
Still Lexa POV
Hari ini aku mulai masuk kantor lagi, kulihat begitu banyak pekerjaan yang harus kesekeliling. Aku pikir Lexi akan membantuku, ternyata dia hanya membatu setengahnya saja. Entah apa yang sedang dia kerjakan, dia begitu serius bersama Aldo.
"Kita lihat saja nanti, kalau mereka tidak memberitahukannya padaku! Mereka habis!" gumamku.
Terdengar suara ketukan pintu, aku pun menyuruhnya masuk. Aiko pun masuk, dia menyerahkan kembali dokumen yang harus ku tandatangani. Setelah itu dia memberitahukan bahwa malam ini ada undangan pesta di perusahaan JPn .
Pesta itu di adakan di kediaman pemilik perusahaan JPn, sehingga aku harus menghadirinya. Aku lihat undangan ada dua, yang pertama di tujukan padaku, lalu yang satunya lagi untuk Lexi.
Aku bertanya pada Aiko mengapa kita mendapatkan 2 undangan sekaligus, padahal kita hanya membutuhkan satu saja. Baik aku atau Lexi sama saja. Aiko pun tidak tahu dengan alasannya mengapa mendapatkan 2 undangan.
Entah mengapa aku mempunyai pirasat yang tidak enak, apakah ini sebuah jebakan atau bukan. Aku pun menyuruh Aiko untuk mencari tahu siapa sebenarnya pemilik perusahaan JPn itu.
Aiko pun mengangguk lalu pergi untuk memeriksa yang aku perintahkan. Aku menghubungi Lexi, kukatakan padanya nanti malam ada undangan untuk menghadiri pesta.
Sebenarnya dia tidak mau menghadirinya, namun kukatakan bahwa ada 2 undangan, pertama untukku yang kedua untuknya. Aku katakan ini begitu aneh, Lexi pun berpikir sejenak. Lalu dia akan mencari tahu semuanya, Lexi pun menutup sambungan teleponnya.
Aku kembali dengan pekerjaanku, tapi pikiranku tidak tenang. Aku merasa ada yang mengganjal. Entah apa itu, sehingga membuat pikiran ku teralihkan. Beberapa saat kemudian ayah meneleponku, ayah menanyakan tentang kabarku.
Aku mengatakan bahwa aku baik-baik saja, lalu aku bertanya tentang kesehatan ayah. Karena aku mendengar dari Aldo bahwa kondisi kesehatan ayah tidak terlalu baik. Aku berharap ayah dalam keadaan sehat-sehat saja.
Ayah mengatakan agar aku berhati-hati dalam segala tindakan, jangan sampai melukai diri sendiri atau Lexi. Ayah mengatakan bahwa kami harus saling membantu dan melindungi.
Entah mengapa ayah berkata seperti bunda, sebenarnya ini pirasat apa. Sungguh aku tidak ingin sesuatu hal buruk terjadi pada keluargaku lagi. Aku belum siap kehilangan lagi. Tidak terasa aku pun menitikan air mata, setiap mendengar apa yang ayah katakan.
Ayah pun memutuskan sambungan teleponnya, aku terdiam sesaat sembari memikirkan apa yang akan terjadi sebenarnya. Sungguh aku merasakan akan terjadi hal-hal yang menyedihkan.
"Tidak Lexa, hilangkan pikiran negatif dari otakmu! Semua akan berjalan dengan baik! Tidak akan ada yang pergi meninggalkanmu!" gumamku.
Aku pun kembali membaca dokumen yang harus ku tandatangani, kulihat waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Aku menyuruh Aiko untuk memesankan makanan, saat ini aku sedang malas untuk pergi keluar.
Aiko pun memesankan makanan, tidak begitu lama pesananku tiba. Aku menyuruh Aiko untuk makan siang bersamaku. Sebelum menyantap makan siangku, Aiko memberikan sebuah dokumen disana berisikan semua data mengenai pemilik perusahaan JPn.
Aku simpan dahulu dokumen itu, lebih baik aku menyantap makan siangku dahulu. Karena aku membutuhkan banyak energi saat ini, aku tidak boleh sakit. Karena sebentar lagi misi kami akan segera dimulai.
Yang ku khawatirkan saat ini adalah Lexi, dia sudah memulai meretas salah satu perusahaan Rey Hirasaki. Aku harap dia bisa mengatasi semuanya dengan baik, serta dia bisa merahasiakan jati dirinya.
__ADS_1
Setelah selesai menyantap makan siangku, aku membaca dokumen yang Aiko berikan mengenai pemilik perusahaan JPn. Aku sungguh terkejut, ternyata pemilik dari perusahaan itu adalah Rey Hirasaki. Jadi dia mengundang kami berdua, serasa ada penekanan pada ku dan Lexi.
Apakah dia sudah mengetahui jati diri kami berdua? Apakah ini sudah saatnya kami berhadapan langsung dengannya. Begitu banyak pertanyaan yang ada dalam pikiranku.
Lebih baik malam ini aku pergi bersama Aldo, sedangkan Lexi bersama Aiko. Apakah rencanaku sudah tepat? Aku pikir jika kami berempat bersama, kita bisa saling melindungi satu sama lain.
Aku pun meminta Aiko untuk bersiap nanti malam untuk menemani Lexi ke pesta. Aiko pun menyanggupinya, setelah itu aku menghubungi Lexi untuk mengatakan bahwa pasangannya malam ini adalah Aiko. Aku menyuruh Lexi mengatakan pada Aldo untuk bersiap karena dia yang akan menjadi pasanganku.
Lexi menyetujui apa yang sudah kuputuskan, aku mengatakan padanya bahwa yang mengundang kita adalah Rey Hirasaki. Lexi menanggapinya dengan biasa karena dia sudah mengetahuinya. Dia sudah menyiapkan beberapa alat pendukung untuk kepergian kita ke pesta nanti malam.
Lexi pun sudah menyiapkan gaun untukku dan Aiko, jadi aku serta Aiko hanya pulang ke rumah lalu bersiap. Sungguh adik yang sangat perhatian sekalian dia, sebenarnya aku sudah sering menyuruhnya membeli gaun untuk. Sehingga dia tahu gaun seperti apa yang kusukai, begitu pun dengan gaun apa yang disukai Aiko.
Bagi Lexi Aiko sesudah seperti kakaknya sendiri, sehingga dia sudah tahu apa yang disukai dan tidak disukai Aiko. Pekerjaan ku hari ini sudah beres, kulihat jam dipergelangan tanganku sudah waktunya aku pulang.
Aku pun keluar dari ruanganku, kulihat Aiko sudah menungguku di luar. Aku pun mengajarkan Aiko untuk segera pergi, dia punengikutiku dari belakang. Aku menaiki mobilku, aku menyuruh Aiko ikut bersama ku ke rumah untuk persiapan nanti malam.
Saat aku tiba di rumah, kulihat Lexi sudah siap dengan setelan jas pestanya. Lalu Aldo pun turun dia pun sudah siap. Sekarang giliran aku untuk bersiap, Lexi mengatakan bahwa gaunku sudah disiapkan. Aku mengajak Aiko ke kamarku untuk bersiap.
Aku memutuskan untuk membersihkan diriku terlebih dahulu, setelah aku selesai aku Aiko pun membersihkan dirinya. Aku melihat ada 2 gaun yang sudah tertata rapi. Kulihat sudah ada nama yang tertera, aku terkekeh melihat semua ini. Ternyata Lexi begitu telaten dalam menyiapkan gaun kami.
Kenakan gaun bewarna merah cerah, semua aksesoris pun sudah disediakan oleh Lexi. Semuanya senada dengan gaunku sehingga terlihat cantik, tidak kusangka dia begitu manis.
Aksesoris pelengkap ada juga berupa senjata rahasia, dia mempersiapkan dengan rapi. Jadi lebih baik kita menggunakan apa yang sudah dipersiapkan oleh Lexi. Acara berhias kami terbilang sebentar, namun bagi para pria yang menunggu di bawah serasa sudah lumutan.
"Lexa sampai kapan kau akan berhias hah?!"
Teriak Lexi yang menandakan dia sudah kesal karena menunggu aku berhias. Aiko terkekeh mendengar suara kesal Lexi, aku pun segera keluar dari kamar diikuti oleh Aiko.
Lexi melihat semua dari atas sampai bawah, dia tersenyum melihat aku dan Aiko. Dia pun memberikan sebuah earpiece padaku dan Aiko. Aku pun memakai earpiece tersebut.
"Ayo kita pergi?!"
Aku pergi bersama Aldo, Lexi bersama Aiko. Kami menggunakan 2 buah mobil, agar memudahkan kami untuk bertidak. Sebenarnya lebih baik menggunakan satu buah mobil saja. Namun entah apa rencana Lexi, dia memutuskan untuk menggunakan dua mobil.
Pirasat burukku kembali, entah apa yang akan terjadi di rumah Rey Hirasaki. Apakah aku akan menemukan sebuah informasi yang penting tentangnya? Atau aku akan menemukan alasan dia sangat membenci ayah dan bunda.
***
__ADS_1
Kulihat penjagaan di rumah ini begitu ketat, aku memandang Aldo sejenak. Dia tersenyum dengar arti bahwa aku tidak usah khawatir. Aku menarik napas agar aura ketenangan yang muncul.
Aldo keluar terlebih dahulu, lalu dia membukakan pintu mobil. Dia mengulurkan tangannya, seraya membatuku untuk berdiri. Dia menggandengku untuk masuk kedalam pesta. Disana penjagaan sangat ketat, kami diperiksa secara teliti.
Semua alat pemeriksaan begitu canggih, namun alat yang dibuat Lexi tidak kalah canggihnya. Aku berlabel masuk dengan mudah, kulihat Aldo pun sudah bisa masuk lalu dia menghampiriku.
Aku menunggu Lexi serta Aiko, kulihat mereka baru saja tiba. Mereka melewati penjagaan dengan mulus. Semua alat tempur tidak terdeteksi oleh alat pengaman mereka.
Akhirnya aku memutuskan untuk masuk, Lexi pun berada di belakangku. Kulihat sudah banyak tamu undangan yang sudah hadir. Seorang pria menghampiriku, dia adalah Alan. Dia menyambutku dengan senyum lembutnya, namun anehnya aku tidak suka akan hal itu.
"Apa kabarmu Nona Alexa?!"
Aku terkejut dengan suara yang menyapaku, dia adalah Rey Hirasaki. Dia tersenyum namun mengandung arti yang membuatku merasakan merinding. Aku berusaha bersikap tenang, aku tersenyum lalu menjawabnya dengan datar.
Lexi pun mendekatiku, Rey Hirasaki mulai mengamati kami berdua. Mungkin dia sudah menyadari siapa kami. Namun sikap Lexi menandakan sebuah tantangan pada Rey Hirasaki. Aku khawatir Lexi tidak bisa menahan emosinya, aku mengedipkan mata pada Aiko.
Aiko pun menyadari akan kode yang kuberikan, dia segera menyapa tuan Rey Hirasaki. Lalu mengajak Lexi untuk mengambil minuman dan camilan, awalnya Lexi tidak mau. Namun Aiko punya trik agar Lexi mau mengikuti apa mau Aiko.
Aiko mulai berbisik pada Lexi, setelah mendengar apa yang dibisikkan Aiko. Lexi pun mengikuti Aiko pergi meninggalkanku. Aku bersyukur dengan adanya Aiko, sehingga dia bisa membuat Lexi sedikit tenang.
"Bagaimana kabar Ayahmu Nona Alexa?!"
Sungguh aku begitu terkejut dengan apa yang baru saja aku dengar, dia menanyakan kabar ayah. Apakah dia sudah tahu tentangku dan Lexi, aku sedikit terdiam. Aldo menggenggam tanganku memberikan kekuatan padaku untuk menjawab pertanyaan Rey Hirasaki.
"Ayahku baik-baik saja Tuan!"
Aku menjawabnya dengan singkat, diapun tersenyum sinis. Tatapannya sangat berbeda dengan awal pertama kali kami bertemu. Lalu dia pergi meninggalkanku, namun kenapa masih ada hawa yang begitu membuatku takut.
____________________________________________
Apakah Rey Hirasaki sudah mengetahui jati diri Alexa dan Alexi?
____________________________________________
Jangan lupa juga baca kisah Lili dan Arata di novel "Musuhku Menjadi Imamku"
____________________________________________
__ADS_1
Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉
selamat membaca c u next bab 😘