Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 87


__ADS_3

Still Lexa POV


Akhirnya Rey Hirasaki berhasil melumpuhkan kami, aku tidak tahu apakah semua ini akan berakhir dengan kematian kami. Namun yang pasti aku tidak rela, jika Rey bisa menghabisi kami dengan begitu mudahnya.


"Aku tidak membutuhkan kalian, yang kuinginkan adalah Alex Wibowo! Namun kalian berdua sudah mengacaukan Bisnisku dan juga menggagalkan semua jerih payahku! Maka aku juga akan menghabisi seluruh keturunan Alin dan Alex! Hahaha."


Aku sungguh kesal dengan apa yang Rey katakan, sedendam itukah dia pada ayah dan bunda. Sebenarnya apa kesalahan mereka, jika mereka bersalah tidak perlu sampai membuat bunda tiada.


"Jika Ayah dan Bunda kami bersalah, kau juga tidak berhak menghabisi Bunda kami!" Teriakku pada Rey Hirasaki.


Aku berusaha melepaskan diri dari cengkraman beberapa pengawal Rey Hirasaki. Namun tidak berhasil, mereka mencengkramku sangat kuat.


"Itu belum sepadan, karena perbuatan mereka aku kehilangan wanita yang kucintai! Bukan hanya sekali mereka membuatku kehilangan orang yang kucintai! Namun Ayahmu menyebabkanku kehilangan lagi dan lagi!"


Bug!


Rey memukul Lexi dengan kuat sehingga Lexi jatuh tersungkur, aku berteriak agar dia melepaskan Lexi. Namun semua usahaku tidak berhasil. Dia terus saja menghajar Lexi, aku sudah tidak kuat lagi melihat kondisi Lexi.


"Tunggu saja giliranmu Lexa! Namun bukan saat ini aku menghajarnya Lexa! Yang aku inginkan adalah Ayah kalian!" Teriak Rey padaku, terlihat jelas sorot matanya yang memancarkan kemarahan.


Rey Hirasaki menghentikan menyerang Lexi setelah mendapatkan kabar dari seorang pengawal. Entah informasi apa yang dia dengar, terlihat dia sangat senang.


"Kalian urus mereka dan jangan sampai mereka kabur!" Rey Hirasaki berkata lalu dia pergi meninggalkan kami bersama pengawalnya.


Saat Rey Hirasaki pergi dari gedung tua ini, para pengawalnya mulai mengikat kami. Aku berusaha melawan namun tenagaku sudah habis, aku harus bersabar untuk mengumpulkan kembali tenagaku.


"Cepat kita harus mengikat mereka, agar mereka tidak bisa lari!" Seorang musuh mengatakan pada temannya.


Kulihat Lexi sudah lemas karena dihajar habis-habisan oleh Rey, sedangkan Aiko dan Himawari berusaha untuk melepaskan ikatan yang mengikat kedua tangan mereka.


Brakk!


Dor!


Dor!


Terdengar suara pintu di dobrak lalu disusul dengan tembakan, satu per satu musuh tergeletak tak berdaya. Aku melihat Aldo dan Azura menerobos masuk.


Mereka melawan semua musuh tanpa ampun, mereka saling menembak. Merasa sudah terpojok, salah seorang musuh menarik Aiko, dia menodongkan senjata di samping kepala Aiko.

__ADS_1


"Biarkan aku pergi! Jika tidak akan ku tembak wanita ini?" Dia berkata sembari berjalan perlahan.


Azura masih mengarahkan senjatanya pada pria yang menyandra Aiko, kulihat Aiko menginjak kaki pria itu. Sehingga pria itu meringis kesakitan, lalu melepaskan cengkeramannya.


Dor!


Azura langsung menembakkan senjatanya tepat di kepala pria tersebut. Aldo bergegas mendekatiku lalu dia melepaskan ikatanku, setalah ikatanku lepas. Aku mendekati Lexi dan melepaskan ikatan yang mengikat tubuhnya.


"Kita harus segera pergi dari tempat ini!" Aku berkata agar semuanya pergi dari tempat ini.


Aku ingin segera membawa Lexi ke rumah sakit, sungguh aku begitu khawatir padanya. Aldo dan Azura memapah Lexi berjalan menuju mobil, Aldo memegang kendali stir mobil. Dinyalakannya mesin mobil, lalu Aldo langsung tancap gas.


Dalam perjalanan, aku bertanya pada Aldo bagaimana dengan ayah. Aldo berkata bahwa dia kehilangan kontak dengan syahdan asisten Ari, aku mulai berpikir apakah Rey sudah menangkap ayah?


"Apakah Rey sudah menangkap Ayah?!" gumamku.


Aku sungguh khawatir, Aiko memegang tanganku dia menatapku dengan maksud agar aku harus tenang. Aku tersenyum padanya, aku pasti akan menemukan ayah. Tidak akan kubiarkan ayah celaka, sudah cukup Rey merenggut bunda dari tangan kami.


Kami pun tiba di rumah sakit, Lexi langsung di tangani oleh perawat dan dokter. Aku menyuruh Aldo dan Azura untuk melacak keberadaan ayah, bagaimanapun caranya mereka harus menemukan keberadaan ayah.


Aldo pun bergegas pergi meninggalkanku begitupun dengan Azura, aku berdiri menunggu Lexi keluar dari ruangan perawatan. Aiko masih menemaniku, aku menyuruhnya pulang namun dia tidak mau.


Aku melihat Lexi penuh dengan luka, aku berharap dia segera sembuh. Aku tidak ingin melihatnya seperti ini, aku juga memikirkan keadaan ayah. Beberapa saat kemudian Azura tiba, dia membawa beberapa pakaian ganti untukku dan Aiko.


Aku menyuruh Aiko untuk mbersihkan dirinya terlebih dahulu, setelah itu baru aku. Aiko pun masuk ke dalam karya mandi di ruangan rawat inap Lexi.


"Bagaimana kau sudah menemukan posisi Ayahku?!"


Azura menggelengkan kepalanya, dia belum mendapatkan informasi mengenai posisi ayah sekarang. Aku menghela napas, jika Lexi baik-baik saja mungkin dia bisa menemukan ayah dengan cepat.


"Lexi cepatlah sadar! Ayah membutuhkan kita!" Aku berbisik padanya.


**


Keesokan harinya aku mendengar erangan Lexi, aku langsung menghampirinya. Kulihat dia sudah membuka kedua matanya, dia masih terlihat lemah.


"Bagaimana keadaanmu?!" tanyaku pada Lexi.


"Aku haus!"

__ADS_1


Lexi berkata untuk pertama kalinya, lalu aku menjilati gelas yang sudah terisi air. Aku mengambil sedotan lalu menempelkan sedotan itu ke mulut Lexi, agar dia bisa menghisap air di dalam gelas.


Beberapa saat kemudian dokter tiba, dia memeriksa keadaan Lexi. Dokter mengatakan bahwa Lexi harus banyak istirahat untuk penyembuhannya.


"Aku ingin pulang!" Lexi berkata dengan lirih.


Dokter belum bisa mengijinkan Lexi untuk pulang karena luka-lukanya belum sembuh. Jadi membutuhkan waktu untuk penyembuhan, karena di rumah sakit ada perawat yang merawatnya. Dokter pun pergi meninggalkan ruangan.


"Lexa aku ingin pulang, jika disini aku tidak bisa melakukan tugasku!"


Aku tidak bisa mengikuti keinginannya, dokter mengatakan yang benar Lexi harus tetap di rumah sakit. Lalu Lexi bertanya tentang ayah, aku tidak bisa menyembunyikan dari Lexi.


Aku mengatakan pada Lexi bahwa ayah menghilang bersama asisten Ari. Aldo dan yang lainnya sedang mencari posisi ayah, namun belum menemukannya.


"Cepat urus kepulanganku! Jika tidak kita akan terlambat!"


Aku tidak bisa menahan Lexi untuk berada di rumah sakit, aku menyuruh Aiko untuk mengurus kepulangan Lexi. Bagaimanapun caranya Lexi harus bisa pulang ke rumah.


Aiko pun pergi, dia akan melakukan semua cara agar Lexi bisa pulang. Aku percaya bahwa Aiko bisa melakukan semua ini, aku lihat Lexi berusaha untuk duduk dari posisi tidurnya.


"Lexa apakah kita akan kehilangan orang yang kita cintai lagi?"


Aku memeluk Lexi lalu aku mengatakan bahwa kita pasti bisa menyelamatkan ayah. Karena aku pun tidak ingin kehilangan lagi, sudah cukup aku kehilangan Bunda.


Beberapa saat kemudian Aiko tiba, dia mengatakan bahwa Lexi bisa pulang hari ini. Tapi dengan banyak syarat yang harus dipenuhi, namun semua itu tidak penting bagi Lexi.


___________________________________________


Haiii para readers maafkan penulis yang banyak maunya ini ya xixixix....


Jangan lupa like di setiap episode, trus klik love biar dpt notif updatean terbaru dan klik bintang 5 biar penulis semakin semangat.


Cara kasi rate : kamu bisa masuk ke beranda novel si kembar lalu lihat pojokan atas sebelah kanan, nah ada tuh bintang-bintang yang bertaburan butuh kalian isi. Klik bintang-bintang itu lalu klik 5 kali bintang yang kosongnya. sudah oke deh 😉


Oia satu lagi jangan lupa komen juga ya, karena like dan komen kalian sangat berarti bagiku.


Mudahkan yuk coba biar aku semakin semangat 😉


c you next bab 😘

__ADS_1


__ADS_2