Pembalasan Si Kembar Wibowo

Pembalasan Si Kembar Wibowo
BAB 24


__ADS_3

Alexi POV


Sial kenapa ini sulit sekali sih, aku sudah berusaha membuka pecahan puzzle ini. Ternyata kau begitu pintar om Leo, aku mengumpulkan potongan-potongan puzzle mu. Hingga saat ini aku belum menemukan semuanya. Tapi aku yakin aku bisa mengumpulkan semuanya, meski aku harus berkeliling dunia sekali pun.


Drrrttttt...


Drrrttttt...


Handphone ku bergetar, rupanya Lexa mengirim ku sebuah pesan. Bertanya keberadaan ku, apakah pestanya sudah berakhir? Aku pun membalas pesannya, supaya dia bisa menyusul ku kemari. Secepat kilat dia membalas pesanku, dia menyuruh ku untuk menunggunya.


Bunda aku begitu merindukan mu, aku ingat tempat ini adalah tempat yang suka kita kunjungi, jika kita pergi ke Jepang. Tidak akan ku lupakan semua kenangan kita, aku akan selalu mengingat semua yang telah kau ajarkan.


Kubuka laptop karena menunggu Lexa, jika aku pergi dari sini maka dia akan sangat marah padaku. Lebih baik aku mencari pecahan puzzle berikutnya. Aku baru menemukan pecahan puzzle yang berada di Indonesia. Sepertinya om Leo menyembunyikan semua pecahan puzzle di berbagai tempat selain Indonesia.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lexa padaku, dari nadanya dia sedikit khawatir dengan ku. Dia tahu jika aku mendatangi taman ini, itu menandakan bahwa aku sedang merindukan bunda. Karena tempat ini sangat berkesan baik bagi ku atau baginya.


"Jika saja tidak ada penculikan itu, mungkin Bunda masih ada sampai saat ini! Ini semua salah ku, kalau saja hari itu aku tidak mengajak mu untuk menjahili para pengawal, mungkin kita tidak akan di culik oleh Om Leo!"


Lexa sangat menyesalkan kenapa dia bisa bertidak ceroboh, dia menyalahkan semuanya pada dirinya sendiri. Aku tidak pernah menyalahkan dia atas kematian bunda. Yang ku salahkan adalah orang yang berada di balik kematian bunda. Dan aku akan terus mengejarnya.


Kulihat air mata Lexa menetes di pipinya, aku memeluknya dengan erat. Aku begitu menyayangi saudari ku ini, tidak akan kubiarkan siapapun menyakitimu. Aku akan selalu melindungi mu, karena pesan bunda kami harus saling melindungi.


"Sudah hentikan tangisan mu! Sekarang yang harus kita pikirkan adalah mengumpulkan pecahan puzzle yang di buat oleh Om Leo!" ucapku pada Lexa, seketika dia mulai berhenti menangis dan ikut berpikir.

__ADS_1


"Iya aku tahu, waktu Om Leo menarik kita yang bergelantungan di ujung gedung, dia memberikan mu dua buah USB!" ucap Lexa yang mengingat kejadian enam tahun yang lalu.


Apa yang dikatakan Lexa benar, om Leo memberikan ku dua buah USB. Yang satu adalah Vidio permintaan maafnya pada pada bunda dan ayah. Dia begitu menyesali semua yang sudah dia perbuat pada bunda dan ayah. Dan USB satunya lagi adalah potongan puzzle yang harus ku pecahkan.


Setelah puzzle itu terkumpul dan ku susun semuanya sehingga menjadi sebuah informasi. Semua itu sangat penting, karena informasi itu akan membawa ku kepada dalang pembunuh bunda. Aku akan terus mencari potongan puzzle itu, om Leo pasti menyimpan di lokasi yang merupakan tempat terpenting baginya.


Yang ku tahu dulu bunda dan om Leo saling mencintai dan mereka akan menikah. Tapi ada sesuatu hal yang menyebabkan mereka tak bersatu. Pada akhirnya bunda menikah dengan ayah. Aku harus mengetahui tentang om Leo dan bunda sebelum bertemu dengan ayah.


"Sudah terlalu malam kita pulang!" Lexa berkata padaku, dia berdiri dan menghembuskan napasnya. Ku lepaskan jaket dan ku kenakan padanya agar tak kedinginan.


Aku merasakan ada yang memperhatikan kami, ku melihat ke sekeliling taman tidak ada orang. Apa mungkin hanya perasaanku saja. Ahh lebih baik aku mengajak Lexa untuk pulang, biar dia bisa istirahat.


Kubuka pintu mobil, seraya mempersilahkan Lexa untuk masuk kedalam mobil. Aku berputar dan membuka pintu mobil, aku masuk dan duduk. Kunyalakan mesin mobil, ku ubah posisi perseneling, kuinjak gas secara perlahan. Mobil berjalan dengan kecepatan normal.


Setelah sampai di rumah, aku dan Lexa memilih masuk ke kamar masing-masing. Kunyalakan komputer, masih ada yang mengganjal di pikiran ku. Aku harus mengecek semuanya, jika aku bertanya pada om Rio dan tante Salma, mereka pasti tidak akan memberikan jawabannya. Yang ada mereka melaporkan semuanya pada ayah, begitu pula dengan om Adam dan tante Anna.


Beberapa hari ini aku berusaha menghubungi tante Lili dan paman Arata, tapi aku tidak berhasil entah kemana mereka. Setelah bunda meninggal, tante Lili dan paman Arata seperti menghilang bak di telan bumi. Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu pada mereka.


Drrrttttt... Handphone ku bergetar menandakan sudah tengah malam. Sengaja aku memasang alarm di handphone ku, karena Lexa selalu terbangun karena mimpi buruk. Ini sudah terjadi selama enam tahun, dia terus bermimpi tentang kejadian itu yang menyebabkan bunda tiada.


Ku melangkah keluar dari kamar, ternyata dia sudah terduduk di sofa depan televisi. Dia hanya diam dengan memeluk kedua kakinya. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Apakah kau bermimpi buruk lagi?" ucapku yang memecahkan keheningan. Lexa hanya diam saja dalam lamunannya, air matanya mulai menetes ke pipi. Dia menangis tanpa suara, setiap malam ini yang dia lakukan.

__ADS_1


"Semua salahku! Aku yang menyebabkan bunda tiada!" Dia menangis kembali, kalau saja waktu bisa berputar akan ku ubah semuanya.


"Sudah cukup Lexa! Kau adalah wanita yang kuat, bahkan kau lebih kuat dibandingkan aku! Sudah kubilang jangan menangis, kita harus mencari siapa dalang pembunuhan bunda!"


Hanya kata-kata itu yang terus aku ucapkan pada Lexa, di saat dia sedang sedih. Aku yakin kau bisa melewati semua ini dan melupakan semuanya. Aku ingin melihat Lexa yang dulu, Lexa yang ceria, Lexa yang optimis.


Masih kuingat betul setelah kepergian bunda, hidup Lexa seperti di dalam lubang yang dalam. Lubang penyesalan yang tiada akhir. Dia menyalakan dirinya terus menerus, setiap dia teringat dia akan teriak histeris. Di pemakaman bunda pun dia jatuh tak sadarkan diri beberapa kali.


Akupun sangat terpukul dengan kepergian bunda, bahkan sampai saat ini aku masih merasakan ketakutan, jika berada di atas gedung paling tinggi. Aku masih berusaha untuk menyembuhkan trauma ini. Karena aku ingin membatu Lexa jika dia menghadapi kesulitan.


Karena selama ini dia yang lebih banyak berhadapan dengan bahaya. Dia tahu bahwa aku takut akan ketinggian, sehingga dia melarang ku untuk ikut dengannya dalam menyelesaikan misi.


"Aku sudah tenang, lebih baik kau segera tidur! Aku akan kembali ke kamar!"


Lexa berkata sambil pergi meninggalkan ku dan kembali ke kamarnya. Akupun kembali ke kamar dengan membawa segelas air dari pantry. Aku mematikan komputer, membereskan semua dokumen yang berserakan di meja. Setelah itu aku berbaring di atas tempat tidur dan memijit sakelar lampu seketika kamar menjadi gelap.


____________________________________________


Sampai ketemu di bab selanjutnya 😉


Jangan lupa kasi author semangat ya biar makin semangat melanjutkan ceritanya 😙


Dan jangan lupa like, komen dan love nya ya 😉

__ADS_1


Author sayang kalian 😘😘


__ADS_2