
Hinoto POV
Mengapa dengan Mamoru, mengapa dia selalu saja menatap Lexa. Aku sungguh tidak menyukai tatapan dia seperti itu terhadap istriku, mengapa juga makan malam ini terasa sangat lama bagiku.
Entah mengapa sekarang aku tidak seperti biasanya, semenjak menikah aku takut kehilangan akan Lexa. Itu sebabnya aku segera kembali ke Jepang, setelah mendengar Mamoru berada di Jepang.
“Sayang, ada apa denganmu?” Lexa bertanya padaku dengan tatapan lembutnya.
Aku tersenyum padanya, seraya mengatakan tidak ada apa-apa. Lalu aku menyuruhnya untuk kembali menyantap makan malamnya. Setelah makan malam selesai, ayah meminta kami untuk duduk di ruang keluarga terlebih dahulu.
“Hinoto bisakah malam ini kau menginap di rumah bersama Lexa?” pinta ayah padaku.
Mendengar permintaan ayah, aku merasa tidak enak untuk menolaknya. Namun, aku tidak bisa menghiraukan perasaan Lexa.
“Baiklah Ayah, kami akan menginap malam ini.” Lexa menjawab sembari memegang tanganku.
Dia begitu mengerti aku, benar-benar dia sudah membuatku semakin jatuh hati padanya. Dan itu semakin membuatku takut akan kehilangannya.
Ayah terlihat sangat senang dengan jawaban yang diberikan oleh Lexa. Dia menyuruh seorang pelayan untuk menyiapkan sebuah kamar untuk kami.
“Sayang, aku ingin cepat-cepat masuk ke dalam kamar! Aku tidak ingin melihat orang yang sangat menyebalkan itu!” bisik Lexa padaku.
Aku tahu pasti dia tidak suka jika Mamoru terus saja memperhatikan Lexa seperti itu. Tidak berapa lama seorang pelayan menghampiri kami. Dia mengatakan bahwa kamar untuk kami sudah siap.
“Ayah, aku pamit dulu! Sepertinya Lexa sudah kelelahan.” Aku pamit pada ayah lalu membawa Lexa menuju kamar dengan mengikuti seorang pelayan.
Pelayan itu berjalan ke arah sebuah kamar yang dulunya pernah menjadi tempatku di rumah ini. Tidak kusangka kamar ini masih ada karena sudah lama aku tidak pernah pulang kemari. Setelah mengantar kami, pelayan itu pergi meninggalkan aku dan Lexa.
Lexa bergegas membuka pintu kamar, mungkin dia sudah lelah. Aku menyuruhnya untuk membersihkan diri lalu beristirahat. Namun, dia mengatakan tidak membawa pakaian tidur.
Aku teringat jika di mobil ada pakaian tidur yang sudah aku beli di Korea. Tadinya ingin ku simpan di dalam almarinya, sebagai kejutan untuknya.
"Bersihkan dirimu, aku ada apakaian tidur untukmu!" perintahku padanya lalu pergi meninggalkannya.
Berjalan menelusuri setiap anak tangga rumah ini, membuatku teringat akan ibu. Sungguh aku merindukanmu bu tetapi aku merasa bersalah karena tidak ada saat kau membutuhkanku.
Saat tiba di mobil, aku melihat Mamoru yang sedang bicara melalui ponselnya sembari berjalan masuk ke rumah. Untuk apa memikirkannya lebih baik cepat mengambil apa yang Lexa butuhkan.
Pembalut, iya dia membutuhkan itu. untung saja Lexa membeli itu saat dalam perjalanan karena dia takut terjadi sesuatu. Rupanya insting seorang wanita selalu tepat.
Setelah barang yang di butuhkan Lexa ada di tangan, aku bergegas masuk ke dalam rumah. Lalu berjalan menuju kamar.
"Cepat keluar!" teriak Lexa.
Betapa terkejutnya aku saat mendengar teriakan Lexa, tanpa pikir panjang kubuka pintu kamar. mataku terbelalak saat melihat Mamoru sudah ada di dalam kamar.
Terlihat jelas rasa kesal dari sorot mata Lexa, aku langsung mendekati Mamoru. Lalu menarik kerah bajunya.
"Apa yang kau lakukan— di kamarku?" kataku dengan penekanan di dalamnya.
Dia tersenyum, sungguh aku tidak mengerti apa yang sedang dia pikirkan. Aku menyuruh Lexa untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dia pun menuruti apa perintahku.
"Meski kau menyuruhnya masuk, aku sudah melihat semuanya!" Mamoru menjawab dengan sorot mata yang membuatku geram.
Dia melepaskan cengkeraman tanganku lalu dia pergi meninggalkan kamar. Saat dia sudah keluar dari kamar, aku menutup rapat-rapat pintu kamar. Agar dia tidak bisa seenaknya masuk begitu saja.
Aku melangkah menuju kamar mandi, lalu mengetuk pintu kamar mandi. Guna menyuruh Lexa untuk keluar dan segera berpakaian.
Setelah Lexa keluar dari kamar mandi, sekarang giliranku untuk membersihkan diri. Aku tidak mengira Mamoru akan menjadi seperti ini. Yang aku takutkan, dia mulai terobsesi dengan Lexa.
Sehingga dia akan melakukan dengan cara apa pun untuk mendapatkan Lexa. Meski itu akan menyakiti Lexa lebih dalam lagi.
Beres sudah rutinitasku dalam membersihkan diri, aku membuka pintu kamar mandi. Aku melihat Lexa sudah berada di atas tempat tidur. Dengan berselimut menutupi seluruh tubuhnya.
Aku berjalan mendekatinya, saat hendak mengecup keningnya. Terlihat jelas wajahnya memerah, aku tersenyum. Rupanya dia belum tertidur, apakah dia sudah memakai pakaian tidur yang aku belikan untuknya.
__ADS_1
Srettt!
Kusibakkan kain yang menutupi seluruh tubuh Lexa, dia langsung bangun dan memeluk tubuhku. Guna menghalau agar aku tidak melihatnya tetapi aku masih bisa melihatnya.
"Kenapa kau memelukku?!" bisikku padanya.
"Huh ... Kenapa kau menyiapkan pakaian seperti ini?" jawabnya.
Aku tersenyum, lalu melepaskan sedikit demi sedikit pelukan Lexa dari tubuhku. Ingin melihat bagaimana wajahnya yang memerah karena tersipu malu.
"Coba aku lihat? Itu terlihat cocok untukmu!" ucapku pada Lexa.
Dia semakin tersipu malu, aku kira dia tidak akan bersikap seperti ini. Karena dia adalah wanita yang tangguh jika sudah berhadapan dengan musuh.
Malam ini terasa sangat lelah, jika dia sedang tidak berhalangan mungkin aku langsung melahapnya. Terlihat juga Lexa sudah lelah lebih baik istirahat saja.
"Ayo kita istirahat," ucapku lalu menggendong Lexa dengan lembut.
Kukecup bibirnya sekilas lalu menghempaskan tumbuhnya secara lembut ke atas tempat tidur. Dia tersenyum lembut padaku, lalu aku pun merebahkan tubuh di sampingnya. Dia memasuki dadaku sehingga dia tertidur di dalam pelukan.
**
Aku terbangun mendengar keributan yang terjadi di luar. Dari suara yang terdengar itu adalah ayah, sebenarnya apa yang terjadi hingga ayah terdengar semarah itu.
Tanpa memikirkan apa pun aku berlari keluar untuk melihat keadaan ayah. Rupanya ayah sedang berdebat dengan Mamoru.
Apa yang sudah diperbuat Mamoru sehingga ayah sejarah ini? Aku mendekati ayah, Mamoru yang menyadari kedatanganku menatapku dengan tatapan penuh dengan kebencian.
"Apa yang terjadi Ayah?" tanyaku.
Ayah terlihat sangat kesal, aku baru pertama kali melihatnya seperti ini. Ayah menceritakan semua hal yang membuatnya marah pada Mamoru.
Rupanya Mamoru sudah membuat kesalahan yang sangat fatal, sehingga membuat perusahaan merugi sangat fantastis.
Jika terus seperti ini ada kemungkinan perusahaan akan jatuh dan tidak bisa bangkit lagi. Ayah memintaku untuk mengurus semua kekacauan yang sudah dibuat oleh Mamoru.
"Lebih baik Ayah memberikan kesempatan sekali lagi untuk Mamoru! Agar dia bisa menyelesaikan masalah yang sudah dia buat." jelasku pada ayah, mengapa aku tidak menerima permintaannya.
Ayah menghela napasnya, dia tahu tidak bisa memaksaku. Karena dulu ayah pernah berdebat dengan Mamoru masalah perusahaan. Sehingga aku memutuskan untuk pergi dari rumah dan perusahaan.
Aku sudah menyerahkan seluruh hak yang seharusnya aku terima demi Mamoru. Bahkan saat hari terkahir ibu pun aku tidak bisa menemuinya.
Sangat besarkah kau membenciku Mamoru? Sehingga kau menjauhkanku dari ibuku sendiri di saat-saat terakhirnya. Sekarang semua sudah aku serahkan padanya.
Dan aku tidak ingin ikut campur lagi dalam masalah perusahaan ini. Lagi pula aku sudah memiliki Bisnisku sendiri, itu adalah peninggalan ayah kandungku.
Setelah mendengar penjelasan dariku, ayah pergi meninggalkan aku dan Mamoru. Aku melihat tatapannya semakin penuh dengan kebencian terhadapku.
"Apa salahku? Sehingga kau begitu membenciku?" tanyaku pada Mamoru.
Dia terkekeh saat aku bertanya seperti itu, lalu dia berjalan menghampiriku. Dia menatapku dengan sorotan mata kebencian.
"Salahmu— banyak sekali, Aku benci kau dengan semua yang kau miliki. Termasuk wanita yang aku inginkan yaitu Lexa!" jawabnya.
Setalah menjawab itu dia pergi meninggalkanku sembari berteriak bahwa dia akan merebut Lexa dari tanganku. Dengan cara apa pun dia akan merebutnya kembali.
Sepertinya dia sudah mulai terobsesi oleh Lexa karena wanita yang dia inginkan memilih menikah denganku. Tetapi semua itu adalah kesalahannya bukan kesalahanku. Karena aku sudah menyerah akan Lexa setelah tahu bahwa dia mencintai Lexa.
Aku berjalan kembali menuju kamar, melihat Lexa yang masih terduduk di atas tempat tidur. Dia memandangku seraya bertanya apa yang sudah terjadi.
"Bersiaplah kita akan pulang ke rumah!" perintahku padanya lalu aku berjalan menuju balkon yang tepat ada di luar kamar.
Aku memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh Mamoru. Itu membuatku takut, yang ku khawatirkan adalah jika Mamoru menyakiti Lexa.
"Sayang, aku sudah siap! Kau bersihkan diri dulu baru kita kembali ke rumah," bisiknya padaku sembari memeluk dari belakang.
__ADS_1
Mendengar suaranya sedikit membuat hatiku merasa tenang. Kupegeng kedua tangannya dengan erat, dalam hati ini merasakan tidak ingin kehilangannya.
Setelah itu aku kembali masuk ke dalam kamar dan melepas satu per satu pakaianku, lalu masuk ke kamar mandi guna membersihkan diri.
Aku pun selesai dengan rutinitas membersihkan diri, lalu bersiap untuk kembali ke rumah. Karena berada di rumah ini dengan waktu yang lama membuatku sesak.
Tok!
Tok!
Terdengar suara ketukan pintu kamar, aku berjalan mendekati pintu kamar lalu membuka pintu. Terlihat seorang pelayan, dia mengatakan jika ayah sudah menunggu kami untuk sarapan di bawah.
Setelah menyampaikan pesannya dia pergi guna menyelesaikan semua pekerjaannya. Aku melihat Lexa sudah siap, dia tersenyum lalu menggandengku.
"Ayo kita sarapan, setelah itu kita kembali ke rumah!" Dia mengatakan itu dengan senyum manis di bibirnya.
Kami pun berjalan dan menuruni anak tangga guna mencapai ruang makan. Aku melihat Mamoru yang berjalan ke arah yang sama denganku.
Aku melihat ayah yang sudah duduk di meja makan, lalu Mamoru pun duduk di samping ayah. Lexa menatapku dengan lembut sembari mengepalkan pegangannya seraya mengatakan aku harus kuat.
Kami pun duduk, tanpa berkata-kata ayah menyuruh pelayan untuk segera menyiapkan sarapan. Tidak begitu lama semua menu sarapan sudah terhidang di atas meja makan.
Acara sarapan kali ini sangat hening lebih hening di saat makan malam semalam. Karena ayah masih terlihat marah terhadap Mamoru.
Setelah selesai sarapan ayah memintaku untuk mengikutinya ke ruang baca. Entah apa yang akan ayah katakan lagi padaku. Jika masih masalah perusahaan aku tidak akan menerimanya.
"Hinoto, maafkan Ayahmu ini! Karena aku tidak bisa mendidik anakku dengan baik. Aku tahu kau sudah banyak menderita karena Mamoru. Bahkan kau rela meninggalkan ibu yang kau sayangi deminya." ucap ayah padaku dengan nada kesedihan.
"Ini bukan salahmu Ayah, mungkin sudah takdirku seperti ini." jawabku padanya agar dia tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi.
Ayah tersenyum meski ada kesedihan di matanya, dia mengatakan jika ibu sangat merindukanku sebelum kepergiannya untuk selama-lamanya.
"Ibumu mengatakan sampai kapan pun selalu menyayangimu, dia meminta maaf padamu karena sudah membuatmu sangat menderita. Aku pernah mencari keberadaanmu tetapi ibumu melarang semua itu. Menurutnya semua itu adalah yang terbaik untukmu." Ayah mengatakan hal yang seharusnya diberitahukan sedari dulu.
Aku berterima kasih karena ayah sudah merawat dan menemani ibu hingga akhir hayatnya. Untuk semua yang sudah diperbuat ibu, aku sudah memaafkan semuanya. Biarlah kenangan ibu yang ada di hatiku adalah ibu yang baik dan sangat menyayangiku.
Aku tidak ingin mengenang ibu dengan perbuatannya padaku. Yang membuat aku sangat menderita dan bahkan hingga kehilangan ayah kandungku.
Di akhir pembicaraan ayah masih saja memintaku untuk mengurus perusahaan. Namun, aku masih dengan semua keputusanku. Tidak akan menerima apa pun yang berkaitan dengan perusahaan itu.
Karena bagaimanapun karena perusahaan itu adalah titik awal dari kehancuran keluargaku yang sangat bahagia.
Setelah mengatakan penolakanku, aku meminta izin untuk meninggalkan rumah. Karena sudah tidak ada apa pun yang harus di bicarakan.
Aku berjalan meninggalkan ruangan baca, lalu berjalan menuju ruang tamu karena Lexa sudah menungguku di sana.
Melihat Lexa yang sudah duduk sembari memainkan ponselnya. Aku bergegas menghampiri tetapi Mamoru terlebih dahulu sampai mengapa Lexa.
Terlihat jelas Lexa tidak nyaman dengan kehadiran Mamoru. Lebih baik aku memperhatikan sejenak dari sini. Aku ingin lihat sejauh mana Lexa bisa menghadapi Mamoru.
Mamoru terus saja mengatakan hal-hal yang membuatku muak. Dia mengatakan jika dirinya masih sangat mencintai Lexa. Semua kesalahan paman yang terjadi itu semua akibat Leo Ahmad.
"Hentikan itu Mamoru! Jangan kau membuka luka lama yang sudah ingin ku hapus!" pekiknya sehingga terdengar jelas dari posisiku.
Mamoru memegang tangan Lexa tetapi dia menghempaskan lengan Mamoru. Lalu dia berjalan menjauhinya, Lexa melangkah cepat ke luar rumah.
Mamoru terus mengejarnya, aku mengikutinya dari belakang. Sepertinya Lexa hendak menuju mobilku, karena dia yang memegang kuncinya.
Dia membuka pintu mobil, saat dia hendak memasuki mobil. Mamoru menarik dengan keras tangan Lexa, dengan spontan Lexa melayangkan tendangannya.
Namun, Mamoru dapat menahan tendangan yang dilayangkan oleh Lexa. Akhirnya terjadilah perkelahian kecil antara mereka.
Aku tahu dengan kemampuan istriku, maka aku akan membiarkannya untuk melepaskan semua rasa kesal di dalam hatinya karena ulah Mamoru.
Mamoru terhuyung ke belakang setelah menerima pukulan dari Lexa, lalu dia mendapatkan tendangan yang mematikan dari Lexa.
__ADS_1
Sehingga Mamoru terjatuh, aku terkekeh melihat semua itu. Rupanya dia bukanlah pria yang pantas bersanding dengan Lexa karena dia tidak bisa mengalahkan Lexa.
Hanya aku yang pantas mendampingi Lexa karena dia adalah wanitaku. Dan dia akan selalu menjadi wanitaku untuk selama-lamanya.