Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 178


__ADS_3

Still Lexa POV


Tibalah aku di stasiun dan kulihat Aldo sudah menjemput, aku menatapnya sekilas. Wajahnya sangat berbeda, sebenarnya ada apa dengannya dan Lexi. Jika mendengar suara Lexi dia seperti dalam masalah sedangkan saat melihat wajah Aldo, aku merasa jika dia juga sedang menghadapi masalah.


"Apa yang terjadi?!" Aku bertanya pada Aldo.


Aldo hanya diam, dia tidak menjawab apa-apa. Aku tidak bisa memaksanya, tidak mungkin juga 'kan dia dan Lexi sedang bertengkar. Karena mereka sangat jarang atau tidak pernah sama sekali berdebat. Mereka memiliki pemikiran yang sama sehinggaterlihat sangat pas jika mereka bekerja sama.


Selama dalam perjalanan Aldo hanya diam saja, aku dan Hinoto saling menatap guna mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, baik aku atau Hinoto tidak tahu apa yang sedang terjadi.


Tibalah aku di rumah, semua tampak tidak ada yang aneh. Masih sama seperti waktu aku tinggalkan beberapa hari yang lalu. Seorang pelayan menyambut kedatanganku lalu dia membatuku untukembawa barang-barang dan menyimpannya di kamar. Sedangkan aku dan Hinoto mencari keberadaan Zeroun.


Aldo mengatakan jika anak-anak sedang berada di taman belakang, aku pun bergegas ke taman belakang karena sudah tidak bisa menahan rasa rinduku pada pria yang menjadi saingan Hinoto.


Melihat Zeroun yang sedang asik bermain, aku berniat mengejutkannya. Saat aku hendak mengejutkan Zeroun, malahan aku yang terkejut dengan sapaan Rein dengan senyum khasnya.


"Apa kabar Kak Lexa?" Dia bertanya padaku.


Sebelum aku menjawabnya Zeroun berlari dan memeluk dengan erat lalu dia mengajakku untuk melihat apa yang sedang dibuatnya bersama Rosalina. Itu merupakan kesempatan bagus bagiku karena tidak harus berlama-lama bersama Rein.


Aku memandang Himawari yang terlihat sudah kesal, mungkin ini yang membuat Lexi merasa butuh bantuanku. Lexi tidak bisa membuat Himawari bersikap tenang menghadapi Rein. Aku menghela napas merasa tidak habis pikir mengapa Lexi tidak bisa membuat tenang istrinya sendiri.


"Ayo sudah mau malam, bersihkan diri kalian dan biarkan Bunda dan Ayah Hinoto istirahat sebelum makan malam!" Lexi berkata pada anak-anak.


Lexi menyuruh Himawari untuk membantu anak-anak membersihkan diri. Karena menurut Lexi itu akan membuat Himawari merasa tenang jika bersama dengan anak-anak tanpa diganggu oleh siapa pun.


Aku melihat Rein mendekati Aldo tetapi Aldo menjahilinya, mungkin dia tidak ingin berdekatan dengan wanita yang sudah membuatnya menderita. Butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan semua lukanya, bahkan Aiko sampai saat ini belum bisa memaafkan Aldo. Semua itu ulah dari kebohongan Rein.


"Aldo bisakah kau membantuku?" Hinoto berkata pada Aldo.


Mungkin Hinoto ingin membantu Aldo agar terlepas dari Rein. Aku membiarkan Hinoto untuk pergi bersama Aldo tetapi aku mengatakan pada mereka sebelum makan malam harus sudah ada di rumah.


Setelah aku mengatakan itu aku langsung menuju kamar guna membersihkan diri lalu beristirahat sejenak. Sebelum ada orang yang memanggilku untuk makan malam. Sebenarnya aku ingin mengurus Zeroun tetapi melihat Himawari seperti itu lebih baik dia bersamanya. Karena jika ada Zeroun maka akan membantu Rosalina membuat ibunya tersenyum.


Tidak begitu lama setelah aku selesai dengan rutinitas membersihkan diri, Zeroun masuk ke kamar. Seperti biasa dia selalu bersikap seperti pria dewasa yang bertanya bagaimana adegan keadaanku? Apakah ayahnya menggodaku? Dan masih banyak yang dia tanyakan padaku.


Jika Hinoto mendengar semua ini pasti dia akan terkekeh dan langsung memeluknya. Setelah itu dia akan menggodanya hingga Zeroun marah yang nantinya membuatku merasa pusing melihat perdebatan mereka.

__ADS_1


"Bunda, ayah kemana?" Zeroun bertanya padaku.


"Apakah kau rindu pada ayahmu?" Aku balik bertanya pada Zeroun.


Dia mengangguk, meski sering berdebat mereka berdua sama-sama saling merindukan. Jika dipikir-pikir mereka itu benar-benar mirip dan sifat mereka jika sudah menyangkut diriku pasti saja sangat keras.


Aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur begitu pula dengan Zeroun dia tidur di sampingku. Namun, dia seperti biasa bermain games di ponselnya.


"Bunda— bangun, ada yang mengetuk pintu!" Zeroun membangunkan aku yang tertidur.


Setelah itu dia turun dari tempat tidur lalu menuju pintu kamar dan membukakan pintu kamar. Zeroun mendekatiku lalu dia duduk di sampingku.


Rein berjalan masuk ke kamarku, dia tersenyum lalu duduk di atas tempat tidur. Aku bertanya ada perlu apa? Dia mulai menunjukkan wajah polosnya.


"Kak bisa bantu aku— bantu aku untuk kembali pada Aldo," Dia meminta padaku dengan nada memohon.


Mendengar apa yang di pintanya, aku menyuruh Zeroun untuk bermain bersama Rosalina. Zeroun pun menuruti perintahku dan dia langsung berlari menuju Rosalina.


"Apa aku tidak salah dengar?!" Aku bertanya padanya.


Dia mengangguk lalu menceritakan mengapa dia melakukan itu, semua itu karena dia khilaf. Namun, aku tidak percaya begitu saja karena aku sudah tahu yang sebenarnya terjadi.


Entah mengapa aku masih tidak bisa percaya akan apa yang dia katakan. Aku mengatakan padanya jika aku tidak bisa membantunya karena ini semua menyangkut dengan hati dan perasaan yang tidak bisa dipaksakan.


"Ada baiknya kau bicarakan pada Aldo semuanya!" ucapku padanya.


Beberapa saat kemudian terlihat Himawari, kebetulan pintu kamarku tidak tertutup jadi dia bisa masuk lalu dia berjalan mendekatiku. Terlihat dari sorot matanya yang marah. Mungkin dia tahu jika Rein berada di kamarku dari Zeroun.


"Apa yang kau lakukan di sini?!" Himawari bertanya dengan nada ketus.


Rein beranjak dari duduknya lalu dia mengatakan jika dia ingin bicara denganku. Himawari merasa tidak senang dengan jawaban dari Rein, dia menyuruh Rein untuk masuk ke kamarnya. Dan jangan keluar sebelum ada yang menyuruhnya keluar.


Mendengar perkataan Himawari membuat Rein merasa tidak senang, Rein meluapkan emosinya pada kakaknya, dia tidak terima jika diperlakukan seperti itu. Dia sangat menyesal karena sikapnya yang dulu sehingga dia meminta maaf pada Himawari.


Namun, Himawari tidak bisa begitu saja memaafkannya, dia masih kecewa dengan apa yang sudah dilakukan Rein pada Aldo dan Aiko. Mungkin butuh waktu yang sangat lama bagi Himawari untuk memaafkan adiknya itu.


"Kak— sebenarnya yang adikmu itu aku apa Aldo atau Aiko?!" pekik Rein yang membuat Himawari semakin meradang.

__ADS_1


Terjadilah perdebatan diantara mereka, aku sudah pusing dengan perdebatan mereka berdua. Kamarku menjadi sangat ramai karena teriakan dan bentakan Himawari dan Rein.


"Sudah cukup! Hentikan semuanya!" bentak Lexi yang berada di dekat pintu kamarku.


Dia berjalan mendekati kami, lalu dia berkata apakah mereka tidak menghormati Lexa. Dia juga mengatakan jika aku butuh istirahat selepas perjalanan bisnisnya. Rein yang mendengar itu bergegas pergi meninggalkan kamarku.


Sedangkan Himawari yang sangat kesal akhirnya terkulai lemas dan terduduk di lantai kamar. Lexi langsung memegang pundaknya dan memapahnya menuju tempat tidurku.


"Ada apa dengan Himawari?!" tanyaku padanya.


Dia hanya diam, air matanya menetes membasahi kedua pipinya. Aku bertanya kembali padanya, kemana Himawari yang selalu bersikap tenang di setiap masalah yang sedang dihadapinya.


"Entah sejak kapan dia menjadi tidak bisa menahan emosinya! Aku sudah tidak bisa membuatnya mengerti." Lexi berkata dengan menghela napasnya.


Mendengar perkataan Lexi membuat Himawari kesal, dia pun mengeluarkan semua yang ada di isi hatinya. Dia menyalahkan Lexi karena mengizinkan Rein tinggal di rumah. Karena sedari awal dia tidak ingin jika Rein tinggal di rumah.


Dia masih tidak bisa memaafkan Rein karena sudah membuat Aldo menderita dan membuat ayahnya Aiko tiada. Ditambah lagi Rein sudah bermain di belakang Aldo bersama Isamu. Semua itu membuatnya kecewa dan merasa bersalah. Karena Rein adalah adiknya.


"Aku belum bisa memaafkannya— aku mohon jangan paksa aku untuk memaafkannya! Asal perlu kalian tahu— sampai saat ini aku masih merasa bersalah pada Aldo dan Aiko." Himawari berkata semabri menangis.


Terlihat jelas jika dia sangat sedih dan kecewa karena perbuatan adiknya. Dia tidak mengira jika Rein bisa bertindak seperti itu dan aku pun tidak menyangka jika gadis yang terlihat polos itu bisa melakukan semua itu.


Himawari meminta maaf padaku karena sudah terlihat begitu menyedihkan. Dia berlari meninggalkan kamarku dan aku menyuruh Lexi mengejarnya. Karena dia sedang membutuhkan pundak atau dada Lexi untuk menenangkan hatinya.


Lexi pun mengangguk lalu dia berjalan meninggalkan aku dan mengejar Himawari yang sangat sedih. Aku menghela napasku dengan panjang, sungguh kasihan kau Himawari. Akibat perbuatan adikmu kau menjadi sangat menderita seperti ini.


Dan aku merasa aneh dengan sikap dan emosinya yang meluap-luap karena itu bukan seperti Himawari yang aku kenal yang selalu bersikap tenang di segala masalah.


Beberapa saat kemudian Hinoto masuk kedalam kamar, dia mengajakku untuk makan malam. Dia berkata jika semuanya sudah menunggu di ruang makan. Aku mengangguk lalu berjalan mendekatinya, dia menggandeng tanganku dengan lembut. Kami pun berjalan bersama menuju ruang makan.


Aku melihat anak-anak sudah duduk dengan manis, Lexi, Himawari dan Aldo pun sudah ada di sana. Semua sudah berkumpul, inilah Suanda yang aku rindukan. Jika saja Aiko ada itu akan terlihat sempurna bagiku.


Hinoto melepaskan genggamannya lalu membukakan kursi seraya dia menyuruhku untuk segera duduk. Aku duduk setelah itu Hinoto duduk di sampingku. Saat makan malam akan segera di mulai, Rein datang dan duduk dengan santai.


Dia tersenyum lalu mengatakan untuk segera memulai makan malam karena dia sudah lapar. Aldo yang melihat Rein langsung berdiri dan pamit pada kami semua. Dia berjalan meninggalkan meja makan, mungkin dia akan duduk di taman sembari menikmati suasana malam ini.


"Aku sudah kenyang!" Himawari hendak pergi tetapi Lexi melarangnya dan menyuruhnya untuk kali duduk.

__ADS_1


Lexi berucap dengan penekanan sehingga Himawari tidak bisa membantahnya. Terlihat Rein tersenyum, mungkin dia merasa senang jika semua tidak berjalan dengan semestinya.


__ADS_2