
Hinoto POV
Aku akan menunggumu Lexa hingga kau bisa menerimaku dan jatuh cinta padaku. Aku tahu kau masih mencintai Mamoru, namun aku yakin kau pasti akan menjadi milikku seutuhnya.
Aku tidak menyangka Mamoru bisa bertidak bodoh seperti ini, jika saja dia bersungguh-sungguh dengan Lexa. Maka aku akan mundur demi kebahagiannya. Sesungguhnya aku sangat mayanyangi kau Mamoru, kau adalah adikku meski kita berbeda ayah.
Kulihat dia sudah keluar dari kamar mandi, aku pun memilih untuk membersihkan diri. Saat aku melewatinya. Aku berkata, "Tunggulah kita salat bersama!"
Di dalam kamar mandi aku melihat perlengkapan untukku sudah tersedia, apakah dia yang menyiapkan semua ini? Aku tersenyum lalu melanjutkan membersihkan diri. Setelah selesai aku keluar untuk melakukan salat bersamanya.
Saat aku membuka pintu kamar mandi, aku melihat Lexa sudah duduk menungguku dengan menggunakan mukena. Aku begitu tertegun melihatnya, dia terlihat cantik. Aku berjalan menghampirinya, dia sudah menyiapkan sajadah untukku. Aku pun mulai menjadi imam baginya.
Setelah salat aku pun merebahkan tubuhku di atas ranjang. Aku melihat Lexa hendak tidur di atas sofa, aku tahu dia belum bisa menerimaku seutuhnya. Aku tidak akan memaksakan kehendakku, namun aku akan membuatmu jatuh cinta secepatnya.
"Tidurlah di sini, cepat!" Aku berkata dengan dingin padanya.
Entah apa yang ada dipikirannya, kulihat dia terdiam sejenak lalu dia berjalan ke arahku. Lalu dia merebahkan tubuhnya disampingku, aku tersenyum. Aku tidak mengira dia akan menurutiku, aku pikir dia akan berargumentasi dahulu denganku.
"Istirahatlah, kau pasti lelah!" ucapku singkat.
Aku berusaha menutup kedua mataku, namun terasa sulit. Mungkin aku belum terbiasa dengan kehadirannya di sampingku. Kulihat dia di samping sudah terlelap, mungkin dia sangat lelah dengan semua yang terjadi.
Saat aku ingin bangun dari posisi tidur, tangan Lexa memelukku. Ku pandangi wajahnya dengan lekat, kau begitu cantik aku harap kau akan mengetahui siapa sebenarnya aku sayang. Aku mengurungkan rencanaku untuk bangun, aku berusaha untuk kembali tidur dengan posisi tangan Lexa di dadaku.
"Aaaaaa ... Apa yang kau lakukan Lexa? Mengapa kita berada di dalam pelukannya?" Lexa bergumam dan aku masih bisa mendengarnya, aku berpura-pura masih tertidur.
Dia berusaha melepaskan pelukanku, namun aku tidak berniat melepaskannya. Dalam benakku ingin rasanya menjahilinya, aku berpura-pura akan bangun. Dia pun langsung menutup kedua matanya, menandakan lalu dia masih tertidur.
Aku melepaskan pelukanku dari tubuhnya, lalu aku mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu aku bangun dari posisi tidurku, aku berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri.
Aku keluar kamar mandi karena rutinitas membersihkan diri sudah selesai. Aku melangkah keluar, aku baru saja berjalan dua langkah sebuah bantal melayang ke arahku. Acara refleks aku menangkap bantal itu.
"Apa yang kau lakukan? Cepat pakai pakaianmu!" teriak Lexa sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Aku tersenyum melihat sikap Lexa, aku melangkah menghampirinya timbul niat jahil yang ingin aku lakukan padanya. Karena dia sudah berani menimpukku dengan sebuah bantal.
"Apa kau tergoda padaku?" bisikku padanya.
Dia terlihat begitu terkejut dengan apa yang aku bisikkan padanya, dia berkata padaku. "Cepat pakai pakaianmu! Apa kau tidak malu hah?"
Aku terkekeh mendengar apa yang dia katakan, ternyata dia bisa bersikap semanis ini. Aku kira dia wanita yang selama ini aku lihat, wanita yang tangguh dan garang.
__ADS_1
"Hentikan tawamu!" Lexa berkata dengan kesal lalu dia membuka kedua telapak tangannya.
Kami saling menatap begitu dekat wajahku dan wajahnya, terlihat jelas wajahnya sudah memerah. Aku tersenyum, tanpa kusadari aku tergoda untuk melahap bibirnya yang terlihat manis. Dia mendorongku lalu berlari menuju kamar mandi.
Aku terkekeh melihat sikapnya yang seperti anak kecil, aku bingung mengapa dia tidak ingin melihatku. Yang ternyata aku hanya menggunakan sehelai handuk yang melilit di pinggangku.
Ponselku berbunyi, aku mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Aku melihat siapa yang menghubungiku, nomor yang tertera di layar ponselku tidak kukenal.
Aku mengangkatnya, ternyata yang menghubungiku adalah Mamoru. Dia ingin bertemu denganku di kantornya, sebenarnya aku malas jika harus menemuinya di kantor. Dia pasti akan bertindak keterlaluan, apakah dia ingin aku meninggalkannya Lexa.
Entah mengapa aku terpikirkan hal itu, karena dia sendiri yang telah mengecewakan Lexa. Dia yang sudah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan oleh Lexa.
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka, kulihat Lexa keluar dari kamar mandi dengan menggunakan sehelai handuk yang melingkar di tubuhnya. Apa dia tidak menyadari kalau aku masih ada di dalam kamar.
Saat dia tersadar aku masih ada di dalam kamar, dia terpaku wajahnya memerah. Aku tersenyum melihatnya seperti itu, dia terlihat sangat menggemaskan bagiku. Ingin rasanya aku langsung melahapnya. Namun aku urungkan semua keinginanku.
Aku berjalan keluar dari kamar, aku melihat Lexi sedang duduk di atas sofa. Dia sedang membaca beberapa dokumen, aku mendekatinya lalu duduk di sampingnya. Dia melirikku sekejap, lalu kembali membaca dokumen yang ada di tangannya.
"Semalam pasti tidak terjadi apa-apa 'kan?!" tanya Lexi padaku sembari membaca dokumennya.
Aku terdiam karena apa yang dia katakan adalah benar, dia terkekeh karena diamku. Lalu dia berkata jika aku harus bersabar menghadapi Lexa. Dia pun mengatakan jika ingin bertindak mesum padanya dan menggodanya, aku harus menjadi pria bertopeng lagi.
"Kapan kau akan mengikat Himawari?" Aku bertanya pada Lexi, aku ingin tahu bagaimana ekspresinya jika aku bertanya tentang Himawari.
Dia tersenyum lalu dia berkata, "Sebentar lagi aku akan mengikatnya, sehingga dia tidak akan bisa pergi lagi dariku!"
"Siapa yang ingin kau ikat?" Seseorang berkata dari bekangku.
Rupanya yang berkata adalah Himawari, aku terkekeh melihat wajah Himawari yang tidak suka dengan perkataan Lexi. Aku tahu dia tidak suka dengan istilah ikat, menurutnya itu terlihat seperti mengikat seekor binatang saja.
"Ayo ucapkan sekali lagi siapa yang ingin kau ikat Lexi? Jika kau mau mengikat seekor burung maka kau bisa mengikatnya!" gerutu Himawari yang terlihat kesal.
Lexi terperangah karena melihat Himawari yang sedang marah, aku yakin dia semakin terpesona dengannya. Aku berharap Himawari dapat menikah dengan Lexi, karena Lexi pria yang baik dan bisa melindungi Himawari. Karena selama ini Himawari sudah cukup menderita, aku harap Lexi bisa membuatnya bahagia.
"Ada apa ini?" Aiko bertanya karena dia baru saja tiba.
"Lexi ingin mengikat seekor burung yang ingin terbang bebas!" ucap Himawari dengan nada kesal, lalu dia duduk di seberangku yang diikuti oleh Aiko yang masih menunggu jawaban dari Lexi.
Aku terkekeh karena Lexi di serang oleh dua orang wanita sekaligus, aku ingin lihat apa yang akan dilakukan oleh pria yang duduk disampingku ini.
__ADS_1
Sebelum Lexi menjawab pertanyaan Aiko dan Himawari, tiba-tiba datang Lexa yang baru saja keluar dari kamar. Lalu dia bertanya ada apa? Sehingga membuat kedua temannya menatap Lexi dengan serius.
"Sudah cukup! Kalian bertiga tidak usah menyerangku lagi! Dan kau Hinoto berhentilah tertawa! Tidak lucu tahu!" Lexi berkata dengan kesal.
Aku semakin terkekeh dengan apa yang dilakukan Lexi, dia begitu lucu hari ini. Sehingga aku tidak bisa menahan tawaku.
"Hentikan tawamu Hinoto! Aku sedang menunggu Lexi menjawab pertanyaanku! Lagipula baru kali ini aku melihatmu tertawa lepas seperti ini!" Himawari berkata dengan kesal juga.
Ponsel ku bergetar, ada seseorang yang mengirimi pesan. Dia adalah Mamoru, dia ingin aku menemuinya sekarang.
"Aku akan pergi dulu! Jangan tunggu aku tuk makan siang!" Aku berkata pada Lexa dan semuanya, lalu beranjak dan berjalan meninggalkan mereka.
Aku memasuki mobilku, sebelum aku pergi kulihat Lexa keluar dari rumah. Dia berjalan mendekatiku, aku tidak tahu apa yang ingin dia katakan.
"Kau mau kemana?" Lexa berkata lirih.
"Ada yang harus aku kerjakan! Masuklah." Ucapku padanya lalu menyalakan mesin mobil.
Dia pun mundur beberapa langkah, setelah itu aku menjalankan mobilku secara perlahan lalu aku menambah kecepatannya sehingga melesat meninggalkan rumah.
Dalam perjalanan menuju perusahaan Mamoru, aku harus menyiapkan diri agar tidak terbawa emosi. Karena dia berbeda dengan Mamoru yang dulu. Sekarang dia menjadi orang yang pendendam, aku tidak tahu semenjak kapan dia berubah.
Tibalah aku di perusahaan Mamoru, aku memarkirkan mobilku setelah itu aku berjalan memasuki perusahaan. Aku disambut oleh seorang resepsionis dengan ramah.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang resepsionis padaku.
Aku berkata sudah membuat janji dengan Mamoru, setelah mendengar jawabanku dia langsung menghubungi seseorang. Dia menutup teleponnya lalu mengajakku untuk menemui Mamoru.
Dia menunjukan sebuah ruangan, aku bisa melihat jelas nama yang tertera di samping pintu. Ini adalah ruangan Mamoru, sekertaris itu mengetuk pintu dengan perlahan. Terdengar seruan masuk, dia membukakan pintu lalu aku masuk ke ruangan tersebut.
Aku melihat Mamoru yang sedang duduk di kursinya, dia terlihat sangat gagah dengan setelan jas yang dia gunakan.
"Aku tidak akan basa-basi lagi! Yang aku inginkan kau tinggalkan Lexa dan biarkan dia menjadi milikku! Karena Lexa lebih cocok bersanding denganku bukan kau! Kau hanyalah pria yang gagal sehingga tidak bisa mempertahankan sesuatu yang sangat penting!" Mamoru berkata dengan nada mengejek.
"Apa aku tidak salah dengar? Apa hak mu menyuruhku meninggalkan istriku? Setelah apa yang kau lakukan padanya!"
Dia terlihat sangat kesal dengan apa yang aku ucapkan, dia melangkah mendekatiku. Dia memegang kerah kemejaku lalu dia berkata, "Karena Lexa masih sangat mencintaiku! Sedangkan kau adalah orang yang baru saja dia kenal, apa kau tahu? Aku telah memiliki seluruh hati dan tubuhnya!"
Aku sungguh terkejut dengan kata-kata terkahir yang dia ucapkan tadi, namun aku berhasil menutupi semua keterkejutan yang kurasakan. Aku tersenyum padanya, dia tidak suka dengan senyumku. Dia berniat untuk memukulku, namun aku berhasil menangkisnya.
"Jika kau sudah memiliki hati dan tubuhnya! Maka aku akan merebut semua itu darimu! Aku akan menjadikan Lexa seutuhnya menjadi milikku!" Aku berkata dengan melepaskan lengannya dari kerah kemejaku. Lalu aku pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Aku bergegas meninggalkan perusahaan Mamoru yang membuatku sangat muak. Apakah yang dikatakan Mamoru benar, bahwa dia sudah memiliki tubuh Lexa?