Masih ada misi yang harus kau lakukan. Menghancurkan rencana Mamoru, kau harus ingat itu! batinku.


"Tidak usah pedulikan aku! Ini semua salahmu, kenapa pula kau menarik tanganku lalu memelukku!" ucapku dengan nada marah jika mengingatnya kembali.


Dia tersenyum mendengar apa yang aku katakan, entah apa yang ada di pikirannya. Lebih baik aku kembali saja ke rumah, mungkin ayah dan Lexi sudah menungguku.


Sebelum aku beranjak pergi, terdengar suara panggilan dari handphone pria itu. Dia berdiri lalu menjauhiku untuk mengangkatnya, mungkin itu adalah panggilan yang cukup penting. Lebih baik aku pergi saja dari sini langsung pulang ke rumah. Aku berdiri lalu berjalan menuju motorku.


"Apa kau bisa mengendarai motornya? Apakah lenganmu tidak sakit?" Aku terkejut mendengar pertanyaan itu, sejak kapan dia sudah ada di belakangku.


"Tenang saja, aku masih bisa mengendarai motorku ini!" Aku berkata lalu tersenyum padanya, agar dia tidak terlalu cemas.


Aku bingung ada apa dengan diriku ini, mengapa juga aku tersenyum padanya untuk menghilangkan rasa cemasnya. Dia bukan siapa-siapaku untuk apa dia merasa cemas, mungkin aku terlalu percaya diri saja.

__ADS_1


Dia tersenyum mendengar ucapanku, aku langsung menggunakan helm lalu menaiki motorku. Kunyalakan mesin motornya, kutarik gas motorku dengan kekuatan penuh sehingga motorku melesat menginginkannya.


Aku terus mengendarai motor meski masih terasa nyeri di telapak tanganku. Namu aku masih bisa menahannya hingga tiba di rumah, setelah itu aku akan merendamnya dengan air es untuk menghilangkan rasa nyerinya.


Tibalah aku di rumah, aku disambut Lexi yang sedang berada di teras. Kulihat wajahnya seperti akan menerkam saja, entah apa yang membuatnya kesal kali ini. Aku berjalan untuk masuk kedalam rumah.


"Aku pernah katakan padamu bukan! Jangan menggunakan motormu dulu sebelum luka di telapak tanganmu sembuh total! Apa kau ingin luka itu tidak sembuh hah! Jika kau melakukan gerakan yang bisa memicu rasa nyeri di telapak tanganmu!" ucap Lexi.


Aku terkekeh-kekeh mendengar apa yang Lexi katakan karena dia seperti seorang ayah yang sedang memarahi putrinya. Dia terlihat tidak senang dengan aku yang menertawakannya.


"Hentikan tawamu itu Lexa! Aku serius tahu!" Lexi berkata dengan nada marah.


Aku menunjukkan telapak tanganku padanya, guna memelihara tidak terjadi apa-apa padaku. Lexi memegang telapak tanganku, dia ingin memeriksa dengan cermat. Saat Lexi menyentuhnya rasa nyeri masih terasa, namun aku menahannya agar Lexi tidak mengetahuinya.


"Apa yang kalian lakukan di luar?!" tanya ayah yang baru saja tiba di rumah, yang dibelakangnya ada asisten Ari dan seorang pria dia adalah Hinoto.


Ayah yang melihat Lexi memegang tanganku, mulai menampakan kekhawatirannya. Ayah bertanya apakah telapak tanganku sakit lagi, aku menggelengkan kepalaku menandakan tidak.


"Ya sudah kalau begitu Ayah masuk duluan ya!" ayah berkata lalu berjalan meninggalkanku, begitu pula Lexi dan asisten Ari.


Saat Hinoto melewati ku untuk masuk ke dalam rumah, dia berkata dengan lirih "Rawat lukamu dengan baik! Jangan pecicilan dan jangan berkelahi dulu!"


Deg!


Aku terkejut dengan apa yang dia katakan, dari mana dia bisa tahu aku berkelahi. Apakah dia melihat aku berkelahi dengan pria bertopeng, terus apa tadi yang dia katakan bahwa aku pecicilan.


Huh dasar pria dingin, mana mungkin aku wanita yang anggun seperti ini pecicilan. Jika saja telapak tanganku tidak nyeri aku akan langsung meninjunya dan tidak akan aku lepaskan dia.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.

__ADS_1


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Satu lagi deh jangan lupa berikan poin kalian untuk ceritaku ya 😉😉


__ADS_2