
Lexa POV
Melihat kedua anak ini membuatku merasa lebih khawatir, aku pikir semua ketegangan dalam keluarga kami akan berakhir. Namun, pikirku salah karena ini semua masih berlanjut. Sungguh aku tidak ingin melihat anakku menderita akibat kehilangan orang yang dicintai.
"Sayang, bagaimana keadaan anak-anak?!" bisik Hinoto padaku.
"Mereka baru tertidur," jawabku.
Aku kembali diam dan menatap kedua anak yang ada di depanku, mereka masih terlihat bersih belom banyak kesedihan dan penderitaan. Sehingga aku tidak ingin mereka menjadi seperti aku atau Lexi yang diburu oleh dendam terhadap pembunuh bunda.
Hinoto memelukku dari belakang, aku memegang kedua tangan yang melingkar di tubuhku. Namun, aku teringat kembali cerita Hinoto tentang niat Rosetta pada kami. Apakah semuanya sudah dimulai, selama lima tahun ini aku sudah merasakan ketenangan dan kebahagiaan.
Namun, mengapa hanya bertahan sesaat? Mengapa wanita itu tidak bisa melanjutkan hidupnya dengan baik dan melupakan masa lalunya. Akan tetapi, aku tidak akan memberikan apa yang dia inginkan! Ini adalah hidupku dan aku akan mempertahankan semua yang sudah menjadi milikku.
"Apa kau memikirkan wanita itu? Kau tidak perlu cemas, aku akan selalu melindungi keluarga kita! Bagiku yang paling penting dan cintai adalah istriku dan Zeroun." Hinoto berbisik padaku.
Aku sangat lega mendengar apa yang dibisikkan oleh Hinoto, sehingga aku tidak merasa sendirian. Sekali lagi berharap agar tidak akan kembali ke masa dimana aku harus berurusan dengan senjata dan perkelahian yang akan mengakibatkan luka serta kematian.
Hinoto mengajakku untuk beristirahat dan membiarkan anak-anak untuk tidur nyenyak. Kami pun berjalan keluar dari kamar secara perlahan agar tidak membangunkan mereka.
Aku melihat Aldo yang baru saja keluar dari ruang baca Lexi, dia menghampiriku lalu menyapa. Dia bertanya bagaimana dengan anak-anak, lalu kujawab mereka sedang tidur karena lelah.
Setelah mendengar jawabanku, dia meminta izin untuk melihat anak-anak. Aku mengangguk dengan artian menyetujui apa yang dia minta, sebenarnya aku ingin bertanya bagaimana keadaannya. Karena dia terlihat sangat berbeda dengan Aldo yang aku kenal dulu.
Namun, aku urungkan lebih baik membiarkannya saja dahulu. Jika dirasa dia sudah membuat dirinya sakit dan menderita baru aku akan bicara padanya. Saat ini yang harus aku pikirkan adalah menghentikan tindakan buruk Rosetta yang mengincar kebahagiaan keluargaku.
Hinoto mengatakan padaku akan kembali ke kamar, sedangkan aku memutuskan untuk mencari Lexi. Aku berjalan menuju kamarnya dan mengetuk pintu kamarnya. Dan Himawari yang membuka pintu kamar, aku bertanya apakah Lexi ada di dalam kamar. Himawari berkata jika Lexi sedang berada di ruang baca.
Aku bergegas menuju ruang baca, kubuka pintu ruang baca terlihat Lexi masih duduk. Kakiku melangkah masuk ke ruang baca dan duduk di hadapannya tetapi dia tidak menyadari kehadiranku. Terlihat jelas tubuhnya ada di sini tetapi pikirannya melayang entah kemana.
"Apa yang kau pikirkan?!" tanyaku.
Dia masih diam, mungkin dia tidak mendengar apa yang aku tanyakan. Muncul niat menjaili Lexi, aku mengambil buku yang ada di atas meja lalu aku menjatuhkannya di atas meja.
Brukkk!
Dia terkejut lalu menatapku dengan sorot mata yang kesal, "Astaga Lexa! Kau membuatku terkejut— bagaimana jika aku mati karena serangan jantung hah?!" pekiknya padaku.
Aku terkekeh mendengar Lexi berkata seperti itu tetapi aku mengontrol tawaku. Dan kembali fokus dengan apa yang akan aku bahas dengan Lexi.
"Menurutmu bagaimana?!" tanyaku padanya.
Dia kembali terdiam, lalu dia mengatakan akan memperketat penjagaan terhadap anak-anak. Karena dia takut jika anak-anak yang menjadi target Rosetta kali ini.
Benar yang dikatakan oleh Lexi, sekarang adalah melindungi anak-anak agar Rosetta tidak menjadikan mereka titik kelemahan kami. Kami pun membicarakan semua hal-hal yang harus dilakukan. Mungkin sekarang harus membagi tugas. Aku meminta Lexi mengatakan pada Himawari untuk semakin waspada dalam menjaga anak-anak. Karena selama ini Himawari yang menjaga anak-anak.
Selagi membicarakan itu semua, terdengar suara ketukan pintu. Seorang pelayan mengatakan jika sudah saatnya makan malam. Setelah mengatakan itu pelayan pun pergi guna mengerjakan kembali pekerjaan yang belum terselesaikan.
Aaaaaaaaa...
Terdengar teriakan Rosalina, berlari menuju kamar anak-anak begitu pula dengan Lexi. Saat kami tiba terlihat Rosalina sedang menangis dan Zeroun memeluknya seraya ingin menenangkan Rosalina.
"Ada apa, sayang?! tanya Lexi dengan lembut pada Rosalina.
Rosalina melihat ke arah Lexi lalu dia melepaskan pelukannya dari Zeroun. Dia memeluk Lexi sembari menangis, dia mengatakan jika penjahat akan kembali mengejarnya. Rosalina terus saja histeris, tidak berapa lama Himawari dan Hinoto tiba karena mendengar teriakannya Rosalina.
Himawari bertanya ada apa, baik aku atau Lexi tidak bisa berkata apa-apa. Dia langsung mendekati Rosalina yang sedang di peluk Lexi, lalu dia bertanya dengan lembut pada putrinya.
"Ibu, apakah mereka masih mengejar kita?"
"Tidak sayang, mereka tidak akan mengejar kita lagi! Sekarang kau sudah bisa tenang ada Ayah dan Ibu di sini, coba lihat selain itu ada pula Bunda serta Ayah Hinoto." Himawari menjawab dengan lembut sehingga membuat Rosalina merasa tenang.
__ADS_1
"Ada aku juga, jadi kau tenang saja Rosalina— aku akan melindungimu kali ini!" timpal Zeroun.
Aku merasa senang dengan Zeroun, dia sudah terlihat tangguh kali ini. Namun, aku masih tetap khawatir padanya, setelah mendengar dari Lexi jika dia juga merasa ketakutan sewaktu penyerangan itu.
"Sayang, apa kau tidak mau dipeluk Bunda?!" Aku berkata pada Zeroun sembari tersenyum.
Dia melihat ke arahku lalu tersenyum dan langsung loncat memelukku. Aku sangat menyayangimu Zeroun, tidak akan aku biarkan kau menderita dan sedih karena perbuatan musuh-musuh ayah dan bunda.
Hinoto memeluk kami berdua, ini terasa hangat bagiku sehingga aku merasa tenang jika dia memelukku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka berdua. Karena mereka berdua sangatlah penting bagiku.
"Tenanglah sayang, aku akan melindungi kalian!" bisiknya padaku.
Setelah semuanya merasa tenang, aku mengajak mereka semua untuk makan malam. Karena sudah hampir lewat jam makan malamnya, mereka pun mengangguk lalu berjalan menuju meja makan.
Kami pun menyantap makan malam yang sudah tertata rapi di atas meja makan. Terlihat Zeroun dan Rosalina menyantap makanan dengan lahap. Aku senang jika mereka seperti ini, aku harap mereka berdua tidak akan mengalami hal seperti hari ini.
Setelah makan malam selesai, aku mengajak Zeroun untuk membersihkan diri. Seperti biasa dia selalu ingin berendam sembari bermain air dan aku selalu menemani dia bermain.
Saat aku sedang asik bermain air dengan Zeroun tiba-tiba Hinoto masuk kedalam kamar mandi. Dia pun ikut bermain bersamaku, Zeroun mulai bertingkah.
Praatt!
Zeroun memukul air di dalam bathtub sehingga cipratan air membasahi pakaianku dan Hinoto. Akhirnya Hinoto membalas kenakalan Zeroun, terjadilah main air yang membuat tubuh Hinoto basah kuyup.
"Sudah hentikan— sudah terlalu lama kau bermain air!" Aku berkata pada Zeroun.
Setelah membersihkan tubuh Zeroun, aku mengeringkan tubuhnya lalu memakaikan pakaian tidur. Aku bertanya padanya apakah akan tidur bersamaku atau tidur di kamarnya sendiri.
"Aku akan tidur di kamarku sendiri Bunda! Karena aku sudah besar dan harus berani, jika aku penakut maka aku tidak bisa melindungi Rosalina!" ucap Zeroun padaku dengan penuh percaya diri.
Mendengar ucapan Zeroun membuatku senang, akhirnya anak ini sudah berani untuk tidur di kamarnya sendiri. Biasanya dia tidak mau dan selalu merengek ingin tidur bersamaku dan Hinoto.
Aku mengantar Zeroun ke kamarnya terlebih dahulu, saat aku ingin menemaninya tidur. Dia mengatakan aku tidak perlu menemaninya dan menyuruhku untuk kembali ke kamar karena pakaianku masih basah akibat percikan air yang mengenai tubuhku saat dia dan Hinoto bermain air.
Zeroun benar-benar sudah berubah, dia menjadi anak pemberani. Aku tersenyum lalu mengecup keningnya dengan lembut, menyelimutinya lalu mendengarkan dia berdoa sebelum tidur. Setelah itu aku mematikan lampu kamar sehingga yang menyala adalah lampu di atas nakas.
Aku berjalan keluar dari kamar Zeroun, lalu menutup pintu kamar dengan pelan. Menunggu sesaat di balik pintu, guna mengecek apakah dia tidak akan berlari keluar dari kamar dan meminta untuk tidur bersamaku.
"Dia sudah tidur! Lebih baik aku membersihkan diri sebelum istirahat!" gumamku sembari berjalan menuju kamar.
Aku berjalan menuju kamar, saat tiba di dalam kamar aku tidak melihat Hinoto. Mungkin dia berada di luar atau sedang bicara dengan Lexi. Sudahlah lebih baik aku membersihkan diri setelah itu beristirahat.
Saat membuka pintu kamar mandi aku terkejut melihat Hinoto yang masih berada di dalam kamar mandi. Aku pikir dia sudah selesai membersihkan dirinya. Rupanya dia sedang berendam dalam bathtub, aku mendekatinya secara perlahan. Niat hati ingin menggodanya.
Brettt!
Hinoto menarik tanganku sehingga aku terjerembab masuk ke dalam bathtub. Seluruh tubuhku basah, dia menatapku dengan lembut tetapi aku tahu dia berpikir mesum saat ini.
"Aku tahu niatmu, sayang!" lirihnya padaku.
Apakah dia tahu niat nakalku, sehingga dia begitu waspada terhadapku. Aku tersenyum melihatnya berhasil mengetahui lebih awal niat nakal yang akan aku lakukan padanya.
Dia menatapku kembali lalu menarik tengkuk leher dan mengecup bibir dengan lembut. Permainannya semakin handal sehingga aku terbuai dengan permainannya. Dan aku pun mulai mengikuti semua permainannya.
Tangannya mulai menyentuh bagian tubuhku lalu melepaskan satu per satu kancing kemejaku. Setelah selesai membuka pakaianku, dia menghempasaknnya begitu saja.
Hinoto menghentikan permainannya lalu melihatku dari kepala hingga menuju celana yang masih aku kenakan. Aku tahu apa yang dimaksud dari tatapannya.
Aku berdiri lalu tangannya membantuku melepaskan celana yang masih menempel. Sembari tersenyum mesum dia kembali menarik tanganku sehingga aku terduduk di hadapannya di dalam bathtub.
"Bagaimana jika Zeroun mengetuk pintu?" lirihku.
__ADS_1
Dia tidak menjawab pertanyaanku lalu dia kembali menyerangku dengan lembutnya. Kecupan demi kecupan lembut darinya membuatku merasakan kebahagiaan layaknya seorang wanita. Dia terus saja bermain dengan kecupannya dan tangannya pun tidak ingin ketinggalan dalam permainannya.
***
Keesokan harinya.
Aku bangun lebih awal lalu bersiap untuk menuju ke perusahaan karena aku sudah meninggalkan pekerjaan selama di Indonesia. Dan aku tidak enak jika Aiko harus mengerjakan semuanya.
"Sayang, sepagi ini kau sudah bersiap?" tanya Hinoto padaku yang masih bersantai di atas tempat tidur.
Aku berjalan perlahan menuju tempat tidur lalu duduk di sampingnya. Mengecup keningnya dengan lembut tetapi dia meminta lebih dan mengecup bibirku dengan lembut semabri memegang tengkuk leherku agar aku tidak bisa lepas darinya.
Tok! Tok! terdengar suara pintu kamar kamar di ketuk tetapi Hinoto masih tidak mau melepaskan permainannya. Lalu terdengar Zeroun memanggil namaku.
"Bunda— ini aku Zeroun! Cepat buka pintunya! Ayah aku tahu pasti menahan Bunda, 'kan?!" teriak Zeroun sembari mengetuk pintu kamar.
Hinoto menghentikan permainannya, dia terlihat kesal sepertinya dia kesal terhadap perkataan Zeroun. Dia berkata, "Cepat buka pintunya, jika tidak dia akan membuat rusuh seluruh rumah!"
Aku tersenyum mendengar perkataan Hinoto, sembari berjalan menuju pintu kamar dan membukanya. Tanpa berkata-kata Zeroun masuk kedalam kamar, dia berjalan menghampiri Hinoto. Apakah kali ini mereka akan berdebat kembali.
"Ayah— apa yang sudah Ayah lakukan pada Bunda?!" Zeroun bertanya pada Hinoto dengan nada menyelidiki.
Hinoto hanya diam dia berpura-pura bersikap dingin pada putranya sendiri. Zeroun terlihat kesal karena ayahnya tidak menanggapi pertanyaannya . Dia loncat ke atas tempat tidur lalu duduk di atas perut Hinoto sehingga Hinoto terhenyak.
"Jujur padaku! Apa yang sudah Ayah lakukan pada Bunda?!" Zeroun bertanya kembali.
"Itu bukan urusan kau bocah!" jawab Hinoto dengan dingin.
Zeroun tidak puas dengan jawaban Hinoto kalau dia mulai berulah, dia hendak berloncat-loncatan dibatas tempat tidur. Dan itu yang paling tidak disukai oleh Hinoto.
Anakku mulai mengancam Hinoto, akhirnya ancamannya berhasil. Namun, Hinoto menarik lengan Zeroun dan mendekapnya dengan erat lalu terdengar ucapan Hinoto pada Zeroun jika dia akan memberikan seorang adik padanya jika tidak terus-menerus mengganggunya bersamaku.
Aku terkekeh saat mendengar Hinoto berkata seperti itu pada Zeroun, dari pada melihat mereka berdebat lagi. Lebih baik aku pergi ke perusahaan.
"Sayang dengarkan Bunda ya— karena Bunda akan pergi lebih awal, kau harus menuruti apa perintahku Ayah!" ucapku pada Zeroun.
"Siap Bunda sayang!" ucap Zeroun dan Hinoto yang ikut menjawab karena Hinoto tahu betul apa yang akan menjadi jawaban Zeroun.
Saat aku hendak mengecup kening Zeroun, bibirku menyentuh bibir Hinoto. Aku terkejut karena dia sudah berlaku nakal di hadapan putrinya sendiri.
"Ayah..., Kenapa Ayah curang? Mengambil kecupan Bunda dariku?!" teriak Zeroun.
Hinoto tidak peduli dengan teriakan Zeroun, dia malah tersenyum puas karena sudah berhasil merebut kecupanku untuk Zeroun. Mereka kembali berdebat dan membuatku pusing.
Aku mengecup kening Zeroun dengan lembut, terlihat Hinoto ingin juga mendapatkan kecupan dariku. Aku menghiraukannya karena dia sudah banyak menerima kecupan dariku.
"Kau curang, sayang? Masa Zeroun saja yang mendapatkan kecupan hangat di pagi hari!" Hinoto berkata dengan nada pura-pura marah.
Aku tersenyum lalu mendekatkan bibirku pada telinganya lalu berkata jika dia sudah banyak mengambil kecupan dariku semalam. Setelah mengatakan itu aku hendak menarik bibirku tetapi dia menarik tengkuk leherku dan berkata jika nanti malam akan menagih semua kecupan yang tidak diberikan di pagi hari.
____________________________________________
Sampai jumpa di bab berikutnya...
Jangan lupa beri like, komen yang membangun, vote atau koin boleh lah 😉
jangan lupa jadikan favorit juga ya
Macan promosi ahh jangan lupa baca "Isi Hati Yuki" sequel dari Lili &Arata
Duh macan banyak maunya ya hahaha... Jangan lupa follow juga Instagram ya @macan_nurul
__ADS_1