Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 63


__ADS_3

Still Lexi POV


Para pengawal mulai mendekati mobil yang aku tumpangi, aku tahu saat ini yang bisa dilakukan hanya melawan mereka. Aku keluar terlebih dahulu, baru disusul Aiko dan Himawari.


Mereka sangat tidak bersahabat, tanpa basa-basi mereka menyerang kami. Tinjuan mereka layangkan padaku, sesekali juga melayangkan tendangannya. Aku berhasil menangkis tinjuan mereka, serta berhasil menghindar dari tendangan yang mereka layangkan.


Mereka tidak memberikanku kesempatan untuk menyerang balik, sehingga yang bisa aku lakukan saat ini adalah bertahan dari serangan mereka. Aku berusaha mencari celah untuk membalas serangan mereka, aku tersenyum tipis. Karena aku menemukan celah untuk menyerang mereka.


Bug!


Whussss!


Brugggg!


Kuhujani mereka dengan tinjuanku, lalu kuakhiri dengan tendanganku. Salah satu dari mereka jatuh tersungkur di atas aspal. Mereka yang masih bertahan dengan seranganku, meringis kesakitan namun mereka bersiap kembali untuk menyerangku.


Aku tidak akan membiarkan mereka untuk menyerangku kembali, kuputuskan untuk menyerang mereka terlebih dahulu. Sehingga mereka tidak bisa kembali menyerangku.


Brugggg!


Satu per satu dari mereka terjatuh, kukerlingkan mataku untuk melihat musuh yang berhasil kulumpuhkan. Apakah mereka bisa berdiri lagi atau mereka benar-benar tidak berdaya.


Pandanganku tertuju pada Aiko, ternyata dia bisa mengatasinya begitupun dengan Himawari. Sungguh mereka adalah wanita yang sangat tangguh.


Setelah para pengawal berhasil dilumpuhkan, aku memutuskan untuk segera pergi. Karena aku yakin jika kami masih di sini, maka akan semakin banyak pengawal yang berdatangan.


Aku menyuruh Aiko untuk memegang kendali stir mobil, sedangkan aku duduk disampingnya. Kubuka laptopku lalu kunyalakan, kumainkan jari-jemariku dengan cepat. Aku mencari jalur untuk pelarian kami, kulihat ada beberapa mobil yang mengikuti kami.


Aiko langsung tancap gas, aku mengarahkan dia menuju jalur pelarian yang aman. Kusuruh Aiko berbelok ke kanan setelah melewati lampu merah di depan.


"Apa kau gila hah! Kau suruh aku berbelok ke kanan! Kau tidak lihat lampu masih bewarna merah!" teriak Aiko padaku.


Aku mengatakan padanya agar percaya pada padaku, karena aku tidak mungkin salah. Aku mulai meretas jaringan lalu lintas, sehingga aku bisa dengan mudah melewati semuanya.


Aku memberikan waktu sebentar pada Aiko, sepersekian detik kusuruh Aiko untuk tancap gas lalu berbelok ke kanan.


"Kau gila Lexi!!" teriak Aiko sembari tancap gas lalu berbelok ke kanan.


Aku terkekeh mendengar teriakan Aiko, jika yang di posisi ini adalah Lexa. Dia tidak akan teriak seperti ini, malahan dia akan menikmatinya. Karena Lexa menyukai segala sesuatu yang bisa memacu adrenalinnya.

__ADS_1


"Hentikan tawamu Lexi! Aku tahu kau sedang membandingkanku dengan Lexa kan!?" gerutu Aiko.


Ternyata dia tahu apa yang ada dipikiranku, aku menghentikan tawaku lalu kembali fokus pada laptopku. Kupikir kami sudah berhasil lolos dari mereka, ternyata tidak. Mereka masih mengejar, aku mengatakan pada Aiko bahwa mereka masih mengikuti dari belakang.


Aiko langsung tancap gas, dia menyalip mobil yang ada di depan. Dia menjalankan mobil bak seperti seorang pembalap saja. Tapi aku menyukai hal ini. Musuh berusaha menyalip mobil yang aku tumpangi, namun Aiko tidak memberikan kesempatan pada mereka untuk menyalip.


Dor!


Mereka menembakkan senjata ke arah mobil kami, untung saja mobil ini sudah ku design sehingga aman dari hantaman peluru. Aku tidak ingin mengeluarkan senjataku, karena masih banyak kendaraan warga yang tidak bersalah.


Aku menyuruh Aiko untuk segera menghindari mereka, aku yakin mereka bukan polisi melainkan pengawal dari Rey Hirasaki. Aku berpikir sejenak sebenarnya barang apa yang diambil oleh Himawari.


"Sebenarnya barang apa yang kau ambil di rumah Rey Hirasaki?!" tanya ku dengan tegas pada Himawari.


Dia terdiam sejenak, mungkin dia tidak mau mengatakannya padaku. Tapi aku butuh jawaban darinya, karena Rey Hirasaki bisa berbuat lebih nekat dari ini.


Aku mengulangi pertanyaan pada Himawari, entah apa yang dia pikirkan. Sungguh membuatku kesal saja, tidak kusangka dia gadis yang begitu keras kepala.


"Hentikan Lexi, jika dia tidak ingin menjawabnya! Lupakan saja, sekarang yang terpenting adalah lepas dari musuh yang mengejar kita!" ucap Aiko padaku, sehingga aku menghentikan pertanyaanku Himawari.


Aku mulai mencari jalan keluar agar kami bisa lepas dari kejaran musuh, mereka masih menembakkan senjanya ke arah kami. Aku sungguh tidak habis pikir, apakah mereka tidak sadar akan banyak korban yang berjatuhan.


Akhirnya aku mendengar jawaban darinya, aku tidak bisa memaksanya untuk mengatakan semuanya. Aku akan lihat nanti saja jika sudah bertemu kembali dengan Lexa. Kuharap Lexa baik-baik saja, karena aku yakin dia pun dikejar oleh para musuh.


Suasana jalanan mulai sepi dari lalu lalang pengendara lain, musuh semakin membabi-buta menembakkan senjatanya ke arahku. Aku pun mengeluarkan senjata yang sengaja aku siapkan.


Aku pikir tidak akan menggunakan senjata api ini, ternyata hari ini tiba dimana aku akan menggunakan senjata ini. Ku buka jendela mobil, kuarahkan senjataku pada mereka. Kutekan pelatuk senjata yang kupegang.


Dor!


Salah satu mobil musuh berguling-guling kehilangan keseimbangan, karena tembakanku mengenai ban mobilnya. Sepersekian detik mobil yang berguling-guling tadi meledak. Sehingga menghalangi mobil lain yang hendak mengejarku.


"Aiko awas!!"


Aiko terkejut seketika dia membanting stir ke arah kiri lalu menginjak rem dengan sekuat tenaganya. Di depan ada seorang wanita yang berdiri tegap, dia bergeming melihat mobil kami. Entah apa yang ada dipikirannya.


Wanita itu tersenyum sembari mengeluarkan senjata yang ada di punggungnya. Senjata yang dia gunakan adalah dua bilah pedang yang terlihat sangat tajam.


"Biar aku yang menghadapinya!" Himawari berkata sembari membuka pintu mobil.

__ADS_1


Aku menyuruh Himawari mengambil pedang yang ada di bagasi mobil, pedang itu milik Lexa yang sengaja disimpan di mobilku. Dia tersenyum lalu mengambil pedang yang ada di bagasi mobil.


Disaat dia sedang menghadapi musuhnya, aku memutuskan untuk keluar dari dalam mobil. Sedangkan Aiko aku menyuruhnya untuk tetap diam di dalam mobil.


Whuuss!


Klang!


Musuh mulai melayangkan sabetan pedangnya pada Himawari, dia berhasil menangkisnya dengan pedang yang dia pegang. Pedang mereka saling bertabrakan sehingga menghasilkan percikan api.


Pertarungan mereka semakin sengit, mereka saling menyerang satu sama lain. Himawari berhasil melukai lengan musuh, dia tersenyum setelah berhasil melukai musuhnya.


Wanita itu semakin marah, karena Himawari berhasil melukai lengannya. Dia menyerang dengan kekuatan penuh, Himawari bertahan dengan semua serangan yang diterimanya.


Whuuss!


Sabetan pedang yang bertubi-tubi pada dilayangkan pada Himawari, akhirnya mengenai kakinya. Sepertinya luka sabetan pedang itu dalam, sehingga darah segar keluar dari luka di kakinya.


"Sudah cukup aku bermain-main denganmu!" teriak Himawari sembari menyerang wanita itu.


Dia tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada wanita itu untuk menyerang balik. Dia terus saja melayangkan sabetan pedangnya, sesekali dia juga melayangkan tendangannya.


Brugggg!


Wanita itu jatuh tersungkur, dia tidak bisa lagi berdiri tegap. Terlihat tubuhnya penuh luka sabetan pedang yang dilayangkan oleh Himawari. Aku sungguh terkejut Himawari begitu hebat, entah mengapa jika melihat dia seperti ini aku teringat akan bunda atau Lexa. Dia benar-benar mirip dengan mereka berdua.


Aku tersenyum, lalu menyuruhnya masuk kedalam mobil. Karena musuh masih ada di belakang. Dia pun menuruti perkataanku, kulihat dia tertatih-tatih. Aku segera membatunya untuk berjalan memasuki mobil.


Aku duduk di belakang bersama Himawari, aku mengeluarkan kotak P3K untuk mengobati luka Himawari. Aiko langsung tancap gas, aku menyuruhnya untuk terus berjalan dengan kecepatan tinggi.


Setelah mengobati luka Himawari, aku kembali duduk di depan bersama Aiko. Aku mulai memainkan jari-jemariku, untuk melihat apakah mereka masih mengejar atau tidak. Ternyata mereka sudah tidak mengejar kami, aku putuskan menyuruh Aiko untuk ke tempat dimana pertemuan dengan Lexa.


____________________________________________


Bagaimana dengan Lexa?


____________________________________________


Terimakasih karena sudah setia membaca semua karyaku, jangan lupa berikan like, komen, vote kalau bisa jadikan favorit ya 😉

__ADS_1


selamat membaca c u next bab 😘


__ADS_2