
Still Lexi POV
Saat aku memasuki ruang kerjaku, sungguh terkejutnya aku melihat Rosetta sudah berada di ruanganku. Dan juga sudah ada meja dan kursi kerja tsmavahn di ruanganku. Dia duduk dengan santai sembari memainkan laptopnya.
"Sedang apa kau di sini?!" Aku berkata dengan nada tinggi.
Dia hanya tersenyum lalu berkata, "Mulai hari ini aku sudah bekerja di perusahaan ini! Dan sebentar lagi aku akan menjadi CEO di perusahaan bunda yang kau sayangi."
Aku sungguh kesal dengan setiap kata yang keluar dari mulutnya, ingin rasanya aku menyeretnya keluar dari ruangan ini lalu mengusirnya dari perusahaan ini.
Namun, aku belum bisa melakukan semua ini karena aku harus tahu bagaimana dia bisa mendapatkan kepercayaan ayah. Aku tidak ingin jika dia memanfaatkan kebaikan ayah untuk kepentingan dirinya.
Aku menghubungi Aldo agar dia segera ke ruanganku guna mencari tahu mengapa wanita ini berada di ruanganku. Setelah aku menghubunginya, tidak begitu lama dia masuk ke ruanganku.
Terlihat Aldo sangat terkejut dengan kehadiran Rosetta, lalu dia mendekatiku. Dan bertanya mengapa dia ada di ruanganku, aku marah terhadapnya mengapa dia juga tidak tahu tentang Rosetta.
"Aku ingin tahu mengapa wanita itu ada di ruanganku! Aku ingin kau mencari tahu semuanya! Dan satu lagi Aldo, aku ingin kau sediakan ruangan terpisah untuk wanita itu!" perintahku pada Aldo.
"Rosetta tidak akan pergi dari ruangan ini atau pergi dari perusahaan ini! Itu adalah perintah langsung dariku!" Aku sungguh terkejut dengan kedatangan ayah dan mendengar semua perkataan ayah yang tidak mengijinkan aku mengusir Rosetta.
Aku bertanya pada ayah mengapa dia melakukan semua ini? Apa yang sebenarnya sudah terjadi sehingga ayah melakukan semua ini. Aku terus saja bertanya pada ayah tetapi ayah tidak menjawab semua pertanyaanku.
Dengan diamnya ayah aku sudah yakin jika semua yang aku katakan tidak akan pernah ayah dengar. Karena aku tahu jika ayah sudah memutusakan sesuatu maka dia tidak akan merubah keputusannya itu.
__ADS_1
"Jika itu semua keputusan Ayah, maka aku akan pergi dari sini! Dan aku akan pergi dari Indonesia agar Ayah bisa melakukan semua yang ayah inginkan! Lakukan apa pun yang menurut Ayah benar tidak usah meminta pendapatku atau Lexa!"
Setelah mengatakan itu aku langsung pergi meninggalkan ayah bersama wanita yang menyebalkan itu. Aku sungguh tidak menyangka jika ayah akan membela wanita itu.
Lebih baik aku kembali ke Jepang, tinggal di sana bersama Lexa. Mungkin ayah sudah tidak membutuhkan aku lagi karena sekarang sudah ada wanita itu yang akan selalu ayah lindungi.
Aku mengambil ponselku lalu menghubungi Himawari agar segera bersiap untuk pergi ke Jepang. Dia bertanya mengapa begitu cepat, aku menjawabnya jika akan menjelaskan semuanya nanti jika sudah berada di rumah.
"Tunggu Lexi!" Aku mendengar seseorang memanggilku guna menghentikan langkahku. Aku kenal dengan suara itu dia adalah asisten Ari.
Langkahku terhenti guna mengetahui apa yang akan dikatakan oleh asisten Ari. Dia mengatakan agar aku meminta maaf pada ayah. Karena aku tidak pantas dan berhak mengatakan semua itu pada ayah.
Betapa aku tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar, sekarang asisten Ari pun membela wanita itu. Sebenarnya apa yang sudah wanita itu lakukan sehingga membuat ayah dan asisten Ari membelanya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku pergi meninggalkan asisten Ari. Karena dia sama saja dengan ayah, sehingga aku tidak mengerti apa yang ada dipikiran mereka berdua.
Aku menyuruh sopir untuk menjalankan mobilnya menuju rumah, setelah tiba di rumah aku bergegas masuk ke kamar. Himawari langsung mendekatiku setelah dia melihat aku yang baru masuk ke dalam kamar.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kita harus segera kembali ke Jepang? Apakah terjadi sesuatu pada Lexa?!" Himawari bertanya padaku.
Aku mengatakan semua yang sudah terjadi di perusahaan bunda, dia sangat terkejut tetapi dia tidak bisa bicara apa pun. Setelah mengatakan semuanya aku mengajak Himawari untuk segera pergi dari rumah menuju bandara.
Himawari menuruti perintahku, aku sebenarnya merasa bersalah padanya mungkin dia tidak bisa berpamitan pada ibu dan adiknya. Namun, jika ada waktu mungkin ibu dan Rein bisa berkunjung ke Jepang.
__ADS_1
Aku menyuruh sopir untuk mengantarku ke bandara, saat dalam perjalanan pulang tadi aku memesan tiket ke Jepang. Untung saja ada penerbangan ke Jepang satu jam lagi.
Entah mengapa aku merasa marah pada ayah yang melakukan semua ini. Apakah Lexa tahu semua keputusan ayah ini? Jika dia tahu apakah dia akan sama marahnya seperti diriku.
Tibalah aku di bandara, setelah semua barang turun dari mobil aku menyuruh sopir untuk segera kembali ke rumah. Apakah karena rasa kesalku pada ayah sehingga membuat aku memutuskan semua ini.
***
Setibanya aku di Jepang tanpa memberitahukan pada Lexa. Dia terlihat sangat terkejut, aku tahu mungkin semua keputusanku yang pergi meninggalkan ayah adalah sebuah kesalahan.
"Mengapa kau pergi meninggalkan ayah sendiri?!" tanya Lexa padaku dengan nada kesal juga.
Lalu aku menceritakan semuanya pada Lexa apa yang sudah ayah lakukan. Ayah lebih percaya pada Rosetta dibandingkan dengan aku. Dan juga ayah membela Rosetta, bukan ayah juga tetapi asisten Ari pun ikut membelanya.
"Meski ayah melakukan itu, paling tidak kau jangan pergi tanpa pamit! Apakah kau tidak peduli dengan perasaan ayah?" tanyanya padaku lagi.
Aku hanya diam mendengar Lexa mengatakan itu tetapi saat aku pergi dari rumah emosi yang sedang menguasaiku. Sehingga aku tidak berpikir ke arah itu.
Lexa menyuruhku untuk menghubungi ayah dan meminta maaf. Namun, aku belum bisa menghubungi ayah saat ini, mungkin nanti jika emosiku sudah hilang baru menghubungi ayah.
Mungkin Lexa kesal terhadapku, setelah mengatakan itu dia langsung pergi meningkatnya diriku. Aku melangkah menuju kamar lalu duduk di atas sofa dengan memikirkan apa yang baru aku lakukan. Pergi begitu saja tanpa mengatakan apa-apa pada ayah.
"Apa yang dikatakan Lexa benar, lebih baik kau menghubungi ayah! Kasihan ayah, mungkin saat ini dia sedang menunggumu untuk menghubunginya!" Himawari berkata padaku dengan nada lembut.
__ADS_1
Yang dikatakan Lexa dan Himawari benda tetapi entah mengapa aku belum bisa menghubungi ayah saat ini. Emosi, kecewa dan rasa kesalku masih besar.
Himawari menghela napasnya lalu dia menyuruhku untuk beristirahat, sedangkan dia meminta izin padaku untuk pergi ke suatu tempat untuk mengurus sesuatu. Dia akan pulang sebelum makan malam, jadi aku tidak usah mengkhawatirkannya.