
Lexa POV
Aku memandangi sebuah foto dari layar ponsel, terlihat seorang bocah laki-laki yang begitu aku rindukan. Hati ini tenang hanya dengan melihat senyumnya yang tulus, tidak ada kebohongan di dalamnya.
"Kau merindukannya?" Hinoto bertanya padaku sembari duduk di samping.
"Iya," jawabku singkat lalu kembali melihat foto Zeroun.
Hinoto memelukku dengan lembut lalu dia mengatakan jika semuanya sudah selesai, bisa kembali ke Tokyo. Dia bertanya padaku apa yang ingin dilakukan hari ini. Karena dia ingin memberikan satu hari ini untukku dan besok dia akan kembali mengurus semua pekerjaannya.
Aku teringat akan sebuah alamat yang diberikan oleh sopir taxi itu dan aku ingin mengunjungi tepat di mana anak-anak yang membutuhkan bantuan. Mungkin jika benar adanya aku bisa membantu mereka.
"Sayang, aku ingin ke suatu tempat!" ucapku pada Hinoto lalu aku menunjukkan sebuah alamat padanya.
"Baiklah— bersiap, kita pergi sekarang.
Setelah bersiap aku langsung pergi bersama Hinoto menuju alamat yang ingin aku kunjungi. Dalam perjalanan Hinoto hanya diam, aku merasa ada sesuatu yang sedang dia pikirkan tetapi aku tidak tahu apa itu.
"Sayang, apa yang sedang kau pikirkan?" Aku bertanya pada Hinoto dengan lembut agar dia tidak merasa jika aku terlalu memaksanya untuk bercerita.
Dia tersenyum lalu mengatakan jika semuanya baik-baik saja, entah mengapa aku merasa dia tidak mengatakan yang sebenarnya. Mungkin aku kan bertanya nanti jika semua urusanku kali ini selesai.
Tibalah kami di tempat yang dituju, sebuah alamat yang diberikan oleh sopir taxi malam itu. Aku tidak menyangka ada bangunan seperti ini di tengah kota. Saat aku berjalan memasuki bangunan itu, terdengar suara celoteh anak-anak dari dalam bangunan itu.
"Sayang, apa kau yakin dengan semua ini?" Hinoto bertaya padaku untuk meyakinkan diriku.
__ADS_1
Aku mengangguk lalu memberanikan diri untuk mengetuk pintu, saat aku sudah mengetuk pintu. Aku mendengar suara seseorang yang sedang membuka pintu.
Saat pintu terbuka terlihat seorang gadis kecil dengan senyum yang begitu manis. Dia bertanya apakah yang aku perlukan dan ingin bertemu dengan siapa. Mendengar itu aku mengatakan ingin bertemu dengan kakaknya.
Gadis kecil itu menyuruhku masuk dan dia mengatakan padaku untuk menunggu sebentar karena dia akan memanggil kakaknya. Saat gadis kecil itu pergi, aku melihat seluruh ruangan tidak beraturan. Banyak anak-anak yang bermain dengan mainan seadanya.
Keadaan di sini begitu sangat tidak mendukung untuk membesarkan anak-anak. Apakah ini nyata? Mengapa jika melihat seperti ini aku teringat dengan yayasan di Indonesia yang bunda dirikan.
Saat melihat mereka bermain, tidak terasa air mataku menetes membasahi kedua pipi. Aku tidak tega melihat mereka seperti ini, jika bunda melihat ini pasti akan memberikan kehidupan yang layak bagi mereka semua.
"Sayang," Hinoto menyadarkan diriku.
Dia memegang tanganku seraya ingin memberikan kekuatan padaku, dia tahu apa yang aku pikirkan. Dia mengatakan jika aku menginginkan sesuatu maka pintalah, maka dia akan berusaha untuk memenuhinya.
"Kau datang, Nona." Terdengar suara seorang pria dari belakangku.
Dia membungkuk menandakan hormat lalu memperkenalakn dirinya, namanya adalah Kotaro. Setelah memperkenalkan dirinya dia mengajakku ke suatu tempat. Aku dan Hinoto mengikutinya dari belakang.
Kotaro berhenti di sebuah ruangan yang tertutup lalu dia membuka pintu itu. Dia menyuruhku aku untuk masuk ke ruangan itu, sungguh terkejutnya diriku saat melihat apa yang terjadi di dalam sana.
Di dalam ada dua bayi yang sedang terlelap, aku semakin tidak menyangka jika pria yang menyerangku malam itu bisa mengurus kedua bayi itu dengan baik. Meski peralatan yang dimilikinya tidak selengkap orang lain.
"Apa kalian yang merawat mereka semua? Sejak kapan kalian melakukan ini semua?!" Aku bertanya pada mereka semuanya yang ada di ruangan ini.
"Nona, sebelum aku meminta maaf— karena telah menyerang Nona malam itu." Seorang pria membungkuk sembari meminta maaf.
__ADS_1
Hinoto terlihat terkejut mendengar semua itu, lalu di bertanya apakah yang sebenarnya yang terjadi. Aku pun menceritakan padanya kejadian malam itu. Setelah mendengar semua itu dia menghela napasnya, lalu mengatakan padaku mengapa aku tidak menceritakan semuanya.
Aku mengatakan pada Hinoto, karena sangat kesal padanya sehingga aku tidak menceritakan semua itu. Dengan nada menyindir, dia terlihat tersenyum merasa bersalah padaku.
"Ohh, jadi Nona menghajar kami semua juga untuk pelampiasan kekesalan terhadap suami Anda?!" celetuk seorang pemuda yang terlihat masih mudah diantara yang lainnya.
Mendengar itu aku terkekeh karena apa yang dia katakan begitu menggelikan. Seorang temannya menepuk kepalanya menandakan bahwa tidak pantas mengatakan itu.
"Iya— aku sedang kesal, coba saja kalau aku sedang marah, mungkin kalian semua akan habis!" ucapku dengan nada menggodanya.
Semua kembali terkekeh apalagi Hinoto, dia terlihat senang dengan apa yang aku katakan. Setelah itu kami berbincang-bincang, aku meminta Hinoto untuk mengurus semuanya. Aku ingin rumah ini menjadi milikku dan akan aku bangun sebuah yayasan untuk merawat anak-anak yang terlantar.
Setelah itu memberikan mereka semua pekerjaan agar bisa mengurus anak-anak yang ada di sini. Karena aku tidak ingin mereka berbuat jahat untuk mencari nafkah. Dan itu untuk anak-anak karena jika memakan uang yang tidak baik maka akan berakibat buruk nantinya.
Mendengar apa yang aku putuskan terlihat jelas mereka sangat senang sehingga mereka menangis. Aku tersenyum karena mereka menangis lalu menyuruh mereka untuk menghentikan tangisannya. Karena seorang pria kuat tidak terlihat keren jika terlalu cengeng.
Mereka Kemabli tertawa tetapi masih meneteskan air mata, mereka juga saling berpelukan. Mungkin ini adalah hal yang baik bisa aku lakukan untuk membatu mereka semua.
"Aku akan melihat sesekali kesini! Meski aku tidak akan terlalu sering berkunjung!" ucapku pada mereka semua.
"Nona, kau tidak usah khawatir! Kami akan menjaga mereka semua dan tidak akan pernah mengecewakan Anda, Nona!" Kotaro berkata padaku dengan penuh keyakinan.
Setelah semuanya selesai, aku pun memutuskan untuk pergi dari rumah itu. Dan mempercayakan semuanya pada mereka, entah mengapa aku yakin dengan mereka dan mereka pasti bisa mengurus anak-anak itu dengan baik.
Saat dalam perjalanan pulang menuju hotel aku sangat senang sekali. Sehingga melupakan Hinoto yang selalu ada di sampingku, dia terlihat sangat kesal karena aku melupakannya.
__ADS_1
"Sayang, kau melupakan aku?" dia bertanya dengan nada yang kesal tetapi ada kesedihan.
Aku tersenyum balik mengecup pipinya sekilas sang mengatakan terimakasih karena sudah mau membantuku untuk mengurus semaunya. Dan aku merasa beruntung sekali karena memiliki dirinya di sampingku, aku bisikkan kata "Aku sangat mencintaimu."