Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 174


__ADS_3

Still Lexi POV


Pikiranku kembali pada kejadian tadi siang, yang membuatku terkejut adalah mengetahui jika Aldo selama ini tidak melupakan peristiwa sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku tidak menyangka dia begitu kuat menghadapi sangkaan Aiko dan fitnah yang dilakukan oleh Rein.


"Ada apa, sayang?" Aku mendengar Himawari bertanya padaku.


Aku memandang Himawari yang sudah duduk di sampingku, dia meletakan secangkir teh hangat untukku dibatas meja. Dia menatapku seraya bertanya ada apa?


Himawari bertanya kembali padaku mengapa aku termenung, aku mengatakan semua yang Aldo katakan. Betapa terkejutnya dia setelah mendengar semua itu. Dia tidak menyangka jika adiknya sendiri bisa berbuat seperti itu.


"Aku tidak menyangka adikku bisa berbuat sehina itu!" ucap Himawari sembari menghela napas.


"Sudahlah— tidak perlu kau risaukan yang terpenting kali ini kita tahu bagaimana Rein yang sesungguhnya!" Aku berkata pada Himawari agar dia tidak terlalu memikirkan Rein.


Setelah itu aku bertanya bagaimana keadaan anak-anak, apakah mereka sudah tidur atau masih membaca. Himawari mengatakan jika anak-anak sudah terlelap mungkin akan terbangun di pagi hari.


Aku membisikkan sesuatu padanya, "Bantu aku membersihkan diri."


Dia tersenyum, wajahnya memerah, aku pikir dia sudah tidak akan merasa malu padaku. Karena baik dia atau aku sudah melihat semuanya meski tanpa sehelai kain pun.


Tanpa mengucapakan apa-apa aku langsung menggendongnya, dia hanya tersenyum menatapku dengan lekat. Saat didalam kamar mandi akuembuka satu per satu pakaiannya begitu pula dengan dia yang membuka pakaianku.


Setelah selesai dengan rutinitas memeberiku diri aku memutuskan untuk segera beristirahat. Karena besok pagi aku ingin bermain bersama anak-anak. Dan seharian aku akan bersama mereka untuk menebus selama lima hari aku bekerja.


Keesokan harinya.


"Ayah, ayo cepat bangun! Katanya mau lari pagi bersamaku dan Zeroun."


Aku mendengar teriakan Rosalina yang menyuruhku untuk segera bangun. Aku hanya berpura-pura tertidur, dia langsung melompat ke atas tempat tidur. Kubuka mataku sedikit guna melihat apakah Zeroun ikut naik ke atas tempat tidur.

__ADS_1


"Ayah Lexi ... Cepat bangun!" teriak Zeroun yang membuat gendang telingaku sakit.


Tanpa basa-basi aku langsung menangkap Zeroun dan memeluknya agar dia bisa tidur dalam dekapanku. Dia meronta lalu memintaku untuk melepaskan dirinya. Namun, aku tidak akan melepaskannya karena dia sudah berani berteriak padaku.


Brugggg!


Rosalina langsung meniban badanku lalu dia mengatakan agar aku melepaskan Zeroun. Kalau tidak dia akan terus menyerangku, sekarang kedua bocah ini mulai bekerja sama. Aku tidak akan kalah oleh kedua bocah tengil ini.


Brett! Aku langsung menarik tubuh Rosalina sehingga kedua bocah ini berada dalam dekapanku. Mereka berdua berteriak memintaku untuk melepaskan dekapanku. Namun, aku mengatakan tidak akan melepaskannya.


"Ibu...!" teriak Rosalina dan Zeroun bersamaan memanggil Himawari.


Aku melihat Himawari mendekat, dia berniat membantu kedua bocah ini. Namun, aku melarangnya jika tidak dia pun akan ku hukum. Dia langsung terdiam dan melihat aku menggoda kedua bocah yang selalu membuatku merasa tidak kesepian. Mereka terus saja meronta dan meminta aku untuk melepaskannya, terdengar jika mereka sudah merasa kelelahan.


"Ayah Lexi hentikan, aku sudah lelah!" Zeroun berkata dengan lemah.


Mendengar perkataan Zeroun, aku langsung merenggangkan dekapan dan melihat keadaan kedua bocah ini. Mereka terlihat kelelahan, aku tersenyum melihat kedua bocah yang kelelahan ini.


"Sudah cukup menjahili anak-anak!" Himawari berkata sembari menjewer telingaku.


Dia tidak melepaskan tangannya dari telingaku dan itu terasa sakit. Akhirnya aku menarik tangannya sehingga dia terjerembab kedalam pelukanku. Aku membisikkan padanya akan menghukumnya.


"Serang!" teriak Zeroun dan Rosalina.


Mereka menyerangku karena aku mendekap Himawari, aku berusaha bertahan dari serangan mereka. Setelah lelah dengan pergulatan kami, akhirnya kami semua tertawa dan terlentang di atas tempat tidur. Terlihat semuanya sangat lelah.


Setelah itu Himawari berdiri dan berjalan keluar kamar, mungkin dia akan menyiapkan sarapan di gazebo. Karena aku berpesan padanya untuk menyiapkan sarana di gazebo untuk pagi ini.


"Apakah kalian sudah siap?" tanyaku pada anak-anak.

__ADS_1


Mereka mengangguk lalu kami berjalan meninggalkan kamar menuju taman belakang. Mereka terlihat sangat senang, aku hanya bisa melihat mereka berlari menuju taman. Namun, aku merasa khawatir jika mereka berlarian menuruni anak tangga.


"Jangan berlarian di tangga!" teriakku pada mereka berdua.


Setelah mendengar teriakanku mereka berjalan perlahan menuruni anak tangga. Dan aku berjalan lebih cepat guna mengejar mereka berdua, kulihat Aldo sedang berjalan menuju ke arah anak-anak. Rupanya dia baru saja tiba di rumah.


"Paman Aldo, ayo ikut kami!" ucap Rosalina sembari menarik tangan Aldo begitu juga dengan Zeroun.


Aldo menatapku sejenak seraya mengatakan apakah dia boleh pergi bersama anak-anak. Aku mengangguk dengan arti mengizinkan dia pergi bersama anak-anak.


Mereka pun berjalan dengan cepat menuju gazebo, aku mengikuti mereka dari belakang. Melihat Aldo yang tersenyum jika bersama anak-anak membuatku merasa senang. Aku berharap Aldo akan menemukan kebahagiaannya.


"Sayang, anak-anak dimana?" tanya Himawari yang berjalan mendekatiku.


"Mereka berdua bersama Aldo menuju gazebo!" jawabku dengan senyum manis padanya.


Aku pun mengajak Himawari setelah mengatakan itu untuk menuju gazebo. Terlihat anak-anak sedang berlarian mengejar Aldo yang sedang membawa sesuatu di tangannya.


"Aldo terlihat bahagia, aku harap Rein tidak kembali ke Jepang!" Himawari berkata dengan nada sedih.


Aku tahu jika dia merasa bersalah pada Aldo tentang perlakuan Rein yang buruk. Namun, dia juga tidak bisa membuang begitu saja adik kandungnya. Apa lagi sekarang ibunya sudah tiada beberapa tahun yang lalu.


Sehingga yang dimiliki oleh Rein hanya Himawari seorang tetapi aku merasa sedih jika dia terus berpikiran bahwa dia bersalah pada Aldo. Sekarang yang bisa aku lakukan hanya memberinya kekuatan agar bisa menghadapi semuanya.


Aku dan Himawari duduk di dalam gazebo sembari melihat anak-anak yang sedang bermain bersama Aldo. Semuanya terasa hangat bukan karena cahaya matahari di pagi hari melainkan melihat kebahagian anak-anak.


"Aku sudah lelah!" Zeroun berkata semabri berlari menuju ke arahku dan bertanya pada Himawari minuman untuknya yang mana.


Himawari memberikan segelas jus jeruk pada Zeroun, terlihat bocah ini sangat kehausan sehingga dia meminum habis yang ada di dalam gelas. Jika melihat dia aku jadi merindukan Lexa, sudah beberapa hari ini dia belum kembali juga. Mungkin Hinoto masih belum menyelesaikan pekerjaannya.

__ADS_1


"Kau rindu pada Lexa?" tanya Himawari padaku.


Aku tersenyum karena dia benar-benar tahu apa yang sedang aku pikirkan. Aku bersyukur menemukan dia dan menjadikannya milikku untuk selama-lamanya. Dan juga dia tidak merasa cemburu jika aku merindukan saudariku sendiri.


__ADS_2