
Lexa POV
Setelah pernikahan Lexi dan dia pergi berbulan madu di Bali, aku melihat ayah yang sedang duduk di kursi mengahadapi taman. Aku menghampiri ayah dengan membawa dua cangkir minuman hangat.
"Apa Ayah merasakan kesepian?" tanyaku pada ayah.
Terlihat senyum lembut dari bibirnya lalu berkata, "Aku tidak kesepian, sekarang hatiku sudah lega karena kedua anakku sudah menikah! Tugas dan janjiku pada Alin sudah selesai!"
Setelah ayah mengatakan itu hatiku merasa sedih karena kembali teringat akan bunda. Begitu panjang perjuangan bunda untuk merawat aku dan Lexi saat ayah sedang koma. Aku berharap ayah akan sehat selalu dan masih tetap bersama kami karena aku belum bisa membahagiakan ayah.
"Kapan kau akan kembali ke Jepang?!" tanya ayah padaku.
"Besok pagi, Hinoto sudah menyiapkan semuanya!" jawabku pada ayah.
Ayah juga mengatakan jika semua urusan di Indonesia selesai, akan menyuruh Lexi untuk ke Jepang. Karena ayah tidak bisa begitu saja membiarkan aku mengurus perusahaan sendirian.
Menurut ayah perusahaan yang di Jepang merupakan perusahaan pusat yang pertama kali ayah dirikan. Sehingga perusahaan itu sangat penting buat ayah.
Jika perusahaan di Indonesia ayah masih bisa memegangnya dan mengurusnya. Ayah juga sudah menemukan orang yang bisa diandalkan untuk mengurus semuanya. Aku melihat Hinoto berjalan menghampiriku dan ayah, dia tersenyum lalu ikut duduk bersama kami.
Ayah dan Hinoto berbincang-bincang, aku memutuskan untuk ke kamar karena merapikan semua barang yang akan aku bawa. Sedangkan Aiko mungkin sudah berada di Jepang karena setelah kepergian Lexi ke Bali. Dia juga kembali ke Jepang, ada pekerjaan yang mengharuskannya segera kembali.
"Lexa!" Aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Saat aku membalikkan tubuh guna melihat siapa yang memanggil, rupanya itu adalah Azura. Aku pikir dia sudah kembali ke Paris tetapi dia masih di Indonesia.
"Ada apa? Aku pikir kau sudah kembali ke Paris?!" tanyaku padanya.
Dia menggelengkan kepalanya lalu bertanya padaku mengenai Aiko, aku melihat dari sorot matanya begitu serius dengan apa dia katakan. Apakah dia benar-benar mencintai Aiko atau hanya sebagai pelampiasannya saja.
Karena yang aku tahu Azura sangat mencintai wanita yang sudah meninggalkannya. Sebenarnya aku juga tidak suka dengan wanita Azura yang kemarin karena wanita itu tidak cocok dengan Azura.
"Apa dia sudah memiliki kekasih?" tanya Azura padaku.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan darinya lalu aku menjawab jika Aiko belum memiliki kekasih tetapi sudah ada yang mengejarnya. Lalu aku mengatakan padanya jika dia ingin mengejar Aiko maka kejarlah tetapi jangan sampai menyakitinya.
Setelah mendengar apa yang aku katakan dia tersenyum lalu pergi berjalan meninggalkanku. Mungkin dia hendak bertemu dengan ayah, biarkanlah jika dia memang sudah jodoh Aiko maka dia akan mendapatkannya. Kuharap dia tidak menyakiti Aiko.
Pikiranku kembali pada Aiko, apakah yang akan dia lakukan jika Isamu dan Azura mengejarnya. Apakah dia akan memilih Azura atau Isamu, sekarang kita lihat saja siapa yang lebih cepat mendapatkan cintanya Aiko.
Sepertinya akan seru perjuangan Azura merebut hati Aiko, bagiku siapa yang mendapatkan hati Aiko tidak masalah. Yang terpenting adalah Aiko bahagia dan pria pilihannya tidak membuat Aiko menderita.
"Apa yang kau pikirkan, sayang?" bisik seorang pria di telingaku, suaranya begitu lembut.
Aku tersenyum karena dia adalah Hinoto, dia memelukku dengan erat. Jika aku tidak menjawabnya, maka dia akan semakin menggodaku. Contohnya selalu meniup atau mengigit lembut daun telingaku, entah mengapa dia selalu melakukan itu. Padahal telinga merupakan salah satu bagian tubuhku yang sensitif.
"Hentikan itu! Kenapa juga kau selalu menyerang telingaku?!" tanyaku dengan nada lirih.
Dia tersenyum tetapi ada sedikit suara yang keluar dari mulutnya, lalu dia membalikkan tubuhku sehingga kami saling berhadapan. Terlihat dengan jelas sorot matanya yang lembut jika menatapku.
Tanpa aku sadari bibinya menyentuh bibirku, bibirnya bermain dengan lembut sehingga membuat aku terlena dan menikmati permainannya. Begitu lihainya dia bermain di dalam rongga mulutku, tangannya juga tidak ingin diam.
Tangannya bermain di tubuhku bagian atas, dia menggendong diriku lalu berjalan menuju tempat tidur. Namun, kecupannya tidak terhenti, dia menghempaskanku ke atas tempat tidur secara perlahan.
Dia tersenyum melihatku yang sudah berada di atas tempat tidur, menatapku dengan lembut. Lalu dia tersenyum dan menerjang ku dengan lembut.
Kecupan demi kecupan dia layangkan pada bibirku lalu menjalar ke seluruh tubuhku. Setelah dia membuka dan menghempaskan pakaianku dengan bawah.
Aku menghentikan gerakannya karena teringat apakah pintu kamar sudah terkunci. "Tunggu! Apa kau sudah mengunci pintu kamar?!" tanyaku padanya.
Dia tersenyum lalu mengatakan jika sudah aman dan membisikkan kata-kata yang membuatku tersipu malu. Entah mengapa dia bisa membuatku menjadi merasa malu tetapi aku menyukainya.
__ADS_1
Dia kembali menyerangku dengan permainannya yang lembut, itu membuatku semakin menikmatinya. Dia tidak menghentikan permainan tangan dan bibirnya, seluruh tubuh ini sudah tidak bisa luput darinya.
Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu, aku berusaha menghentikan Hinoto tetapi dia tidak bisa menghentikan permainannya. Suara ketukan pintu berkahir. Namun kembali terdengar suara ketukan pintu lagi.
"Lexa, apakah kau di dalam?!" teriak Azura yang memanggilku.
"Sayang, hentikan ini! Azura memanggilku!" Aku berkata dengan liris dengan menahan rasa geli atas permainannya.
Dia menghentikan permainannya, terlihat rasa kesal dari wajahnya. Aku tersenyum saat melihat wajahnya yang kesal karena ada yang mengganggunya bermain.
Aku bergegas menggunakan pakaianku yang sudah di lepaskan oleh Hinoto. Azura masih saja memanggilku lalu aku berteriak padanya untuk menunggu sebentar. Sedangkan Hinoto merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut putih.
Setelah merapaiakn pakaianku, aku membuka pintu kamar kamar dan keluar menemui Azura. Melihat Azura yang sudah kesal mungkin aku lama keluar dari kamar.
"Ada apa?!" tanyaku padanya.
Azura mengatakan bahwa dia akan ikut denganku ke Jepang, entah apa yang akan dia lakukan di jepang. Bukankah semua pekerjaannya di Paris.
Sebelum mengakhiri pembicaraan kami, ponsel Azura berdering. Terlihat dia sangat kesal, aku berpikir siapa yang menghubunginya sehingga bisa membuat dia sangat kesal.
Setelah menutup ponselnya, dia mengatakan bahwa tidak bisa ikut denganku ke Jepang. Karena perusahaan di Paris dalam masalah, sehingga ayahnya menyuruh dia untuk segera kembali.
Aku terkekeh melihat sikapnya yang seperti anak kecil tetapi dia akan bersikap dingin jika berhadapan dengan orang lain. Dia selalu memperlihatkan sikap manjanya dan kekanak-kanakan hanya padaku dan Kharin.
Sehingga aku dan Kharin selalu menggodanya, dia terlihat sudah dewasa tetapi selalu bertindak manja pada kami. Aku selalu teringat jika dia mulai bertidak seperti anak kecil. Namun, jika sudah marah maka tidak akan ada yang bisa membujuknya.
Azura pun pergi meninggalkan diriku karena dia harus segera kembali ke Paris. Semua tiket sudah disiapkan oleh om Rio, sehingga dia tidak bisa beralasan tidak mendapatkan tiket ke Paris.
Aku kembali masuk ke kamar, melihat Hinoto yang masih kesal karena di ganggu oleh Azura. Saat ini aku lebih memilih untuk masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dari pada mendekatinya. Jika aku mendekatinya maka dia akan kembali menyerangku.
Setelah selesai membersihkan diri aku masih melihat Hinoto tiduran di atas tempat tidur. Aku berjalan menghampirinya lalu menyuruhnya untuk membersihkan diri.
"Aku tidak mau! Mengapa dia mengganggu kita?!" tanyanya dengan kesal.
Dia masih bersikeras tidak ingin membersihkan dirinya, entah mengapa dia bisa bersikap seperti anak kecil. Kupikir dia tidak bisa bersikap seperti ini. Aku terkekeh karena dia mirip sekali dengan Azura dan Lexi.
Mereka rupanya satu tipe, selalu bersikap dingin di luar tetapi bisa bersikap seperti anak kecil jika keinginannya tidak terpenuhi. Melihatku terkekeh dia marah dan menarik tanganku sehingga aku terjerembab ke atas tubuhnya.
"Hentikan ini! Cepatlah bersihkan dirimu!" ucapku dengan sedikit nada tinggi. Karena aku kesal jika dia melanjutkan permainannya maka aku akan kembali membersihkan diri kembali.
Dia terkekeh lalu melalaikan diriku dan berjalan menuju kamar mandi guna membersihkan diri. Aku berjalan menuju almari untuk mengambil pakaianku.
Beberapa saat kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi, dia terlihat sangat segar. Sudah tidak terlihat rasa kesal dari sorot matanya, aku menyukai dia yang seperti ini.
"Mengapa kau menatapku? Aku tampan -kan? Beruntunglah dirimu mendapatkanku!" Dia berkata dengan penuh rasa percaya diri.
Aku kembali terkekeh-kekeh saat mendengar ucapan Hinoto yang begitu percaya dirinya. Sehingga air mataku mengalir karena terus saja tertawa tanpa henti.
Hinoto berjalan cepat menuju ke arahku, aku tahu dia pasti akan melakukan sesuatu pada diriku. Aku mundur perlahan dari tertawa agar dia tidak bisa menangkapku.
Namun, langkahnya begitu cepat sehingga aku berhasil ditangkap olehnya. Dia mengangkat tubuhku lalu menghempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.
Dia melihatku dengan tatapan ingin melahapku, dia menyeringai lalu menyerang bagian tubuhku yang sensitif. Dia mengilikitik tubuhku yang sensitif sehingga aku tidak bisa menghentikan tawaku.
"Sudah hentikan Hinoto! Aku minta maaf!" Aku memohon agar dia menghentikan serangannya padaku.
Namun, dia tidak menghentikan serangannya, sehingga aku merasa kelelahan. Air mataku sudah mengalir keluar karena terus saja tertawa tanpa henti.
"Apakah kau ingin membunuhku hah?!" ucapku semabari terus tertawa.
Dia menghentikan serangannya padaku, dia menatapku dengan lekat. Lalu mabantiku untuk merubah posisi menjadi duduk di atas tempat tidur. Dia memeberiku waktu untuk mengatur ritme pernapasanku.
__ADS_1
"Aku tidak mungkin membunuhmu hanya dengan mengilikitikmu!" Dia berkata semabri tersenyum.
Dia berjalan keluar dari kamar, sedangkan aku berusaha mengatur pernapasanku. Setelah ritme pernapasanku kembali normal, aku keluar dari kamar guna mencari Hinoto.
Kulihat ayah sedang berjalan menuju ruang kerjanya dan Hinoto mengikutinya dari belakang. Mungkin ayah akan membicarakan hal penting padanya. Lebih baik aku memberikan ruang pada mereka.
Lebih baik aku pergi ke ruang latihan bunda, sudah lama tidak menggerakkan tubuhku. Saat aku memasuki ruangan latihan bunda, terasa sekali aroma bunda dan kenangan bunda.
Dulu aku sering melihat bunda berlatih disini dan aku pun berlatih disini juga. Terkadang aku latihan dengan bunda atau asisten Ari, semua kenangan itu masih melekat di otakku dan tidak akan pernah bisa hilang.
"Apa kau merindukannya?!" tanya seseorang padaku.
Aku mengenal betul suara ini, dia adalah asisten Ari. Aku membalikan tubuhku melihat apakah benar yang aku pikirkan. Ternyata benar dia adalah asisten Ari.
"Apakah kau mau menjadi teman berlatihku?!" Aku bertanya pada asisten Ari.
"Baiklah Nona, ini merupakan kehormatan bagiku! Karena sudah lama kita tidak berlatih bersama!" jawab asisten Ari padaku.
Kami pun mulai bertarung, aku tidak menyangka bahwa asisten Ari masih tangguh meski umurnya sudah tidak muda lagi. Mungkin jika bukan aku maka musuhnya akan habis tak tersisa. Karena lawannya aku, maka aku tidak akan menyerah begitu saja.
Bug!
Whussss!
Aku melayangkan pukulan ku dan diakhir dengan tendangan tetapi dia masih bisa menghindari semua seranganku. Aku sungguh menikmati semua ini, sehingga teringat akan semua kenangan di masa lalu.
Asisten Ari terlihat tersenyum tipis, maksudnya adalah bahwa aku tidak akan pernah bisa menang darinya. Aku tersenyum juga karena asisten Ari tidak pernah berubah, selalu penuh dengan percaya diri.
Namun, aku selalu banyak trik untuk mengalahkannya dari dulu dan sekarang juga. Aku pasti bisa mengalahkannya tetapi kali ini tidak akan menggunakan trik seperti dulu lagi. Aku akan menggunakan semua keahlianku untuk mengalahkannya, secara tidak langsung aku akan mengalahkan guruku sendiri.
"Ayo Lexa, semangat kau pasti bisa mengalahkan Asisten Ari!" teriak Annisa padaku.
Aku mengentikan sesaat serangkai guna melihat Annisa, rupanya selain dia ada ayah dan Hinoto yang menyaksikan pertarungan diriku dengan asisten Ari.
"Nona, mari kita lanjutkan!" ucap asisten Ari padaku.
Terlihat jelas dari sorot matanya bahwa dia sangat menikmati pertarungan kali ini. Mungkin dia merindukan masa lalu saat kami berdua selalu berlatih bersama ditemani bunda.
"Apakah kau merindukan bunda juga?" tanyaku padanya sembari melayangkan tendanganku.
Whussss!
Bug!
Brugggg!
Assisten Ari terjatuh tetapi dia bisa bangkit lagi, kulihat dia tersenyum. Lalu dia memberikan tanda dengan tangannya dengan arti meanantangku untuk menyerangnya.
Baiklah jika itu yang asisten Ari inginkan maka aku akan menyerangnya, ayo kita nikmati semua ini. Ini semua demi kenangan masa lalu kita bersama bunda.
Setalah selesai berlatih bersama asisten Ari, terlihat Annisa yang sangat menggebu-gebu ingin juga berlatih dengan asisten Ari. Namun, semua itu ditolak mentah-mentah oleh asisten Ari. Mungkin saat ini asisten Ari sudah merasa lelah atau Annisa belum cukup kuat untuk berhadapan dengan asisten Ari.
Annisa masih saja mendengarkan ingin berlatih bersama, kebetulan Aldo baru saja tiba. Maka asisten Ari menyuruh Aldo untuk menemani Annisa berlatih.
Mau tidak mau Aldo terpaksa mengikuti perintah asisten Ari, mereka berdua akhirnya berlatih bersama. Sedangkan aku menghampiri ayah dan Hinoto yang sedang duduk di atas sofa.
"Kau semakin hebat, sehingga bisa mengalahkan asisten Ari!" ucap ayah padaku.
Asisten Ari yang tidak mau kalah mengatakan pada ayah jika dia senagaja mengalah padaku. Aku sungguh kesal jika asisten Ari berkata begitu. Namun, ayah terkekeh mendengar ucapan asisten Ari.
"Kau sudah tua Ari! Sehingga kau terkalahkan oleh Lexa!" Ayah berkata pada asisten Ari seraya membelaku.
__ADS_1
Asisten Ari berkata jika saja bunda ada mungkin dia akan membelanya sedangkan ayah hanya akan mengkritiknya. Mendengar itu ayah terkekeh karena mengingat suatu kejadian.
Ayah pun menceritakan pernah cemburu pada asisten Ari karena bunda membela asisten Ari dibandingkan ayah. Menurut bunda yang pantas dibela adalah asisten Ari bukan ayah.