
Lexi POV
Lexa berjalan mendekati ku terlihat sekali dia sangat kesal, entah apa yang terjadi padanya. Lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja, dari pada nanti dia menyemburkan lahar panasnya padaku. Aldo dan Aiko pun sudah melihat ekspresi Lexa, mereka memandangku seraya menanyakan apa yang harus di lakukan. Aku hanya memberi isyarat agar tidak memancingnya.
"Dasar otak mesum! Lihat saja nanti kalau sampai aku menemukannya akan ku hajar dia sampai habis tak tersisa!" umpatan Lexa keluar bak lahar panas yang menyembur dari dalam gunung berapi.
Aku, Aldo dan Aiko hanya diam menunggu guncangan dari lahar panas berhenti. Ku lihat Aiko sudah tidak tahan dengan kelakuan Lexa yang marah-marah tanpa memberitahukan apa masalahnya. Dan akhirnya Aiko pun terkena semburan lahar panasnya Lexa, dia mengeluarkan semua kekesalannya pada Aiko. Seketika Aiko terdiam dan terbahak-bahak. Aku pun tak bisa menahan tawa ku melihat kelakuan Lexa dan Aiko.
"Sudah hentikan tawa kalian! Aku sedang kesal kalian malah menertawakan ku seperti ini! Awas saja kau Aldo jika mengikuti sifat kekanak-kanakan mereka berdua!" Gerutu Lexa sambil menunjuk ke arah ku dan Aiko.
"Tenangkan diri mu Lexa, tugas kita belum beres! Apa kau ingin mengacaukan semuanya! Pesta ini akan berakhir dalam 3 jam lagi, sebelum pesta berakhir kita harus menemukan USB itu!" ucapku pada Lexa untuk menenangkannya dan tentu juga untuk Aiko dan Aldo.
Akhirnya Lexa menutup mulutnya, dia berusaha mengatur napasnya agar bisa tenang. Aku menyuruh semuanya berpencar termasuk aku. Kulihat Lexa sudah tenang, aku pun pergi meninggalkannya. Dan ku berbisik padanya agar dia fokus mencari simbol Leo Ahmad. Dia pun mengangguk dan menyuruhku pergi meninggalkannya.
Tanpa kusadari ada seseorang yang terus memperhatikan ku dari jauh. Entah siap dia, tapi yang pasti aku akan menangkap mu. Aku berjalan menelusuri kapal ini, aku harus tetap fokus mencari simbol itu. Kunyalakan earpiece dan kuhubungi Aldo, Aiko dan Lexa. Aku menyuruh mereka selalu selalu berhubungan dengan ku. Mereka pun mengangkat iyakan perkataan ku.
Mataku tertuju pada seorang gadis yang berdiri di pembatas kapal, dia sedang memperhatikan lautan. Dia mirip dengan wanita yang menyelamatkan ku kemarin. Ahh tidak mungkin, dia kan sedang dikejar oleh musuhnya. Mana mungkin dia ada di keramaian seperti ini. 'fokus-fokus Lexi, kau harus menyelesaikan misi mu terlebih dahulu!' batinku. Akupun kembali dengan misiku, mencari simbol Leo Ahmad. Aku ingin segera menyelesaikan semua ini.
Brugggg!
Kudengar suara seseorang yang terjatuh, aku melihat kesekeliling apakah ada seseorang yang terjatuh. Aku mendengar suara seseorang yang sedang berdebat, aku mengikuti suara itu. Dan aku melihat seorang wanita yang sedang menghajar seorang pria.
"Gadis yang tangguh!" gumamku.
Gadis itu mendekati ku dan berkata, "apa kau bilang? Apa kau ingin merasakannya juga!"
Aku tersenyum mendengar apa yang baru saja dia katakan, dia semakin mendekati ku. Aku hanya diam, aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan padaku.
"Apakah kau bisa menghajarku! Hai Nona jangan kau terlalu percaya diri akan kekuatan mu itu! Kau seorang wanita tidak bisa berubah menjadi seorang pria!" Entah mengapa kata-kata itu keluar dari mulutku. Dan entah mengapa aku ingin menggodanya, apakah dia lupa dengan ku.
__ADS_1
Tanpa basa-basi dia langsung menyerangku dengan melayangkan tinjuan ya dan sesekali dengan tendangannya. Aku menghindari semua serangannya, dia terlihat kesal karena tidak berhasil mengenaiku sama sekali. Entah mengapa aku menyukai ekspresi kesalnya itu, dia terlihat sangat manis bagiku. Aku menangkap tangannya dan memelintirnya kebelakang, dia berusaha melepaskannya namun dia tidak akan bisa lepas dari ku. Dia ngenjiak kaki ku, secara refleks aku melepaskannya.
Dia tertawa nakal, dia menjulurkan lidahnya, aku tersenyum ternyata dia berani mengejek ku. Ternyata tengil juga dia, kau membuatku semakin penasaran. Aku mendekatinya dia mundur beberapa langkah, dia berniat lari dari ku. Aku lari mendakinya dan menarik tangannya, seketika dia jatuh dalam pelukan ku.
"Hai gadis tengil, aku sudah menangkap mu 2 kali! Maka kau akan menjadi milikku!" bisik ku padanya.
Dia berusaha melepaskan diri dari dekapanku, aku tersadar dengan yang kulakukan. Aku pun melepasnya, dia mundur beberapa langkah. Tapi saat kulihat wajahnya terlihat memerah, apakah dia demam.
"Huh dasar playboy! Kau sudah memiliki pasangan yang begitu cantik, masih mengejar wanita lain! Aku tidak suka pria tidak setia sepertimu!" ucapnya padaku dengan nada kesal.
Aku tidak tahu apa yang dia katakan, "apa maksud mu?"
Dia mulai berbicara tanpa henti, aku bertanya 3 kata dia menjawab ku dengan beratus-ratus kata. Semakin dilihat dia semakin menarik, setelah mendengar yang dia katakan. Akhirnya aku dapat menyimpulkan dia mengira bahwa Lexa adalah kekasih ku. Aku tertawa melihatnya seperti itu, setelah melihat tawanku dia pergi meninggalkan ku. Aku terus memandanginya sampai dia tak terlihat lagi. Aku yakin kita pasti akan bertemu lagi, gadis tengil ku.
"Hai pria penggoda! Apakah kau sudah selesai dengan gadis itu?" ucap Lexa dalam earpiece, seketika ku dengar tawa Aldo dan Aiko. Jadi mereka mendengar semuanya, 'sial kenapa pula tadi tidak ku matikan dahulu earpiece ku!' batinku.
Akhirnya mereka pun berhenti mengolok-olok ku, jika dekat dengan mereka bisa-bisa aku habis jadi bahan olok-olok Lexa. Sepertinya dia sangat menikmati semuanya.
Aku menuju ke dek kapal, kulihat samar-samar sebuah simbol. Kudekati simbol tersebut, ternyata benar ini adalah simbol yang sedang kami cari. Aku mengatakan pada Lexa dan semuanya bahwa aku menemukan simbol itu. Ku suruh mereka menghampiri ku, mereka pun menjawab "ok!" secara bersamaan.
Tak berselang lama merekapun tiba, aku masih berkutat untuk memevahkan simbol ini. Ternyata ini lebih rumit dari yang sebelumnya.
"Bagaimana? Apakah kau bisa membukanya?" tanya Lexa padaku.
Aku berusaha fokus pada simbol ini, sambil memikirkan setiap perkataan Leo Ahmad pada bunda. Aku pun mengatakan pada Lexa dan yang lainnya, agar mereka mengingat semua perkataan Leo Ahmad pada Vidio kemarin. Mereka pun ikut memikirkannya, beberapa saat kemudian Lexa mendekati simbol tersebut. Dia menekan beberapa tombol.
Ceklek!
Sebuah kotak terbuka, di dalamnya terdapat sebuah USB. Lexa mengambilnya, sebelum Lexa memberikan USB tersebut. Dateng seorang pengawal, dia bertanya pada kami apakah melihat seorang pria bertopeng. Aku mengatakan tidak melihat orang yang mereka cari. Tapi ekspresi Lexa menunjukkan bahwa dia mengetahui sesuatu. Akhirnya pengawal itu pergi, aku bertanya pada Lexa. Dia berkata orang itu yang telah bertidak kurang ajar padanya.
__ADS_1
Aku menyuruh Lexa memegang USB tersebut, dia pun memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Setelah itu kami berbaur bersama dengan para tamu undangan. Pesta malam ini hampir selesai, aku berharap tidak akan terjadi hal-hal dapat membahayakan kami. Aku ingin segera kembali ke apartemen, rasanya aku sudah lelah dengan pesta seperti ini. Jika bukan karena USB ini aku malas menghadiri pesta ini.
Disaat kapal akan berlabuh, tiba-tiba banyak pengawal yang berdiri mengelilingi kami. Ternyata sudah terjadi pencurian, aku tidak tahu apa yang telah di curi. Kudengar seorang pengawal mengatakan pencuri itu telah mencuri sebuah data yang sangat penting. Dan pastinya data itu berada dalam sebuah USB. 'sial! Kenapa bisa kebetulan seperti ini sih!' batinku.
Saat Lexa sedang beristirahat ada seorang pria yang menabraknya, Lexa pun terjatuh, Lexa kesal dengan pria tersebut. Dia hendak memerintahkan pria itu tapi tidak jadi, karena pria itu berbisik padanya. Aku tidak tahu apa yang dia bisikan pada Lexa, mungkin pria itu mendekati Lexa. Aku percaya padanya Lexa pasti tahu mana yang benar dan mana yang salah.
Sekarang yang ku khawatirkan adalah bagaimana kami bisa keluar tanpa kehilangan USB yang baru saja kami dapatkan. Kulihat Lexa memandangiku, aku tahu dia pasti bertanya bagaimana bisa lolos tanpa harus menyerahkan USB. Saat aku, Lexa, Aiko dan Aldo akan di periksa, kami mendengar seorang wanita memerintahkan para pengawal untuk melepaskan kami.
Setelah kulihat siapa dia, ternyata dia adalah gadis tengil ku. Aku tersenyum melihat dia menyelamatkan ku lagi, lain kali jika kita bertemu lagi aku tidak akan melepaskan mu. Akan ku jadikan kamu sebagai milikku. Kami pun bisa keluar dengan bebas, tanpa harus di periksa oleh para pengawal. Setelah itu kami langsung pulang ke apartemen.
Setelah kembali ke apartemen aku sudah melihat Yuki disana, dia terlihat sangat kelelahan. Sebenarnya apa yang sedang dia kerjakan, kenapa pula dia tidak menceritakan apa yang sedang dia lakukan. Ada yang aneh dengannya, tapi aku tidak ingin terlalu memaksanya. Aku ingin dia menceritakan semuanya tanpa ada paksaan dari ku. Dia menyambut kedatangan kami dengan senyumnya, dia langsung menuju pantry dan membawakan kami minuman.
"Apa pekerjaan mu sudah selesai Yuki?" tanya Lexa pada Yuki, aku tahu pasti Lexa melihat Yuki yang kelelahan.
Yuki tersenyum dan berkata, "belum semuanya beres, tapi dalam 2 hari akan selesai."
Sepertinya ada yang dia sembunyikan, entah apa itu! Aku harap dia tidak dalam masalah besar. Aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya, karena dia sudah ku anggap seperti adik ku sendiri. Setelah menjawab pertanyaan Lexa, Yuki melangkah masuk ke dalam kamar. Lexa masih terlihat belum puas dengan jawaban dari Yuki.
____________________________________________
Sampai ketemu di bab berikutnya 😊
aku siap menampung poin kalian kalau mau mendukung novel ku 😚😚
ku tunggu dukungan kalian ya jangan lupa vote biar aku semakin maju ke depan kalau tidak juga tak masalah 😏
Jangan lupa di jadikan favorit ya beib 😉
Dan terimakasih juga bagi kalian yang sudah memberikan masukan pada ku 😉
__ADS_1