Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 132


__ADS_3

Still Lexa POV


Dia masih saja tidak mengeluarkan suara, tetapi aku yakin orang itu masih berada di dalam kamarku. Sebab masih terdengar tarikan napasnya di telingaku. Lebih baik aku bergegas memijit saklar lampu agar keadaan kamar menjadi terang benderang.


"Biarkan aku memelukmu sejenak, sayang!" Seseorang berbisik dan memeluk erat tubuhku.


Suara ini ... Apakah pendengaranku tidak salah. Bukankah dia akan kembali lusa, lalu mengapa dia sudah berada di rumah. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Namun pelukannya semakin erat sehingga aku tidak dapat melepaskannya.


"Lepaskan aku Hinoto!" Lirihku padanya semabari menggeliat guna melepaskan diri dari dekapannya.


"Jangan menggeliat seperti itu, kau seperti ikan yang baru kutangkap yang hendak lepas dari genggamanku!" Sindirnya padaku, apakah dia mengataiku seperti seekor ikan. Dia sungguh membuatku kesal saja.


Secara perlahan dia merenggangkan dekapannya, sehingga aku bisa menekan saklar. Lampu pun menyala, terlihat jelas lengannya yang begitu kuat masih memelukku dengan lembut.


Dia membisikkan kata-kata yang membuatku merasa melayang, entah mengapa dia berubah seperti ini. Aku suka dia bersikap seperti ini, tetapi aku lebih menyukai sikapnya yang seperti biasa. Yang selalu bersikap dingin. Namun ada kehangatan di setiap perlakuannya padaku.


"Kapan kau datang?" tanyaku.


"Saat kau sedang membersihkan diri," Ucapnya dengan lembut di telingaku sembari mengecup telingaku dengan mulutnya yang terasa hangat.


Aku berusaha menjauhkan telinga dari bibirnya yang selalu mengecup dengan lembut. Sehingga membuat rasa geli yang membuat rasa di hati ini untuk memeluknya lalu mengecupnya kembali.


"Sayang," Lirihku pada Hinoto, ini kali pertama aku memanggilnya dengan kata sayang.


"Apa yang kau katakan tadi? Coba ucapakan sekali lagi!" Dia berujar dengan semangat karena ingin mendengarkan aku memanggilnya sayang.


Tidak akan kukatakan lagi, karena itu membuatku merasa malu. Kenapa pula aku tadi mengatakan kata itu, sehingga dia merasa senang. Padahal seharian ini dia tidak menghubungiku sama sekali.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun, aku berjalan menuju almari guna mengambil pakaian. Setelah dia melepaskan dekapannya terhadap tubuhku.


Srettt!

__ADS_1


Dia menarik handuk yang melingkar di tubuhku dengan kuat, sehingga aku berputar. Handuk yang tadinya melingkar di tubuh sekarang sudah berada ditangannya. Secara cepat aku menutup bagian tubuh yang bisa tertutup oleh kedua tanganku.


Kepalaku menunduk lalu berbalik agar dia tidak bisa melihat bagian depan tubuhku. Aku melangkah dengan cepat menuju almari yang jaraknya tidak begitu jauh. Namun aku tidak bisa menggapai pintu almari, karena Hinoto sudah menarik tangan lalu aku jatuh ke dalam pelukannya.


"Tidak usah menutupinya, aku sudah melihat seluruh lekuk tubuhmu." Rayunya padaku lalu dia memelukku kembali dengan sangat lembutnya.


Itu membuatku semakin tersipu malu. Memang benar dia sudah melihat seluruh tubuhku. Namun tetap saja aku masih merasa malu jika aku berdiri di hadapannya tanpa sehelai kainpun.


Dia mulai mengecup punggungku dengan lembut, bukan hanya sekali tetapi dia terus melakukannya beberapa kali dengan bibirnya berjalan di setiap tubuh bagian belakangku. Kecupannya membuatku menggeliat, dia tidak menghentikan kegiatannya meski aku sudah mengatakan untuk menghentikannya.


"Aku sangat merindukanmu, sayang." Lirihnya padaku, aku pun merasakan apa yang dia rasakan.


Tubuh ini berbalik lalu melihat dia tersenyum dengan lembut tetapi sorotan matanya seperti ingin menerkamku. Kutatap matanya dengan lekat, tanpa kusadari kedua lenganku mengalikan ke lehernya.


"Aku juga merindukanmu, sayang." Gumamku, dia tersenyum lalu mengecup bibirku sekilas.


Kecupannya semakin dalam, dia mulai bermain dengan lembut sehingga membuatku terhanyut. Akupun mulai mengikuti permainannya, lalu dia menggendongku. Berjalan perlahan mendekati tempat tidur tetapi dia tidak melepaskan kecupannya.


Dia mulai menyerangku dengan kecupan di betis, lalu menjalar ke bagian paha. Tidak hanya itu kecupannya berangsur-angsur naik ke bagian tubuhku yang lain. Hingga akhir tiba di bagian dada, dia bermain lama di daerah itu.


Kecupan berlanjut menuju bibirku sesekali dia melepaskan ya lalu melanjutkannya mengecup leherku. Namun aku merasa ada yang aneh kali ini, rupanya benar saja tiba-tiba muncul tamu yang tidak di undang. Yang biasanya datang setiap sebulan sekali.


"Stop!" Lirihku tetapi dia tidak mendengarkan apa yang aku katakan.


Aku memegang kedua pipinya seraya mengatakan untuk menghentikan setiap permainannya. Dia menatapku lalu bertanya ada apa, aku menjwabnya jika saat ini aku sedang berhalangan. Sehingga tidak bisa memenuhi kewajiban kita sebagai seorang istri.


Mendengar itu dia langsung bangun, lalu membiarkanku untuk pergi memasuki kamar mandi. Dan bodohnya aku melupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan saat ini.


Tok!


Tok!

__ADS_1


"Sayang, bukalah! Kau pasti melupakan barang yang sangat penting kali ini." Hinoto mengetuk pintu sembari berucap.


Aku membuka pintu kamar mandi sedikit lalu mengambil pembalut yang ada ditangannya serta pakaian tidur. Sungguh malunya hati ini, sehingga membuat panas seluruh wajahku. Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi guna mengecek apakah aku meninggalkan noda di atas kasur.


Saat keluar aku tidak melihat Hinoto di dalam kamar, mungkin dia sedang di luar. Lebih baik aku periksa tempat tidur apakah ada noda yang tertinggal atau tidak.


Setelah memeriksa seluruh tempat tidur, tidak ada bercak noda bewarna merah. Aku lega akhirnya bisa merebahkan tubuh ini di atas setempat tidur.


Ada yang mengecupku lalu aku terbangun melihat Hinoto yang sudah berada di sampingku. Dia terus saja bermain dengan bagian tubuhku dengan kedua tangannya.


"Hentikan ini, kau tahu 'kan saat ini aku tidak bisa melayanimu." Kataku.


Dia tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan tadi, terus saja bermain dengan kedua tangannya sesekali dengan bibirnya. Dia mengatakan sedang ingin melakukannya denganku. Namun tidak akan hingga melampaui batasan yang sudah ada.


"Aku tahu, maka izinkan aku menikmati apa yang bisa aku lakukan. Dan tidak akan melebihi batasan aku atau kau!" Dia berunjar dengan sangat lembut padaku.


Setelah selesai dengan apa yang dia inginkan, aku menyuruhnya untuk segera membersihkan diri lalu beristirahat. Dia mengangguk lalu berjalan memasuki kamar mandi guna membersihkan diri.


Tidak begitu lama dia keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekatiku. Dia merebahkan tubuhnya di sampingku, lalu memelukku dengan erat.


"Ayo kita istirahat," Dia berbisik lalu mulai tertidur dengan memelukku.


Cahaya matahari yang memasuki celah-celah kain yang menutupi jendela kamar, membuatku terbangun. Karena silaunya menerpa kedua mataku. Aku terpaksa membuka kedua mata lalu melihat kesamping ada Hinoto yang masih terlelap.


Tanpa aku sadari kepala ini langsung memasukkan diri ke dalam dada yang bidang milik Hinoto. Entah mengapa aku menyukai jika berada didalam pelukannya.


"Kau sudah bangun, sayang?" Lirih Hinoto dengan suara beratnya ciri khas orang baru bangun tidur lalu mengecup bagian atas kepalaku.


Aku tidak mengatakan apa-apa yang aku lakukan adalah terus memasukan bagian atas tubuhku dalam dekapannya. Entah mengapa aku manja seperti ini.


Terdengar tawa kecil darinya lalu dia memelukku dengan erat, seraya mengetahui apa yang aku inginkan. Dan anehnya mengapa tidak ada seorang pelayanpun yang mengetuk pintu kamar.

__ADS_1


Biasanya jika jam segini salah satu dari pelayan mengetuk pintu lalu menawarkan untuk sarapan. Apakah mereka tahu Hinoto sudah pulang sehingga tidak ada yang menggangguku. Ahh, buat apa aku pikirkan semua ini. Lebih baik aku bermanja-manja dengannya dulu.


__ADS_2